Yeaaaa...
Hari ini kami menuju Solo disiang bolong. Yow, saat terik matahari menyegat, membuat kening mengernyit sehingga kami mirip Koko dan Cici bermata sipit yang berjalan bergandengan menuju Stasiun Tugu. Jaraknya stasiun dari penginapan sangat dekat, seperti orang2 sering bilang hanya sepelemparan kolor. Hah? Emang kolor siapa yang dilempar? Sejauh apa jatuhnya si kolor? Berapa detik atau menit jika dikonversikan ke hitungan waktu? Apa warnanya? Ah.. Sudahlah, kok jadi ngomongin kolor hihihi.. Yang jelas sampai di stasiun kereta, beli tiket, tak berapa lama kereta yang sudah ngetem entah sejak kapan itu mulai menyalakan mesinnya. Aku bergegas, mempercepat langkah di belakang mamas sambil masih mengambil gambar2 sekitar yang menarik perhatianku.
Kereta yang kami tumpangi adalah Prameks, katanya berarti Prambanan Ekspress. Tapi berbeda dengan kereta express yang aku tumpangi setiap pagi menuju kantor, kereta ini tidak memiliki AC. Tempat duduknya keras, tidak ada bantalan busanya, persis kereta ekonomi di
Jakarta. Yang membedakan adalah pintu kereta tertutup saat kereta mulai berjalan, sedangkan di Jakarta pintu terbuka dan penumpang sampai manjat ke atap kereta saking penuhnya. Tapi yang cukup melegakan bahwa kereta berjalan cukup kencang dengan angin sepoi2 yang masuk melalui celah jendela2 yang sedikit miring, mungkin membukanya tidak sempurna. Penumpang tidak ramai, namun di stasiun Lempuyangan kereta mulai terisi hampir penuh. Aku lihat sekeliling ke arah penumpang lain. Ada yang tertidur. Ada yang ketakutan dengan belalang yang berjalan2 disekitar kursinya. Ada cewek berkacamata separuh muka, dengan rambut keriting diikat sedang sibuk bercerita dengan temannya. Ada yang terlihat pulas tapi tak berapa lama seperti mengunyah2 sesuatu dan kemungkinan besar permen karet. Namun aku iseng ngomong ke mamas biar dia ngerasa geli membayangkannya "Mas, adek tebak sepertinya cowok itu mengunyah sirih deh mas, dan kelihatannya udah 2 hari gak dibuang2" bisikku yang penasaran melihat reaksi jijiknya mamas. "Iya dan sirihnya setelah digigit, ditaruh, diambil, dan digigit lagi", sambungnya. "Hiyeeek, kok jadi malah makin jijay gitu khayalannya. Gagal deh maksud jelekku hahha...*maaf ya pembaca, postingan yang aneh*
Tak terasa 50 menit di atas kereta, kami sampai di stasiun Purwosari. Tujuan utama kami ke Solo adalah untuk mengunjungi makam almarhum bapaknya mamas. Kami melakukan tawar menawar dengan tukang becak yang hanya bisa berbahasa Jawa. Mamasku yang orang Solo tapi
vocab Jawa nya terbatas juga kesulitan mengartikan maksud si bapak. Tujuan kami adalah ke pemakaman Pracimaloyo. Akhirnya kami beralih ke tukang becak lain yang bisa berbahasa Indonesia walaupun tetap campur sari (dengan bahasa jawa) dengan penawaran menarik 20ribu pulang pergi. Kadang-kadang kami mengerti dengan pembicaraannya tapi lebih sering tidak mengerti. Tukang becaknya sangat bersemangat bercerita, sehingga kami menyahuti dengan "Ngono toh..hmmm.. yaaa..yo wes.." dan kosa kata sok tau lainnya untuk merespon agar bapaknya tetap semangat walaupun jadi tertawa sendiri (dengan tutup mulut takut ketauan) menyadari kekonyolan kami .
