Sunday, January 30, 2011

Mengukir senyum papa, semoga.. :)

Tadi sekilas aku dengar papa menelfon saudaranya dengan koneksi dan pembicaraan yang terputus2. Setiap angkat telfon dan bicara sebentar, langsung putus lagi, begitu terus hingga beberapa kali. Akhirnya aku kepikiran untuk menghadiahi papa hape baru. Padahal kemarin baru beliin baterai hape yang ori untuk N*kia papa, yang konon katanya biar sekalian bagus dan tahan lama.

Selepas zuhur kami pergi ke Lipo Karawaci dan aku mengarahkan kaki ke Gl*bal Tel*shop diiringi papa disamping yang belum tau niatku. Liat2 kiri kanan, hape2 pada bagus2 semua. Semua merk tersedia. Mau cari yang sesuai kebutuhan papa yang mayoritas untuk telfon dan sms. Biasanya ngetik huruf C harus pencet tombol bertuliskan angka 2 sebanyak 3x. Sekarang ada pilihan hape QWERTY, jadi lebih hemat waktu walaupun gak bakal beda satu jam sih hehe...Alhasil aku menjatuhkan pilihan ke hape berbasis qwerty dengan merk yang sama dengan pendahulunya, biar penyesuaiannya lebih mudah. Aku "tanya papa suka yang ini gak?", sambil menunjuk sebuah hape qwerty. Papa jawabnya malah "papa udah punya hape, buat apa lagi." Aku liat2in ada fitur kamera, wifi, dll. Papa bilang "papa juga udah punya kamera kok. Sama kok kapasitas megapixelnya." Tapi kan tadi susah nelfonnya pa, sepertinya udah waktunya diganti deh. "Ini udah ada kok, buat apa banyak2" Yah kembali lagi deh jawabannya gitu. Hehe.. "Tapi ini ngetiknya lebih ringkas pa, langsung ke huruf yang diinginkan." "Oiya, bener" juga sih, lebih cepat ya, jawab papa. Hmm.. Udah mulai setuju nih, batinku senang. "Mau warna apa pa? Ada yang putih juga lo pa", kataku. "Papa belum pernah pakai putih kan?" Duh, langsung nyadar itu kan seleraku akhir2 ini. "Tapi kembali ke pilihan pribadi papa aja karena papa yang menggunakan", sambungku cepat. Trus setelah diliat2, akhirnya papa sendiri mutusin warna putih. Aku meyakinkan sekali lagi, takutnya karena gak enak karena aku suruh putih trus terpaksa ikutan haha..

Senangnya membuat orangtua bahagia setelah tadi malam beliau juga mendapat kejutan dari hubby-ku. Hubby memberikan sebuah netbook baru berwarna hitam miliknya yang dibeli beberapa waktu lalu dan hanya baru sempat dipakai untuk memindahkan data dari laptop lamanya yang mo dititip ke papa buat dikasih ke keponakan yang hobinya mencet2in keyboard. Kondisinya benar2 99,99%, masih berplastik lengkap dengan semua kartu garansinya.

Sehari sebelumnya papa nanya2 melulu tentang laptop yang mau diberikan ke keponakan itu. Aku yang melihat ada sesuatu yang tersirat langsung nanya "Memangnya papa pengen punya laptop?" Beliau menjawab iya. "Papa bisa mengoperasikannya?" "Ya, kan bisa belajar", jawabnya. Aku sampaikan dialog itu ke hubby, eh hubby langsung mindahin data yang sudah disalin ke sana ke netbook ku yang berwarna putih *lagi seneng putih* Kita pakai netbook adek berdua aja ya. Begitu kesepakatan akhirnya. Papa keliatan seneng banget dapat netbook baru. Hehe.. Semoga bermanfaat ya pa. Setidaknya mungkin bisa digunakan my step mother yang seorang guru.

