Friday, July 31, 2009

:: Terbukalah... karena itu akan melegakanmu....

Pada postingan aku sebelumnya disini, aku menuliskan bahwa karakter yang dibangun dari kecil akan melekat sampai dewasa. Jika anak dibiasakan untuk bersikap terbuka maka dia akan berani berpendapat dan memperjuangkan pemikirannya dimasa depan. 

Nah...kejadian ini baru saja aku alami dan buktikan di lingkungan kerjaku. Aku terkejut dengan hasil penilaianku yang menurutku tidak sesuai dengan kualitas dan kuantitas pekerjaanku selama ini. Aku tidak tau ketika dilakukan perubahan terhadap nilai yang aku ajukan disaat aku sedang tidak berada di ruangan dan pada hari terakhir pengumpulan ke SDM sehingga aku tidak sempat beropini dan memberikan bukti-bukti. Aku terperangah melihat hasilnya di sistem. Aku bisa saja diam dan tidak mempertanyakan hal tersebut meskipun tidak puas, bisa jadi karena takut, malu atau merasa tidak enak dengan atasan, tapi aku tidak mau memilih alternatif ini.

Aku langsung bertanya kepada manager yang menilai kenapa yudisiumku mengalami penurunan. Sang manager terkejut dan tidak menyangka dampak perubahan yang dilakukannya bisa sejauh itu karena menurutnya setelah itu diperiksa lagi oleh atasannya - AVP. Dan ketika aku tanyakan apa yang diubahnya, beliau menjawab “Point pertama yang kamu tulis itu adalah pekerjaanku, kenapa ada di penilaian kamu?” Whaaaaaaatttt? Aku langsung menjawab (yang alhamdulillah keluar dengan lugas dan emosi yang terkontrol serta intonasi yang normal tanpa nangis hiihihi…) “Pekerjaan mana yang saya tuliskan yang tidak saya lakukan dan merupakan pekerjaan Mba? Saya tidak mungkin mengakui pekerjaan yang bukan pekerjaan saya Mba” Aku langsung mengingatkan semua detail dan bukit-bukti yang aku kerjakan. Beliau cukup terkejut dan berdalih, “iya, tadi aku maunya itu direvisi dulu, biar kamu juga tau, biar bisa diskusi, tapi waktu tidak cukup”.

Phfiuuuh….Oke, cukup untuk sementara informasi yang aku dapatkan ketika wudhu di kamar mandi, dan dilanjutkan sedikit setelah Sholat Magrib. Oya, aku ingat doaku selesai sholat saat itu adalah mohon agar hasil penilaian yang membuat aku terperangah ini tidak akan mempengaruhi performance selanjutnya, tidak akan menurunkan semangat kerjaku, agar aku bisa bersabar dan berani bertanya tentang semua hal yang masih mengganjal di pikiranku.

Setelah itu aku langsung berpikir aku harus menanyakan kepada atasan AVP. Aku memikirkan cara yang tepat berhubung ruangan kerja kami yang sempit dengan jarak masing-masing 1-1,5 meter saja, dimana dapat dipastikan jika aku berbicara langsung akan didengar oleh seisi ruangan. Hal itu menurutku tidak terlalu baik, karena ini menyangkut mempertanyakan hasil keputusan atasan, jangan sampai membuat beliau merasa disudutkan di depan anak buahnya. Selain itu beliau juga seorang laki-laki, jadi tidak bisa berbicara ketika di kamar mandi seperti dengan managerku tadi hehehheh…

Akhirnya aku menemukan media yang tepat yaitu email. Malamnya aku diskusi dengan “seseorang” lewat telfon dan disanalah aku menangis Bombay ketika mengungkapkan ketidakpuasanku terhadap perlakuan itu hahhaah…lebay….Ingat kan teori “boleh berekspresi menangis jika memang harus menangis?” Hehhe…Dia mendengarkan dan bersabar menunggu tangis Bombayku berubah menjadi tangis Jahe atau Lengkuas *ngaco*. Aku ceritakan semuanya dan ungkapkan keinginanku untuk mengirim email ke atasan AVP biar lebih puas dan dia mensupport aku untuk bertindak *thnx a lot hunney*…

