Thursday, August 11, 2011

Commuter Line Tangerang Dilempari Batu


Astaghfirullaah. Jahat banget! Kaca kereta pecah dilemparin batu sama orang-orang tak bertanggung jawab. Kejadian ini bukan hanya sering, tapi setiap hari. Dalam satu kali perjalanan bisa dilempar di beberapa tempat. Namun kejadian hingga kaca pecah dan batu tembus ke dalam baru kali ini aku saksikan. Bahkan plastik pada kacapun tak mampu menahan batunya. Betapa kerasnya lemparan tadi yang memang membuat satu gerbong berteriak kaget. Kasihan sekali orang yang di dekat jendela tersebut yang masih terlihat shock.

Gak jelas maksud orang yang melempar. Isengkah? Hhhh kesel tingkat tinggi.

*foto diambil setelah kereta sepi*

Teka-Teki Telapak Tangan Kananku

Huwaaaaa... Ada apa dengan telapak tangan kananku? Apakah ukurannya berubah? Apakah garis-garisnya
bergeser? Apakah ada kerutan baru tercipta? Apakah kehalusannya memudar? *yang protes bayar*. Apakah aku terlalu sering menggampar orang pakai telapak tangan ini? *sadis amat nyaaak*. Ataukah karena terlalu sering membelai? *hihii…dilarang piktor* Kenapa? Kenapa? Tiga hari belakangan ini aku bertanya-tanya tanpa menemukan jawaban pasti atas pertanyaan itu.

Dihari pertama mengalaminya, aku yang biasanya absen dengan tangan "asal kena" ke mesin handkey dan selalu berhasil itu, tiba-tiba tidak dapat mengakses mesin absensi dengan mulus. Padahal kali ini udah dipas-pasin ukurannya, udah digulung lengan baju tinggi-tinggi, udah ditiup-tiup mesinnya, tetap gak berhasil. Selalu terdengar bunyi "tiniiit" dan muncul tulisan COBA LAGI. Aku ulang lagi donk, siapa tau kali ini dapat sekilo Rinso dan tulisan “coba lagi” hehhe..Ooops ini bukan undian ya. Percobaan kedua masih sama, mengeluarkan bunyi dan tulisan yang sama. Mau percobaan ketiga aku ragu, takut bunyinya "hooy bandel amat sih looo" dan muncul tulisan PULANG SANA *seneng donk* hehehe..gak dink. Aku takut aja kalau melakukan 3x kesalahan ID ku bakal diblok. Trus ribet lagi ngurus-ngurusinnya. Kaya PIN ATM aja ya. Makanya untuk percobaan ketiga, aku nungguin orang lain datang, membiarkan mereka menyentuh si mesin dan ternyata hasilnya mereka semua yang aku tungguin selamat sentosa. Aku diledekin belum cuci tanganlah, abis megang apa sih, dan ledekan-ledekan lain yang bikin makin manyun. Setelah diselingi orang lain, aku coba lagi, dan tetteeeewww... Anda belum berhasil. Jadilah pagi itu aku gak absen dan buru-buru bikin surat keterangan tidak absen beserta alasannya sebelum kelupaan. Tak disangka tak dinyana sorenya mengalami kejadian yang sama. Uuuggh, masa harus bikin surat lagi? Aku telfon bagian SDM dan mereka mengizinkan untuk tidak bikin surat lagi, akan ada keterangan tambahan di surat tersebut dari mereka untukku.

Usut punya usut, ternyata tidak hanya aku yang mengalami kasus serupa. Tercatat ada tiga orang yang juga tidak bisa absen hari itu. Aku pun berkesimpulan, mungkin karena hari itu aku merasa kedinginan, sehingga tanganku mengkerut dan mengubah beberapa poin-poin penting dari rekaman tangan terdahulu sehingga si mesin tidak mengenali lagi tanganku. Atau mungkin kesensitifan mesin itu sudah berkurang? Tetapi kenapa orang lain lancar- lancar saja? Kenapa hanya beberapa dari kami? Berhubung tidak hanya aku sendiri yang tidak berhasil, aku pun tidak terlalu memikirkannya lagi.

Hari kedua, aku deg-degan di depan mesin absensi, menyelipkan jari-jariku diantara susunan tiang-tiang kecil penyangga setiap jari. Dan.... oh, tidak berhasil lagi. Aku ulangi kembali, masih sama. Kemudian seperti biasa menunggu mangsa berikutnya yang ternyata sukses dengan gemilang. Tinggallah aku yang masih berdiri aja di depan mesin absensi khawatir jam lewat dari waktu masuk yang ditentukan. Dan akhirnya pada kesempatan ketiga berhasil. Hhhhh... Lega. Tidak harus buat surat keterangan apapun. Sore saat pulang, berhasil absen pada kesempatan pertama. Namun absen yang berhasil ini baik pagi maupun sore, penyimpangannya terlalu besar 96-97%. Mesin masih dapat mengenali itu adalah telapak tanganku, tetapi rekamannya sangat jauh berbeda dengan rekaman awal. Yang penting berhasil, bisikku dalam hati dan melangkah cepat menuju stasiun.

Memasuki hari ketiga, tepatnya hari ini, aku kembali tidak bisa absen. Semua orang bisa. Dua kali percobaan pertama gagal maning gagal maning. Aku tungguin yang lain dan setengah berharap mereka
juga gak berhasil hihihii...*jahat ya* untuk membuktikan bahwa tanganku gak aneh sendiri kok :P , tapi yang lain selalu berhasil *hiks* dengan penyimpangan hanya diangka belasan. Aku coba lagi setelah mereka, tetap aja gak berhasil. Berkali-kali nungguin orang, nyoba lagi, begitu polanya sampai akhirnya capek sendiri.


Sambil berjalan menuju ruanganku, terlintas bagaimana kalau diganti aja, tapi harus melibatkan SDM, gedungnya sekarang udah beda, lama donk prosesnya. Eits.. tiba-tiba aku ingat bahwa ada teman yang diberikan kewenangan password untuk bisa menghapus dan mengganti rekaman tangan untuk absen . Aku pernah melihatnya melakukan rekaman terhadap pegawai baru. Wooo, serasa mendapat ide cemerlang. Aku segera mendatanginya, minta tolong agar dihapus aja dan direkam ulang. Dia pun menginterogasi aku terlebih dahulu, dan jawabanku cuma “Aku tidak tau kenapa begitu, mungkin begini mungkin begitu, akupun heran, kamu tahu kenapa?”, kataku malah balik bertanya. Dia yang jelas juga tidak tau dan meragukan teoriku, kemudian menghubungi SDM untuk mendapatkan izin. SDM memberikan saran agar mesinnya dibersihkan dulu dengan tissue, kemudian coba lagi. Namun jika masih tidak bisa, silakan diganti sesuai prosedur.

Mulai deh bersih-bersih, gosok sana gosok sini, cliing. Inilah saatnya mencoba. Masukin kembali telapak tangan, eh gak bisa. Coba lagi, eh masih tiniiit. Akhirnya kami sepakat ID ku dihapus, dilakukan rekam telapak tangan baru sebanyak 3x. Pada saat sesi pengetesan setelah direkam, hore berhasiiiil, langsung gak pake lama, dengan penyimpangan hanya 13%. Alhamdulillaaah. Senangnya, berarti gak harus berlama-lama lagi nongkrong di depan mesin absen hanya untuk menunggu orang dan kemudian mencoba-gagal dan mencoba terus. Berikutnya aku akan absen dengan ”tangan baru”. Harusnya dari 3 hari lalu, aku berdiri disamping absen itu sambil jualan kolak durian ama sup buah atau apa gitu ya buat persiapan buka, lumayan kan, daripada bengong aja hihihi... Berharap semoga sore nanti urusan absen-absenan berjalan mulus ;)

Tapi.... hingga kini aku masih penasaran, suwerewerewer. Kenapa hal seperti itu bisa terjadi khususnya
terhadap aku, karena teman-teman yang lain sudah lancar semua? Tanganku sayang...kamu kenapa?

Monday, August 8, 2011

Rehat Sejenak

Kenapa bisa nulis-nulis gini di jam kerja? Seperti biasa kalau gak sistemnya rusak atau ada maintenance seperti sekarang. Maintenance kok di jam kerja ya? Harusnya diluar jam kerja. Tapi kadang kasihan juga ama bagian IT kalau harus pulang malam terus. Yah, hadapi aja deh dan berusaha tetap positif :)

Ada rasa senang sih berhenti sejenak dan bisa bernafas, tapi kesenangan ini hanyalah semu. Jiiiaaaah.. Gimanapun produktifitas menurun, dan kerjaan tidak bisa ditawar-tawar penyelesaiannya. Dengan kata lain bisa-bisa menambah jam kerja alias lembur lageee. Huhuhu...

Ket: foto di atas adalah hubby ku yg lagi "Rehat Sejenak" alias bobo ciang ^_^

Dingin dan Gemetar

Terdengar bunyi telfon masuk mengusik istirahat malamku. Aku lihat dilayarnya tertulis 12:31. Aku perhatikan nomor yang masuk, nomor dari daerah Sumbar namun tidak ada di daftar yang tersimpan di handphone-ku. Sambil menebak-nebak siapa yang menelfon, aku terima panggilan itu dengan suara kecil sedikit serak khas orang bangun tidur yang berusaha dikeraskan agar bisa didengar lawan bicara.

"Assalamualaikum Meli". "Waalaikumussalam", sahutku. Dari suaranya aku menduga ini adalah suara mantan roommate aku bertahun-tahun yang lalu. Masih dalam dugaan tersebut, "Meli belum tidur ya?, tanyanya dengan suara setengah yakin. "Sudah, ini dengan siapa ya?, jawabku setelah menemukan suaranya mulai tidak mirip dugaanku. "Ini Uni X yang dari Lb. Sikapiang". "Ooh Uni X", sahutku bertambah heran kenapa tengah malam nelfon ditambah sebelumnya kami tidak pernah telfon2an sama sekali. "Ada kabar apa malam-malam gini Ni?" "Hmmm.. Suami Meli kerja dimana ya?", sahutnya terpatah-patah mengeluarkan kata-kata. "Di bandara, kenapa Ni?". Tuuuuuut dan sambungan telfon pun terputus. Aku tunggu terus apakah akan ada telfon balik, ternyata tidak ada.

Tiba-tiba aku merasa kembali masuk ke sebuah suasana menegangkan ketika aku ditelfon Om dan Tanteku untuk menyampaikan berita penting di waktu Subuh. Mereka juga berbicara dengan tidak yakin dan terpatah-patah. Berbicara mutar-mutar dari kegiatan kuliahku hingga kangen sudah lama tidak bertemu karena tidak berani langsung menyampaikan berita sebenarnya dan tiba-tiba mematikan telfon. Sampai aku menemukan sendiri faktanya setelah datang ke rumahnya bahwa mereka akan mengabarkan berita meninggalnya mamaku. Badanku terasa dingin dan gemetar. Aku menenangkan hati, rasa dingin mendesakku untuk ke kamar mandi. Aku berjalan dalam gemetar. Hatiku berkecamuk membayangkan berita apa yang dibawanya. Aku mengumpulkan keberanian untuk menelfon balik.

Kembali ke kamar, badanku semakin mendingin dan aku menelfon suamiku yang masih bekerja. Sayang sekali dia sulit mendengar suaraku. "Nanti saja kita cerita di rumah ya", sahutnya. Aaargggh... Kemudian aku menelfon adikku di Bukittinggi. Aku seolah-olah mendengarkan bunyi detak jantungku dengan sangat jelas ketika nada tersambung. Aku menelfonnya karena aku ingin tahu apakah ini ada hubungannya dengan keluargaku di kampung.

Tidak perlu menunggu lama, dalam satu deringan telfon langsung diangkat. "Udah tidur, Dik?", tanyaku. "Belum, kenapa Ni?". "Kenapa belum tidur?", aku semakin khawatir. "Baru aja habis ngaji, uni kenapa nelfon malam2?". Aku pun menceritakan kejadian yang baru saja aku alami. Aku menanyakan keadaan keluarga di Bukittinggi dan papa di Padang. Adikku menyebutkan baik-baik saja. Aku terus bertanya untuk memastikan. Dia meyakinkan semua oke, bahkan Uda sedang ngobrol di luar. "Suaranya kedengaran kan?, tanyanya. Aku menceritakan kekagetanku dengan telfon tengah malam yang tiba-tiba putus, aku takut jika itu seperti kejadian dulu. Aku masih dikondisi yang sama, dingin dan gemetar. Adikku menenangkan, jika ada sesuatu hal, pasti kami di rumah ini yang lebih tau duluan daripada Uni. Uni tenang saja dan istirahatlah. "Baiklah, Uni akan nelfon balik ke Uni X, kl gak Uni gak bisa tidur mikirin ini sampai pagi", jawabku mengakhiri.