Mendekati perkuburan mulailah terjadi keajaiban. Bukan keajaiban yang bikin aku ternganga takjub dan kagum, tapi keajaiban yang bikin tanganku gatel buat ngejewer kuping mamas seperti jeweran ibu guru SD ke muridnya yang nakal hahaha..."Maaf ya dek, jewer aja deh, gak apa-apa kok", katanya. "Nanti aja ya mas, kalo semuanya sudah kelar biar puas melintir kupingnya", sahutku disambut tertawa kecutnya. Hahha...Kenapa jadi rasanya pengen ngejewer gitu? Karena ternyata mamasku tersayang, yang sudah lupa dimana tepatnya kuburan bapaknya, tidak mencari tau sebelum menuju ke sana sedetil-detilnya info mengenai lokasi dengan jelas. Jadilah kami sibuk menelfon kakaknya di Jakarta, berkali-kali karena tidak menemukan arah sesuai petunjuk, dan ternyata gerbangnya ada 2, ribet, muter-muter, salah arah. Terakhir setelah muter-muter ketemu dengan kumpulan ibu-ibu dan dengan kata kunci sesuai isi SMS kakak ipar "makamnya pak Soenarso, bapaknya Mas Oki yang dari Bali", langsung deh ibu-ibu yang sudah cukup tua mengantar ke arah yang dimaksud. Wah, rupanya di sini tempatnya dan ada passwordnya hiihihi....Ternyata langkah kami diiringi oleh 4 orang ibu-ibu lain dan seorang laki2. Mereka kemudian sigap menyibakkan rumput di dekat batu nisan yang terlihat sangat gampang untuk dikletekin, menebang sedikit pohon kecil yang berada di dekatnya. Lebih gesit daripada orang2 yang bergotong-royong di kelurahan. Dan jreng jreeeng...seolah secepat itu, permukaan batunya kembali putih bersih setelah disiram dan dilap dengan kain basah. Setelah itu kami mendoakan almarhum. Aku menatap nisan mertuaku, R. Soenarso Citrosiswoyo BA, nama yang sudah tidak asing bagiku, namun tidak pernah berjumpa sebelumnya. Dari dirinyalah lahir seseorang yang saat ini menjadi pelengkap hidupku, seseorang yang sangat aku cintai dan hormati. Jadi ingat sebelumnya juga ziarah ke makam mertua perempuanku, dimana juga tidak pernah bertemu beliau sebelumnya, karena telah meninggal dunia sudah lama, jauh sebelum aku menikah dengan putra bungsunya itu. Tidak berlama-lama di sana, selepas itu kami ngobrol sebentar dengan para petugas bersih-bersih yang segambreng itu, meninggalkan tanda terima kasih untuk juru kuncinya dan enam orang yang lainnya karena langit mulai mendung pertanda sebentar lagi hujan. Kembali, kami mengarah ke becak yang sudah menunggu sedari tadi.
"Lega, akhirnya sudah kita kunjungi ketiga orangtua kita ya dek ", kata mamas (sebelum menikah kami sudah ke makam mamaku). 'Iya, alhamdulillah bisa terwujud sekarang setelah lebih dari setengah tahun lamanya ya", sahutku. Ahaa!! Aku teringat niatku yang tidak kesampaian untuk menjewer kuping mamas. Dengan gemes aku mengarahkan tangan ke kupingnya, namun mamas pasrah dan senyam-senyum saja, jadi gak tega sendiri, walaupun tetap ngejewer sebagai pemenuhan janji, kan janji harus ditepati hahah...
Sepanjang perjalanan di becak, aku suka mengambil foto kami berdua, walau dengan susah payah. Bahkan ketika akhirnya mendung yang menggelayut itu tak mampu menahan diri untuk meluruhpun, aku tetap memutar dan membengkok2kan tangan biar bisa mengambil foto kami berdua sedang duduk di atas becak haha..*norak*. Perjalanan selanjutnya adalah ke pasar Klewer. Tidak berniat untuk mencari sesuatu, hanya ingin tau seperti apa sih pasar Klewer itu yang sering aku dengar dari orang lain. Tukang becak, menawarkan kembali mengantar sampai ke pasar Klewer dengan tawaran kami berupa tambahan tarif 10ribu, namun terakhir kami berikan menjadi total 40ribu dimana sisanya berupa bonus karena bapak tukang becak sudah menunggu kami di pemakaman. Kami tidak tau berapa tarif wajar becak disini, semoga biaya tadi sudah sesuai dan tidak merugikan si bapak.
Pasar Klewer, seperti pasar pada umumnya, namun sebagian besar dipenuhi oleh batik, batik dan batik. Kami berkeliling sambil melihat-lihat sekeliling, dan tidak menemui ketertarikan terhadap produk yang dijual. Yang penting kami sudah puas karena tau dan pernah kesana. Di jalan ke arah luar menuju jalan raya, kami menyewa ojek payung karena masih rintik hujan. Di sisi kiri dan kanan jalan inilah kami menemukan produk incaran kami. Aku sih masih mending beli batik, lah mamas belanjaannya hoodie bertuliskan nama band metal kesukaannya. Yah, yang ini mah gak usah jauh-jauh mas, di Jakarta banyak :P
Selesai
shopping, perutpun merengek minta diajak
shopping. Mamas malah
