Friday, May 25, 2007

A.m.n.e.s.i.a

Ternyata amnesia bukan hanya di pilem2 or sinetron aja.  Biasanya tokoh yang diceritakan mengalami kecelakaan / tabrakan, trus kepalanya kebentur aspal or tembok ato kejedot pintu trus tiba2 hilang ingatan, memorinya langsung ngacir, bahkan mpe bisa lupa nama sendiri. 

Nah…ternyata di dunia nyata aku nemuin orang yang ngalamin kejadian kaya gini.  Namanya Mas Kardi (supirnya temenku).   Mas Kardi ini mengalami kecelakaan motor di daerah Sukajadi (dia cerita sambil bilang “katanya sih di Sukajadi, Uni”) heheheh.. Dia gak bisa mengingat kejadian yang dialaminya.  Dia juga mengalami kesulitan untuk me-recall masa lalunya. Aku yang penasaran terus nanya2:

M:        “Mas Kardi kok masih inget namanya? Setau saya klo liat di pilem2 sih mpe gak ingat nama sendiri”

K:        “Kata dokter amnesia saya gak terlalu parah, uni.  Jadi saya masih ingat nama.  Cuma untuk mengingat hal2 lain itu susah, kecuali ada yang ngingatin dan mancing2, dikit2 ingat deh.”

M:        “Ceritain donk, gimana saat kejadian?”

K:        “Wah, saya bener2 gak tau, Cuma waktu itu katanya saya kecelakaan motor di daerah Sukajadi.  Trus si uni (majikannya) nelfon2 ke hp karena saya belum pulang, yang angkat telfon polisi n ngabarin kalo saya masuk rumah sakit.  Si uni nya dateng saya masih gak kenal.”

M:        “Trus..apa aja yang dirasain selama ini?”

K:        “Saya sering bingung, ni.  Pernah saya bilang ke orangtua saya: Bu, pinjemin motor yang biru itu donk, saya mau pake”.  Trus ibu bilang, “Motor itu kan punya kamu Di, kamu mau pinjam ama siapa? Kamu gak inget belinya sebelum Lebaran?”  Kalo dah gitu saya langsung ngerasa kosong dan dieeeem aja.”

M:        “Kalo di pilem2 tuh mas (hehehe..pilem2 mulu ya) tokohnya pasti bakal ngerasa sakit kepala waktu diingetin sesuatu or disuruh mengingat sesuatu di masa lalunya.  Mas sendiri ngalamin kaya gitu gak?”

K:        “Gak tuh ni, saya cuma ngerasa kosong aja dan bingung.”  Pernah juga saya nganterin si uni (majikannya) ke Jakarta, saya nanya2 mulu, belok mana ni? Lewat mana ni? Ini di mana ni? Sampe si uni gak bisa tidur.  Saya bener2 gak inget jalannya, tapi klo dah arah pulang, saya baru bisa ingat lagi.”

M:        “Wah, klo si uni ketiduran, bisa2 nyasar kemana2 tuh hihih..”

K:        “ Emang pernah nyasar ni.  Disuruh ke RS. Boromeus, malah masuk ke RS. Hasan Sadikin hehehe..”

M:        “Heheheheh…bisa bahaya juga tuh, untungnya gak terlalu masalah ya, rumah sakitnya di bandung dua2nya”

K:        “Iya sih..tapi ada kejadian yang aneh ni”

M:        “Kejadian aneh apa?”

K:        “Waktu saya bangun tidur pagi2, di sebelah saya udah ada seorang cewek.  Saya kaget, dan langsung nanya ke ibu si cewek. Bu, maaf ya bu, saya mo nanya, kenapa anak gadis ibu tidur sama saya, apa ini gak dosa bu?”.  Si ibu heran dan bilang “Itu kan istri kamu Di, kamu kan udah nikah seminggu yang lalu?”

M:        “Nah..lho…gimana tuh, gawaaat…hahhahah...Nikahin anak orang kok gak ngaku?”

K:        “Heheheh..ya gitu ni, saya gak tau klo dia istri saya.  Katanya dia itu dulu pacar saya, jadi daripada jalan berdua melulu, lebih baik nikah aja.”

M:        “Trus gimana donk, kalo mas sendiri gak nyadar kalo nikahin istri mas itu, sah gak tuh secara agama?  Dah pernah tanya ustadz belum mas?”

K:        “Saya juga gak tau ni, belum tanya ustadz juga, tapi rencananya bulan Agustus’07 ini akan diulang lagi nikahnya.  Tapi yang jelas kata orang2 saat saya nikah itu saya ngucapin 2 kalimat syahadat dan ijab qabulnya bener.”

Tuing2...giliran aku yang bengong denger ceritanya &*$%*#...

Mas Kardi – orangnya santun dan suka senyum - Semoga cepet sembuh ya dan bisa mengingat kembali semua memori di masa lalu.  Karena bagaimanapun memori itu menyenangkan atau tidak, itu yang akan membangun pemikiran dan kehidupan selanjutnya di masa depan.

Ya Hafidz, lindungilah hamba-Mu ini.  Amiin…

 

Wednesday, May 9, 2007

terharu, miris, apa geli....

Rating:★★★
Category:Other
written by : Reza Gardino http://rgardino.multiply.com/journal/item/28

Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal
di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol
langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana.
Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira
gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal
lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan
gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui
di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah
satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak
berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan
wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik
yang sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum
masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara
menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat
kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik
sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar
tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum
genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di
daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar
belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu
tinggi.
Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah
ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut.
Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.
"siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat
itu.
"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil
disambut gelak tawa di belakangnya.
Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke
perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu
jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah
setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke
kantor polisi.

"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala lapas yang
ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di
penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari
selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.
Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun.
Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil
kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah
satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari
penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah
membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu
wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa
tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda
keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali
dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena
jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya
setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah
liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar
penjara ke dua kalinya.

Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi
membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang
berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya.
Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat
persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala
Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun
penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap
keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan
gembok. Jangan Tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah
di luar. 3-0 untuk Arif.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih
berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelariannya didorong dari rasa
kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke
rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia
menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian
kilometer dengan satu tujuan, pulang!

Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga
seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif.
Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa
surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
*Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif.* Tulisnya
singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak
lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus
dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang.
Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat
menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya
saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti
ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang
lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si
preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib
setempat. Itulah yang namanya keadilan!