Selesai nelfon aku bikin draft hal-hal apa saja yang akan aku bahas dalam email esok hari. Menurutku media ini adalah pilihan yang tepat, dengan sebuah tulisan, aku bisa menyampaikan kronologisnya dengan jelas berikut hasil scan penilaianku yang aku copy ke bagian SDM untuk memudahkan dan mengingatkan atasanku dalam pembahasan di email. Aku juga bisa memilah kata-kata yang tepat dan emosi lebih terkontrol serta mencantumkan semua bukti2 pencapaianku. Aku kirim email siang sebelum aku berangkat ke puncak karena sebagai panitia acara harus duluan berangkat. Kebetulan setelah sholat Jumat itu ruanganku kosong, ketika aku mau wudhu yang baru kembali ke ruangan adalah atasan AVP. Ahhh..tepat sekali, batinku. Aku langsung membuka draft emailku dan bilang “Mas, saya mau kirim email ya sekarang. Oya, saya mau sholat dulu mas, nanti kita bahas ya hehhehe”. Alhamdulillah caraku berkomunikasi masih seperti biasa, dan caraku bekerja sejak kemarin malam sampai siang itu tidak berubah.

Berhubung aku pulang duluan, aku tidak mendapatkan jawaban hari itu. Acara fam-gath di puncak juga kami masih kompak dan bersahabat sebagai tim dan mengikuti perlombaan yang ada. Hari Senin ketika menyalakan komputer, hal yang pertama aku buka adalah email dan ternyata oh..nooo..tidak ada balasan.

Seperti biasa Senin dimulai dengan meeting internal, dan kemarin cukup spesial karena pembahasan juga lebih beragam dan aku tidak menyangka ternyata masalah penilaian diselipkan diantara pembahasan itu. Terlihat sekali bahwa penjelasan beliau mengenai penilaian adalah untuk membahas semua pertanyaanku di email satu-persatu. Beliau membahas tanpa melihat ke arahku dan terkadang memandang ke bawah seperti memilih kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan. Intinya adalah hal itu terjadi bukan karena pekerjaan yang dihasilkan standar/tidak memuaskan tapi semata-mata karena harus memenuhi kurva distribusi normal kuota/penjatahan dari setiap unit. Tapi beliau berjanji hasil penilaian seperti saat ini bukan berarti akan begitu selamanya, dan tidak akan mempengaruhi pengembangan karir selanjutnya karena beliau akan melihat hasil kerja nyata bawahannya. Beliau juga meminta maaf karena hanya berhasil memperjuangkan bawahannya sampai tingkat itu saja, minta maaf karena tidak bisa memuaskan semua pihak. Beliau berharap, hal ini tidak akan menjadi demotivasi.

Waktu beliau mengucapkan permintaan maaf yang lebih dari dua kali itu, aku merasakan permintaan itu ditujukan buat aku. Mataku mulai memanas tapi aku tahan donk, gak mungkin nangis, gak profesional banget sih hahahhahaha.... Akhirnya aku lega setelah mendengar penjelasan itu walaupun tidak langsung ke aku, tapi aku tahu itu sebagian besar ditujukan buat aku karena pertanyaan itu berasal dari aku. Jadi...berani terbuka, jujur, mempertanyakan hal yang masih mengganjal hati kita walaupun pada kasus ini tidak akan mengubah “hasil”, namun tentunya akan melegakan daripada hanya bersungut-sungut dibelakangnya, tetap tidak menemukan jawabannya, berpikiran buruk dan muka selalu ditekuk, yang akhirnya malah akan berujung jadi males-malesan kerja. Alhamdulillah...legaaaa... ;)

So, keep up the good work ….. Yeahh ^_^V

Thursday, July 30, 2009

:: Whaaat?? Ada bunga dari "secret admirer"?

Pas masuk ruangan aku langsung dipanggil bos, terjadilah dialog tanpa skenario berikut:

“Mel, ngomong dulu donk sama saya“. 

„Mengenai apa mas?“ jawabku bingung. 

„Klo mau ada yang kirim-kirim bunga bilang dulu.“

Dengan tampang melongo karena gak ngerti „Bunga apaan mas?“.  Yang terlintas di pikiranku adalah bunga bank, tapi aku kan gak buka tabungan konvensional. Baru-baru ini aku justru lagi buka Tabungan Perencanaan Syariah*). 

„Liat tuh di meja kamu“, balasnya. 

