Thursday, March 31, 2011

Pengen Punya BB Juga?

Dengan setengah berlari aku menuruni tangga dari peron Stasiun Poris menuju kumpulan ojek. Maklum, rebutan. Harus cepat, apalagi kondisi sudah lewat dari jam 9 malam akibat pulang lembur dari kantor. Sambil berlari mataku sudah menyapu pandangan dan mulai membidik ojek mana yang akan aku tumpangi. Motor merah itu kelihatannya kondisinya oke deh. Abang ojeknya juga rapi mulai dari pakaian dan rambutnya. Caranya menawarkan jasa juga sopan. Ya, naik ojek merah itu aja ah. Begitu dialogku dengan hatiku. Cabcuuus!

Tanpa ragu-ragu langkahku semakin mengarah ke ojek merah itu. Aku langsung menaikinya dan menyebutkan alamat tujuan. Selintas tercium bau yang gak enak banget, asem. Samar. Inikah namanya BB? Oh inikah BB? *mengganti lirik lagu boyband lama Indonesia, ingat doonk? Ah ngaku aja. Jgn malu-malu. hihi* Onyx atau Bold nih? Bukaaan. Ini bukan yang bisa BBM-an itu. Ini BB yang berarti Bau Badan tauu. *mukul jidat sendiri, ya iyalah masa jidat masinis*. Aku langsung menahan nafas di dekat kumpulan abang ojek itu. Oh, untung gak dapat abang ojek yang punya BB pikirku.

Ojek pun mulai bergerak keluar stasiun. Menjauh dari keramaian abang ojek lain yang suaranya pun mulai sayup. Aku pun mulai mencoba bernafas secara normal. Tapi kenapa bau busuk ini semakin kentara? Aku mencari-cari darimana sumber bau itu berasal. Aku mulai mengendus-endus sekitar. Perlahan aku mencerna situasi. Huwaaaa... Bau itu persis dari depanku. Kenapa aku terlalu berbaik sangka bau itu bukan berasal dari abang ojek yang ojeknya kutumpangi ini? Huhuhu.. Ingin rasanya langsung loncat dari motor itu. Ingin sekali langsung mengarang alasan untuk tidak jadi menggunakan jasanya. Bilang apa ya? Apaaaa? Aku memaksa otakku berpikir. Yaa..ya ya... Aku bilang saja kalau aku mau beli sayur di warung dekat sana. Trus mau beli kelapa yang harus diparut dulu. Ada yang buat bikin rendang, ada yang untuk serundeng. Kan beda-beda tuh parutannya. Jadi biar lama dan si abang ojek bosan menunggu. Ide mengarangku muncul. Tapi gimana kalau abangnya bilang bersedia menunggu? Masa aku bilang batal gak jadi ngojek? Gak enak, juga gak tega. Aaarrrggghh.. Aku tidak menemukan ide mengarang alasan yang lebih masuk akal untuk membuat abang ojek bersedia menerima pembatalanku tanpa aku menyinggung perasaannya.

Akhirnya aku menyerah, membiarkan motor itu melaju dengan menutup hidungku rapat-rapat dengan kerudung. Aku tahan nafas selama mungkin sampai paru-paruku meronta meminta aliran oksigen. Selanjutnya baru mencuri nafas agak dalam untuk kemudian menahannya lagi hingga batas kemampuanku menahan. Terus berulang seperti itu. Tapi setiap harus buru-buru menghirup oksigen, akupun harus rela BB nya ikut berpartisipasi dalam aliran udara itu. Hueeek... Mataku mulai berair menahan mual, ingin muntah, ingin terbang menjauh. Selintas terbayang betapa menakutkannya jika nikmat menghirup udara mulai distop oleh Yang Maha Pemurah? :"(