Mulailah aku hubungi nomor telfon Uni X. Berkali- kali, hingga 6x aku telfon selalu sibuk. Akhirnya aku kirim SMS. Lamaaa baru dibalas. Balasannya "Maaf ya Mel, Uni mau tanya apa ya tiket penerbangan yang paling murah untuk anak Uni pulang kampung? Ada hal penting dan dia harus pulang dalam 1-2 hari ini."

Ya ampuuuuun, lega dan lemas, ternyata dia sampai bela-belain nelfon aku tengah malam ini hanya untuk nanya tiket? Aku pun menjawab "Maaf, Meli juga tidak tau tentang harga tiket. Suami bertugas di penerbangan khusus jalur international, di bagian teknis, bukan penjualan tiket. Pastinya dia juga tidak tahu-menahu tentang harga tiket. Memangnya anak Uni mau pulang dari mana?". "Dari Depok Mel", sahutnya. "Coba aja cari Batavia Air, biasanya murah, bahkan Garuda pun terkadang bisa murah. Sebaiknya tanya ke travel, minta dicarikan penerbangan termurah", jawabku. "Terima kasih Mel, maaf mengganggu malam-malam."

Lega bahwa tidak terjadi apa-apa terhadap papa dan keluargaku, tidak ada hal yang perlu kutakutkan. Namun disisi lain sangat menyayangkan sikapnya kenapa harus membangunkan orang hanya untuk menanyakan harga tiket yang termurah? Aku tidak berani menelfon orang tengah malam. Hal itu bisa saja terjadi dengan orang yang sangat dekat. Misalnya menelfon adikku karena memang secara emosional kami sangat dekat, namun juga tidak pernah selarut itu dan biasanya aku mulai dengan SMS untuk mengetahui dia sudah tidur atau belum. Aku akan mikir berkali-kali agar tidak mengganggu waktu pribadi orang lain apalagi jika tentang suatu urusan yang masih bisa dilakukan esok pagi. Mungkin dia tidak tahu akibat telfon tersebut menyebabkan aku teringat kejadian di masa lalu hingga aku ketakutan, kedinginan dan gemetaran. Mungkin dia tidak tahu betapa hebatnya goncangan hatiku saat itu hingga terhubungkan dengan kejadian malam ini yang membuatku kembali teringat peristiwa tersebut. Jika saja dia pernah mengalaminya, tentunya dia akan tau betapa beratnya perasaan diaduk-aduk karena berita kehilangan orang yang dicinta? Mudah dibayangkan tetapi berat dijalani. Namun diluar semua itu, apakah dia tahu ataupun tidak, seharusnya dia bisa bertindak menurut kepantasan.

Aku tidak bisa melanjutkan tidurku. Selimutku sudah dipertebal tetapi tetap membuatku kedinginan dan gemetaran. Suhu kamarpun terbilang normal. Berbaring dalam dingin, aku raba ternyata dingin bukan di tubuh bagian luar, berarti dingin dari dalam. Hingga akhirnya kudengar pintu pagar rumah digeser. Yah, itu mamasku. Aku lihat pukul 01.31. Hah? Berarti tepat satu jam aku merasakan suasana tidak enak. Aku menceritakan semua kejadian ini ke suami. Nasehat dan kehadirannya akhirnya dapat mengembalikan aliran darah hangat ditubuhku hingga aku pun terlelap.

Wednesday, April 13, 2011

Plesetan yang Menjadi Inspirasi V^.^V


Stasiun TV yang paling sering aku pelototin setiap harinya adalah Metro TV. Biasanya aku menyalakannya saat program berita Suara Anda dimulai, maklum itu adalah waktu santai ketika sampai di rumah setelah seharian bekerja. Aku senang mendengar berita yang mendapat tanggapan langsung dari masyarakat yang menelfon secara live ini. Tapi bukan isi beritanya yang ingin aku ceritakan kali ini, tetapi tentang seseorang yang terlibat dalam penyajian berita tersebut yang namanya mengingatkanku pada sesuatu yang akan kuceritakan disini. *ribet banget dah ah haha..*

Bagi yang suka menonton berita di stasiun yang kumaksud tentunya tidak asing lagi dengan seorang reporter berinisial LG. Nah.. Gak tau kenapa, awalnya aku kurang tertarik jika mendengarkan laporan dari Mba LG ini. Mungkin karena cara penyampaian dan intonasi suaranya. Aku merasa suaranya kurang natural, terlalu dibuat-buat dan kurang "renyah" dikuping. Tidak jelas kapan tepatnya keisengan ini bermula, setiap namanya dipersilahkan penyiar untuk menyampaikan laporan akan segera aku sambut dengan plesetan Gandasturi untuk mengganti nama belakangnya. Yup, tepatnya 5 huruf pertama pada nama belakangnya Hehe.. Akhirnya jadi kebiasaan *jangan ditiru!* Namun sekarang kupingku pun mulai terbiasa dengan suaranya termasuk terbiasa dengan panggilan itu *loh?* Mba LG, kalau baca jangan marah ya. Jangan dimasukin hati. *ih geer amat akan dibaca :P

Karena seringnya aku mengganti namanya menjadi Gandasturi, akupun selalu membayangkannya dan akhirnya terinspirasi membuat cemilan tradisional yang enak itu hihi. Kebetulan hubby adalah pencinta segala sesuatu yang berbau kacang ijo. Dalam hal tercetusnya ide ini, aku mengucapkan terima kasih kepada Mba LG :D

Dan...Kemarin malam terjadilah sejarah proyek pembuatan Gandasturi pertamaku. Setelah sebelumnya menebak-nebak resepnya berdasarkan rasanya yang mirip bubur kacang ijo, trus ngintip-ngintip resep disana-sini, ternyata ditemukan bahwa memang banyak kemiripan bahan diantara keduanya. Langsung deh aku buat. Aku share ya disini resepnya sesuai yang aku buat, siapa tau ada Bapak-bapak yang istrinya lagi ngidam Gandasturi dan pengen dibikinin sendiri dengan syarat gak boleh beli jadi. Nih, monggo Pak dipelajari dulu! Hihihi...Jangan khawatir, tidak rumit dan gak butuh waktu lama terutama jika kacang ijonya sudah direndam terlebih dahulu ;)

Bahan:
400 gr kacang ijo, usahakan rendam dulu minimal 2 jam biar cepat empuk kalau direbus.
Pasta pandan, sebaiknya daun pandan asli, tapi gak punya jadi pakai yang ada aja :D
Kayu manis kira- kira 5 cm
Jahe kira-kira 2 cm
Garam 1 sdt
Gula merah 100 gr
Gula pasir 100 gr
Santan 500 ml + tepung terigu 3 sdm aduk-aduk biar merata
Vanili 1/2 sdt
Air untuk merebus

Adonan tepung pencelup:
Tepung terigu dan tepung beras dikira-kira seperlunya dengan perbandingan 1:1, garam dan air. Aduk hingga tercampur rata. Jangan terlalu kental atau terlalu encer.

How to:
Rebus kacang ijo bersama (daun) pandan, kayu manis dan jahe hingga kacang ijo empuk dan mekar. Jika airnya kurang, tambahkan air panas. Setelah empuk masukkan gula merah, gula putih, vanili dan garam, aduk hingga merata. Kemudian tambahkan santan yang telah dicampur terigu. Masak terus hingga kuahnya mengering.

Setelah itu pindahkan pada wadah lain, haluskan dengan punggung/bagian cembungnya sendok sambil menunggu adonan agak dingin. Setelah dingin, ambil sedikit adonan, bentuk bulat dan pipihkan, lakukan hingga semua adonan habis. Panaskan minyak goreng, celupkan adonan ke adonan tepung pencelup dan goreng hingga kekuningan. Angkat, dan Gandasturi pun siap dilumat *serem amat bahasanya* Tapi tunggu agak dingin ya biar lidahnya gak keseleo karena kepanasan ;)

Yang perlu diingat, pada waktu merebus kacang ijo jangan langsung masukkan gula, karena efeknya kacang ijo tidak bisa empuk. Masukkan gula setelah empuk, okay ;)

Btw aku baru tau nama makanan ini beberapa bulan belakangan ini loh haha... Dulu, dikampungku, aku menyebutnya Goreng Isi Kacang Padi hihi.. (Di kampungku kacang ijo disebut kacang padi). Tapi...apapun namanya, yang penting rasanya tetap sama, enyaaaak! :D

Selamat menikmati!

Thursday, March 31, 2011

Pengen Punya BB Juga?

Dengan setengah berlari aku menuruni tangga dari peron Stasiun Poris menuju kumpulan ojek. Maklum, rebutan. Harus cepat, apalagi kondisi sudah lewat dari jam 9 malam akibat pulang lembur dari kantor. Sambil berlari mataku sudah menyapu pandangan dan mulai membidik ojek mana yang akan aku tumpangi. Motor merah itu kelihatannya kondisinya oke deh. Abang ojeknya juga rapi mulai dari pakaian dan rambutnya. Caranya menawarkan jasa juga sopan. Ya, naik ojek merah itu aja ah. Begitu dialogku dengan hatiku. Cabcuuus!

Tanpa ragu-ragu langkahku semakin mengarah ke ojek merah itu. Aku langsung menaikinya dan menyebutkan alamat tujuan. Selintas tercium bau yang gak enak banget, asem. Samar. Inikah namanya BB? Oh inikah BB? *mengganti lirik lagu boyband lama Indonesia, ingat doonk? Ah ngaku aja. Jgn malu-malu. hihi* Onyx atau Bold nih? Bukaaan. Ini bukan yang bisa BBM-an itu. Ini BB yang berarti Bau Badan tauu. *mukul jidat sendiri, ya iyalah masa jidat masinis*. Aku langsung menahan nafas di dekat kumpulan abang ojek itu. Oh, untung gak dapat abang ojek yang punya BB pikirku.

Ojek pun mulai bergerak keluar stasiun. Menjauh dari keramaian abang ojek lain yang suaranya pun mulai sayup. Aku pun mulai mencoba bernafas secara normal. Tapi kenapa bau busuk ini semakin kentara? Aku mencari-cari darimana sumber bau itu berasal. Aku mulai mengendus-endus sekitar. Perlahan aku mencerna situasi. Huwaaaa... Bau itu persis dari depanku. Kenapa aku terlalu berbaik sangka bau itu bukan berasal dari abang ojek yang ojeknya kutumpangi ini? Huhuhu.. Ingin rasanya langsung loncat dari motor itu. Ingin sekali langsung mengarang alasan untuk tidak jadi menggunakan jasanya. Bilang apa ya? Apaaaa? Aku memaksa otakku berpikir. Yaa..ya ya... Aku bilang saja kalau aku mau beli sayur di warung dekat sana. Trus mau beli kelapa yang harus diparut dulu. Ada yang buat bikin rendang, ada yang untuk serundeng. Kan beda-beda tuh parutannya. Jadi biar lama dan si abang ojek bosan menunggu. Ide mengarangku muncul. Tapi gimana kalau abangnya bilang bersedia menunggu? Masa aku bilang batal gak jadi ngojek? Gak enak, juga gak tega. Aaarrrggghh.. Aku tidak menemukan ide mengarang alasan yang lebih masuk akal untuk membuat abang ojek bersedia menerima pembatalanku tanpa aku menyinggung perasaannya.

Akhirnya aku menyerah, membiarkan motor itu melaju dengan menutup hidungku rapat-rapat dengan kerudung. Aku tahan nafas selama mungkin sampai paru-paruku meronta meminta aliran oksigen. Selanjutnya baru mencuri nafas agak dalam untuk kemudian menahannya lagi hingga batas kemampuanku menahan. Terus berulang seperti itu. Tapi setiap harus buru-buru menghirup oksigen, akupun harus rela BB nya ikut berpartisipasi dalam aliran udara itu. Hueeek... Mataku mulai berair menahan mual, ingin muntah, ingin terbang menjauh. Selintas terbayang betapa menakutkannya jika nikmat menghirup udara mulai distop oleh Yang Maha Pemurah? :"(

Entah kenapa rasanya perjalanan menuju rumah sangat panjang. Mungkin karena hanya diam, lubang hidung disumpel kerudung, kening mengernyit kaya baju yang belum disetrika. Aku tidak ngobrol dengan abang ojeknya seperti kebiasaanku selama ini. Biasanya sih aku suka ngobrol dengan abang ojek (atau juga supir taksi) dengan topik apa saja yang terpikirkan saat itu untuk menghilangkan kekhawatiranku pergi dengan orang asing, terutama jika aku berangkat sendirian. Kali ini aku diam saja. Sibuk mengatur pergantian CO2 dan O2 di paru-paruku. Memandu arahpun sangat minim kata. Hingga akhirnya sampailah di depan rumah. Aku bergegas turun dengan menoleh sedikit ke arah kiri dan dengan rakus menghidup udara segar tanpa BB yang hampir membunuhku itu *lebay* hehe..