Memang sudah sepatutnya kita membahagiakan orangtua bahkan seharusnya tanpa diminta. Kasih sayangnya tidak akan pernah bisa kita konversikan kedalam bentuk materi apapun. Tidak akan pernah bisa terbayar. Tapi berusaha terus-menerus menyenangkan hatinya, semoga membuatnya selalu ridha dengan kita sehingga menjadi jalan kita untuk mendapat ridha-Nya. Apalagi bagi hubby yang kedua orangtuanya sudah lama meninggal dunia, tentu dia merasa hanya inilah orangtuanya saat ini. Semoga kita walaupun dengan usaha yang tidak akan bisa menyamai pengorbanan dan kasih sayangnya kepada kita, bisa membuatnya tersenyum. Semoga kita bisa menyenangkan hatinya dengan ucapan2 yang lembut. Semoga kita tidak akan menciptakan goresan2 luka dihatinya. Semoga dihari akhir nanti kita akan dihimpunkan bersama dalam syurga-Nya. Amiin..

Luv u papa :*

Tuesday, January 25, 2011

Rafting ting tiiing




Akhirnya aku ngerasain yang namanya rafting or arung jeram or whitewater sport. Yup, sebelas hari yang lalu, tepatnya tanggal 15 Januari 2011 di Citatih bersama Cherokee Adventure team dengan rapid 3+, setidaknya gitu tulisan di sertifikatnya hehe...Aku ikut diacara tim Direct Sales, kebetulan diajak, kenapa nolak hehe..

Itu adalah pengalaman pertamaku dimana awalnya deg2an ternyata ujung2nya nagih. Teman2 di perahu yang kutumpangi cukup kompak. Kami mengikuti semua petunjuk instrukturnya dengan patuh dan fun tentunya ;) Perahu karet yang nyangkut, bocor, teman yang hanyut terbawa arus, hujan yang mengguyur, maupun sedikit
menempuh perjalanan darat mendaki bukit kecil untuk melewati satu jeram yang tertutup perahu bermasalah, tidak mengurangi antusias dan kebahagiaan kami. Terakhir ditutup dengan perahu yang dibalikin oleh Skippernya. Aku yang gak bisa renang pegangan kenceng banget takut nyebur sementara yang lain udah jatuh ke air. Tapi tarikan mas2 skipper itu jauh lebih kuat, aku akhirnya nyebur juga dan ternyata dangkal banget wakakaka...

Momen tersebut terekam dalam gambar2 dibawah meskipun sayang sekali ada beberapa gambar terpotong.

Ingin sekali mengulang kembali petualangan seru seperti ini lagi :)

Tentang Berbagi

Rutinitasku setiap pagi naik kereta ke kantor mengalami perubahan dalam sebulan terakhir. Biasanya aku naik dari St. Poris yang aku pikir lebih dekat dengan rumah dan lebih mengarah ke Jakarta. Sekarang aku naik dari St. Tangerang. St. Poris adalah stasiun kedua setelah St. Tangerang dimana kereta Cisadane Ekspress berhenti. Sebenarnya ada stasiun-stasiun kecil yang dilalui tapi hanya disinggahi oleh kereta ekonomi. Singkatnya, untuk persinggahan kereta ekspress adalah Tangerang-Poris-Rawa Buaya-Duri (untuk mundur)-Tanah Abang-Sudirman-Manggarai-Depok.

Berhubung aku ingin duduk santai, karena selalu berdiri, aku dan hubby survey lokasi Stasiun Tangerang dimana kereta sudah standby dari jam 6 pagi. Ternyata jarak tempuh ke St. Tangerang lebih dekat dibanding ke St. Poris dan berbonus dapat duduk hehe... Jadilah aku sekarang selalu naik dari St. Tangerang dan pulang turunnya suka-suka, bisa di St. Tangerang kl ada keperluan terutama jika dijemput hubby atau di St. Poris terutama jika pulang sendiri.

