Pada postingan aku sebelumnya disini, aku menuliskan bahwa karakter yang dibangun dari kecil akan melekat sampai dewasa. Jika anak dibiasakan untuk bersikap terbuka maka dia akan berani berpendapat dan memperjuangkan pemikirannya dimasa depan.
Nah...kejadian ini baru saja aku alami dan buktikan di lingkungan kerjaku. Aku terkejut dengan hasil penilaianku yang menurutku tidak sesuai dengan kualitas dan kuantitas pekerjaanku selama ini. Aku tidak tau ketika dilakukan perubahan terhadap nilai yang aku ajukan disaat aku sedang tidak berada di ruangan dan pada hari terakhir pengumpulan ke SDM sehingga aku tidak sempat beropini dan memberikan bukti-bukti. Aku terperangah melihat hasilnya di sistem. Aku bisa saja diam dan tidak mempertanyakan hal tersebut meskipun tidak puas, bisa jadi karena takut, malu atau merasa tidak enak dengan atasan, tapi aku tidak mau memilih alternatif ini.
Aku langsung bertanya kepada manager yang menilai kenapa yudisiumku mengalami penurunan. Sang manager terkejut dan tidak menyangka dampak perubahan yang dilakukannya bisa sejauh itu karena menurutnya setelah itu diperiksa lagi oleh atasannya - AVP. Dan ketika aku tanyakan apa yang diubahnya, beliau menjawab “Point pertama yang kamu tulis itu adalah pekerjaanku, kenapa ada di penilaian kamu?” Whaaaaaaatttt? Aku langsung menjawab (yang alhamdulillah keluar dengan lugas dan emosi yang terkontrol serta intonasi yang normal tanpa nangis hiihihi…) “Pekerjaan mana yang saya tuliskan yang tidak saya lakukan dan merupakan pekerjaan Mba? Saya tidak mungkin mengakui pekerjaan yang bukan pekerjaan saya Mba” Aku langsung mengingatkan semua detail dan bukit-bukti yang aku kerjakan. Beliau cukup terkejut dan berdalih, “iya, tadi aku maunya itu direvisi dulu, biar kamu juga tau, biar bisa diskusi, tapi waktu tidak cukup”.
Phfiuuuh….Oke, cukup untuk sementara informasi yang aku dapatkan ketika wudhu di kamar mandi, dan dilanjutkan sedikit setelah Sholat Magrib. Oya, aku ingat doaku selesai sholat saat itu adalah mohon agar hasil penilaian yang membuat aku terperangah ini tidak akan mempengaruhi performance selanjutnya, tidak akan menurunkan semangat kerjaku, agar aku bisa bersabar dan berani bertanya tentang semua hal yang masih mengganjal di pikiranku.