Serba salah rasanya, aku ingin bilang secara jujur ke abang ojek bahwa BB nya sangat menganggu biar selanjutnya dia lebih memperhatikan hal tersebut tapi disisi lain khawatir jika dia merasa tersinggung atau bahkan malu. Semoga ada orang-orang dilingkaran hidupnya yang lebih dekat bisa menyampaikan bisik hatiku yang tak sempat terkatakan ini. Haha.. Kok kaya' mo ngucapin cinta aja :D

So...Don't judge a book by it's cover. Jangan pilih ojek dari tampilan motor dan abang ojeknya saja hehe.. Penting juga untuk menyiapkan hidung untuk mengendus-endus bau-bauan sebelum memutuskan jalan. Triknya bisa dengan menanyakan tarif ojek (walaupun sudah tau) untuk memberi kesempatan kita untuk bisa menilai dan mengendus-endus. Jika ternyata abang ojeknya punya BB bisa saja langsung memberi penawaran sewa 1/2 dari harga normal kalau perlu lebih sadis lagi semurah-murahnya biar transaksi gak terjadi hihihi...

Error nih gara-gara habis dapat "BB aromaterapi" :D

Friday, March 25, 2011

Just Wondering

There is an aquarium in my office. It was belong to previous team who was here. This is a small-sized aquarium with a school of fish. There are about 15 fish inside. I don't know their type nor their species. Their color are not the same. They are so colorful. However, these fish have their own style. They don't spin in the same direction. They move without the same rhythm. They change their direction which can not be predicted. But with that unpredictable movement, no one bothered. All of them are living in peace. I like tapping on the glass of aquarium hoping the fish turn back and stare at me. I want to greet them and ask what it's like to live in there? I look at them and ask haven't they make a quarrel? Are they joggle in a narrow space like that? But there is no answer, you bet! :D

Yeah..They move without disturbing the others.

Now, there is a question that descends in my mind, whether that undisturbant is because we are not disturbed or we haven't feel disturbed yet? Oh fish, you got me wondering.

PS: The picture was taken from mbah google :D
I get the difficulties to take their picture since they're always moving at every single time I snap :)

-->

Tuesday, March 15, 2011

Ternyata Aku Suka ;)


Setiap aku berjalan dari gerbang menuju tempat tinggalku, aku selalu melewatinya. Dia adalah penjual kacang rebus yang selalu nongkrong di pinggiran jalan, di tempat yang sama. Aku selalu hanya melihat dagangannya, permisi karena lewat diantara gerobak mereka. Loh kok jadi mereka? Mereka yang aku maksud adalah penjual kacang rebus, nasi goreng dan bakpau yang biasanya nongkrong bareng hehe.. Tapi yang paling sering aku lihat dan perhatikan adalah penjual kacang rebus.

Selama aku melewati jalan itu, aku tidak pernah melihat ada pembeli yang menghampiri dagangannya. Mungkin waktunya saja yang tidak tepat dengan jam pulangku, bisik hatiku. Aku sering berpikir, apakah dagangannya laku? Apakah ada yang membeli? Setiap melewatinya, aku selalu bertanya-tanya hal yang sama.

Tak terkecuali tadi. Aku berjalan begitu saja. Aku sudah berjalan kira-kira 10 langkah melewatinya. Tapi tiba-tiba aku merasa ingin berbalik. Aku ingin membeli kacang rebus itu. Hatiku merasa kasihan jika ternyata pertanyaan-pertanyaan yang selalu mampir di otakku itu ternyata jawabannya adalah "tidak". Daripada pikiranku itu benar, lebih baik aku patahkan saja dengan menjadi pembeli walaupun sebenarnya aku tidak suka kacang rebus.

Setelah aku mendekat, aku baru memperhatikan ternyata kacangnya ada dua jenis; kacang tanah dan kacang Bogor. Wow, aku mulai sedikit antusias mendengar kacang Bogor karena selama ini hanya pernah makan kacang Bogor yang digoreng dan diberi garam. "Coba aja dulu mba", kata penjualnya. "Ini langsung dimakan ya bang?", tanyaku ragu. Ah, pertanyaan bodoh. Si abangnya tertawa,"Ya,dibuka dulu dong Mba". Haha.. Aku nyengir-nyengir malu dan mengambil satu kacang Bogor. Ternyata waktu dicoba aku sukaaa. Enaaaak. Abang penjual menawarkan apakah kacang Bogornya mau dicampur dengan kacang tanah? Dan aku dengan senang hati menjawab "Iya!"

Waaah... Ternyata kacang rebus itu enak ya. Dulu waktu kecil aku selalu beli kacang goreng yang dijual keliling oleh seorang bapak tua langganan. Kalau kacang goreng habis, aku tidak mau beralih membeli kacang rebus. Yang biasanya doyan kacang rebus adalah mamaku. Menurutku kacang rebus tidak enak, tidak seperti kacang goreng yang ada sensasi kriuk-kriuknya. Tapi mengapa sekarang aku merasakan kacang rebus itu enak ya? Apakah ada hubungannya dengan umur karena dulu yang menyukai kacang rebus adalah mama? Ah, mulai ngaco deh hehe.. Ini masalah selera, bukan umur. Aiih., akhirnya aku mematahkan sendiri "prasangka burukku" terhadap kacang rebus. Aku sekarang jadi menyukainya. Senang sekali rasanya berhasil menyukai sesuatu yang sebelumnya selalu dihindari. Aku jadi belajar untuk tidak terlalu cepat menjatuhkan penilaian terhadap sesuatu.

Bahagia rasanya bisa menambahkan kacang rebus dalam daftar cemilan sehatku. "Sejak kapan kamu punya daftar cemilan sehat? Bukannya biasanya semua berbau goreng-gorengan dan kripik-kripikan?", kata si penggoda iman dietku. "Ya sejak hari ini donk", jawab si penyokong diet yang sering kalah perang. Hihihi.. Rasa senangku jadi tambah lengkap ketika ada pembeli lain yang antri setelahku. Semoga dagangan si abang laku ;)

Baiklah, mari belajar hidup sehat :D Dan sekarang aku mau meneriakkan "Aku suka kacang rebuuuuuus...!"

Saturday, March 12, 2011

Mesti Ada Etikanya

Sebuah pesan singkat masuk ke hapeku. Pesan dari seorang teman yang sudah lama tidak bertemu dan berkomunikasi. Mungkin sudah dalam hitungan tahun lamanya. Aku mengingat-ingat kapan terakhir kontak dan ragu menemukan bilangan waktu yang tepat. Ah, sudahlah, bisik hatiku.

Awalnya saat melihat nama itu muncul di layar depan hapeku, aku penasaran dan menebak-nebak isi SMSnya. Kebetulan aku baru saja mematikan fungsi "show preview" di hape sehingga jika ada SMS masuk, yang terlihat pada layar utama hanyalah sebaris nama tanpa isi SMS. Keingintahuanku menggerakkan tanganku untuk membuka pesan tersebut. Aku mulai mereka-reka. Sepertinya SMS ini akan dimulai dengan kata-kata "Telah lahir putra/i pertama kami bla bla bla...", pikirku. "Oh tidak mungkin. Dia kan belum menikah," terdengar suara yang tidak berbunyi menentang dugaanku. "Aha..! Tentunya SMS ini berisi undangan untuk menghadiri akad dan resepsi pernikahannya," teriak batinku kembali. "O iya, bisa jadi", jawab hatiku senang. Aku seolah merasa mendapatkan titik terang seumpama pengembara yang tersesat di hutan dan menemukan seberkas cahaya lentera dari sebuah perkampungan di depannya. Bibirku pun mulai melengkung membentuk segaris senyum.

Bergegas aku buka SMS itu dengan harapan akan isinya yang seperti dugaanku. Dan ketika aku buka.... Oh, aku terpana melihatnya. Jauh berbeda dari yang kusangka. Isinya tak lebih dari sebaris kata. Kata yang dingin dan hampa. Setidaknya begitu menurutku. Aku tidak mau menyebutnya sebagai sebuah kalimat karena aku tidak merasakan adanya "nyawa" dari kata-kata itu. Bagiku minimal harus ada subyek atau tanda bacanya agar aku bisa menganggap sebuah kata atau susunan kata sebagai sebuah kalimat. Sebagai contoh bandingkanlah "Jangan" dengan "Jangan!". Kata yang pertama tanpa tanda baca terasa lebih kosong, hanya sebuah kata yang tidak jelas peruntukannya sebagai apa dan kepada siapa. Sedangkan kata yang kedua dengan tanda baca terasa ada muatan didalamnya yang melibatkan dua pihak, subyek dan obyek walaupun implisit. Itulah yang aku namakan bernyawa.

Jika dianalogikan dengan contoh diatas, SMS yang aku terima ini sama dengan contoh kata pertama.

no tlp mi*na brp

Itu isi SMSnya. Huruf kecil semua dengan singkatan kata tanpa tanda baca. Tertegun. Aku terdiam menatap tulisan itu. Bayangan akan berita bahagia yang sempat melintas tadi seketika memudar. Senyum itu berhenti merekah dan garis lengkung itu pun berganti arah. Aku kecewa. Lebih tepatnya tidak suka. Bukan. Bukan karena isi SMS itu tidak seperti dugaanku. Tapi aku tidak suka dengan ketiadaan struktur pembangun kata itu. Kemana sapanya? Kemana tanda baca sebagai penyedapnya? Bagaimana mungkin ada SMS dari seseorang yang sudah lama tidak kontak tiba-tiba menuliskan kata-kata seperti itu pada pesan pertamanya? Lancang sekali dia menyerobot begitu saja ke ruang pribadiku dengan kata -kata yang dapat diinterpretasikan sebagai "perintah" alih-alih sebuah "pertanyaan"? Tentu tidak mengapa halnya jika kata-kata itu merupakan pesan lanjutan setelah ada SMS/pembicaraan lain sebelumnya. Itu tentu berbeda dan dapat diterima.

Mungkin ada yang berpikiran "gitu aja kok repot" atau "soal tulisan jangan terlalu dijadiin masalah donk, ribet amat sih". Silahkan. Berkembanglah dengan opini masing-masing. Tapi bagiku masalah tulisan itu adalah hal yang krusial. Sebuah tulisan bisa membuatku senang, sedih, takut, kecewa, bahkan marah. Termasuk untuk kasus dengan latar belakang seperti di atas. Mbok ya ngetuk pintu dulu kalau mau masuk rumah orang. Aku tau. Aku sangat mengerti apa maksud SMSnya. Aku bisa saja membalas dengan menuliskan nomor telfon teman kami yang ditanyakannya, tidak memusingkan soal gaya tulisannya dan case closed. Segampang itu. Tapi aku tidak mau melakukannya. Bukan karena aku gila hormat. Aku tidak membutuhkan dia memuja-muji aku sebagai salam pembuka atau bercerita berbelit-belit kesana-kemari hanya untuk kemudian menanyakan pertanyaan singkat itu. Yang kubutuhkan hanyalah "kehadiran" hati dan pikirannya untuk berbicara padaku. Memberikan sedikit sentuhan personal dalam SMS itu dengan menujukan pertanyaan itu memang padaku. Dengan sedikit perbedaan dia bisa mengubah reaksiku yang akan dengan senang hati mengirim balasan jika saja misalnya dia mengganti dengan:

No tlp Mi*na brp, Mel?
Hei Coy.. Brp no tlp Mi*na?

Oke, aku tidak akan mempermasalahkan singkatan. Ada yang terbiasa menulis seperti itu atau mungkin dia ingin menghemat jumlah karakter yang diketik dalam SMSnya. Tapi tidak dengan meniadakan sapaan dan tanda baca. Bahkan jika dia mengganti namaku dengan sebutan lain apapun itu selama wajar, aku tidak keberatan. Sedikit perbedaan itu memberikan efek yang besar padaku. Dengan adanya sapaan, aku merasa SMS itu memang untukku, dia memang berbicara padaku.