Kelebihan lain naik dari St. Tangerang adalah aku bisa menggunakan angkot dengan ongkos Rp.2000,- Sebelumnya di awal2 jika aku tidak diantar, aku menggunakan ojek dengan ongkos Rp. 10.000,- Hal ini karena kebiasaan aku yang sebelumnya selalu naik ojek ke St. Poris dengan ongkos yang sama karena memang tidak ada angkot kesana. Dengan adanya pilihan transportasi ini, tentunya aku lebih memilih naik angkot. Toh, dari rumah ke jalan raya , baik naik ojek maupun angkot, aku tempuh dengan berjalan kaki. Jadi ojek tidak lagi menjadi pilihan utamaku :D

Selama sebulan belakangan ini, aku mengamati kebiasaan para penumpang kereta yang naik dari St. Tangerang. Mereka, yaitu sebagian besar perempuan, selalu menaruh tas di kursi kiri, kanan, bahkan di depan mereka untuk kemudian diberikan kepada temannya yang datangnya mepet waktu pemberangkatan. Jika ada calon penumpang datang dan ingin duduk di kursi tersebut, mereka akan bilang "ada orangnya". Selalu begitu, hingga tak jarang orang yang datang lebih pagi harus puas berdiri sekitar 30-40 menit ke depan, bahkan lebih jika diperhitungkan dengan waktu menunggu keberangkatan, diluar kejadian2 kereta bermasalah. Menurut pendapatku, hal ini kurang adil, mengingat usaha orang yang sudah datang lebih pagi menjadi sia2 dengan bertebarannya tas2 penanda kursi dengan judul ada-orang tapi tanpa wujud itu. Tas2 penanda itu jumlahnya tidak sedikit, memang bertebaran disemua gerbong. Mungkin maksud mereka adalah membantu temannya yang datang terlambat, namun sayang tidak mempertimbangkan orang lain yang datang jauh lebih dulu dari temannya itu yang tentunya lebih berhak mendapatkan fasilitas itu. Tentu akan lebih baik jika temannya memajukan jadwal keberangkatannya dari rumah, mencari sendiri tempat duduknya, jika sudah penuh harus bersedia berdiri sebagai konsekuensi keterlambatannya, hingga tidak "merugikan" orang lain. Begitulah idealnya. Jadi siapa saja yang duluan datang berhak menikmati fasilitas untuk dapat duduk nyaman di kereta. Dan demikian sebaliknya. Tapi sepertinya hal itu sudah menjadi budaya, mungkin saja jika aku mencoba memprotesnya, aku akan dimusuhi sebagian besar perempuan disana haha.. Bersyukur sekali aku tidak menemukan laki-laki yang berbudaya sama, mungkin mereka malu ya jika terlihat "manja" :D

Namun dari semua kejadian mencarikan kursi untuk teman, ada satu hal yang menarik. Tepatnya satu orang yang menarik. Aku tidak tau namanya, kami cuma sekedar saling tersenyum jika bertatap muka. Dia seorang perempuan dengan perawakan tinggi, besar, rambut panjang ikal terurai dan sering menggunakan high heels. Aku mengenal sosoknya saat aku selalu naik di gerbong wanita paling belakang di St. Poris, sekarang aku tidak pernah segerbong lagi sejak aku naik gerbong wanita paling depan. Namun aku pernah bertemu ketika aku melewati gerbongnya menuju depan, dia menyapa "hai, kok dari sini?". "Biar dapat duduk mba," jawabku sambil nyengir *gak mirip kuda kok* Perempuan ini naik dari St. Tangerang untuk kemudian selalu memberikan kursi yang ditempati ke temannya yang hamil di St. Poris. Kemudian dia akan berdiri sampai St. Sudirman dengan high heelsnya itu. Padahal bisa saja kan dia ikut menaruh tas untuk temannya dan bilang "untuk ibu hamil" dan dia pun tetap bisa duduk. Apalagi dia datang saat penumpang kereta masih sedikit, masih sepi. Aku salut dengannya, dia memberi untuk temannya dengan tidak mengurangi "hak" orang lain. Mungkin itulah kebahagiaannya berbagi, yang sempat aku rasakan sesekali sewaktu memberi tempat duduk untuk ibu2 atau ibu hamil namun tidak sesering dia yang setiap hari. Aku jadi belajar banyak dari perempuan baik hati ini. Sangat kontras dengan perempuan bermuka cemberut di depanku yang tadi menaruh tas besarnya, hingga saat kereta berjalan ternyata temannya itu belum datang. Aku mendengar percakapan telfonnya yang histeris menyampaikan kereta sudah jalan. Jika saja dia mau menghitung, sudah berapa orang yang dia tolak ketika ingin duduk di kursi itu? Dia pun tidak serta merta memberikan kursi itu ketika sudah tau temannya pasti tidak akan naik jika saja tidak diminta oleh orang di depannya.

