Wednesday, April 11, 2007

Jawaban

Melalui proses pemasrahan diri pada-Nya di sepertiga malam terakhirku, Alhamdulillah akhirnya aku mendapatkan suatu ketetapan hati dimana aku merasa lega dan ikhlas menjalaninya. Hampir 5 purnama kulalui untuk menemukan titik ini karena aku tak ingin keputusan yang kuambil bersifat emosi sesaat atau hanya karena mengikuti logikaku yang terbatas sebagai seorang makhluk. Tidak ada sedikitpun sesal, tidak ada sedikitpun benci, tidak ada sedikitpun dendam di hati. Menghadapi masalah ini, aku sering berpikir apakah ini ujian sementara yang harus dilewati jika ingin ‘naik tingkat’ ataukah peringatan bagi kami bahwa aku bukanlah orang yang tepat baginya. Terimakasih Ya Qawiyyu, karena Engkau telah memberi kekuatan hati dan kekuatan berpikir hingga hamba berhasil melewati fase ini. Aku merasa bahwa kejadian ini adalah jawaban dari doa2ku ini
Ya Allah berikanlah yang terbaik buat kami….Karena belum tentu yang kami pikir baik itu adalah benar2 baik bagi kami dan yang kami pikir buruk itu bener2 buruk bagi kami. Engkau Maha Mengetahui, maka lindungilah kami. Ya Muhaimin, peliharalah rasa cinta ini agar tidak melebihi cinta kami kepada-Mu. Ya Hafidz, jagalah hati kami agar mencintai hanya karena mengharap ridho-Mu. Ya Allah jika kedekatan kami ini akan membuat kami semakin dekat dengan-Mu maka mudahkanlah jalan kami untuk berikrar dihadapan-Mu, tapi jika kedekatan kami ini akan membuat kami jauh dari-Mu, maka pisahkanlah kami karena kami takut jika kami tergolong orang2 yang saling menyayangi di dunia, tetapi berbantah2an di akhirat nanti. Ya Waduud, Yang Maha Kasih Sayang, engkau menciptakan rasa sayang dan cinta, ampunilah kami jika rasa yang ada pada kami saat ini tidaklah pantas untuk dikatakan rasa “cinta”. Kami malu dihadapan-Mu menyebut ini sebagai cinta. Ampunilah keterbatasan kami dalam menjaga hati kami, hanya kepada-Mu kami berserah, Jauhkanlah kami dari segala godaan syetan. Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata ‘ayuuniw waj’alna lil muttaqiina imaama..Amiin...

Enough

Rasa ini begitu tulus, sobat. Dari awal aku tancapkan dihatiku, aku ingin menjadi pelengkap bagi setengah dien-mu dlm ikrar bersama hingga ujung usia, begitupun sebaliknya. Tak ada keraguan yang mengusikku, aku pun melihat kesungguhan darimu saat itu. Aku serahkan semua pada-Nya, hanya Dia yang Maha Tahu yang terbaik untuk kita. Sampailah kita pada sebuah ‘ujian’ yang menggoyahkanmu. Sikap jealous ku mendiamkanmu kau artikan ketidakpedulian sehingga meninggalkan luka dihatimu. Ahh, begitu dalamkah kutoreh luka itu ataukah engkau yang tidak cukup kuat dengan komitmenmu? Sobat...kehilangan visi bersama yang pernah kita ucapkan, menjadi kompensasi yang harus dijalani... Permintaan maafku tidak mampu meruntuhkan tembok dingin yang kau bangun di hatimu. Aku pernah denger ‘yang baik untuk yang baik’. Mungkin aku belum cukup baik untukmu sobat. Tidak ada sesal dihati, usaha dan doa maksimal sudah dilakukan dan inilah jalan terbaik bagi kita. Aku mensyukuri semua proses yang kulalui dalam menyelesaikan masalah ini. Caramu menggantung permasalahan membuatku semakin dewasa dalam memandang persoalan2 dalam hidup. Kejujuran dan keterbukaan adalah kunci terpenting sobat, dan...hidup akan memberi pelajaran berharga kelak.