"Itu kan menurut kamu, jangan menjadikan orang lain harus sesuai dengan standarmu donk!". Begitu mungkin ucap sebuah suara sumbang. Iya. Mungkin ada baiknya jika aku mencoba melihat dari sudut pandang lain. Nanti. Tapi... Biarlah untuk saat ini aku masih setia dengan pendapatku bahwa SMS atau email bahkan chat dan telfon sekalipun juga memiliki etikanya sendiri. Sama halnya dengan etika ketika kita bertamu ke rumah orang. Tidak mungkin kita serta merta nyelonong masuk, mengambil sesuatu yang kita butuhkan dan pergi tanpa kata. Apa bedanya kita dengan orang yang tidak pernah mengenyam pelajaran sopan santun dari sekolah? Ucapkan salam/sapa diawal meski hanya "Hai" sebagai tanda kita mengalamatkan pembicaraan kita ke seseorang. Akhiri dengan mengarahkan untuk menutup pembicaraan walau hanya dengan ungkapan "Oke, sampai ketemu lagi ya", atau "Thanks ya". Hindari tanda baca yang bisa membuat orang menafsirkan berbeda, misalnya tanda seru yang terlalu banyak, seolah memerintah. Hindari penggunaan huruf besar berlebihan karena seolah membentak kecuali memang ingin memberikan penekanan pada sebuah kata.

Mengenai bagian penutup ini juga termasuk krusial. Betapa banyak orang yang bertanya dan setelah mendapatkan informasi yang dia butuhkan lalu berlalu begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Seolah-olah tidak ada percakapan yang terjalin sebelumnya. Atau betapa tidak sopannya jika masih ada pertanyaan menggantung yang belum dijawab, lantas kita menghilang dan mengabaikannya begitu saja. Andai pun tidak berkenan menjawabnya, tutuplah pembicaraan secara diplomatis. Tidak dengan membiarkannya mengambang begitu saja. Jangan takut rugi menginvestasikan Rp.100 untuk SMS misalnya demi menjaga sebuah pertemanan. Balaslah hingga tuntas, meski singkat tapi kedua pihak sudah tau pembicaraan ini sudah berakhir. Meskipun terlihat remeh-temeh, tapi salam pembuka dan penutup dapat membungkus sebuah pembicaraan dengan baik. Bukan tidak mungkin bisa menjadi peluang untuk rezeki yang tidak disangka-sangka karena memberikan sebuah perlakuan yang menyenangkan.

Jadi ingat ungkapan dalam bahasa Minang "Pai nampak muko, pulang nampak pungguang", yang bisa diartikan "Datang secara sopan/baik dan pulang dengan pamitan/izin".

Sudah berjam-jam aku biarkan saja SMS itu tanpa jawaban. Dari diapun tidak ada reaksi lanjutan atas sikapku yang mengabaikan SMSnya. Ketika rasa kecewa ini nanti meluruh, mungkin aku akan memberikan SMS balasan dan mengungkapkan pikiranku saat ini padanya. Hmm.. Dunno!

Monday, February 28, 2011

Dengki? ih ngeriii..

Buat apa dengki, buat apa dengki, dengki itu tak ada gunanya... *dengan semena-mena mencomot lagu Koes Plus, eh mana diganti-ganti segala liriknya, maafkan saya ya bapak-bapak

Yo uwes!

Kedengkian tidak akan menyisakan ruang untuk mencicipi kebahagiaan hakiki di hati. Pernahkah terpikir bahwa pencapaian saat ini boleh jadi merupakan buah doa dari seseorang yang tanpa diketahui telah menyisipkan nama kita dalam setiap doanya? Lalu mengapa memupuk dengki padanya? Atau pada siapapun? Apalagi sombong. Betapa sungguh semu pertemanan yang ditawarkan jika ternyata berlaku hasad dan picik terhadap orang yang peduli. Ah, jangan sampai label itu menghinggap, melekat dan terus menebal .

Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (H.R Abu Dawud).

Dengki berarti membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah "susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah", nah itulah dengki. Dengan adanya rasa dengki berarti kita melakukan pertentangan dan permusuhan terhadap ketentuan Allah dan tidak ridho dengan pembagianNya. Kita tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang ada. Tidak pernah bersyukur akan nikmatNya karena menganggap tidak mendapat bagian seperti yang diperoleh orang lain. Dengki membuat amalan-amalan kita tergerus. Yah, makin rugi aja donk. Jelas! Udah sakit hati, eh malah terhapusnya kebaikan diri. Adanya rasa dengki yang menempel dihati mengindikasikan belum sempurnanya kualitas keimanan kita.

Terus harus bagaimana dooonk? Cara yang bisa ditempuh untuk menghilangkan dengki misalnya ketika kita berdoa memohon kesuksesan atau memperoleh kenikmatan, doakan juga kebaikan dan limpahan barokah dari Allah untuk orang lain. Saat teman, orang lain, bahkan saingan kita sekalipun mendapat nikmat, bersyukurlah, ucapkanlah Hamdallah. Syukur akan menjauhkan kita dari dengki dan Allah akan menambahkan nikmatNya karena syukur kita padaNya. Jika masih ada perasaan dengki dihati yuuk kita perbanyak istighfar. Astaghfirullaahaladziim!

Rasulullah SAW bersabda, "Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Imam Al-Bukhari).

Wow. Begitu sentralnya peran hati sehingga sangat pantas untuk menjadi perhatian utama. Pantas untuk dibersihkan, disapu debu-debunya, diangkat kerak dan kotorannya, disiram dan diberi pengairan ilmu hingga bersinar lagi, untuk kemudian tidak akan memberi ruang bagi kotoran untuk melekat kembali. Jika kemudian ada sedikit debu yang hinggap kembali, segera tiup, sapu, dan siram dengan ilmu.

Semoga qalbu ini bebas dari penyakit hati dan menjadi pribadi yang senang mendoakan kebaikan bagi saudara muslimnya. Memang apa untungnya sih bagi kita mendoakan orang lain? Selain kita terhindar dari rasa dengki yang merusak itu, juga keutamaan lain bahwa “Doanya orang muslim untuk saudaranya yang sedang tidak bersamanya terkabulkan, karena di atas kepalanya ada Malaikat. Setiap dia mendoakannya dengan kebaikan, Malaikat yang ditugaskan itu berkata : amin (Ya Allah, Kabulkanlah) dan bagimu seperti itu juga.” (HR. Muslim). Keuntungan berganda bukan? Gak salah lagi kenapa kita disuruh dekat-dekat dengan orang shaleh, agar kita dapat belajar meningkatkan pemahaman agama kita dan tentunya berbonus untaian doa dari mereka untuk kebaikan kita :D

Yuk, bebaskan hati, perangi kedengkian!


Ket : Foto dari google

Temani Aku Bunga

Segaaar sekali rasanya setelah keluar dari rutinitas dan mengisi liburan selama empat hari lalu. Hatipun menjadi lebih berbunga-bunga. Semua terlihat berwarna. Semua tercium mewangi. Aku berjalan ke kantor dengan langkah ringan dan bersenandung kecil. Begitu memasuki ruang kerjakupun langsung mendapat sambutan yang hangat....Oh, ini bukan hangat. Ini panas. Tidaaaaak! Bayangan tumpukan kerjaan mengoyak-ngoyak imaji yang sedang berbunga. Hai bunga-bunga indah nan berwarna-warni, janganlah engkau terburu-buru untuk menguncup. Kembangkanlah mahkotamu. Keluarkanlah wangi tubuhmu. Warnailah sudut-sudut yang kelam dan abu-abu. Meluruhlah engkau hai serbuk sari. Bersemayamlah di atas kepala putik hingga menjadi tunas yang tumbuh menjadi penerusmu. Teruslah beregenerasi hingga tidak ada celah bagi perontok mahkotamu untuk membuatmu punah.

Sekonyong-konyong masuk kedunia nyata. Terlihat tumpukan berkas yang menunggu untuk dieksekusi, ketika aku lihat dalam system jumlahnya mencapai 1.228 berkas. Disambung panggilan bos yang menyampaikan bahwa kesepakatan rapat lalu (ketika aku tidak masuk) menyatakan bahwa aku termasuk yang ditugaskan khusus untuk meng-approve. Jika menemukan berkas yang tidak layak, tuliskan analisanya di kertas dan berikan kepada dua orang lainnya yang khusus memproses decline. Nah lo, aku tetap disuruh menuliskan analisa untuk yang decline. Kl begitu dua orang teman lain itu pemikirannya akan tersia-siakan donk dan hanya berfungsi sebagai "tukang ketik"? Sepertinya sangat tidak efisien. Tapi semua telah bersepakat mengambil langkah itu. Ujug-ujug datang dan menolak hasil keputusan rapat tentunya sangat tidak bijaksana. Setidaknya, biarlah untuk sementara.

Hmmm.... baiklah jika mesti begitu.
Berkas-berkas menggunung, mari kita melebur!

Bunga-bunga indah, tetaplah dalam peranmu! :)

Ket  Foto dari google

Friday, February 25, 2011

Aku dan Sahabat




Menutup tahun 2010 dengan berlibur bersama sahabat tercinta ke Universal Studio Singapore.

Cuti bareng hubby ke Jogja




Senangnya bisa liburan bareng hubby ke kota yang indah ini. Walaupun aku sudah empat kali kesini tapi gak bosan-bosan. Selalu saja ada hal baru yang sebelumnya tidak pernah aku temui sehingga lima hari terasa sangat singkat.
Inilah sebagian foto perjalanan kami :)

Catatan harian Jogja 4

Duh...kenapa nih koneksi Wifi nya jelek? Apa karena hujan dan petir gede banget ya disini? Ada hubungannya gak sih? Aku gak ngerti :D Ngomong2 soal petir tadi sore ada kejadian lucu deh. Aku baru keluar dari ATM BNI di depan Hotel Mutiara dan disambut langsung dengan tawaran tukang becak untuk yah..seperti biasa ke tempat jualan bakpia, batik dan Dagadu. Lima ribu aja mba, sepuasnya" begitu tawaran dari tukang becak yang sepertinya sudah tertulis dalam buku panduan penawaran becak di Jogja :P Setelah menawarkan jasanya tiba-tiba ada kilat disusul petir yang bunyinya subhanallaah bikin merinding. Kenceng sekencang-kencangnya. Tukang becaknya langsung lari, ngibrit ke atas becaknya tanpa mempedulikan aku yang baru saja ditawari. Kami (aku dan mamas) yang melihat hal itu ketawa ngakak. Petirnya memang dahsyat banget, gak puas sekali kemudian dihajar lagi dengan kilat yang menyambar dan petir yang menggelegar berkali-kali.  Kami juga sebenarnya ketakutan, tapi melihat ulah tukang becak seperti itu malah bikin kami tertawa dan ujung-ujungnya berkhayal ngomong ke tukang becak yang lagi ketakutan "Ayo pak, kita ke bakpia, batik dan Dagadu", khayalanku. "Gak jadi deh mba" jawab tukang becak sambil tetap ketakutan mengangkat kakinya keatas dudukan di becak. "Loh, tadi kan bapak nawarin, gak bisa gitu donk pak, ayo!"  hehhe...*khayalan gak penting.

Kami keluar dari penginapan selepas sholat Jumat. Oya, ngomongin sholat aku jadi ingat cerita tentang azan. Kemarin kami mendengar azan magrib waktu lagi makan di Pondok Cabe.  Awalnya gak ngeh kalau itu suara azan karena benar-benar mirip dengan nyanyian Jawa. Lama-lama kok kalau diperhatiin "syair" nya adalah seruan azan. Hah? Kok bisa ya? hihihi...Ada-ada aja ya, sayang sekali baterai hape kemarin sudah sekarat, jadi tidak bisa merekam suara itu.  Kembali lagi ke acara setelah jumatan, kali ini kami berjalan dengan membekali diri dengan dua buah payung besar pinjaman ke pihak hotel berhubung sudah tau cuaca hujan terus sejak awal datang kesini.  Untuk kesekian kalinya mondar-mandiri di Jl. Malioboro yang panjang ini. Masuk ke toko-toko yang menarik perhatian. Mampir lagi ke Mirota Batik dan aku menemukan dua baju batik lucu, bisa untuk dipakai ke kantor. Mamas hanya beli Kopi Bandrek dan Coklat Monggo (coklat lokal dengan tulisan Finest Javanese Chocolate rasa kacang mete).  Walaupun barang lokal, ternyata coklat ini cukup mahal, harganya Rp.27.500,-  Aku pikir cuma 10 ribu hihihih... *maunya*. Selanjutnya beli oleh-oleh untuk teman2 dan kakak ipar di Jakarta karena besok sudah mulai bertolak kembali ke Jakarta untuk memulai aktifitas rutin seperti biasa. Kl ingat besok udah balik dan akan mulai kerja lagi, rasanya gak relaaa...belum puas bersantai2 ria hiks...