Aku langsung ke meja dan disambut ledekan teman-teman seruangan.  „Cieeee...yang dapet bunga, romantis sekali yang ngirimnya, duuh senangnya, SMS dulu lah yang ngirim“

Aku langsung ketawa ngakak ngeliat bunga itu.  „Pasti ini ada yang ngerjain deh, hayoo ngaku“, jawabku.

„Enggak kok mel, tadi ada yang antar. Baca donk tulisannya.“, jawab salah satu dari mereka.

Aku ambil bunganya dan kulihat ada tulisan menggunakan spidol hitam di atas kertas putih polos „You looks beautiful today“. From your lover admire.

Wuakakkakaka….kok ”your lover admire” sih? Berarti dia mengagumi my lover donk jhiahahah….Mungkin aku dikasih bunga biar gak ada iklim persaingan diantara kami gitu ya hihihi…Atau jangan2 maksudnya “secret admirer” kali ya hahhaha….makin penasaran siapa sih yang ngerjain aku?

 

Aku langsung sms ”seseorang”, tapi aku juga gak yakin “dia” yang kirim kalo dilihat dari isi tulisannya.  Pastinya kalo “dia” yang kirim tulisannya lebih dahsyat .  Selain itu juga aku gak yakin “dia” seromantis itu hahahha....SMS akhirnya dibales dan "dia" bilang gak kirim bunga, malah ujung-ujungnya aku diledekin heheheh....

 

Ternyata berita menyebar dengan cepat ke satu divisi ini melalui WinMessenger to all, gini isi ledek-ledekannya aku copy-paste:

Mirna               : ciye..ciye...meli...mukanya jadi merah gitu mel abis trima bunga....:p

Novi                 : cieee....from your lover admirer,,,,

Mirna               : duh ga kuwaaaaaaat bahasanya..."you looks beautiful today.." aw..aw..aw....;)

Pio                   : aduh mel.. lo bikin mirna naik darah aja deh hehheheee :p

Novi                 : TAU LO MBA MEL...BIKIN BANYAK ORG MERASA IRI...HAHAHAHAHA...

Mirna               : ga Pi...gw ikhlas demi kebahagiaan Meli..dah bosen dikirimin bunga soale... hahaha ;)

Dessi                : sabar ya mir...:-D:-D

Maya               : dari kang dadang yach ?

Pio                   : dari ibrahim may :p

Novi                 : kayaknya dari mang kosim deh...

Mirna               : bukan Nov..dari mang Ujang tukang kebun wortel dipuncak kemarin deh... hehehehe

Doni                 : Dari ABDUL - LOH..:-D

Mas Bambang  : dari Ibrahim  floris JW Marihot

Mirna               : eh iya kan emang dari Ibrahim tuh..mel..hati2 mel mengandung BOM...:p

Mas Slamet      : dari pak Dadang (green Hill)

Mirna               : wah mas bambang tau aja, jangan2 admirenya mas bambang lagi heheehe Peace mas;)

Novi                 : ehemm..ehem....

Mas Bambang  : hayo pada kerja....

Pio                   : uuppss....

Ida                   : dari gw tuch sebenernya.....xixixixixixixixi

Mirna               : wakakakakak...cara ngeles yang JITU!.....hayooo Kerja!..

Bang Cho         : pe'e keliatan jd cemberut tuch mel, cemburu kale ye

Pio                   : duh peey... masih kurang yg dirumah? dah 2 orang yg nungguin elo, emang  susah ya kalo dah kepincut meli... hihihi

Bang Cho         : memangnya bener mel elo dapet bunga??

Fery                 : MELIII...... BUNGA ITU HARAAAAAM !!!!!

Ida                   : kecuali dari elo ya pe

Hahha...aku gak bales komen sahut-sahutan di atas, takut makin panjang, ujung-ujungnya jadi pada gak kerja deh heheheh...Tapi aku bales komen yang kirimnya secara PM, plis cekidot:

Fery                 : ciyeee meli, dimas romantis juga yah.....

Meli                 : gak mungkin bgt dimas...impossible..pasti elo ngerjain gw kan?? gw tau lah...anak2

                           ujung sono pada senyum2 jail gitu, udh ketebak :p

Fery                 : waduuuh.......

Meli                 : hahha....ngakuuuuuuuuuuu

Fery                 : kalo gw seh gak sudii kalo itu membuat kalian makin hot....

Fery                 : kalo bukan dimas siapa lagi mel? gawat loe yah, ketauan dimas bisa putus  maning kowe....