Memang, perjalanan ini singkat, tidak lama, berdiri pun tidak akan terlalu capek, tapi duduk tetap lebih enak, nyaman, santai, kl ngantuk bisa tidur, dan bisa nge-blog seperti sekarang :D

Semoga aku bisa meneladani indahnya berbagi seindah perempuan yang baik hati itu ;)

Thursday, January 20, 2011

Luv u with all my heart, mama cantik :)

Flashback ke bulan Mei 2003, waktu dimana kami sekeluarga merelakan mama kembali ke Al Khaliq. Tulisan ini aku simpan sebagai memori untuk mengenang mama tersayang :)

Pagi itu sekitar pukul 4 aku ditelfon Om ku yang tinggal di Jagakarsa. Aku kaget ketika melihat jam masih sesubuh ini kenapa ada telfon masuk? Om menanyakan apakah aku kuliah hari ini? Aku jawab, iya Om ada presentasi, ada kabar apa Om, tumben pagi2 sekali sudah nelfon? Hmmm.. Gak ada Mel *terdengar suara bisik2 Etek (tante) dibelakangnya* Om dan Etek kangen aja kok, pulang kuliah langsung kesini ya, sayang. Tapi... Kok meli merasa ada sesuatu ya Om? Cerita aja deh gpp kok. Gak ada apa2, ini Etek. Om langsung menyerahkan telfon ke Etek. Etek bingung mau bicara apa setelah halo dan basa-basi kemudian telfon dimatikan. Aku tlp balik ke kedua nomor Om dan Etek tidak diangkat. Aku langsung telfon ke Bukittinggi. Yang angkat telfon namanya Hasan, teman Udaku. Aku lgs tanya ada mama gak? Gak di rumah, pergi. Kemana? Gak tau. Papa kemana? Pergi juga sama mama. Kok gak tau sih kemana mama dan papa? Iya, emang gak tau. Trus Da Hasan ngapain di rumah? Jagain rumah. Yang lain mana? Gak tau. Uda Hasan, kenapa gak tau terus sih, gak mungkin gak tau tapi mau disuruh, sekarang cerita deh ada apa sebenarnya. Apa mama dan papa baik2 saja? Iya. Demi Allah? Demi Allah, jawabnya.

Aku tidak bisa memaksa lagi jika orang sudah bersumpah atas nama Allah. Aku matikan telfon dan langsung berangkat ke Jagakarsa. Di atas angkutan umum yang ku tumpangi, aku terus berpikir dan bertanya2 pada -Nya. Ya Allah, tidak ada informasi apapun yang jelas, tapi perasaan hamba ini menyangkut mama dan papa. Ya Allah apakah engkau memanggil Mama? Atau Papa? Atau keduanya? Astaghfirullaahaladziim. Sepanjang jalan aku berzikir. Ya Allah lindungilah kedua orangtua yang hamba cintai itu. Sembuhkanlah jika mereka sakit. Selamatkanlah jika mereka kritis. Kuatkanlah hamba untuk mendengar informasi yang belum hamba ketahui. Ada perasaan yang hendak meledak di hatiku, namun aku tahan, aku benar2 hanya menyebut nama-Nya dan mengulang2 doaku. Bayangan Mama dan Papa bergantian mengisi langit2 pikiranku. Tak setetespun air mata jatuh, aku menguatkan diri terus-menerus. Aku berpikir positif terus-menerus.