Menjelang magrib kami kembali ke penginapan. Di perjalanan pulang masih ada saja tukang becak yang menawari ke tempat jualan bakpia.  Gak ngeliat ya pak kiri kanan tangan mamasku sudah penuh dengan barang belanjaan, trus bawa ransel yang sudah terisi penuh dan dua buah payung menggantung di ranselnya.  Sementara aku cuma membawa tas kecil tersampir di pundak.  Aku mau bantu mamas yang keliatan repot tapi mamasnya malah gak mau. Aku maksa mamas, ayo donk mas kan adek jadi malu kalo ada yang merhatiin, kesannya istrinya kejam banget sih ama suami hihi..tapi tetap aja mamas gak mau. Ya sudahlah :D

Rencananya malam ini mau cari makan yang lokasinya agak jauh walaupun belum tau tepatnya kemana. Namun hujan semakin deras. Rencana mau menyewa motor jadi dibatalkan dan beralih memencet nomor 14045 dari hapeku.  Benar. Anda tak salah lagi, itulah The Luvly Mc.D. Terdengar sambutan dari seberang sana "Selamat malam Ibu Meli". "Malam mas", jawabku.  "Apakah benar alamat Ibu Meli masih di Jl. Setiabudi V bla..bla..bla". "Oh, sebentar mas, mau tanya apakah pemesanan ke nomor 14045 ini berlaku untuk seluruh Indonesia?", tanyaku. "Iya, tentu saja Bu", jawab si mas-mas Mc D. "Baiklah, kalo begitu alamat saya saat ini adalah di Jogja bla bla bla.." Padahal sebenarnya alamat di Jakarta juga sudah pindah, tapi update datanya nanti saja biar petugasnya tidak pusing dengan banyak alamat yang akan aku sebutkan.  "Baik saya ulang pesanannya, satu buah Panas Spesial pakai telur, dada yang hot *wuidiih*, minum diganti Nestea, satu buah kentang reguler, satu buah paket Chicken Mc D, dada dan sayap crispy, ukuran nasinya di-upgrade, minuman tetap cola. Apa benar begini, Bu?" "Yup, benar mas, berapa totalnya?, tanyaku.  "Totalnya Rp.68.200 nanti akan diantar oleh Mc D cabang Malioboro paling lama jam 20.15 sampai ditempat", jawab si mas-mas dan pembicaraan pun berakhir. "Masih 30 menit lagi mas", ucapku ke hubby. "Oke deh gak apa-apa", sahutnya. Pukul 20.00 telfonku berdering dari nomor berkode area Jogja 0274 dan gak salah lagi ini adalah panggilan dari Mc D Jogja. Mereka mengkonfirmasi ulang pesanan dan mengatakan akan segera dikirim. Ternyata sampai dengan pukul 20.45 belum ada tanda-tanda pintu diketuk. Aku menelfon balik ke nomor Jogja berbekal rekaman di call register hape. Dua kali percobaan menelfon gagal karena sibuk, telfon yang ketiga kalinya berhasil.  Petugas menginfokan bahwa pesanan sudah diantar sejak pukul 20.30 dan berjanji akan segera mengontak aku kembali.  Pukul 21.00 pintu diketuk, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Kasihan juga melihat mas-mas yang nganter basah terkena hujan dan datang dengan muka masih kebingungan. "Susah ya mas nemuin alamatnya?", tanyaku. "Iya mba, saya tadi nyasar, saya baru seminggu kerja dan gak tau daerah sini". "Oh pantesan", sahutku. Setelah bayar-membayar, langsung saja Mc. D nya dimakan tanpa ampun alias ludes tak bersisa.  Maklum tadi siang cuma makan pempek palembang. Yaelah, jauh -jauh kesini makannya pempek lagi.

Selama di Jogja kami hampir tidak menyentuh makanan berbau Jawa, kecuali waktu di Dapur Solo dan makanannya juga sebenarnya hanya seperti masakan rumahan biasa dan tidak terlalu spesial atau menonjolkan unsur masakan Jawa seperti Gudeg.  Mamas yang orang Solo aja gak suka Gudeg, apalagi aku yang pencinta sambal pedas :) "Mamas Jawa palsu nih", begitu selalu ledekku ketika mamas gak suka masakan Jawa atau tidak lancar berbahasa Jawa. malah lancar berbahasa Minang. Tapi kemarin aku menemukan ke-Jawaannya waktu minum beras kencur.  "Enak banget dek", katanya sambil menyodorkan gelas berisi beras kencur.  Aku ragu-ragu mencobanya dan akhirnya menyedot sedikiiiiit aja, dan hueeek... gak suka! Rasanya aneh. Tapi mamas terlihat sangat menikmati minuman itu saat menyeruputnya. 'Nah, kalau gini baru ada sedikit tanda-tanda mamas orang Jawa", kataku hehhehe...

Oke deh, cukup dulu untuk cerita hari ini. Sekarang waktunya beres-beres. Menyimpan seluruh pakaian kotor dalam plastik. Menyusun kembali dalam tas untuk memudahkan persiapan untuk kembali ke Jakarta besok siang.  Rencana pulang menggunakan Garuda penerbangan pukul 14.30, semoga selamat sampai kembali ke rumah. Amiin..

*Menikmati bunyi rintik hujan di genteng dalam suasana malam Jogja yang hening*

Thursday, February 24, 2011

Catatan harian Jogja 3

Wow, udah hari ketiga aja nih :D

Hari ini kami ngerental motor di seberang jalan dekat penginapan biar lebih puas keliling-keliling kota Jogja.  Kami langsung menuju salah satu dari tempat penyewaan yang ada dan langsung menanyakan perihal sewa-menyewa ini.  Dari pertanyaan dan tatapan mata Ibu pemilik usaha rental ini, terlihat dia sedang menyelidiki kami sebagai calon penyewa. Begitu juga dengan seorang laki-laki yang aku perkirakan adalah anaknya.  Mereka menanyakan KTP, alamat, pekerjaan, menginap dimana, berapa lama dan meminta jaminan sebesar Rp. 1jt. Waaah, bu... jaminannya gede banget, kami kan mau jalan2 dan makan2 sahutku sambil cengengesan.  Si Ibu dari balik kacamatanya memandangku dengan agak memiringkan kacamatanya, seperti adegan2 sinetron nenek2 yang siap2 mau memarahi cucunya.  Aku gak tau apa yang ada dalam pikirannya, mungkin heran atau mungkin kasian ya kere sekali mereka hahah..Aku menangkap bahwa si ibu dan anak sedang mencari informasi selengkap2nya tentang calon pengguna kendaraannya. Aku sih setuju2 saja. Sangat wajar mereka berhati-hati dan menetapkan jaminan karena usaha ini beresiko tinggi. Aku mencairkan ketegangan dengan ngajak si ibu ngobrol.  "Ibu dari Sumatera Utara ya?", tanyaku walaupun sudah jelas terlihat dari wajah dan cara bicaranya. "Iya", sahutnya singkat. "Ooh...suami saya ini ibunya juga dari sana bu".  "Apa marga kau?", tanyanya ke mamas. "Ibu saya Daulay bu, tapi bapak saya orang Solo", jawab mamas. Setelah pertanyaan2 tentang marga, aku kembali meneruskan ngobrol. Aku ingin si ibu merasa nyaman dengan mengenal profil kami walau hanya sedikit. Aku cerita, kebetulan dapat tiket murah, berangkat kesini untuk ziarah sekalian jalan2.  Dia juga menanyakan pekerjaan kami. Anaknya meminta NPWP ku dan menanyakan kenapa alamatnya berbeda dengan KTP. "Biasalah mas, sebelumnya kan saya anak kost, waktu kuliah aja kostnya udah berapa kali pindah.  Sekarang udah tinggal sesuai alamat KTP suami tapi KTP saya masih dalam pengurusan". Ibu dan anak itu mulai terlihat percaya dan tidak tekesan kaku lagi.  Untuk lebih nyamannya kami  menyerahkan KTP masing-masing, NPWP dan kartu pegawai ku.  Melihat perubahan ke arah yang lebih baik itu aku merayu "Jaminannya jangan sejuta ya bu". "Berapa maunya? 500rb?", sahut si ibu.  "Jangan bu, 200rb aja ya, biar bisa dipakai makan dan jalan2 hehe... *tetap cengengesan*. Ya udah. Akhirnya mereka setuju dan membuatkan dokumen perjanjian. Yeaaa...pendekatanku berhasil hihihi.. Aku iseng2 nanya, "Bu, pernah ada kejadian orang yang tidak mengembalikan motor sewaan?".  "Pernah", katanya sambil mengangguk.  "Wah, rugi sekitar 10 jutaan ya bu", kataku. "Nggak, 20jt karena yang hilang Mega Pro".  Kasihan juga membayangkan hal itu, pantesan mereka jadi sangat berhati2, pikirku.

Selesai segala urusan persuratan, anaknya menyerahkan kunci dan STNK motor Vario Pink yang kami pilih. "Nanti kami kembalikan jam 10 malam ya bu, terima kasih" dan Vario pun meluncur membelah Jogja. Siang itu kami memilih makan di Pondok Cabe Jl. C. Simanjuntak karena aku telah jatuh hati dengan sambal pedasnya, empalnya dan suasananya yang terbilang asik sejak waktu ke Jogja terakhir bersama teman2ku. Berbekal peta Jogja dari pihak hotel, kami mencari lokasi tersebut. Berhasiiiill.... tidak ada kesulitan yang berarti. Sesampainya disana dan berhubung sudah lapar langsung memesan makanan.  Aku memesan Empal Ekstra Pedas, nasi bakar, tahu bakar, aqua (diganti air putih karena habis) dan 2 buah kerupuk, sambal gunung (sambel pedas ada dagingnya).  Sementara itu mamas memesan Nasi putih, empal biasa, Juice The Gun (jus kelapa muda yang diblender, enak deh), sayur oseng kangkung, 2 buah kerupuk, dan sambel goreng terasi. Total pembelian adalah 43 ribu. Asyiik!

Setelah kenyang, aku mengajak mamas ke Prambanan. Awalnya mamas menolak, tapi setelah melihat peta dan mempelajari arahnya mamas mengiyakan ajakanku.  Wuii senangnya, karena aku belum pernah ke Prambanan. Perjalanan dengan motor terasa ngebut. Biasanya mamas tidak pernah ngebut.  Ternyata menggunakan motor matic secara tidak sengaja membuat motor melaju kencang dan mungkin juga karena hanya perlu gas dan rem membuat pengendara merasa ringan mengendarainya. Asyik juga sih, walau deg-degan aku menikmati duduk di atas motor dengan udara adem disertai angin sepoi2. Sampailah kami di gerbang Candi Prambanan dan membayar tarif masuk masing2-masing 20 ribu.  Dari jauh candi kelihatan biasa saja, tetapi setelah memasuki dan memperhatikan struktur bangunan, kami terkagum-kagum melihat keindahan pahatan, warna, lekukan dan susunannya. Kami tidak habis pikir membayangkan para arsitek dan pekerjanya di masa lalu. Bagaimana mereka bisa membuat candi seindah ini dengan susunan yang rumit. Bagaimana merekatkan setiap bagian yang konon kabarnya tidak mengunakan semen. Bagaimana cara mereka naik hingga tumpukan candi paling atas yang semakin runcing? Tanpa dikomando kami berfoto-foto dan berjalan mengitari dan memasuki candi.  Ternyata candinya kecil dan gelap. Berbeda dengan Candi Borobudur yang sangat besar hingga bikin ngos-ngosan mengitarinya. Tak lebih dari 5 detik masuk ke dalam ruang gelap itu, aku langsung keluar, diikuti mamas yang ternyata juga merinding seperti aku hahhaa...

Langit terlihat mulai mendung dan perlahan meneteskan hujannya.  Kegiatan foto2an dan keliling2 jadi terhenti. Kami berteduh di bawah pohon dekat pos penjaga bersama kira-kira sepuluh orang yang lain.  Ada dua orang turis asing yang diajak bicara oleh anak sekolah yang menawarkan menjadi guide yang free of charge.  Tak sengaja aku jadi ikut menguping pembicaraan mereka.  Tidak terlalu lama, hujan mulai berhenti, namun kami tidak lagi melanjutkan ke arah candi dan memilih lebih baik pulang daripada kehujanan. "Yah, belum puas foto2nya ya mas?", kataku. "Masa sih? Mamas sudah puas kok", jawabnya.  "Yah, baru dikit gak cukup 20 foto, biasanya adek foto2 bisa ratusan mas", sambil manyun berjalan ke arah parkir. Sesampai di depan motor, aku tidak menemukan plastik pelindung kepala kami.  Ya, kami menggunakan shower cap yang buat mandi itu sebagai alas sebelum menggunakan helm sewaan, takut bau dan kotor heheh.. "Mungkin diambil sama orang yang kebetulan kehujanan dek, lumayan tuh ada gratisan", kata mamas. "Huh, jahat banget sih orangnya, tega bangeeet", sahutku kesal.  Jok motor dibuka mamas untuk mengambil helm yang talinya kami gantungkan di kedua sisi dan terlihatlah shower cap biru dan pink di dalamnya. " Huuu... ngerjain aja nih, adek udah berburuk sangka sama orang yang tidak dikenal dan tidak ada itu", semakin mengerucut deh bibirku. Yang diprotes malah ketawa-ketawa aja sambil memasang shower cap pink ke kepalanya. Gak salah kok. PINK. Mamas mungkin setengah rela mendapat pink karena aku mau yang biru biar matching dengan baju dan kerudungku hihihi...