Meli                 : ya elo lah pasti....di ruangan elo itu yg penuh tepu muslihat pengen ngerjain gw kan

                           hahahha...ngaku llooo...paling juga ngambil bunga USY di depan pio hahahha

Fery                 : wah dirimu penuh dg kebencian akan kelompok kami... baiklah, cukup tau saja mel.......

                           muach,,,

Meli                 : cuiiih

Fery                 : sluuuurps...... aaaaahhh,,,,,,

Meli                 : preeeeeeeeet

Fery                 : kasar banget seh mel, setelah apa yg telah kita lalui kemariin.....

Meli                 : wakkakak...ngaco lu...udah ahhh, kerjaaaaaaa..kerjaan gw banyak nih...klo lo msh nulis lagi gak kan gw bls okeh --case closed--

 

Hmm.....akhirnya tetap tidak menemukan jawaban darimana asal bunganya.  Ya sudah, siapapun deh orangnya yang ngasih bunga itu, baik niatnya mo ngerjain doank atau memang ada seseorang yang tidak bisa aku prediksikan siapa dia yang mau berbagi kebahagiaan lewat karangan bunga, aku mo ngucapin ”makasih ya..bunganya wangi dan cantik, aku seneng kok, secara selama ini belum pernah dapet kiriman bunga hahahhahah”.

Cheers.. ^_^V

 

*) Tapenas Syariah, Bagus loh berupa tabungan perencanaan untuk pendidikan si buah hati atau untuk rencana lain dimasa depan mulai dari 100rb-5juta/bulan selama 1-15th dengan bagi hasil yang baik dan biaya administrasi hanya Rp.500/bulan. Angsuran bulanan akan dilakukan secara autodebet dari rekening afiliasi nasabah.  So, bikin segera ya...Hehhehe...sekalian promosi ;)

 

PS: foto bunganya gak bisa di aplot, tapi mirip deh ama gambar yang aku pasang di atas, tapi bedanya ini dalam rangkaian plastik.

 

Wednesday, July 29, 2009

^Belajar berekspresi mulai dari kanak-kanak^

Miris, kesel, sakit hati, geram duuh campur-campur perasaanku ngeliat email berisi video seorang pembantu yang bersikap kasar dan menyiksa anak majikannya. Aahhh…bisa emosi tingkat tinggi kalo aku ceritain dengan detail kejadian dalam rekaman video tersebut. Namun yang ingin aku bahas dalam postingan-super-panjang ini dan insya Allah untuk diterapkan nantinya adalah tentang usaha membangun keberanian, keterbukaan, dan kejujuran kepada anak sejak usia dini karena karakter itu akan melekat dan terbawa hingga ia beranjak dewasa.  Salah satu fungsinya adalah sebagai pertahanan/penjagaan diri baginya jika ia diperlakukan dengan tidak wajar.

Bagaimana jika kejadian kekerasan oleh pembantu seperti kisah di atas tidak kita ketahui sebagai orangtua yang sibuk bekerja di siang hari dan pulang di malam hari? Tentunya akan sangat menyedihkan jika anak tidak berani bercerita atau akan sangat disesalkan jika kita tidak dapat menangkap perubahan sikap anak hingga kejadian ini berlarut-larut.  Dari video itu aku terinspirasi untuk merancang tindakan preventif sederhana untuk menjaga buah hatiku di masa depan *amiin*. 

Langkah pertama, kita harus melakukan antisipasi dengan memperhatikan setiap perubahan gerak-gerik anak serta sikapnya terhadap pembantu di rumah. Orangtua terutama ibu harus peka membaca situasi jika anak memperlihatkan tanda-tanda seperti: enggan berdekatan dengan pembantu, terlihat ketakutan, benci, marah atau bahkan sikap anak menjadi kasar yang berarti menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres dibalik itu. Untuk itu diperlukan komunikasi yang intens dengan menanyakan kondisi dan kegiatan anak setiap hari.

Langkah kedua, berupa hal mendasar yang dapat diajarkan kepada anak yaitu berani bersikap, tidak takut mengeluarkan pendapat dan yang terpenting berani berkata jujur jika benar, meminta maaf jika bersalah, sportif menerima kekalahan, dan tidak takut dengan ancaman. Dengan demikian anak akan tumbuh percaya diri, rendah hati dan integritasnya tidak diragukan.

