Rutinitasku setiap pagi naik kereta ke kantor mengalami perubahan dalam sebulan terakhir. Biasanya aku naik dari St. Poris yang aku pikir lebih dekat dengan rumah dan lebih mengarah ke Jakarta. Sekarang aku naik dari St. Tangerang. St. Poris adalah stasiun kedua setelah St. Tangerang dimana kereta Cisadane Ekspress berhenti. Sebenarnya ada stasiun-stasiun kecil yang dilalui tapi hanya disinggahi oleh kereta ekonomi. Singkatnya, untuk persinggahan kereta ekspress adalah Tangerang-Poris-Rawa Buaya-Duri (untuk mundur)-Tanah Abang-Sudirman-Manggarai-Depok.
Berhubung aku ingin duduk santai, karena selalu berdiri, aku dan hubby survey lokasi Stasiun Tangerang dimana kereta sudah standby dari jam 6 pagi. Ternyata jarak tempuh ke St. Tangerang lebih dekat dibanding ke St. Poris dan berbonus dapat duduk hehe... Jadilah aku sekarang selalu naik dari St. Tangerang dan pulang turunnya suka-suka, bisa di St. Tangerang kl ada keperluan terutama jika dijemput hubby atau di St. Poris terutama jika pulang sendiri.
Kelebihan lain naik dari St. Tangerang adalah aku bisa menggunakan angkot dengan ongkos Rp.2000,- Sebelumnya di awal2 jika aku tidak diantar, aku menggunakan ojek dengan ongkos Rp. 10.000,- Hal ini karena kebiasaan aku yang sebelumnya selalu naik ojek ke St. Poris dengan ongkos yang sama karena memang tidak ada angkot kesana. Dengan adanya pilihan transportasi ini, tentunya aku lebih memilih naik angkot. Toh, dari rumah ke jalan raya , baik naik ojek maupun angkot, aku tempuh dengan berjalan kaki. Jadi ojek tidak lagi menjadi pilihan utamaku :D
Selama sebulan belakangan ini, aku mengamati kebiasaan para penumpang kereta yang naik dari St. Tangerang. Mereka, yaitu sebagian besar perempuan, selalu menaruh tas di kursi kiri, kanan, bahkan di depan mereka untuk kemudian diberikan kepada temannya yang datangnya mepet waktu pemberangkatan. Jika ada calon penumpang datang dan ingin duduk di kursi tersebut, mereka akan bilang "ada orangnya". Selalu begitu, hingga tak jarang orang yang datang lebih pagi harus puas berdiri sekitar 30-40 menit ke depan, bahkan lebih jika diperhitungkan dengan waktu menunggu keberangkatan, diluar kejadian2 kereta bermasalah. Menurut pendapatku, hal ini kurang adil, mengingat usaha orang yang sudah datang lebih pagi menjadi sia2 dengan bertebarannya tas2 penanda kursi dengan judul ada-orang tapi tanpa wujud itu. Tas2 penanda itu jumlahnya tidak sedikit, memang bertebaran disemua gerbong. Mungkin maksud mereka adalah membantu temannya yang datang terlambat, namun sayang tidak mempertimbangkan orang lain yang datang jauh lebih dulu dari temannya itu yang tentunya lebih berhak mendapatkan fasilitas itu. Tentu akan lebih baik jika temannya memajukan jadwal keberangkatannya dari rumah, mencari sendiri tempat duduknya, jika sudah penuh harus bersedia berdiri sebagai konsekuensi keterlambatannya, hingga tidak "merugikan" orang lain. Begitulah idealnya. Jadi siapa saja yang duluan datang berhak menikmati fasilitas untuk dapat duduk nyaman di kereta. Dan demikian sebaliknya. Tapi sepertinya hal itu sudah menjadi budaya, mungkin saja jika aku mencoba memprotesnya, aku akan dimusuhi sebagian besar perempuan disana haha.. Bersyukur sekali aku tidak menemukan laki-laki yang berbudaya sama, mungkin mereka malu ya jika terlihat "manja" :D
Namun dari semua kejadian mencarikan kursi untuk teman, ada satu hal yang menarik. Tepatnya satu orang yang menarik. Aku tidak tau namanya, kami cuma sekedar saling tersenyum jika bertatap muka. Dia seorang perempuan dengan perawakan tinggi, besar, rambut panjang ikal terurai dan sering menggunakan high heels. Aku mengenal sosoknya saat aku selalu naik di gerbong wanita paling belakang di St. Poris, sekarang aku tidak pernah segerbong lagi sejak aku naik gerbong wanita paling depan. Namun aku pernah bertemu ketika aku melewati gerbongnya menuju depan, dia menyapa "hai, kok dari sini?". "Biar dapat duduk mba," jawabku sambil nyengir *gak mirip kuda kok* Perempuan ini naik dari St. Tangerang untuk kemudian selalu memberikan kursi yang ditempati ke temannya yang hamil di St. Poris. Kemudian dia akan berdiri sampai St. Sudirman dengan high heelsnya itu. Padahal bisa saja kan dia ikut menaruh tas untuk temannya dan bilang "untuk ibu hamil" dan dia pun tetap bisa duduk. Apalagi dia datang saat penumpang kereta masih sedikit, masih sepi. Aku salut dengannya, dia memberi untuk temannya dengan tidak mengurangi "hak" orang lain. Mungkin itulah kebahagiaannya berbagi, yang sempat aku rasakan sesekali sewaktu memberi tempat duduk untuk ibu2 atau ibu hamil namun tidak sesering dia yang setiap hari. Aku jadi belajar banyak dari perempuan baik hati ini. Sangat kontras dengan perempuan bermuka cemberut di depanku yang tadi menaruh tas besarnya, hingga saat kereta berjalan ternyata temannya itu belum datang. Aku mendengar percakapan telfonnya yang histeris menyampaikan kereta sudah jalan. Jika saja dia mau menghitung, sudah berapa orang yang dia tolak ketika ingin duduk di kursi itu? Dia pun tidak serta merta memberikan kursi itu ketika sudah tau temannya pasti tidak akan naik jika saja tidak diminta oleh orang di depannya.
Memang, perjalanan ini singkat, tidak lama, berdiri pun tidak akan terlalu capek, tapi duduk tetap lebih enak, nyaman, santai, kl ngantuk bisa tidur, dan bisa nge-blog seperti sekarang :D
Semoga aku bisa meneladani indahnya berbagi seindah perempuan yang baik hati itu ;)
*tepok tangan pramuka buat Si Mbak Deh!
ReplyDeletebanyak orang kita yang tidak memikirkan attitude *won't I bother anyone else?*
Yup, dia telah menunjukkan sikap terpuji secara konkrit yang biasanya hanya terjadi dalam ujian PMP :D Jadul ya, PPKn deh kl gitu :P
ReplyDeleteJiwa sosial kebablasan. Salut juga untuk si Mba baik hati itu
ReplyDeleteSetuju. Ada hak org lain yg dikorbankan karena memikirkan ini untuk temanku, saudaraku, tetanggaku. Sangat egosentris. Membiarkan orang2 berdiri didepan kursi2 ber-tas itu dari pagi dan tiba2 datanglah "orang penting" mendudukinya saat injury time.
ReplyDelete