Sesampai di rumah Etek aku lihat Etek sedang berdoa selepas sholat, pintu rumah terbuka. Aku ucapkan salam setelah Etek mengakhiri doanya. Etek kelihatan terkejut, bukannya Meli kuliah? Aku jawab, Meli memutuskan tidak kuliah hari ini karena Meli rasa ada hal yang lebih penting, jawabku tersenyum. Aku masih "meraba2" pandangan Etek. Om kemana Tek? Ke rumah temannya. Ow, sepagi ini? Trus aku beringsut mendekat, Tek... Apa yang tidak Meli ketahui Tek? Sampaikan saja, Meli insya Allah siap mendengarkan. Etek langsung memelukku, menangis dan bilang Mama Mel... Mama udah pergi menghadap-Nya. Innalillaahi wa inna ilaihirajiuun. Itu ucapan pertamaku. Kapan Tek? Jam 3 tadi, hipertensi. Aku banyak bertanya dan berusaha menguasai hatiku agar aku tau semua yang disampaikan. Alhamdulillah Allah memberiku kekuatan yang besar saat itu hingga aku tidak pingsan, tidak menangis meraung2 dan masih bisa berpikir jernih. Maaf Etek tadi sempat berdebat dengan Om mengenai cara menyampaikan kabar, makanya telfon tidak kami angkat. Om menyuruh harus disampaikan, tapi Etek berkeras jangan, mengingat Etek dulu waktu tau kabar Antan (panggilan kakekku) meninggal sampai pingsan berkali2 dan menggigil. Iya gpp Tek, jawabku.

Aku langsung berdoa saja karena memang sedang berhalangan untuk sholat. Terlintas bayangan mama yang tidak bisa lagi ku peluk, ku cium, tidak bisa curhat dan bermanja lagi. Mamaku yang lucu, suka bercanda, hangat, seperti sahabat, suka menyampaikan "rahasia2" padaku sehingga aku merasa aku sangat penting baginya dititipi rahasia2 yang padahal mungkin saja sebenarnya saudaraku yang lain juga tau. Dadaku sesak, mataku memanas, kutumpahkan dalam air mata dan doa. Ku ingat2 apakah aku sering menyakitinya? Sengaja atau tidak? Tapi yang melegakan bahwa aku ingat tradisi kami selalu meminta maaf waktu telfon2an. Semoga tidak ada luka di hati mama karena sikapku. Aku juga ingat telah memberi kabar bahagia padanya dalam minggu2 terakhir ini. Kabar aku dapat IP 4 lagi yang disambut bahagia olehnya. Kabar aku kuliah sambil kerja yang disambut haru olehnya. Aku mulai menyeka air hangat di pipiku. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan.

Seketika aku ingat adikku yang di Bandung, kami harus pulang ke Bukittinggi. Aku memikirkan bagaimana caranya menyuruhnya kesini tanpa memberitau keadaan sebenarnya karena khawatir adikku tidak kuat mendengarnya. Aku telfon dia dan dia langsung nyerocos, Uni udah tau mama sakit? Iya, udah, kenapa? Iif tadi nelfon ke rumah dan yang angkat Tante Ita (tetangga), katanya mama sakit. Iya, Iif ke sini aja sekarang ya, sekarang juga ya sayang. Nanti kita ngobrol. Sekarang juga ni? Iya pagi ini, setelah tutup telfon langsung naik bis Bandung-Depok. Oke? Iya Ni, jawabnya.

Ternyata diluar dugaanku, perjalanan iif sangat lama, hingga 5 jam. Sempat ada penyesalan kenapa tidak menyuruhnya naik kereta api ke Gambir. Iif yang belum punya HP tidak dapat ku hubungi (waktu dapat beasiswa langsung kubelikan HP untuk Iif biar tidak ada kesulitan komunikasi lagi spt saat itu). Akhirnya aku minta temanku untuk menjemput Iif ke terminal Depok dan aku berniat langsung ke Bandara. Telfon terus berdering tak henti2 dari Bukittinggi, bahkan dari nomor2 yang tidak aku kenal. Abangku, papa, sepupu, tetangga, om, tante semua menanyakan posisiku. Ada yang menyarankan aku pulang sendiri saat ini juga daripada aku dan Iif sama2 tidak bisa melihat mama untuk terakhir kali. Aku yang membayangkan Iif yang paling kecil, sangat dekat dengan mama tidak tega jika membayangkan dia harus sendiri pulang dalam keadaan sedih. Aku bulat dengan keputusan pulang berdua sampai jam berapapun.