Langkah berikutnya, ajarkan anak untuk berekspresi dengan bebas sesuai perasaannya senang, sedih, marah, takut agar kita dapat “membacanya” dengan jelas. Biarkan anak menangis jika memang dia sedih, biarkan dia tertawa jika senang, biarkan dia belajar mengungkapkan rasa marahnya jika marah, biarkan dia memperlihatkan rasa takutnya ketika takut dan tentunya orangtua lah yang memagari bagaimana cara mengeluarkan ekspresi itu dengan tepat sesuai porsinya. Dengan kebebasan berekspresi ini, anak akan tumbuh menjadi anak yang berjiwa sehat dan memliki hati yang lembut/peka. Jika ekpresinya dilarang seperti bentakan “Hey…diaaaam…jangan nangis!!”, padahal dia sedang sedih , lama-kelamaan anak akan mati rasa. Dia harus menelan semua perasaannya seolah-olah baik-baik saja yang akhirnya bisa mengeraskan hati. Jika dihubungkan dengan kejadian di atas, jika saja sang anak berani memberitahukan perlakuan buruk yang diterimanya bahkan saat dia berada dalam tekanan diancam harus diam, tentunya tindakan kekerasan terhadap anak dapat dicegah.

Sehubungan dengan keberanian dan kejujuran, aku ingin flash back kejadian saat aku masih TK. Waktu jam istirahat adalah waktu yang dinanti-nantikan semua anak-anak termasuk aku. Aku dan teman-teman bermain ayunan dimana dalam satu ayunan itu maksimal menampung 6 orang. Permainan yang biasa saja tapi seru karena bisa teriak-teriak dan tertawa bersama-sama sambil diayunkan sekencang-kencangnya ihiiiyy…Berhubung fasilitas mainan hanya sedikit, dan ayunan yang cukup besar hanya ada satu, rutinitas rebutan main ayunan tidak terelakkan lagi. Ketika jumlah peserta sudah penuh 6 orang, dan temanku bernama Nenen *duuuh…namanya gak nahaaaan hehehe* ingin bergabung, aku menyarankan agar dia masuk ke antrian berikutnya.

Tak disangka si Nenen berbalik ke arah mamanya sambil menangis dan bilang “Nenen dilarang Meli main ayunan, Ma”. Mamanya Nenen tanpa nanya-nanya langsung mendaratkan cubitan yang kecil dipelintir dan cukup lama diperutku yang masih mungil aawwww…lumayan rasanya…Aku langsung bertanya “Kenapa Meli dicubit, Ma?”. Dijawab “Kenapa Meli larang Nenen main ayunan?”. Aku jawab lagi “Meli gak ngelarang Nenen, tapi karena udah penuh Meli minta Nenen tunggu antrian berikutnya aja”. Eh, si Mama malah melotot seolah-olah bola matanya mau copot.

Aku yang udah disakitin plus dipelototin dan gak merasa bersalah langsung berlari menemui ibu guru. Aku lapor “Ibu, Mamanya Nenen nyubit Meli karena Meli suruh Nenen nunggu antrian ayunan berikutnya karena udah penuh. Meli jelaskan malah Meli dipelototin mamanya Nenen, Bu”. Dengan tergopoh-gopoh mamanya Nenen menyusul ke arah kami. Satu hal yang aku sesali sampai saat ini adalah aku tidak mendengarkan pledoi-nya mama Nenen heheheheh…. Iya, m-e-n-y-e-s-a-l karena penasaran temans. Saat itu aku hanya teringat kata mamaku bila orang dewasa sedang berbicara, anak kecil tidak baik jika ikut mendengarkan. Berdasarkan petuah itu, setelah mengungkapkan isi hatiku ke ibu guru, aku langsung pergi karena berikutnya adalah sesi percakapan orang dewasa.

Masih dengan tanda tanya menggelayut dipikiran, sepulang sekolah aku menceritakan kejadian itu kepada mama di rumah dan menanyakan ”Ma, boleh gak jika tadi Meli ikut mendengarkan apa yang akan disebutkan mamanya Nenen? Meli tadi langsung pergi karena itu sudah masuk pembicaraan orang dewasa? Jadinya Meli gak tau apa jawabannya, Ma” . Terus mamaku tercinta menjawab “Tentu saja boleh Nak, dalam pembicaraan orang dewasa tadi kan Meli juga terlibat langsung, jadi Meli boleh tetap mendengarkan dan menjawab dengan jujur jika Meli ditanya. Yang tidak boleh adalah jika tidak berhubungan dengan Meli. Ya sudah, Meli sudah bersikap berani dan jujur, selanjutnya tetap berteman baik dengan Nenen ya, Nak”.