Wuuuuz....Motor melaju kembali ke Jogja, berkeliling-keliling ke arah UGM, Keraton dan Malioboro.  Aku teringat Juice The Gun yang kucicipi tadi siang. Kebetulan haus, aku mengajak mamas kembali ke Pondok Cabe dan berencana untuk dibungkus saja.  Ternyata hujan kembali turun, alhasil kami kembali nongkrong disana, memesan makanan ditemani musik akustik live. Lumayan seru sih :D

Ketika hujan mulai reda kami pun kembali berkeliling kota. Eh, di tengah perjalanan, hujan kembali turun, semakin deras.  Beruntung kami melihat jas hujan saat mengisi bensin tadi siang dan bisa dimanfaatkan. Mamas meminjamkan hoodie nya padaku dan menggunakan jas hujan. Mulailah perjalanan kami ditengah rintik hujan yang semakin rapat. Tiupan angin menambah dingin dan aku semakin mendekat sambil melingkarkan tangan ke pinggang mamas. Tiba-tiba langsung teringat lagu Sheila on 7, akhirnya kami bernyanyi dan bersenandung lagu itu sepanjang jalan "Pegang erat pinggangku saat kita melaju di atas dua roda, dendangkan serta lagu kesayanganmu seperti sedia kala dimana kita terangkai bersama". Lama-lama hembusan angin semakin dingin, hujan tetap awet dengan curahnya, dan kamipun menyerah untuk kembali saja ke penginapan.  Motor yang dijanjikan akan dikembalikan pukul 10 malam, maju menjadi pukul 8 malam demi menjaga kondisi agar tidak sakit.  Motor pun diputar mengarah ke jalan menuju penginapan.

Setelah mengembalikan motor, kami segera kembali ke penginapan dengan shower cap pink yang masih setia bertengger di kepala mamas dan yang biru di kepalaku sambil berlari-larian.  Sesampai di kamar, kami berkaca dan merasa lucu sendiri dengan tampilan aneh itu, seperti orang-orang yang sedang creambath di salon hiihi.. Tak tahan berlama-lama dengan baju lembab, kami pun membiarkan air hangat mengguyur dan menyegarkan kami kembali sebagai pengantar agar istirahatnya lebih asoy geboy.  Ah, mataku mulai meredup. Mamas malah sudah tertidur pulas dengan posisi setengah melingkar seperti orang kedinginan. Hmmmm....waktunya istirahat *ngangguk2 setuju*

Good nite all ! Sleep tight ;)

Wednesday, February 23, 2011

Catatan harian Jogja 2

Yeaaaa...

Hari ini kami menuju Solo disiang bolong. Yow, saat terik matahari menyegat, membuat kening mengernyit sehingga kami mirip Koko dan Cici bermata sipit yang berjalan bergandengan menuju Stasiun Tugu. Jaraknya stasiun dari penginapan sangat dekat, seperti orang2 sering bilang hanya sepelemparan kolor. Hah? Emang kolor siapa yang dilempar? Sejauh apa jatuhnya si kolor? Berapa detik atau menit jika dikonversikan ke hitungan waktu? Apa warnanya? Ah.. Sudahlah, kok jadi ngomongin kolor hihihi.. Yang jelas sampai di stasiun kereta, beli tiket, tak berapa lama kereta yang sudah ngetem entah sejak kapan itu mulai menyalakan mesinnya. Aku bergegas, mempercepat langkah di belakang mamas sambil masih mengambil gambar2 sekitar yang menarik perhatianku.

Kereta yang kami tumpangi adalah Prameks, katanya berarti Prambanan Ekspress. Tapi berbeda dengan kereta express yang aku tumpangi setiap pagi menuju kantor, kereta ini tidak memiliki AC. Tempat duduknya keras, tidak ada bantalan busanya, persis kereta ekonomi di Jakarta. Yang membedakan adalah pintu kereta tertutup saat kereta mulai berjalan, sedangkan di Jakarta pintu terbuka dan penumpang sampai manjat ke atap kereta saking penuhnya. Tapi yang cukup melegakan bahwa kereta berjalan cukup kencang dengan angin sepoi2 yang masuk melalui celah jendela2 yang sedikit miring, mungkin membukanya tidak sempurna. Penumpang tidak ramai, namun di stasiun Lempuyangan kereta mulai terisi hampir penuh. Aku lihat sekeliling ke arah penumpang lain. Ada yang tertidur. Ada yang ketakutan dengan belalang yang berjalan2 disekitar kursinya. Ada cewek berkacamata separuh muka, dengan rambut keriting diikat sedang sibuk bercerita dengan temannya. Ada yang terlihat pulas tapi tak berapa lama seperti mengunyah2 sesuatu dan kemungkinan besar permen karet. Namun aku iseng ngomong ke mamas biar dia ngerasa geli membayangkannya "Mas, adek tebak sepertinya cowok itu mengunyah sirih deh mas, dan kelihatannya udah 2 hari gak dibuang2" bisikku yang penasaran melihat reaksi jijiknya mamas. "Iya dan sirihnya setelah digigit, ditaruh, diambil, dan digigit lagi", sambungnya. "Hiyeeek, kok jadi malah makin jijay gitu khayalannya. Gagal deh maksud jelekku hahha...*maaf ya pembaca, postingan yang aneh*

Tak terasa 50 menit di atas kereta, kami sampai di stasiun Purwosari. Tujuan utama kami ke Solo adalah untuk mengunjungi makam almarhum bapaknya mamas. Kami melakukan tawar menawar dengan tukang becak yang hanya bisa berbahasa Jawa. Mamasku yang orang Solo tapi vocab Jawa nya terbatas juga kesulitan mengartikan maksud si bapak. Tujuan kami adalah ke pemakaman Pracimaloyo. Akhirnya kami beralih ke tukang becak lain yang bisa berbahasa Indonesia walaupun tetap campur sari (dengan bahasa jawa) dengan penawaran menarik 20ribu pulang pergi. Kadang-kadang kami mengerti dengan pembicaraannya tapi lebih sering tidak mengerti. Tukang becaknya sangat bersemangat bercerita, sehingga kami menyahuti dengan "Ngono toh..hmmm.. yaaa..yo wes.." dan kosa kata sok tau lainnya untuk merespon agar bapaknya tetap semangat walaupun jadi tertawa sendiri (dengan tutup mulut takut ketauan) menyadari kekonyolan kami .

Mendekati perkuburan mulailah terjadi keajaiban. Bukan keajaiban yang bikin aku ternganga takjub dan kagum, tapi keajaiban yang bikin tanganku gatel buat ngejewer kuping mamas seperti jeweran ibu guru SD ke muridnya yang nakal hahaha..."Maaf ya dek, jewer aja deh, gak apa-apa kok", katanya. "Nanti aja ya mas, kalo semuanya sudah kelar biar puas melintir kupingnya", sahutku disambut tertawa kecutnya. Hahha...Kenapa jadi rasanya pengen ngejewer gitu? Karena ternyata mamasku tersayang, yang sudah lupa dimana tepatnya kuburan bapaknya, tidak mencari tau sebelum menuju ke sana sedetil-detilnya info mengenai lokasi dengan jelas. Jadilah kami sibuk menelfon kakaknya di Jakarta, berkali-kali karena tidak menemukan arah sesuai petunjuk, dan ternyata gerbangnya ada 2, ribet, muter-muter, salah arah. Terakhir setelah muter-muter ketemu dengan kumpulan ibu-ibu dan dengan kata kunci sesuai isi SMS kakak ipar "makamnya pak Soenarso, bapaknya Mas Oki yang dari Bali", langsung deh ibu-ibu yang sudah cukup tua mengantar ke arah yang dimaksud. Wah, rupanya di sini tempatnya dan ada passwordnya hiihihi....Ternyata langkah kami diiringi oleh 4 orang ibu-ibu lain dan seorang laki2. Mereka kemudian sigap menyibakkan rumput di dekat batu nisan yang terlihat sangat gampang untuk dikletekin, menebang sedikit pohon kecil yang berada di dekatnya. Lebih gesit daripada orang2 yang bergotong-royong di kelurahan. Dan jreng jreeeng...seolah secepat itu, permukaan batunya kembali putih bersih setelah disiram dan dilap dengan kain basah. Setelah itu kami mendoakan almarhum. Aku menatap nisan mertuaku, R. Soenarso Citrosiswoyo BA, nama yang sudah tidak asing bagiku, namun tidak pernah berjumpa sebelumnya. Dari dirinyalah lahir seseorang yang saat ini menjadi pelengkap hidupku, seseorang yang sangat aku cintai dan hormati. Jadi ingat sebelumnya juga ziarah ke makam mertua perempuanku, dimana juga tidak pernah bertemu beliau sebelumnya, karena telah meninggal dunia sudah lama, jauh sebelum aku menikah dengan putra bungsunya itu. Tidak berlama-lama di sana, selepas itu kami ngobrol sebentar dengan para petugas bersih-bersih yang segambreng itu, meninggalkan tanda terima kasih untuk juru kuncinya dan enam orang yang lainnya karena langit mulai mendung pertanda sebentar lagi hujan. Kembali, kami mengarah ke becak yang sudah menunggu sedari tadi.

"Lega, akhirnya sudah kita kunjungi ketiga orangtua kita ya dek ", kata mamas (sebelum menikah kami sudah ke makam mamaku). 'Iya, alhamdulillah bisa terwujud sekarang setelah lebih dari setengah tahun lamanya ya", sahutku. Ahaa!! Aku teringat niatku yang tidak kesampaian untuk menjewer kuping mamas. Dengan gemes aku mengarahkan tangan ke kupingnya, namun mamas pasrah dan senyam-senyum saja, jadi gak tega sendiri, walaupun tetap ngejewer sebagai pemenuhan janji, kan janji harus ditepati hahah...

Sepanjang perjalanan di becak, aku suka mengambil foto kami berdua, walau dengan susah payah. Bahkan ketika akhirnya mendung yang menggelayut itu tak mampu menahan diri untuk meluruhpun, aku tetap memutar dan membengkok2kan tangan biar bisa mengambil foto kami berdua sedang duduk di atas becak haha..*norak*. Perjalanan selanjutnya adalah ke pasar Klewer. Tidak berniat untuk mencari sesuatu, hanya ingin tau seperti apa sih pasar Klewer itu yang sering aku dengar dari orang lain. Tukang becak, menawarkan kembali mengantar sampai ke pasar Klewer dengan tawaran kami berupa tambahan tarif 10ribu, namun terakhir kami berikan menjadi total 40ribu dimana sisanya berupa bonus karena bapak tukang becak sudah menunggu kami di pemakaman. Kami tidak tau berapa tarif wajar becak disini, semoga biaya tadi sudah sesuai dan tidak merugikan si bapak.