Entah kenapa rasanya perjalanan menuju rumah sangat panjang. Mungkin karena hanya diam, lubang hidung disumpel kerudung, kening mengernyit kaya baju yang belum disetrika. Aku tidak ngobrol dengan abang ojeknya seperti kebiasaanku selama ini. Biasanya sih aku suka ngobrol dengan abang ojek (atau juga supir taksi) dengan topik apa saja yang terpikirkan saat itu untuk menghilangkan kekhawatiranku pergi dengan orang asing, terutama jika aku berangkat sendirian. Kali ini aku diam saja. Sibuk mengatur pergantian CO2 dan O2 di paru-paruku. Memandu arahpun sangat minim kata. Hingga akhirnya sampailah di depan rumah. Aku bergegas turun dengan menoleh sedikit ke arah kiri dan dengan rakus menghidup udara segar tanpa BB yang hampir membunuhku itu *lebay* hehe..

Serba salah rasanya, aku ingin bilang secara jujur ke abang ojek bahwa BB nya sangat menganggu biar selanjutnya dia lebih memperhatikan hal tersebut tapi disisi lain khawatir jika dia merasa tersinggung atau bahkan malu. Semoga ada orang-orang dilingkaran hidupnya yang lebih dekat bisa menyampaikan bisik hatiku yang tak sempat terkatakan ini. Haha.. Kok kaya' mo ngucapin cinta aja :D

So...Don't judge a book by it's cover. Jangan pilih ojek dari tampilan motor dan abang ojeknya saja hehe.. Penting juga untuk menyiapkan hidung untuk mengendus-endus bau-bauan sebelum memutuskan jalan. Triknya bisa dengan menanyakan tarif ojek (walaupun sudah tau) untuk memberi kesempatan kita untuk bisa menilai dan mengendus-endus. Jika ternyata abang ojeknya punya BB bisa saja langsung memberi penawaran sewa 1/2 dari harga normal kalau perlu lebih sadis lagi semurah-murahnya biar transaksi gak terjadi hihihi...

Error nih gara-gara habis dapat "BB aromaterapi" :D

Friday, March 25, 2011

Just Wondering

There is an aquarium in my office. It was belong to previous team who was here. This is a small-sized aquarium with a school of fish. There are about 15 fish inside. I don't know their type nor their species. Their color are not the same. They are so colorful. However, these fish have their own style. They don't spin in the same direction. They move without the same rhythm. They change their direction which can not be predicted. But with that unpredictable movement, no one bothered. All of them are living in peace. I like tapping on the glass of aquarium hoping the fish turn back and stare at me. I want to greet them and ask what it's like to live in there? I look at them and ask haven't they make a quarrel? Are they joggle in a narrow space like that? But there is no answer, you bet! :D

Yeah..They move without disturbing the others.

Now, there is a question that descends in my mind, whether that undisturbant is because we are not disturbed or we haven't feel disturbed yet? Oh fish, you got me wondering.

PS: The picture was taken from mbah google :D
I get the difficulties to take their picture since they're always moving at every single time I snap :)

-->

Tuesday, March 15, 2011

Ternyata Aku Suka ;)


Setiap aku berjalan dari gerbang menuju tempat tinggalku, aku selalu melewatinya. Dia adalah penjual kacang rebus yang selalu nongkrong di pinggiran jalan, di tempat yang sama. Aku selalu hanya melihat dagangannya, permisi karena lewat diantara gerobak mereka. Loh kok jadi mereka? Mereka yang aku maksud adalah penjual kacang rebus, nasi goreng dan bakpau yang biasanya nongkrong bareng hehe.. Tapi yang paling sering aku lihat dan perhatikan adalah penjual kacang rebus.

Selama aku melewati jalan itu, aku tidak pernah melihat ada pembeli yang menghampiri dagangannya. Mungkin waktunya saja yang tidak tepat dengan jam pulangku, bisik hatiku. Aku sering berpikir, apakah dagangannya laku? Apakah ada yang membeli? Setiap melewatinya, aku selalu bertanya-tanya hal yang sama.