Setelah itu aku langsung berpikir aku harus menanyakan kepada atasan AVP. Aku memikirkan cara yang tepat berhubung ruangan kerja kami yang sempit dengan jarak masing-masing 1-1,5 meter saja, dimana dapat dipastikan jika aku berbicara langsung akan didengar oleh seisi ruangan. Hal itu menurutku tidak terlalu baik, karena ini menyangkut mempertanyakan hasil keputusan atasan, jangan sampai membuat beliau merasa disudutkan di depan anak buahnya. Selain itu beliau juga seorang laki-laki, jadi tidak bisa berbicara ketika di kamar mandi seperti dengan managerku tadi hehehheh…
Akhirnya aku menemukan media yang tepat yaitu email. Malamnya aku diskusi dengan “seseorang” lewat telfon dan disanalah aku menangis Bombay ketika mengungkapkan ketidakpuasanku terhadap perlakuan itu hahhaah…lebay….Ingat kan teori “boleh berekspresi menangis jika memang harus menangis?” Hehhe…Dia mendengarkan dan bersabar menunggu tangis Bombayku berubah menjadi tangis Jahe atau Lengkuas *ngaco*. Aku ceritakan semuanya dan ungkapkan keinginanku untuk mengirim email ke atasan AVP biar lebih puas dan dia mensupport aku untuk bertindak *thnx a lot hunney*…
Selesai nelfon aku bikin draft hal-hal apa saja yang akan aku bahas dalam email esok hari. Menurutku media ini adalah pilihan yang tepat, dengan sebuah tulisan, aku bisa menyampaikan kronologisnya dengan jelas berikut hasil scan penilaianku yang aku copy ke bagian SDM untuk memudahkan dan mengingatkan atasanku dalam pembahasan di email. Aku juga bisa memilah kata-kata yang tepat dan emosi lebih terkontrol serta mencantumkan semua bukti2 pencapaianku. Aku kirim email siang sebelum aku berangkat ke puncak karena sebagai panitia acara harus duluan berangkat. Kebetulan setelah sholat Jumat itu ruanganku kosong, ketika aku mau wudhu yang baru kembali ke ruangan adalah atasan AVP. Ahhh..tepat sekali, batinku. Aku langsung membuka draft emailku dan bilang “Mas, saya mau kirim email ya sekarang. Oya, saya mau sholat dulu mas, nanti kita bahas ya hehhehe”. Alhamdulillah caraku berkomunikasi masih seperti biasa, dan caraku bekerja sejak kemarin malam sampai siang itu tidak berubah.
Berhubung aku pulang duluan, aku tidak mendapatkan jawaban hari itu. Acara fam-gath di puncak juga kami masih kompak dan bersahabat sebagai tim dan mengikuti perlombaan yang ada. Hari Senin ketika menyalakan komputer, hal yang pertama aku buka adalah email dan ternyata oh..nooo..tidak ada balasan.
Seperti biasa Senin dimulai dengan meeting internal, dan kemarin cukup spesial karena pembahasan juga lebih beragam dan aku tidak menyangka ternyata masalah penilaian diselipkan diantara pembahasan itu. Terlihat sekali bahwa penjelasan beliau mengenai penilaian adalah untuk membahas semua pertanyaanku di email satu-persatu. Beliau membahas tanpa melihat ke arahku dan terkadang memandang ke bawah seperti memilih kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan. Intinya adalah hal itu terjadi bukan karena pekerjaan yang dihasilkan standar/tidak memuaskan tapi semata-mata karena harus memenuhi kurva distribusi normal kuota/penjatahan dari setiap unit. Tapi beliau berjanji hasil penilaian seperti saat ini bukan berarti akan begitu selamanya, dan tidak akan mempengaruhi pengembangan karir selanjutnya karena beliau akan melihat hasil kerja nyata bawahannya. Beliau juga meminta maaf karena hanya berhasil memperjuangkan bawahannya sampai tingkat itu saja, minta maaf karena tidak bisa memuaskan semua pihak. Beliau berharap, hal ini tidak akan menjadi demotivasi.
Waktu beliau mengucapkan permintaan maaf yang lebih dari dua kali itu, aku merasakan permintaan itu ditujukan buat aku. Mataku mulai memanas tapi aku tahan donk, gak mungkin nangis, gak profesional banget sih hahahhahaha.... Akhirnya aku lega setelah mendengar penjelasan itu walaupun tidak langsung ke aku, tapi aku tahu itu sebagian besar ditujukan buat aku karena pertanyaan itu berasal dari aku. Jadi...berani terbuka, jujur, mempertanyakan hal yang masih mengganjal hati kita walaupun pada kasus ini tidak akan mengubah “hasil”, namun tentunya akan melegakan daripada hanya bersungut-sungut dibelakangnya, tetap tidak menemukan jawabannya, berpikiran buruk dan muka selalu ditekuk, yang akhirnya malah akan berujung jadi males-malesan kerja. Alhamdulillah...legaaaa... ;)
So, keep up the good work ….. Yeahh ^_^V