Pasar Klewer, seperti pasar pada umumnya, namun sebagian besar dipenuhi oleh batik, batik dan batik. Kami berkeliling sambil melihat-lihat sekeliling, dan tidak menemui ketertarikan terhadap produk yang dijual. Yang penting kami sudah puas karena tau dan pernah kesana. Di jalan ke arah luar menuju jalan raya, kami menyewa ojek payung karena masih rintik hujan. Di sisi kiri dan kanan jalan inilah kami menemukan produk incaran kami. Aku sih masih mending beli batik, lah mamas belanjaannya hoodie bertuliskan nama band metal kesukaannya. Yah, yang ini mah gak usah jauh-jauh mas, di Jakarta banyak :P

Selesai shopping, perutpun merengek minta diajak shopping. Mamas malah request makan di Sederhana dengan berbekal sebelumnya melihat mobil bertuliskan RM. Sederhana beralamat di Jl. Slamet Riyadi. Kami memang sedang berada di Slamet Riyadi, dan akupun mengiyakan ajakan mamas. Mulailah kami tanya satpam yang menunjukkan arahnya. Mamas bilang ragu terhadap keakuratan arah yang diinfokan satpam itu, dan ternyata memang salah. Kami tanya lagi ke dua orang yang lain pada kesempatan berbeda, tidak ada yang tau. Ternyata RM. Sederhana di Solo gak terkenal ya. Sambil lihat kiri-kanan sepanjang jalan, kami berjalan di trotoarnya. Trotoar di sini lebar-lebar, di ruas sebelah kiri menuju arah ke St. Purwosari lebar trotoarnya sekitar 4x lebar trotoar yang sering kita jumpai. Dan di ruas jalan di seberangnya agak lebih kecil, sekitar 3x lebar trotoar kebanyakan. Trotoar ini digunakan untuk pejalan kaki, pengendara sepeda dan becak. Trotoarnya sangat memanjakan kami sebagai pejalan kaki. Lampu merahnya bergambarkan sepeda. Udara yang masih lembab dan menyisakan tetesan air dari langitnya menjadi peneman langkah kami. Sampailah kami di persimpangan jalan dan bertemu becak lain. Terjadi tawar-menawar singkat sesuai tarif sebelumnya dengan jarak tempuh yang lebih dekat. Kami kembali menuju ke arah Purwosari, berharap jika ditengah jalan bertemu RM. Sederhana, langsung berhenti, dan jika tidak langsung mengarah pulang dan mencari makan di sekitar stasiun. Kayanya gak jodoh makan di Sederhana, gak ketemu sampai di Purwosari. Mungkin karena ledekanku ke mamas sebelumya, masa udah ke Solo makannya nasi padang sih mas? Kemarin malah makan fastfood :) Berhasil deh, tadi gak jadi makan nasi Padang, akhirnya makan masakan Jawa, nama rumah makannya aku lupa, persis disebelah Pertamina samping stasiun. Makanannya cukup enak, tidak terlalu manis seperti kekhawatiranku dan harganya juga wajar. Kami numpang sholat dulu di sana sebelum melangkah ke stasiun.

Tak disangka ketika sampai loket, kereta baru berangkat setengah jam yang lalu, begitu info dari petugasnya. Kereta berikutnya pukul 18.13 yang berarti sekitar 1,5 jam lagi dari waktu kami bertanya. Kami pun menunggu di ruang tunggu sambil ngobrol2 biar tidak berasa lama. Ketika kami sudah siap2 berdiri karena waktu sudah mendekati jadwal seharusnya, ternyata kereta terlambat, dan diperkirakan akan datang pukul 18.40. Yah, kembali kecewa dengan keterlambatan itu. Namun kekecewaan tidak terlalu terpikirkan lagi saat aku numpang nge-charge hape di ruang petugas stasiun. Aku terheran-heran melihat tuas untuk pengaturan jalur kereta, ukurannya besar, banyak, bergerigi. Ada 5 buah telfon model aneh yang tidak tersusun rapi. Aku takjub dengan kesibukan petugas itu menerima telfon, menyalakan bel, memutar alat-alat kendalinya, menggunakan radio control dan lain-lain yang tidak aku mengerti hingga tak terasa kereta yang dinanti pun datang. Aku langsung mencabut kabel chargerku, mengucapkan terima kasih dan mensejajari langkah mamas menuju peron.

Pemandangan di kereta menuju arah pulang ini juga meninggalkan kesan tersendiri. Ada laki-laki yang mirip teman kantor mamas dan kami cocokkan foto temannya di facebook dengan wajah laki-laki didepan kami itu dan benaran mirip ihihihi... Jadi cekikikan berdua. Ada mas-mas menggunakan topi seperti topi haji namun berwarna-warni. Yang menarik dari orang ini adalah rambut yang menyembul dari balik topinya. Rambut itu membentuk lengkungan setengah lingkaran dibagian tengah kepalanya seperti lengkungan paes pengantin jawa (yang hitam2 di kening), rambutnya tersusun rapat, berwarna hitam, mirip deh. Aku ketawa cekikan melihatnya. Rasanya ingin bilang "Mas, tadi buru-buru ya naik keretanya? Paesnya belum selesai tuh, yang runcing di kiri dan kanannya belum ada." Hahah...Sepanjang perjalanan, setiap aku melihat ke arah mas-mas itu aku selalu tidak mampu menahan tawa, lucu, benar-benar lucu. Ada-ada saja pemandangan hari ini, membuat rasa kantukku menghilang.

Seperti waktu keberangkatan, perjalanan pulang pun menempuh waktu yang sama. Kami turun di Stasiun Malioboro, bersyukur selamat kembali ke Jogja, berjalan menuju pengingapan, meletakkan barang bawaan, kembali berjalan keluar untuk mencari makan. Menikmati Malioboro di malam hari. Duduk di bangku panjang di depan DPRD Jogja sambil melihat pelukis jalanan yang tangannya sangat lincah memindahkan bayangan muka ibu-ibu di depannya ke atas sehelai kertas putih yang seakan-akan menjadi cermin ketika si ibu memandangnya karena kemiripan lukisan dengan aslinya. Salut dengan kreatifitas mereka. Puas nongkrong dan bercerita betapa senangnya lepas sementara dari rutinitas kerja di kantor, kamipun melangkah pulang dengan ringan. Lepas! Bebas! Biarkan kami nikmati liburan ini.

Sekarang saatnya tidur setelah menuliskan catatan perjalanan panjang hari ini ;)

Good night all. Bubyeee!

Tuesday, February 22, 2011

Catatan harian Jogja 1

Senin pagi aku males2an berangkat kerja. Biasanya jika punggungku dipijit2 hubby pas bangun pagi, rasanya jadi lebih semangat untuk bangun. Tapi kali ini aku makin pengen tidur. Namun aku paksakan mandi dan berangkat kerja karena aku tau hari itu temanku, kita sebut saja namanya Si Teman tidak masuk kerja (biasanya setiap dia tidak masuk kerja, aku membantu menggantikan pekerjaannya karena yang lain belum/tidak bisa melakukannya). Rasa malas ini sepertinya juga berhubungan dengan bayangan akan asyiknya mamas bisa berleha-leha di rumah karena tiba-tiba diberikan cuti oleh bosnya sementara aku tetap ke kantor. Aku bilang, "Mas, adek pengen cuti juga ya nemenin mamas di rumah". "Emang boleh cuti?", jawabnya. "Kita bikin boleh mas, sayang aja jarang2 mamas bisa libur gini, pokoknya adek mau cuti juga ah.". "Tapi kita pergi jalan2 juga yuk mas, yang dekat2 aja.". "Hmm..boleh, kalau ke Bogor udah bosan, gimana kalau ke Bandung aja?", usulnya.  "Kita sama2 pikirin lagi ya mas enaknya kemana", jawabku yang sebenarnya suka ke Bandung tapi sedang gak terlalu antusias untuk kesana.

Akhirnya aku berangkat kerja dengan masih memikirkan mau pergi kemana. Tiba-tiba aku ingat kalau kami sudah lama berniat untuk nyekar ke makam bapaknya mamas di Solo. Di atas kereta aku buka website Garuda Indonesia dan mulai melihat tiket ke Jogja. Waaah, ternyata murah. Untuk dua orang pulang pergi hanya sekitar 1,2 jt saja. Aku langsung telfon mamas, dan dia kaget waktu aku tawarin ke Jogja. Tapi sedetik kemudian, "Boleh deh", sambutnya sumringah. Yuhuuu! Dengan senang hati aku mempersiapkan semua pembelian tiket dan pemesanan hotel secara online. Aku nekat saja melakukannya tanpa minta izin dulu ke bos. Libur di hari yang sama dengan mamasku adalah hal yang sangat langka, bahkan lebih langka dari ketersediaan bunga Raflesia Arnoldi atau dari jumlah populasi Harimau Sumatra. Jadi aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini hanya untuk mendengarkan penolakan cutiku. Bahkan jika tidak disetujui, aku berniat tetap keukeuh minta untuk diizinkan hihihi....

Sampai di kantor, aku membuat form permohonan cuti.  Permintaan cutiku sempat diminta untuk diundur oleh managerku yang mengatakan bahwa Si Teman cuti tiga hari dan siapa lagi yang menggantikan pekerjaannya yang tidak bisa diundur itu? Begitulah Si Teman, dia tidak pernah memberi tahu aku secara langsung berapa lama dia cuti, tidak pernah meminta tolong secara langsung untuk mengerjakan pekerjaannya selama tidak masuk padahal pekerjaan dia berjenis tidak bisa dipending. Mungkin dia merasa yakin aku pasti mengerjakannya, dia sudah tau pasti beres dan tinggal terima bersih. Ah, sudahlah pembicaraan tentang Si Teman kita sudahi saja untuk saat ini. Aku bilang ke managerku "saya sudah beli tiket dan bayar hotel mas". Sebenarnya ada yang teman satu bagian dengan Si Teman yang sepatutnya menggantikan pekerjaannya jika Si Teman tidak masuk, sebut saja namanya Si Kawan, namun dia tidak bisa mengerjakannya.  Kemarin kembali kami belajar untuk kesekian kalinya, sepertinya dia sudah mulai memahami, dan aku bisa bernafas lega. Perkembangan terakhir aku dapat kabar hari ini ternyata Si Kawan tidak bisa mengerjakannya. :((

Managerku menanyakan ini cuti 2010 atau 2011, apakah cuti 2010 kamu masih ada? Oya, aku baru ngeh dan langsung menelfon bagian SDM. Ternyata cuti besar 2010 ku yang berjumlah 22 hari kerja baru terpakai 12 hari, jadi masih ada 10 hari lagi yang bisa aku manfaatkan. Wuiiih, makin mantap aja nih. Cuti 2011 belum sama sekali tersentuh. Asoyy. Managerku yang tau bahwa ini kesempatan langka bagiku akhirnya membubuhkan tandatangannya. Dengan suka cita aku ambil form itu dan menyerahkan ke pemimpin Divisiku. Kebetulan beliau tidak di tempat, aku taruh saja di atas mejanya. Selesai sholat Ashar aku melihat selembar kertas bertandatangan manager dan pemimpin Divisiku tergeletak di atas meja. Asyiiik...senangnya cutiku disetujui. Aku pulang kerja dengan senang hati.

Tadi siang aku berangkat dengan senyum mengembang sedari pagi. Senangnya bisa libur berduaan lama2 dengan suami. Biasanya hubby libur, aku kerja. Eh tanggal merah aku libur, hubby nya yang kerja hehe... Sesampai di Bandara Soekarno Hatta, kami disarankan petugas untuk melakukan Self Check-in karena tidak memasukkan barang ke bagasi, biar cepat. Sambil menunggu pesawat datang kami nongkrong dan makan-makan dulu di Executive Lounge. Penerbangan tidak bisa dibilang on time, tapi juga tidak delay terlalu lama. Perjalanan terhitung lancar dan aman dengan snack yang enak dan pramugari yang cantik dan ramah.

Jogja. Ini adalah kali keempat aku menginjakkan kaki di kota pelajar ini. Kota yang penuh dengan aneka kerajinan batik, perak, dan Dagadu-nya baik yang asli maupun yang aspal . Kota yang menyediakan gudeg, bakpia dan brem yang seketika meleleh dilidah jika dikecap. Kota yang membuat jutaan orang merasa hatinya terpatri disini dan ingin mengulang kembali langkah menyusuri Malioboro, Keraton, Prambanan dan sekitarnya. Kami menuju penginapan dengan terlebih dahulu dijemput oleh pihak hotel. Pak Susilo, nama supir yang menjemput kami membawa kertas bertuliskan namaku. Aku yang melihatnya dari jauh mendekat ke arahnya, pura-pura bukan sebagai orang yang ditunggu dan mengambil fotonya sebelum akhirnya menyapanya, takut bapaknya grogi kalau ketauan difoto hehehe...Kami menginap di hotel yang bertema etnik dengan dinding yang diberi lukisan yang berbeda disetiap kamar, tempat tidur yang dialasi sprei batik, ornamen2 dan ukiran-ukiran yang membuat hotel ini terlihat sangat antik. Settingan lampu sepertinya sengaja diberikan lampu sorot kuning dengan cahaya yang temaram. Sangat kontras dengan hotel2 yang pernah aku singgahi sebelumnya, dimana rata2 berdinding putih polos, bed cover putih bersih dengan lampu yang terang benderang. Namun inilah tema yang diusung hotel ini, dengan batiknya terasa sangat Indonesia sekali. Tidak heran jika banyak bule menginap disini. Hotel ini terletak di jalan Sosrowijayan, dekat dengan jalan Malioboro. Hanya berjalan sedikit keluar gang, tinggal belok kanan, lurus dan ketemulah jalan Malioboro.

