Miris, kesel, sakit hati, geram duuh campur-campur perasaanku ngeliat email berisi video seorang pembantu yang bersikap kasar dan menyiksa anak majikannya. Aahhh…bisa emosi tingkat tinggi kalo aku ceritain dengan detail kejadian dalam rekaman video tersebut. Namun yang ingin aku bahas dalam postingan-super-panjang ini dan insya Allah untuk diterapkan nantinya adalah tentang usaha membangun keberanian, keterbukaan, dan kejujuran kepada anak sejak usia dini karena karakter itu akan melekat dan terbawa hingga ia beranjak dewasa. Salah satu fungsinya adalah sebagai pertahanan/penjagaan diri baginya jika ia diperlakukan dengan tidak wajar.
Bagaimana jika kejadian kekerasan oleh pembantu seperti kisah di atas tidak kita ketahui sebagai orangtua yang sibuk bekerja di siang hari dan pulang di malam hari? Tentunya akan sangat menyedihkan jika anak tidak berani bercerita atau akan sangat disesalkan jika kita tidak dapat menangkap perubahan sikap anak hingga kejadian ini berlarut-larut. Dari video itu aku terinspirasi untuk merancang tindakan preventif sederhana untuk menjaga buah hatiku di masa depan *amiin*.
Langkah pertama, kita harus melakukan antisipasi dengan memperhatikan setiap perubahan gerak-gerik anak serta sikapnya terhadap pembantu di rumah. Orangtua terutama ibu harus peka membaca situasi jika anak memperlihatkan tanda-tanda seperti: enggan berdekatan dengan pembantu, terlihat ketakutan, benci, marah atau bahkan sikap anak menjadi kasar yang berarti menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres dibalik itu. Untuk itu diperlukan komunikasi yang intens dengan menanyakan kondisi dan kegiatan anak setiap hari.
Langkah kedua, berupa hal mendasar yang dapat diajarkan kepada anak yaitu berani bersikap, tidak takut mengeluarkan pendapat dan yang terpenting berani berkata jujur jika benar, meminta maaf jika bersalah, sportif menerima kekalahan, dan tidak takut dengan ancaman. Dengan demikian anak akan tumbuh percaya diri, rendah hati dan integritasnya tidak diragukan.
Langkah berikutnya, ajarkan anak untuk berekspresi dengan bebas sesuai perasaannya senang, sedih, marah, takut agar kita dapat “membacanya” dengan jelas. Biarkan anak menangis jika memang dia sedih, biarkan dia tertawa jika senang, biarkan dia belajar mengungkapkan rasa marahnya jika marah, biarkan dia memperlihatkan rasa takutnya ketika takut dan tentunya orangtua lah yang memagari bagaimana cara mengeluarkan ekspresi itu dengan tepat sesuai porsinya. Dengan kebebasan berekspresi ini, anak akan tumbuh menjadi anak yang berjiwa sehat dan memliki hati yang lembut/peka. Jika ekpresinya dilarang seperti bentakan “Hey…diaaaam…jangan nangis!!”, padahal dia sedang sedih , lama-kelamaan anak akan mati rasa. Dia harus menelan semua perasaannya seolah-olah baik-baik saja yang akhirnya bisa mengeraskan hati. Jika dihubungkan dengan kejadian di atas, jika saja sang anak berani memberitahukan perlakuan buruk yang diterimanya bahkan saat dia berada dalam tekanan diancam harus diam, tentunya tindakan kekerasan terhadap anak dapat dicegah.