Arrrggghh…aku langsung menyesal setengah mampus kenapa tidak mendengarkan pembicaraan mama Nenen vs Ibu Guru. Aku yang dianugrahi penghargaan sebagai Miss Curiousity terbaik pertama se-Jabodetabek sampai hari ini masih saja penasaran apa kira-kira pembelaan mama Nenen itu *klo ketemu dan masih ingat mukanya aku tanya deh* hehhe... Pikiran yang terlintas saat kejadian hanyalah aku tidak membuat kesalahan, hanya menyarankan antri sesuai prosedur naik ayunan bersama, dan mama Nenen akan mengakui perlakukan kasarnya terhadap aku di depan ibu guru walaupun tidak ada aku disana. Pemikiran anak kecil yang masih sederhana dan jauh dari prasangka buruk ya. Coba kalo sekarang, aku mungkin akan berpikir beberapa hal: pertama, sesuai dengan pemikiran di atas, atau alternatif kedua mama Nenen menyalahkan aku telah melarang anaknya ikut bergabung sampai anaknya menangis. Alternatif ketiga, mengarang aku mencubit Nenen sampai menangis atau bahkan alternatif keempat tidak mengakui ada adegan cubit dan melotot dan bilang aku mengada-ada. Hahahhaha….pemikiran ketika dewasa yang sangat “bertanduk”. Tidak baik untuk dicontoh ya adik-adiiiikkkk….

Terkait dengan kejadian di atas, pada kasus pertama jika anak telah terlatih untuk berekspresi dan berbicara terbuka terhadap orangtuanya, maka kekerasan dari pembantunya dapat dihentikan segera.  Langkah selanjutnya mungkin dengan cara memecatnya dengan tentunya terlebih dahulu di tampar bolak-balik hahahha….*saran yang salah*. Untuk kasus kedua sang anak berani dan jujur menceritakan kejadian sebenarnya kepada guru dan orangtua murid, berani mengeluarkan pendapat dan membela diri ketika disakiti. Walaupun rasa sakit dari cubitan itu tidak hilang, tapi sang anak bisa menunjukkan kepada yang menyakitinya "aku tidak akan diam saja jika disakiti".

Temans...masih ingat donk dengan pepatah "Berani karena benar, takut karena salah"? Ada benernya tuh, meskipun banyak juga orang yang bersalah namun berani melakukan pembelaan mati-matian terhadap dirinya. Hmmmm....Bagaimana kalau untuk menutup postingan panjang yang cukup melelahkan ini kita buat rumusan kata-kata bijak untuk hari ini :”Jangan mau tertindas, pertahankan kejujuran dan tunjukkan keberanian jika yakin tidak bersalah!” Oke kan? Yuhuuuu.. ^_^V

 

PS: Mama...terima kasih telah mengajari kejujuran dan keberanian yang ternyata sangat penting bagi anakmu ini. Love u n miss u so mamaku chayank...huuhuhu..

Friday, July 17, 2009

>>Persaudaraan sejati ada di hati<<

Genangan air hampir saja meluap dari telaga kecil itu.  Namun serta merta sang air surut tatkala telaganya secara ajaib berekspansi beberapa meter.  Selanjutnya yang tampak hanyalah riak kecil, lembut  dan teratur disela hembusan perlahan sang angin dipermukaan air yang menari dengan anggunnya.

*  *  *
“Assalamualaikum, Apa kabar, Dik?”, sapa Furqan melalui telefon genggamnya. 
“Waalaikumsalam…Alhamdulillah baik bang, hanya sedikit batuk”, jawab Fathiyya. 
“Jaga kesehatan ya, makan dan istirahat yang teratur, nanti malah gangguin aktifitas loh”, lanjut Furqan. 
“Heheh..iya, makasih bang, abang sendiri gimana kabarnya?”, jawab Fathiyya ceria. 
“Baik sih, cuma abang sedikit stress menjelang hari H itu.  Abang di pulau ini, sementara semua persiapan dilakukan oleh saudara di Jakarta”, terang Furqan. 
“Wah, tenang aja bang, insya Allah saudara abang akan mengusahakan persiapan yang terbaik, yang penting abang siapin mental dan mesti sehat, rugi loh kalo sakit pas hari H-nya hehehe…”, canda Fathiyya.
“Hahaha…iya ya. Mohon doanya agar lancar ya Dik”, pinta Furqan.
“Siipp...insya Allah didoain kok bang”, jawab Fath.