Tak terkecuali tadi. Aku berjalan begitu saja. Aku sudah berjalan kira-kira 10 langkah melewatinya. Tapi tiba-tiba aku merasa ingin berbalik. Aku ingin membeli kacang rebus itu. Hatiku merasa kasihan jika ternyata pertanyaan-pertanyaan yang selalu mampir di otakku itu ternyata jawabannya adalah "tidak". Daripada pikiranku itu benar, lebih baik aku patahkan saja dengan menjadi pembeli walaupun sebenarnya aku tidak suka kacang rebus.

Setelah aku mendekat, aku baru memperhatikan ternyata kacangnya ada dua jenis; kacang tanah dan kacang Bogor. Wow, aku mulai sedikit antusias mendengar kacang Bogor karena selama ini hanya pernah makan kacang Bogor yang digoreng dan diberi garam. "Coba aja dulu mba", kata penjualnya. "Ini langsung dimakan ya bang?", tanyaku ragu. Ah, pertanyaan bodoh. Si abangnya tertawa,"Ya,dibuka dulu dong Mba". Haha.. Aku nyengir-nyengir malu dan mengambil satu kacang Bogor. Ternyata waktu dicoba aku sukaaa. Enaaaak. Abang penjual menawarkan apakah kacang Bogornya mau dicampur dengan kacang tanah? Dan aku dengan senang hati menjawab "Iya!"

Waaah... Ternyata kacang rebus itu enak ya. Dulu waktu kecil aku selalu beli kacang goreng yang dijual keliling oleh seorang bapak tua langganan. Kalau kacang goreng habis, aku tidak mau beralih membeli kacang rebus. Yang biasanya doyan kacang rebus adalah mamaku. Menurutku kacang rebus tidak enak, tidak seperti kacang goreng yang ada sensasi kriuk-kriuknya. Tapi mengapa sekarang aku merasakan kacang rebus itu enak ya? Apakah ada hubungannya dengan umur karena dulu yang menyukai kacang rebus adalah mama? Ah, mulai ngaco deh hehe.. Ini masalah selera, bukan umur. Aiih., akhirnya aku mematahkan sendiri "prasangka burukku" terhadap kacang rebus. Aku sekarang jadi menyukainya. Senang sekali rasanya berhasil menyukai sesuatu yang sebelumnya selalu dihindari. Aku jadi belajar untuk tidak terlalu cepat menjatuhkan penilaian terhadap sesuatu.

Bahagia rasanya bisa menambahkan kacang rebus dalam daftar cemilan sehatku. "Sejak kapan kamu punya daftar cemilan sehat? Bukannya biasanya semua berbau goreng-gorengan dan kripik-kripikan?", kata si penggoda iman dietku. "Ya sejak hari ini donk", jawab si penyokong diet yang sering kalah perang. Hihihi.. Rasa senangku jadi tambah lengkap ketika ada pembeli lain yang antri setelahku. Semoga dagangan si abang laku ;)

Baiklah, mari belajar hidup sehat :D Dan sekarang aku mau meneriakkan "Aku suka kacang rebuuuuuus...!"

Saturday, March 12, 2011

Mesti Ada Etikanya

Sebuah pesan singkat masuk ke hapeku. Pesan dari seorang teman yang sudah lama tidak bertemu dan berkomunikasi. Mungkin sudah dalam hitungan tahun lamanya. Aku mengingat-ingat kapan terakhir kontak dan ragu menemukan bilangan waktu yang tepat. Ah, sudahlah, bisik hatiku.

Awalnya saat melihat nama itu muncul di layar depan hapeku, aku penasaran dan menebak-nebak isi SMSnya. Kebetulan aku baru saja mematikan fungsi "show preview" di hape sehingga jika ada SMS masuk, yang terlihat pada layar utama hanyalah sebaris nama tanpa isi SMS. Keingintahuanku menggerakkan tanganku untuk membuka pesan tersebut. Aku mulai mereka-reka. Sepertinya SMS ini akan dimulai dengan kata-kata "Telah lahir putra/i pertama kami bla bla bla...", pikirku. "Oh tidak mungkin. Dia kan belum menikah," terdengar suara yang tidak berbunyi menentang dugaanku. "Aha..! Tentunya SMS ini berisi undangan untuk menghadiri akad dan resepsi pernikahannya," teriak batinku kembali. "O iya, bisa jadi", jawab hatiku senang. Aku seolah merasa mendapatkan titik terang seumpama pengembara yang tersesat di hutan dan menemukan seberkas cahaya lentera dari sebuah perkampungan di depannya. Bibirku pun mulai melengkung membentuk segaris senyum.