Sehubungan dengan keberanian dan kejujuran, aku ingin flash back kejadian saat aku masih TK. Waktu jam istirahat adalah waktu yang dinanti-nantikan semua anak-anak termasuk aku. Aku dan teman-teman bermain ayunan dimana dalam satu ayunan itu maksimal menampung 6 orang. Permainan yang biasa saja tapi seru karena bisa teriak-teriak dan tertawa bersama-sama sambil diayunkan sekencang-kencangnya ihiiiyy…Berhubung fasilitas mainan hanya sedikit, dan ayunan yang cukup besar hanya ada satu, rutinitas rebutan main ayunan tidak terelakkan lagi. Ketika jumlah peserta sudah penuh 6 orang, dan temanku bernama Nenen *duuuh…namanya gak nahaaaan hehehe* ingin bergabung, aku menyarankan agar dia masuk ke antrian berikutnya.
Tak disangka si Nenen berbalik ke arah mamanya sambil menangis dan bilang “Nenen dilarang Meli main ayunan, Ma”. Mamanya Nenen tanpa nanya-nanya langsung mendaratkan cubitan yang kecil dipelintir dan cukup lama diperutku yang masih mungil aawwww…lumayan rasanya…Aku langsung bertanya “Kenapa Meli dicubit, Ma?”. Dijawab “Kenapa Meli larang Nenen main ayunan?”. Aku jawab lagi “Meli gak ngelarang Nenen, tapi karena udah penuh Meli minta Nenen tunggu antrian berikutnya aja”. Eh, si Mama malah melotot seolah-olah bola matanya mau copot.
Aku yang udah disakitin plus dipelototin dan gak merasa bersalah langsung berlari menemui ibu guru. Aku lapor “Ibu, Mamanya Nenen nyubit Meli karena Meli suruh Nenen nunggu antrian ayunan berikutnya karena udah penuh. Meli jelaskan malah Meli dipelototin mamanya Nenen, Bu”. Dengan tergopoh-gopoh mamanya Nenen menyusul ke arah kami. Satu hal yang aku sesali sampai saat ini adalah aku tidak mendengarkan pledoi-nya mama Nenen heheheheh…. Iya, m-e-n-y-e-s-a-l karena penasaran temans. Saat itu aku hanya teringat kata mamaku bila orang dewasa sedang berbicara, anak kecil tidak baik jika ikut mendengarkan. Berdasarkan petuah itu, setelah mengungkapkan isi hatiku ke ibu guru, aku langsung pergi karena berikutnya adalah sesi percakapan orang dewasa.
Masih dengan tanda tanya menggelayut dipikiran, sepulang sekolah aku menceritakan kejadian itu kepada mama di rumah dan menanyakan ”Ma, boleh gak jika tadi Meli ikut mendengarkan apa yang akan disebutkan mamanya Nenen? Meli tadi langsung pergi karena itu sudah masuk pembicaraan orang dewasa? Jadinya Meli gak tau apa jawabannya, Ma” . Terus mamaku tercinta menjawab “Tentu saja boleh Nak, dalam pembicaraan orang dewasa tadi kan Meli juga terlibat langsung, jadi Meli boleh tetap mendengarkan dan menjawab dengan jujur jika Meli ditanya. Yang tidak boleh adalah jika tidak berhubungan dengan Meli. Ya sudah, Meli sudah bersikap berani dan jujur, selanjutnya tetap berteman baik dengan Nenen ya, Nak”.
Arrrggghh…aku langsung menyesal setengah mampus kenapa tidak mendengarkan pembicaraan mama Nenen vs Ibu Guru. Aku yang dianugrahi penghargaan sebagai Miss Curiousity terbaik pertama se-Jabodetabek sampai hari ini masih saja penasaran apa kira-kira pembelaan mama Nenen itu *klo ketemu dan masih ingat mukanya aku tanya deh* hehhe... Pikiran yang terlintas saat kejadian hanyalah aku tidak membuat kesalahan, hanya menyarankan antri sesuai prosedur naik ayunan bersama, dan mama Nenen akan mengakui perlakukan kasarnya terhadap aku di depan ibu guru walaupun tidak ada aku disana. Pemikiran anak kecil yang masih sederhana dan jauh dari prasangka buruk ya. Coba kalo sekarang, aku mungkin akan berpikir beberapa hal: pertama, sesuai dengan pemikiran di atas, atau alternatif kedua mama Nenen menyalahkan aku telah melarang anaknya ikut bergabung sampai anaknya menangis. Alternatif ketiga, mengarang aku mencubit Nenen sampai menangis atau bahkan alternatif keempat tidak mengakui ada adegan cubit dan melotot dan bilang aku mengada-ada. Hahahhaha….pemikiran ketika dewasa yang sangat “bertanduk”. Tidak baik untuk dicontoh ya adik-adiiiikkkk….