Hening sejenak.........

“Hmmm.....adik rencananyaaaaa....hmm...datang gak di acara nanti?”, lanjutnya.
“Tentu donk jika diundang..Emang kenapa abang nanyanya gitu?”, tanya Fath yang menangkap ada sesuatu.
“Gak kenapa-napa”, jawab Furqan singkat.
“Memangnya menurut abang lebih baik gimana, Fath datang apa gak?”, kejar Fath.
“Terserah adik mau datang atau tidak“, jawab Furqan namun nadanya bukan "terserah" seperti ucapannya.
“Kok terserah sih? Kan Fath tanya lebih baik datang apa gak menurut pemikiran abang? Kalo masalah keputusan ya tetap dari Fath”, balas Fath.
“Iya, kalau adik mau datang silakan, kalau tidak bisa datang juga gak apa-apa. Makin terdengar seolah-olah ingin berkata jangan. Oya, abang mau pergi dulu ya”, jawab Furqan terburu-buru dengan intonasi yang aneh.
“Tunggu bang...Oke, Fath ngerti maksud dari jawaban abang.  Abang tidak perlu segan. Kalau itu yang abang inginkan, Fath akan penuhi”, lanjutnya tegas.
“Iya...itu yang abang inginkan, ucap Furqan yang merasa lega Fath mengerti. Udahan ya, makasih”, balas Furqan bergetar.
“Sama-sama bang, Assalamualaikum”, Fath ucapkan salam.
“Waalaikumsalam”, balas Furqan mengakhiri pembicaraan.

Fath terdiam dan berpikir...

Kenapa abang tidak menginginkan Fath hadir di hari bahagianya? Kenapa dia tidak ingin Fath menyaksikan dia menjadi muslim yang sempurna ketika menggenapkan setengah diennya? Kenapa nada suaranya berubah saat mengatakan itu? Fath mencari-cari dan mengingat-ingat dalam hati getaran suara Furqan ditelfon tadi. Ada apa? Si bening yang bersembunyi dibalik bola mata indahnya mulai menampakkan diri dan menggelayut di kelopaknya, namun tidak sempat menetes, hanya berputar sebentar dan kemudian masuk lagi bersamaan dengan senyuman di wajah Fath dan tatapannya yang lebih lembut dan ceria.  Aura positif berhasil menyusup halus menuju otak dan menguasai perasaan Fath.  Dia tahu bahwa Furqan tidak bermaksud memusuhinya, tidak mungkin laki-laki yang dijuluki lelaki-berjiwa-malaikat oleh teman-temannya itu berniat menjauhi atau menyakitinya dengan kata-kata tadi.  Furqan bersikap demikian tentunya untuk menjaga hatinya dan hati “dia”.  Mungkin juga Furqan berpikir untuk menjaga hati Fath pada saat bersejarah itu terjadi walaupun sebenarnya bagi Fath sama sekali tidak ada masalah.

Dalam perenungannya Fath memaklumi sikap Furqan, bahwa tumbuhnya tunas menjadi pohon berakar kuat dalam waktu sewindu tentunya telah menciptakan harapan untuk dapat berteduh dan menikmati buahnya.  Namun ketika pohon sudah tumbuh semakin rindang dan berbuah, ternyata buahnya tidak bisa dipetik karena sudah dipesan oleh seorang yang misterius.  Mencabut pohon lama beserta akarnya untuk digantikan dengan tunas baru hingga menjadi pohon berakar kokoh lagi, tentunya bukanlah hal yang mudah.  Mencabutnya pun bukanlah hal yang bijak karena akan meninggalkan lobang yang mengurangi estetika.  Hal itu juga hanya membuang energi mengingat pohon itu tidak mengandung racun dan tidak pernah menjalar keluar dari kavlingnya sebagai parasit.  Akan lebih baik menanam tunas baru di kavling lain yang telah digemburkan dan diberi pupuk dengan pengairan yang memadai.  Pohon berakar kokoh tadi biarkan tetap disana.  Bukan untuk dihancurkan, namun juga bukan untuk berteduh dibawahnya lagi.  Biarkan pohon itu tetap tumbuh setia menunggu janji seorang misterius yang akan menjaga, merawat dan berhak memetik buahnya.  Kebaikan dimasa lalu ketika memperlakukan sang pohon dengan istimewa, membersihkan tanaman pengganggu disekitarnya serta memberikan pengairan dan pupuk yang cukup akan berbuah manis dimasa kini karena telah menjadikan sang pohon sebagai penghalang banjir dan erosi yang mungkin saja dapat menggerogoti ladang baru.  