Akhirnya setelah lama menunggu di rumah, aku ke bandara, ditemani Om. Jam 1 ada penerbangan Lion Air, tp Iif belum datang. Sampai akhirnya jam 3 Iif datang bersama temanku, kami langsung beli tiket dan kebetulan pesawat sudah mau berangkat, langsung check in.

Iif heran, kenapa kita kesini Ni, kita mau pulang? Iya jawabku memandangnya sambil menungu2 saat yang tepat menyampaikan berita ini. Apa yang Iif ketahui informasi terakhir? tanyaku. Tentang mama sakit lumayan parah, gitu aja. Sejak kita berdua nelfon2 seminggu ini yang tidak ada orang di rumah, Iif udah merasa mama sakit Ni. Iya, benar sayang, dan saat ini apakah Iif tau mama kita sudah gak ada?, terangku langsung tanpa berbelit-belit lagi. Maksud Uni? Mama sudah dipanggil-Nya jam 3 tadi pagi, kataku sambil terus merangkulnya. Adikku terdiam, mengucap istighfar, mengucapkan inna lillaahi wa inna ilaihi rajiun. Aku melihat air mata menetesi pipinya. Hanya itu saja, terlihat dia menguatkan diri, sangat tegar, sangat tenang. Padahal aku tau seperti apa dia dekatnya dengan mama. Oh, kekhawatiranku bahwa adikku tidak kuat ternyata salah besar, baru aku sadar ternyata adikku jauh lebih kuat dan ternyata sudah dewasa (aku selalu merasa dia adik kecil dan selalu masih kecil). Kami pun terus berpelukan menambah kekuatan masing2.

Sebelum terbang, telfon terakhir dari papa minta izin agar mama dikuburkan sekarang karena sudah terlalu lama menunggu. Kami mengizinkan dan membesarkan hati, mungkin jika kita lihat mama terbujur kaku kita tidak akan kuat. Makanya Allah mengatur Iif datang terlambat. Iif mengiyakan logikaku. Aku mengajaknya berdoa dan salah satu doa kami yang lucu adalah memohon pada-Nya agar kami bisa sering2 bermimpi dengan mama karena kami tidak bertemu dengannya, tidak bisa lagi menyentuh wujudnya. Di atas pesawat dalam suasana berduka itu kami juga sempat tertawa karena ini penerbangan pertama kami. Masih norak lihat2 sekitar. Pertama kali melihat pramugari cantik, pertama kali melihat awan rasanya bertebaran di sekeliling kami. Dan sangat bersyukur kami dapat makan di atas pesawat Mandala Air (sayang sekali sudah tidak beroperasi lagi) itu karena dari pagi belum makan karena gak kepikiran makan. Kami masih sempat senyum2 geli karena tau kami norak, kadang tiba2 air mata mengalir sendiri, saling berangkulan jika salah satu menangis yang lain menguatkan, trus senyum2 lagi sementara mata bengkak. Pramugarinya aja heran melihat mata kami. Dan kami meyakinkan kami baik2 saja. Jam 4 tiba2 aku nangis tersedu2, gak tau rasanya sediiiih banget. Ternyata belakangan aku tahu itu adalah waktu ketika mama dikuburkan. 

Sampai di Bukittinggi, semua prosesi pemakaman sudah dilaksanakan. Rumah sudah penuh dengan pelayat. Aku lihat mata papa sangat merah. Ketika mengaji tersedu2 ditengah bacaannya. Tapi secara garis besar alhamdulillah kami semua cukup tenang dan tetap bisa tersenyum seperti biasa. Itulah salah satu keutamaan para pelayat hadir dan saling berbagi cerita sehingga bisa membuat suasana kembali hangat.