Terkait dengan kejadian di atas, pada kasus pertama jika anak telah terlatih untuk berekspresi dan berbicara terbuka terhadap orangtuanya, maka kekerasan dari pembantunya dapat dihentikan segera. Langkah selanjutnya mungkin dengan cara memecatnya dengan tentunya terlebih dahulu di tampar bolak-balik hahahha….*saran yang salah*. Untuk kasus kedua sang anak berani dan jujur menceritakan kejadian sebenarnya kepada guru dan orangtua murid, berani mengeluarkan pendapat dan membela diri ketika disakiti. Walaupun rasa sakit dari cubitan itu tidak hilang, tapi sang anak bisa menunjukkan kepada yang menyakitinya "aku tidak akan diam saja jika disakiti".
Temans...masih ingat donk dengan pepatah "Berani karena benar, takut karena salah"? Ada benernya tuh, meskipun banyak juga orang yang bersalah namun berani melakukan pembelaan mati-matian terhadap dirinya. Hmmmm....Bagaimana kalau untuk menutup postingan panjang yang cukup melelahkan ini kita buat rumusan kata-kata bijak untuk hari ini :”Jangan mau tertindas, pertahankan kejujuran dan tunjukkan keberanian jika yakin tidak bersalah!” Oke kan? Yuhuuuu.. ^_^V
PS: Mama...terima kasih telah mengajari kejujuran dan keberanian yang ternyata sangat penting bagi anakmu ini. Love u n miss u so mamaku chayank...huuhuhu..
pinter nih neng mely, dah bisa parenting, tinggal nerapinnya aja yaaa
ReplyDeleteinsya Allah mba...ntar juga berguru ke mba eva pakar parenting kita ini...apalagi soal ASI...ajarin ya mbaaa ;)
ReplyDeletelebih bagus lagi klo jgn tinggalkan anak hanya berdua dgn pembantu, minimal ada satu org keluarga yg mengawasi..
ReplyDeletejd dilema nih klo nt udah punya anak tetep kerja atau engga.. hmmmmh..
wah...gw minta bantuan siapa ya? biasanya sih temen2 minta ke ibu or mertua...nah...mamaku udh gak ada, camer juga udh gak ada huhuhu...berarti nyari orang yg bisa dipercaya aja ya heheh...
ReplyDeletenanti kerja atau gak? gak bisa diprediksi sih, krn kata yg udh ngelahirin susah ninggalin anak....nanti ketika hal ini udah dihadapan lo, pasti ketemu sendiri jalan keluarnya, yg penting sekarang nikah dulu hhiihi ;)
pastinyaaa... hihihi... mudah2an setelah nikah kita di karuniai anak yg lucu2, pinter2, cakep2, baik hati, dan soleh/soleha yaa.. amiin.. :D
ReplyDeleteamiin ya Rabbal alamiin... ^_^
ReplyDeletetambahin juga semoga dikaruniai kesehatan....
hihihi ... pas baca "... postingan super-panjang ..." langsung ngelirik slider bar nya ... wahahaha ternyata panjang ...
ReplyDeletebtw, pembantu yang lagi gendong bayi di sofa yaaah bu? ... yang bayinya ga mau diam, nangis mulu ...?
wakakakka.....langsung males bacanya ya da?
ReplyDeleteho-oh...betul..yang itu pidionya...