Wednesday, December 16, 2009

horeeeeeeeeeeeeee luluuuuuuuus!




Yuhuuuuuu....
Ahaaaayyy!!!
Alhamdulillaah ya Allah.....
*jingkrak-jingkrak seneng*

Selamat  buat adikku tercinta yang baru saja lulus test CPNS untuk Pemda Payakumbuh. Aku turut senang, bahkan sedikit berlebihan rasa senangnya sampai aku tidak bisa menahan tarikan diujung bibirku yang membentuk lengkungan dengan arah garis ke atas sejak tadi pagi. Keberhasilannya kali ini merupakan perjuangan panjangnya dan impiannya sejak lama setelah pernah gagal sebelumnya. Untuk mengikuti ujian kali ini dia sudah belajar jauh sebelum tanggal pelaksanaan ujian, sebulan sebelumnya dan dilakukannya setiap hari. Dia begitu rajin membahas soal-soal ujian dari tahun-tahun yang lampau. Bahkan tepat sehari sebelum ujian itu dilaksanakan, dia masih membahas soal denganku melalui telefon. Aku sebagai kakak juga bersemangat menemaninya, untuk memotivasinya agar pede memberikan jawaban-jawaban yang praktis terutama untuk soal-soal kematangan sikap dimana dia pernah merasa heran ketika (dulu) menemukan nilainya tidak bagus dibagian ini.  Untuk soal pengetahuan umum, matematika, dll aku yakin dia telah belajar dengan baik.

Disegmen soal kematangan sikap inilah aku merasakan ternyata aku dan adikku memiliki banyak perbedaan cara pandang, jawaban-jawaban yang kami pilih sering berbeda. Aku lebih cenderung memilih langkah praktis apa yang akan kita lakukan jika dihadapkan dengan situasi seperti dalam soal tes tersebut, simpelnya aku berpikir jawaban tegas: "kalo begini maka begitu". Disisi lain dia cenderung memikirkan jawaban terlalu rumit dengan membayangkan "klo begini, maka begitu, jadinya begono" dan akhirnya dia memilih "klo begini maka begono".

Jawaban inilah yang menjadi diskusi cukup seru dalam percakapan telfon berjam-jam malam itu. Terkadang aku tertawa geli dengan pilihannya yang terlalu rumit atau malah terlalu lugu. Semakin banyak soal yang kami bahas, semakin mengertilah dia apa yang seharusnya dia lakukan dengan kondisi-kondisi sesuai soal yang kebanyakan berkisar tentang sikap dalam sebuah pekerjaan. Dia sendiri juga dengan geli menyadari sendiri kerumitannya berpikir dan mulai terbiasa dengan mengambil langkah praktis.

Bukannya aku menyalahkan caranya, namun untuk kasus memberikan jawaban atas pertanyaan yang bersifat tertutup, kita harus memikirkan penyelesaian yang konkrit dan dapat dinikmati saat itu juga. Akan berbeda sifatnya jika pertanyaan bersifat terbuka, kita dapat membuat jawaban bebas dengan menyesuaikannya kepada beberapa kondisi. Untuk kondisi plan A maka bla..bla...bla.. Jika A tidak tercapai, maka kita punya plan B dengan cara bla..bla..bla.. Ini sah-sah saja. Aku juga akan menjawab begitu kalau dihadapkan dengan situasi dimana kita bisa memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa muncul. Hal ini bermanfaat untuk penyusunan rencana jangka panjang yang terstruktur dengan membuat beberapa alternatif plan, namun akan terlalu lamban untuk rencana jangka pendek yang membutuhkan ketegasan segera.

Sehari setelah dia ujian, aku menelfonnya untuk menanyakan bagaimana tingkat percaya dirinya terhadap soal-soal yang dia kerjakan. Dia cukup yakin bisa menjawab sebagian besar soal yang diberikan dengan benar dan untuk test kematangan sikap, dia mengingat diskusi kami malam itu dan menjawab soal-soal sambil tersenyum membayangkan ledek-ledekanku saat itu jika jawaban yang diberikannya tergolong "aneh bin ajaib". Dari perjuangannya yang belajar tanpa henti, tahajud hampir setiap malam,dan tentunya atas izin-Nya, aku yakin Allah akan menghadiahi usahanya dengan kelulusan. Dan benar saja.. Alhamdulillaah...Terima kasih ya Allah. Ingin aku teriakkan kepada dunia kebahagiaanku ini, karena aku tau ini adalah juga kebahagiaan terbesar adikku, sebuah impiannya yang didukung dengan sikapnya yang pantang menyerah. Kombinasi yang bagus bukan?

So, bekerjalah dengan baik sayangku, utamakan kejujuran, profesionalitas dan disiplin. Semoga Allah selalu merahmatimu dan melimpahi hidupmu dengan keberkahan-Nya amiin...

Ket: Foto nyomot dari google