Mengenai mimpi, benar saja, aku dan Iif sering memimpikan mama. Papa sering protes karena tidak pernah kebagian mimpi hehe... Papa tidak mimpiin mama karena papa sudah puas melihatnya bahkan sampai detik2 terakhir mama meninggalpun berada dalam pelukan papa, sementara kami tidak menyaksikan. Makanya papa berdoa donk minta mimpi dengan mama seperti kami, kataku. Papa tertawa mendengarnya.

Biasanya dalam mimpiku aku tau kalau mama sudah tidak ada. Tapi kok mama ada di rumah ini ya? Kan sudah meninggal? Dalam mimpi2 itu biasanya aku dan semua pemeran dalam mimpi tetap beraktifitas seperti biasa hanya heran kok ada mama :D Nah...Dulu waktu kecil mama pernah cerita mimpi bertemu nenek. Aku langsung tanya hiiiy... Mama gak takut? Nenek kan sudah meninggal? Mamaku tertawa dan bilang, ya gak mungkin takut, malah senang karena itu orangtua sendiri. Dan memang ketika aku mengalaminya aku juga tidak takut padahal kalau ada cerita2 horor aku paling penakut hehe...

Tadi malam mimpiku agak berbeda, semacam mimpi dalam mimpi. Aku terbangun dalam mimpiku dan merasa aku baru saja bermimpi, dan ternyata ketika aku terbangun beneran, aku memang bermimpi. Ya, mimpi dalam mimpi. Aku mimpi mama yang cantiiiiik banget dengan jilbab biru, tersenyum manis, ada di rumah, gak tau rumah siapa tapi dalam mimpi seolah2 itu tempat tinggalku. Aku tidak merasa mama sudah meninggal. Mama keliatannya sudah berhari2 di sana dan siang itu keluar rumah. Aku langsung nanya mama mau kemana? Nanti mau kembali kesini lagi atau pulang ke rumah mama? Mama diam saja. Aku terus bertanya dan mama tetap diam, senyum, sibuk dengan bunganya, cuek lebih tepatnya. Kemudian dalam mimpi itu aku bertemu mamanya temanku (seolah2 rasanya begitu) yang menegurku jangan bertanya seperti tadi karena seolah2 meli tidak mau mama ke rumah meli lagi. Akupun menjelaskan ke mama sambil aku peluk seerat2 nya, aku cium wajahnya sepuas2nya. Aku bilang betapa aku mencintainya dengan seluruh hatiku. Aku jelaskan, bukannya tidak boleh Ma, tapi maksudnya biar Mama bisa dijemput Abang (kakak kedua) kalau mau kesini lagi atau diantar kalau mau pulang. Mama tetap tidak bersuara, tetap tersenyum, akupun terus memeluk dan mencium hingga akhirnya bayangan itu menjauh, mengecil, hilang dan aku terbangun. Oh... Mimpi. Mama? Rindu menjalari hatiku. Aku langsung doakan mama.

Aku keluar kamar, aku lihat keluar pagi masih sangat gelap, hubby ku sudah berangkat kerja pukul 4 subuh tadi. Aku sendiri dan aku sama sekali tidak takut. Tapi ada rindu dan rasa puas di hatiku telah mencium dan memeluk mama walaupun hanya dalam mimpi. Baru sekali ini mimpi bertemu dan seolah kontak fisik dengan mama sepuas ini. Lega.

Ya Allah, sayangilah mama, ampunilah mama atas segala dosa dan kesalahannya. Terimalah mama di sisi-Mu, lapangkanlah kuburnya, terangilah kuburnya, jauhkanlah mama dari siksa kubur dan siksa api neraka. Amiiin...

Bagi yang mamanya masih ada, cepetaaaan peluk sekarang, cium sekarang, ucapkan betapa kamu sangat mencintainya. Sebelum kamu seperti aku yang hanya bisa menunggu2 bertemu dalam mimpi :D