request makan di Sederhana dengan berbekal sebelumnya melihat mobil bertuliskan RM. Sederhana beralamat di Jl. Slamet Riyadi. Kami memang sedang berada di Slamet Riyadi, dan akupun mengiyakan ajakan mamas. Mulailah kami tanya satpam yang menunjukkan arahnya. Mamas bilang ragu terhadap keakuratan arah yang diinfokan satpam itu, dan ternyata memang salah. Kami tanya lagi ke dua orang yang lain pada kesempatan berbeda, tidak ada yang tau. Ternyata RM. Sederhana di Solo gak terkenal ya. Sambil lihat kiri-kanan sepanjang jalan, kami berjalan di trotoarnya. Trotoar di sini lebar-lebar, di ruas sebelah kiri menuju arah ke St. Purwosari lebar trotoarnya sekitar 4x lebar trotoar yang sering kita jumpai. Dan di ruas jalan di seberangnya agak lebih kecil, sekitar 3x lebar trotoar kebanyakan. Trotoar ini digunakan untuk pejalan kaki, pengendara sepeda dan becak. Trotoarnya sangat memanjakan kami sebagai pejalan kaki. Lampu merahnya bergambarkan sepeda. Udara yang masih lembab dan menyisakan tetesan air dari langitnya menjadi peneman langkah kami. Sampailah kami di persimpangan jalan dan bertemu becak lain. Terjadi tawar-menawar singkat sesuai tarif sebelumnya dengan jarak tempuh yang lebih dekat. Kami kembali menuju ke arah Purwosari, berharap jika ditengah jalan bertemu RM. Sederhana, langsung berhenti, dan jika tidak langsung mengarah pulang dan mencari makan di sekitar stasiun. Kayanya gak jodoh makan di Sederhana, gak ketemu sampai di Purwosari. Mungkin karena ledekanku ke mamas sebelumya, masa udah ke Solo makannya nasi padang sih mas? Kemarin malah makan fastfood :) Berhasil deh, tadi gak jadi makan nasi Padang, akhirnya makan masakan Jawa, nama rumah makannya aku lupa, persis disebelah Pertamina samping stasiun. Makanannya cukup enak, tidak terlalu manis seperti kekhawatiranku dan harganya juga wajar. Kami numpang sholat dulu di sana sebelum melangkah ke stasiun.
Tak disangka ketika sampai loket, kereta baru berangkat setengah jam yang lalu, begitu info dari petugasnya. Kereta berikutnya pukul 18.13 yang berarti sekitar 1,5 jam lagi dari waktu kami bertanya. Kami pun menunggu di ruang tunggu sambil ngobrol2 biar tidak berasa lama. Ketika kami sudah siap2 berdiri karena waktu sudah mendekati jadwal seharusnya, ternyata kereta terlambat, dan diperkirakan akan datang pukul 18.40. Yah, kembali kecewa dengan keterlambatan itu. Namun kekecewaan tidak terlalu terpikirkan lagi saat aku numpang nge-
charge hape di ruang petugas stasiun. Aku terheran-heran melihat tuas untuk pengaturan jalur kereta, ukurannya besar, banyak, bergerigi. Ada 5 buah telfon model aneh yang tidak tersusun rapi. Aku takjub dengan kesibukan petugas itu menerima telfon, menyalakan bel, memutar alat-alat kendalinya, menggunakan radio control dan lain-lain yang tidak aku mengerti hingga tak terasa kereta yang dinanti pun datang. Aku langsung mencabut kabel chargerku, mengucapkan terima kasih dan mensejajari langkah mamas menuju peron.
Pemandangan di kereta menuju arah pulang ini juga meninggalkan kesan tersendiri. Ada laki-laki yang mirip teman kantor mamas dan kami cocokkan foto temannya di facebook dengan wajah laki-laki didepan kami itu dan benaran mirip ihihihi... Jadi cekikikan berdua. Ada mas-mas menggunakan topi seperti topi haji namun berwarna-warni. Yang menarik dari orang ini adalah rambut yang menyembul dari balik topinya. Rambut itu membentuk lengkungan setengah lingkaran dibagian tengah kepalanya seperti lengkungan paes pengantin jawa (yang hitam2 di kening), rambutnya tersusun rapat, berwarna hitam, mirip deh. Aku ketawa cekikan melihatnya. Rasanya ingin bilang "Mas, tadi buru-buru ya naik keretanya? Paesnya belum selesai tuh, yang runcing di kiri dan kanannya belum ada." Hahah...Sepanjang perjalanan, setiap aku melihat ke arah mas-mas itu aku selalu tidak mampu menahan tawa, lucu, benar-benar lucu. Ada-ada saja pemandangan hari ini, membuat rasa kantukku menghilang.
Seperti waktu keberangkatan, perjalanan pulang pun menempuh waktu yang sama. Kami turun di Stasiun Malioboro, bersyukur selamat kembali ke Jogja, berjalan menuju pengingapan, meletakkan barang bawaan, kembali berjalan keluar untuk mencari makan. Menikmati Malioboro di malam hari. Duduk di bangku panjang di depan DPRD Jogja sambil melihat pelukis jalanan yang tangannya sangat lincah memindahkan bayangan muka ibu-ibu di depannya ke atas sehelai kertas putih yang seakan-akan menjadi cermin ketika si ibu memandangnya karena kemiripan lukisan dengan aslinya. Salut dengan kreatifitas mereka. Puas nongkrong dan bercerita betapa senangnya lepas sementara dari rutinitas kerja di kantor, kamipun melangkah pulang dengan ringan. Lepas! Bebas! Biarkan kami nikmati liburan ini.
Sekarang saatnya tidur setelah menuliskan catatan perjalanan panjang hari ini ;)
Good night all. Bubyeee!