Bergegas aku buka SMS itu dengan harapan akan isinya yang seperti dugaanku. Dan ketika aku buka.... Oh, aku terpana melihatnya. Jauh berbeda dari yang kusangka. Isinya tak lebih dari sebaris kata. Kata yang dingin dan hampa. Setidaknya begitu menurutku. Aku tidak mau menyebutnya sebagai sebuah kalimat karena aku tidak merasakan adanya "nyawa" dari kata-kata itu. Bagiku minimal harus ada subyek atau tanda bacanya agar aku bisa menganggap sebuah kata atau susunan kata sebagai sebuah kalimat. Sebagai contoh bandingkanlah "Jangan" dengan "Jangan!". Kata yang pertama tanpa tanda baca terasa lebih kosong, hanya sebuah kata yang tidak jelas peruntukannya sebagai apa dan kepada siapa. Sedangkan kata yang kedua dengan tanda baca terasa ada muatan didalamnya yang melibatkan dua pihak, subyek dan obyek walaupun implisit. Itulah yang aku namakan bernyawa.

Jika dianalogikan dengan contoh diatas, SMS yang aku terima ini sama dengan contoh kata pertama.

no tlp mi*na brp

Itu isi SMSnya. Huruf kecil semua dengan singkatan kata tanpa tanda baca. Tertegun. Aku terdiam menatap tulisan itu. Bayangan akan berita bahagia yang sempat melintas tadi seketika memudar. Senyum itu berhenti merekah dan garis lengkung itu pun berganti arah. Aku kecewa. Lebih tepatnya tidak suka. Bukan. Bukan karena isi SMS itu tidak seperti dugaanku. Tapi aku tidak suka dengan ketiadaan struktur pembangun kata itu. Kemana sapanya? Kemana tanda baca sebagai penyedapnya? Bagaimana mungkin ada SMS dari seseorang yang sudah lama tidak kontak tiba-tiba menuliskan kata-kata seperti itu pada pesan pertamanya? Lancang sekali dia menyerobot begitu saja ke ruang pribadiku dengan kata -kata yang dapat diinterpretasikan sebagai "perintah" alih-alih sebuah "pertanyaan"? Tentu tidak mengapa halnya jika kata-kata itu merupakan pesan lanjutan setelah ada SMS/pembicaraan lain sebelumnya. Itu tentu berbeda dan dapat diterima.

Mungkin ada yang berpikiran "gitu aja kok repot" atau "soal tulisan jangan terlalu dijadiin masalah donk, ribet amat sih". Silahkan. Berkembanglah dengan opini masing-masing. Tapi bagiku masalah tulisan itu adalah hal yang krusial. Sebuah tulisan bisa membuatku senang, sedih, takut, kecewa, bahkan marah. Termasuk untuk kasus dengan latar belakang seperti di atas. Mbok ya ngetuk pintu dulu kalau mau masuk rumah orang. Aku tau. Aku sangat mengerti apa maksud SMSnya. Aku bisa saja membalas dengan menuliskan nomor telfon teman kami yang ditanyakannya, tidak memusingkan soal gaya tulisannya dan case closed. Segampang itu. Tapi aku tidak mau melakukannya. Bukan karena aku gila hormat. Aku tidak membutuhkan dia memuja-muji aku sebagai salam pembuka atau bercerita berbelit-belit kesana-kemari hanya untuk kemudian menanyakan pertanyaan singkat itu. Yang kubutuhkan hanyalah "kehadiran" hati dan pikirannya untuk berbicara padaku. Memberikan sedikit sentuhan personal dalam SMS itu dengan menujukan pertanyaan itu memang padaku. Dengan sedikit perbedaan dia bisa mengubah reaksiku yang akan dengan senang hati mengirim balasan jika saja misalnya dia mengganti dengan:

No tlp Mi*na brp, Mel?
Hei Coy.. Brp no tlp Mi*na?