Di hari pertama ini selepas sholat Ashar, kami berjalan santai di sepanjang Malioboro, cuci mata, menikmati udara Jogja yang terasa sejuk.  Mendengarkan penawaran becak dengan tarif  5 ribu saja ke berbagai tempat berjualan oleh-oleh yang semuanya ditolak dengan ucapan terima kasih pak dan makin ke ujung makin capek dan akhirnya cuma bisa tersenyum dengan lengkung bibir yang tidak simetris hihii... Masuk ke toko-toko yang menjual batik. Melihat batik-batik di pedangan kaki lima sepanjang jalan. Memuaskan mata dengan melihat barang-barang yang jarang kami temui di tempat kami tinggal. Mengambil gambar apa saja yang menarik perhatian kami. Mengumpulkan semua memori, menyimpan gambarnya di kamera dan merekamnya di hati kami sebagai kenangan perjalanan kami kesini. Ketika hari sudah sore menjelang malam, perut mulai menampakkan gejala butuh diisi, berhubung kami tidak suka gudeg yang manis (walaupun mamas orang Solo), akhirnya kami makan di Mc D setelah berlari-larian di tengah gerimis yang mulai turun dengan intensitas curahnya yang cukup rapat hhee...sangat mengenaskan, tidak mengkonsumsi makanan khas daerah setempat, sesuatu yang jarang ditemui di daerah asal. Ah, biarlah untuk hari pertama *mencari pembenaran :P*

Puas berkeliling-keliling di dalam Mall sambil menunggu hujan reda, kami pulang menuju penginapan menggunakan becak. Becaknya berbeda dengan becak di Jakarta, sedikit lebih tinggi, apalagi jika dibandingkan dengan becak di Depok yang pendek dan landai sampai kita seperti setengah rebah ke belakang. Berhubung sebelumnya tawaran becak dengan promosi 5 rb kemana-mana, aku tawar juga becaknya 5 rb ke hotel. Kata mamas, si abang becak ngeledekin, segede ini masa 5 rb sih, sambil menunjuk ke arah mamasku hihihii...Aku sih gak dengar karena sibuk menghindari rintik hujan.  Ah, si bapak bisa aja bikin alesannya ya hehehe...Akhirnya kita deal 7rb. Huuuw...pegel juga rasanya. Turun becak, langsung menuju kamar. Mamas yang sama2 capek, malah mijit2in kaki dan punggungku. Duh baiknya.

Sekarang harus siap-siap istirahat, mengumpulkan energi untuk rencana Insya Allah besok berangkat ke Solo, kota yang belum pernah aku singgahi. Penasaran dengan pengalaman baru yang menggelitik imajiku akannya. Apakah Solo seindah Jogja? Hmmm...let's see ;)


Tuesday, February 15, 2011

Menunggu dengan Rindu

Dalam kesendirian aku menantimu. Separuh nafasku yang mencari bintang paling bersinar ditengah Andromeda. Mengusung cahaya terindah yang bisa kau rengkuh diantara deru debu. Sebuah persembahan beralaskan cinta demi pelengkap hidupmu. Masih terus disini. Sendiri. Membayangkan siluetmu dengan raga yang menari bersama angin. Meliuk berirama diantara gelombang rinduku. Membiarkan getaran ini membuncah seiring bergulirnya waktu. Campakkan saja kompas itu. Cukuplah bisik hatiku sebagai sinyal penuntun arahmu. Kan kuizinkan terang bintang menemani langkahmu pulang.

Thursday, February 10, 2011

Yippieee!! Tumpukan Itupun Lenyap.





Kreeeghhh...kretek...kretek..

Terdengar bunyi gemeretak pada sendi-sendi disekitar pinggang hingga ke punggungku. Aku memutar badan ke arah kiri, menggeliat ke kanan, dan bersikap seperti posisi setengah kayang untuk mendapatkan bunyi yang kuharapkan itu.
Bunyinya beruntun terdengar sedikit sadis tapi lazis hehehe...Enak alias asyik maksudnya :) Kemudian diteruskan dengan peregangan pada tangan. Menjulurkan kedua tangan dengan jari-jarinya yang disusun saling berkait antara tangan kanan dan kiri ke arah depan sejauh mungkin. Dilanjutkan ke bagian-bagian lain selayaknya gerakan peregangan ketika berolahraga. Legaa banget mendapatkan bunyi itu, seolah-olah beban yang selama ini menggelayuti bagian tubuh yang digerakkan tersebut terangkat seketika.

Gerakan itu baru saja aku lakukan setelah menyelesaikan sebuah pekerjaan yang membosankan dengan tumpukan yang tinggi. Kenapa bisa terjadi? Seminggu yang lalu aku mengejar approval kredit karena pada beberapa permohonan masuk yang dipisah per tanggal, aku sulit menemukan aplikasi yang berkualitas. Aplikasi yang masuk banyak yang jauh dari target segmentednya. Akhirnya aku mengambil langkah mengenyampingkan aplikasi yang menurut intuisi sekilas - setelah memperhatikan berkas - tergolong tidak potensial. Jika menemukan yang bagus langsung aku proses, jika tidak bagus aku sisihkan ke kanan. Saking banyaknya yang tidak potensial, tanpa aku sadari tumpukan di sebelah kanan sudah mencapai dua tumpukan yang sangat tinggi hingga mengurangi ruang gerakku. Sedikit sesak. Jika dihitung bisa mencapai 400 permohonan. What?



Kaget. Berarti aku harus segera menyelesaikan pendingan itu karena agingnya terus berjalan. Idealnya yang duluan masuk itulah yang diputus. Ingin teriak rasanya membayangkan betapa membosankannya menganalisa sesuatu yang tidak akan menghasilkan dan sudah jelas masuk kategori "calon decline". Tidak ada spirit menemukan rentetan nilai positif untuk mendukung analisa ke arah yang menjadikannya wajar untuk disetujui.

Tapi kemudian aku berpikir lagi kalau bukan aku, siapa yang akan mengerjakannya? Bisakah dia memproses diri sendiri? Semakin dibiarkan, semakin aku menumpuk perasaan tidak nyaman yang salah-salah bisa berimbas pada pekerjaan. Akhirnya aku membulatkan tekad, setelah hasil approval dikirim - sekitar jam 2 setiap harinya - aku akan mengejar ketertinggalan itu. Maksimal dalam tiga hari harus kelar tanpa meninggalkan proses yang lebih penting, yaitu approval.

Mulailah aku bekerja dengan menambah kecepatan persis seperti kecepatan saat ujian tes koran (penjumlahan angka dengan menulis digit terakhir di antara dua angka yang bersusun vertikal dengan susunan angka membentuk kolom yang melebar ke kanan hingga menjadi sebesar koran) pada psikotes. Nyaris tanpa jeda kecuali melaksanakan kewajiban dan mengisi lambung :D Alhamdulillah, berhasil. Ternyata kemampuan kita bisa dipacu jika kemauan kitapun kuat. Jika ada yang "mendesak" dibelakangnya. Ditambah lagi dengan kondisi hari ini aku mengerjakan pekerjaan seorang teman yang sedang sakit, pekerjaan yang berbeda dengan yang ku kerjakan, tidak bisa ditunda karena dapat mempengaruhi laporan lainnya, yaitu melakukan pembukuan. Wuuu... Aku menyelesaikan pendingan itu sekaligus mendapat perolehan tertinggi pada pekerjaanku sendiri beberapa kali. *Alhamdulillah, terima kasih ya Allah karena nikmat sehat dan izin-Mu, hamba bisa bekerja*

Berpacu dalam waktu yang sempit dan terdesak terkadang mengeluarkan kemampuan super kita. Kita sering mendengar seseorang bisa mengeluarkan kemampuan lari tercepatnya ketika dikejar oleh seekor anjing liar. Bahkan, sebuah parit yang tidak bisa dilompati dalam situasi biasa, bisa dengan mudah dilompatinya dalam kondisi terdesak. Motivasi bisa mengerjakan dengan cepat selain untuk menghilangkan tumpukan kerjaan yang mengerikan itu juga karena aku tidak mau pulang malam. Aku tidak mau naik bis, tidak mau pegal berdiri selama kira-kira 2 jam karena macet. Aku harus naik kereta satu-satunya yang jam 6 dari St. Sudirman agar tidak terlalu gelap sampai di rumah. Jadilah kecepatan setara ujian psikotes itu terjadi :)

Baru saja aku menyelesaikan berkas kerja terakhir (dan tulisan ini pun hampir mencapai endingnya :P ). Rasanya seperti menang dalam perlombaan lari dimana saingannya adalah orang-orang langsing dengan badan yang ringan melayang saat berlari, sementara kita sendiri gemuk dan keberatan tetapi bisa meninggalkan mereka di belakang kita haha... *hiperbolis abis*. Perumpamaan yang aneh terkait beratku yang tidak lagi seperti masa-masa pra sejahtera dulu heuheuhue....

Melengkapi pereganganku, aku berdiri dari tempat dudukku, menirukan gerakan SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) zaman SD dulu. Mulai dari bunyi Priiiit prit prit prit prit prit... dilanjutkan dengan menirukan musik buatan dengan mulutku sendiri ditengah tatapan geli dan ledekan teman-teman yang akhirnya ikut-ikutan menyumbang musik walaupun bunyinya tidak karuan :D



Wednesday, February 9, 2011

Apakah Ini Sebuah Pilihan?

Pagi ini aku berjalan menelusuri trotoar dengan cepat. Seperti biasa jika hubby masuk kerja subuh, aku berangkat menuju stasiun sendiri menggunakan angkot. Ternyata ada yang berjalan lebih cepat mendahuluiku. Seorang laki-laki muda yang aku taksir berusia belasan menuju 20-an awal, tertawa dan berbicara...sendiri. Iya, dia tidak memiliki lawan bicara didekatnya ataupun sebuah handphone/earphone dikupingnya seperti ABG2 sekarang yang tak lepas dari pembicaraan telfonnya. Penampilannya sangat kumal, dan oh bau menusuk menghampiri hidungku. Bau menyengat yang mungkin tercipta dari kombinasi keringat dijalanan dan tidak pernah mandi. Ah, entah sudah berapa lama dia tidak lagi melakukan ritual mandi. Entah dia masih bisa mengingat itu apa tidak. Aku tidak tahan dengan bau itu. Mual hingga ingin muntah. Aku menjaga jarak dengannya. Bahkan hingga 100 meter pun bau itu masih melekat sampai aku tidak berani mencium bajuku sendiri, khawatir bau itu menempel.

Yang terlintas dipikiranku dia adalah salah seorang yang sering kita sebut orang gila. G.I.L.A. Aku tiba-tiba merinding mengeja kata itu. Apakah yang dimaksud gila itu hilang ingatan sama sekali? Ataukah partial seperti orang amnesia? Apa yang menyebabkan dia seperti itu? Seberat apakah masalahnya hingga dia menjadi gila? Apakah gila itu takdir yang tidak bisa ditolak ataukah sebuah pilihan kita ketika menghadapi masalah dalam hidup? Pertanyaan-pertanyaan ini berputar-putar diotakku tanpa aku menemukan jawaban pasti.

Seperti pengetahuan yang pernah aku dapat bahwa orang gila akan tetap dimintai pertanggungjawabannya di akhir nanti, yaitu atas perbuatan dan amalnya semasa masih "sehat". Perbuatan sesudah itu diluar kendalinya, tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Tapi apakah sebelum dia menjadi gila dia sudah sempat bertobat padaNya? Meskipun tidak mengenal siapa dia, yang terpikirkan adalah mendoakannya. Di dalam hati aku berdoa, semoga Allah mengampuni semua dosa-dosanya dimasa lalu.

Ya Allah, seberat apapun permasalahan hidup, jadikanlah kami selalu bersandar padaMu, memohon dan berserah diri hanya padaMu. Berikanlah jalan keluar yang terbaik atas setiap permasalahan yang ada. Jadikanlah kami memiliki iman yang kuat, tidak pernah putus asa karena memiliki keyakinan teguh bahwa keberadaanMu itu benar adanya.

Lelaki itu, seolah tau aku membatin sedari tadi, menoleh kebelakang dengan ekspresi yang tidak bisa aku terjemahkan. Aku bergeming, terus berjalan dalam diam.

Hingga Ujung Masa

Tetaplah hangatkanku disini...

Hingga kata-kata tak lagi berirama.
Saat bibir mengatup gugup.
Saat hanya amalan yang mampu bersuara.
Ketika jiwa-jiwa ini kembali diraup.

Tetaplah temaniku disini...

Tuesday, February 8, 2011

Aku Untukmu

Rebahlah bersisian di hatiku...

Aku kan meniup penatmu dengan nafasku. 
Mengeringkan peluhmu dengan hangatku. 
Menetesi dahagamu dengan embunku. 
Mengharumi ragamu dengan bungaku. 
Dan akan ku lukis indah hatimu dengan senyumku.