Monday, October 22, 2012

Sebuah Prestasi (?) : Membersihkan Ikan


Membuat hidangan berbahan dasar ikan sangat jarang aku lakukan. Hal ini disebabkan aku tidak terlalu suka ikan sehingga berimbas ke hubby yang ikut-ikutan harus tidak makan ikan padahal dia suka ikan hehehe..*maaf ya sayang* Masih aku ingat ketika aku kecil sering diajak mama ke pasar, setiap memasuki pasar ikan aku selalu tahan nafas. Aku tidak tahan dengan bau amis ikan. Ingin muntah rasanya kalau harus menghirup bau itu lama-lama. Alhasil aku tahan nafas sekuatnya, kalau sudah habis nafasnya curi nafas sebentar lewat baju yang menutupi hidungku terus dilanjutkan menahan nafas lagi sampai proses tawar-beli ikannya selesai. Berakhir dengan mata berkaca-kaca.

Hidangan ikan jarang aku sentuh, kalaupun ingin memakan ikan aku akan minta izin mama untuk menggorengnya lebih lama khusus untuk aku makan. “Kalau digoreng sampai kering gitu kandungan gizinya sudah hilang nak”, kata mama. “Gak apa-apa ma, Meli gak suka kalau ikannya masih basah, jawabku. Adikku suka ikut-ikutan goreng ikan sampai kering, ketularan kakaknya :P Tapi kalau ikan asin aku doyan, di kampungku disebut dengan maco, bukan cowo macho ya hehehe.. Aku bisa nambah nasi berkali-kali kalau ada maco jo lado (ikan asin dan sambel) :D

Namun akhir-akhir ini aku mulai belajar untuk menyukai ikan. Terutama setelah aku dikuliahi sahabatku Penky *hai penk wink-wink*. Dia sangat gemes waktu membahas tentang ikan denganku karena aku keukeuh gak suka ikan dan pepenk bilang “bodoh, ikan itu enak!”. Kayanya dia puas banget, sekalian kesempatan ngata-ngatain aku bodoh hahahha… Mulailah aku lirik-lirik ikan, diawali dengan coba-coba makan ikan yang digoreng kering seperti mujair atau nila. Oya dari dulu jika memasak di rumah untuk segala urusan membersihkan ikan, ayam, daging aku serahkan ke adikku. Sebenarnya aku terlalu banyak ketakutan/keengganan dengan sesuatu (nanti aku ceritakan ketakutan yang lain). Contohnya ya seperti membersihkan daging-daging ini. Rasanya lembek-lembek gimanaa gitu, membuat bulu kudukku merinding. Tapi kalau mengolah yang sudah bersih silahkan diberikan ke aku, karena aku bisa mengambil ikan/dagingnya dengan bantuan sendok :P Adikku bahkan bilang, “Gimana nanti kalau Uni sudah menikah, siapa yang mau bersihin ikan?”. Ya, Uni minta tukang ikannya aja, atau pembantu atau suami atau Iif diperbantukan di rumah Uni hahaha…

Setelah menikah, aku mulai menekan rasa takut itu terutama untuk mencuci ayam dan daging. Untuk ayam dan daging karena memang doyan, jadi rasa sukaku berhasil mengalahkan rasa takutku untuk membersihkannya. Namun untuk ikan masih belum berani. Jadinya dari beberapa kali memasak ikan setelah menikah yang bisa dihitung dengan jari, aku selalu meminta bantuan penjual ikan untuk membersihkannya. Di rumah aku tinggal mencuci dan melumuri dengan jeruk nipis dan garam walaupun dengan efek bulu kuduk merinding tadi.

Hingga datanglah suatu masa (ciee..), dimana aku tidak bisa menolak untuk mengolah ikan dari awal membersihkan hingga menghidangkannya. Ini terjadi beberapa waktu yang lalu, ketika aku minta tolong mamasku untuk beli ikan ke pasar karena mau masak sarden homemade dengan resep yang aku dapat dari blog seseorang. Padahal sebelum mamas pergi aku sudah mewanti-wanti pikiranku untuk mengingatkan mamas minta penjual ikannya membersihkan ikan terlebih dahulu, tapi memang sudah suratan takdirku (ciee lagi..) diharuskan membersihkan ikan sendiri, aku lupa menyampaikan isi pikiranku itu. *ngelap keringet

Pertama kali memegang ikan, hiiyyyy..sungguh geli. Ikannya lembuuuut banget, dingin. Rasanya pengen loncat-loncat dan teriak karena gak tahan, tapi aku paksakan diri, dengan nafas ditahan, dahi mengernyit, mulai membelah perut ikan, mengeluarkan insang , kotoran dan seluruh isi perutnya hingga hanya tersisa daging dan tulang. Oh sial, air PAM mati, ingin rasanya nangis karena harus memegang lumuran darah ikan. Huwaaa… Walaupun aku punya air cadangan yang ditampung di ember besar, tidak dapat menggantikan fungsi air yang mengucur dari keran. Namun berkat semangat untuk menaklukkan rasa takut, akhirnya selesai juga tugas dahsyat pertamaku membersihkan ikan.

Bangga rasanya mengalahkan ketakutanku sendiri hahahah.. Lebay. Tapi memang aku merasa itu sebagai sebuah prestasi tersendiri. “Mamaaaaaas, adek udah bisa membersihkan ikaaaaann “, teriakku ke mamas yang lagi nongkrong di depan tivi. Dibalas “Bagus! Emang harus gitu, gak lengkap jadi chef (sok chef deh) kalau tidak bisa membersihkan ikan”. Huuu.. Belum pernah diminta bersihin ikan aja nih mamas *niat jahil muncul, tunggu ya hunee, rasakan sensasi bersihin ikan :P Selanjutnya.. Ikan sudah bersih, sudah dilumuri garam dan jeruk nipis dan didiamkan selama 15 menit trus dimasak dengan resep Homemade Sardine in Tomato Sauce. Resepnya bisa dilihat di postingan aku yang disini ya, sudah dipindahkan ke blog khusus masak-masak :)

Akhirnya ikan bisa terhidang sempurna dan aku puas karena aku berhasil mengalahkan ketakutan sendiri. Uhuuuy... Rasanya memang menggugah selera dan mengalahkan sarden kalengan seperti kata yang punya resep. Aku tidak mencium bau amis ikan sama sekali dan hal ini berhasil menambah satu lagi poin ikan dimataku. Lain kali mau bikin ikan dengan versi berbeda deh. Asyik! Selamat makan :D