Binar ceria kembali memantul di mata Fath.  Dia merasa  kagum dan menghormati langkah Furqan menyelamatkan tunasnya.  “Bagus bang, tak perlu memikirkan pohon karena ia memang sudah kokoh, lindungi dan rawat tunas kecil dihadapanmu hingga tumbuh sempurna.  Berdampingan, tidak harus pada satu tempat.  Berbarengan, tidak harus pada satu waktu. Kebersamaan dan persaudaraan hakiki itu ada dihati, bukan diraga semata.” gumam Fath dalam hati sambil tersenyum lega.

Thursday, July 9, 2009

:: air tapi api, api namun air

Aku adalah air yang mengandung api
Aku adalah api yang berunsur air

Aku mengaliri tengorokanmu kala dahaga
Aku menghangatkanmu saat dilanda hipotermis
Aku bertransformasi menjadi oasis saat kau di gurun pasir
Aku menyublim bersama wangi lilin aromatherapimu
Aku hening tak beriak saat menjadi telagamu
Aku meliuk perlahan di atas sumbu lenteramu
Aku ada saat kau inginkan segelas susu coklat
Aku ada saat kau butuhkan kehangatan api unggun di kemahmu
Aku mengguyur debu yang menempel di rambutmu
Aku membakar sampah yang mengotori pekaranganmu


Tapi..
Aku melumatkan pengkhianat dengan baraku
Aku menggulung yang angkuh dengan tsunamiku
Aku menghempaskan pengganggu dalam palung terdalamku
Aku membakar yang munafik hingga menjadi seonggok abu

Aku bisa menjadi bendungan air sekaligus memuntahkan banjir
Aku bisa menyalakan sebatang korek api sekaligus menghanguskan sekitarnya 

Bawalah selalu termometermu
Agar kau tahu pergolakan suhuku

Friday, July 3, 2009

Di balik layar pengundian "Maroko it's amazing country" ;P


Baca donk tulisan di bawahnya "Model" coy....semakin mengukuhkan status ke cucu nanti hihihi...

Uhuyyy..!

Akhirnya 1 Juli kemarin terpilihlah 6 orang pemenang paket perjalanan wisata ke Maroko sebagai pemegang Hasanah Card - sebuah produk kartu kredit berbasis syariah - yang dikeluarkan oleh BNI.

Aku yang lagi enak-enakan nelfon terpaksa harus memutuskan pembicaraan karena dipanggil managerku. Terjadilah dialog keramat ini:
M: "Ada apa mas?"
A: "Kamu foto deket banner hasanah ya, untuk materi publikasi"
M: "Hah? Sekarang?" **melongo liat puluhan wartawan menanti dengan kamera siap bidik dan semua sedang melihat ke arahku
A: " Iya, siap kan?"
M: "Siaaaaap". **langsung narik tissue dimeja terdekat untuk ngelap keringat.

Hahaha.. Aku maluuu banget melangkah ke tengah arena putu2 itu, tapi dasarrr berjiwa model ya **pengsan, aku nyengar/i deh menghilangkan grogi hihihi.... Lama bangeet photo session nya sampai gigiku kering, mana wartawannya pada gokil2 lagi, becanda melulu, minta nomor hape lah yang aku jawab "nomor sepatu perlu gak?" hahahha....trus minta alamat pesbuk lah, yang hanya ku jawab dengan senyum khas selebrities... Jhiaaaaaaaa...

Ada sekitar 10 media (koran, tabloid dan majalah) yang meliput acara hari itu. Gambar-gambar ini sebagian yang baru diterbitkan sedangkan yang lain kemungkinan akan ditampilkan di segmen yang berbeda seperti: Cosmopolitan, Dewi, Aneka Yess, FHM, dan Hidayah kekekke....

Wow...tambah lagi deh bukti buat cucu-cucu ku nanti ditahun 2035 kalo nenek nya ini emang seorang model di jamannya. Seddaaaap... ;)