Oke, aku tidak akan mempermasalahkan singkatan. Ada yang terbiasa menulis seperti itu atau mungkin dia ingin menghemat jumlah karakter yang diketik dalam SMSnya. Tapi tidak dengan meniadakan sapaan dan tanda baca. Bahkan jika dia mengganti namaku dengan sebutan lain apapun itu selama wajar, aku tidak keberatan. Sedikit perbedaan itu memberikan efek yang besar padaku. Dengan adanya sapaan, aku merasa SMS itu memang untukku, dia memang berbicara padaku.

"Itu kan menurut kamu, jangan menjadikan orang lain harus sesuai dengan standarmu donk!". Begitu mungkin ucap sebuah suara sumbang. Iya. Mungkin ada baiknya jika aku mencoba melihat dari sudut pandang lain. Nanti. Tapi... Biarlah untuk saat ini aku masih setia dengan pendapatku bahwa SMS atau email bahkan chat dan telfon sekalipun juga memiliki etikanya sendiri. Sama halnya dengan etika ketika kita bertamu ke rumah orang. Tidak mungkin kita serta merta nyelonong masuk, mengambil sesuatu yang kita butuhkan dan pergi tanpa kata. Apa bedanya kita dengan orang yang tidak pernah mengenyam pelajaran sopan santun dari sekolah? Ucapkan salam/sapa diawal meski hanya "Hai" sebagai tanda kita mengalamatkan pembicaraan kita ke seseorang. Akhiri dengan mengarahkan untuk menutup pembicaraan walau hanya dengan ungkapan "Oke, sampai ketemu lagi ya", atau "Thanks ya". Hindari tanda baca yang bisa membuat orang menafsirkan berbeda, misalnya tanda seru yang terlalu banyak, seolah memerintah. Hindari penggunaan huruf besar berlebihan karena seolah membentak kecuali memang ingin memberikan penekanan pada sebuah kata.

Mengenai bagian penutup ini juga termasuk krusial. Betapa banyak orang yang bertanya dan setelah mendapatkan informasi yang dia butuhkan lalu berlalu begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Seolah-olah tidak ada percakapan yang terjalin sebelumnya. Atau betapa tidak sopannya jika masih ada pertanyaan menggantung yang belum dijawab, lantas kita menghilang dan mengabaikannya begitu saja. Andai pun tidak berkenan menjawabnya, tutuplah pembicaraan secara diplomatis. Tidak dengan membiarkannya mengambang begitu saja. Jangan takut rugi menginvestasikan Rp.100 untuk SMS misalnya demi menjaga sebuah pertemanan. Balaslah hingga tuntas, meski singkat tapi kedua pihak sudah tau pembicaraan ini sudah berakhir. Meskipun terlihat remeh-temeh, tapi salam pembuka dan penutup dapat membungkus sebuah pembicaraan dengan baik. Bukan tidak mungkin bisa menjadi peluang untuk rezeki yang tidak disangka-sangka karena memberikan sebuah perlakuan yang menyenangkan.

Jadi ingat ungkapan dalam bahasa Minang "Pai nampak muko, pulang nampak pungguang", yang bisa diartikan "Datang secara sopan/baik dan pulang dengan pamitan/izin".

Sudah berjam-jam aku biarkan saja SMS itu tanpa jawaban. Dari diapun tidak ada reaksi lanjutan atas sikapku yang mengabaikan SMSnya. Ketika rasa kecewa ini nanti meluruh, mungkin aku akan memberikan SMS balasan dan mengungkapkan pikiranku saat ini padanya. Hmm.. Dunno!