Senin pagi aku males2an berangkat kerja. Biasanya jika punggungku dipijit2 hubby pas bangun pagi, rasanya jadi lebih semangat untuk bangun. Tapi kali ini aku makin pengen tidur. Namun aku paksakan mandi dan berangkat kerja karena aku tau hari itu temanku, kita sebut saja namanya Si Teman tidak masuk kerja (biasanya setiap dia tidak masuk kerja, aku membantu menggantikan pekerjaannya karena yang lain belum/tidak bisa melakukannya). Rasa malas ini sepertinya juga berhubungan dengan bayangan akan asyiknya mamas bisa berleha-leha di rumah karena tiba-tiba diberikan cuti oleh bosnya sementara aku tetap ke kantor. Aku bilang, "Mas, adek pengen cuti juga ya nemenin mamas di rumah". "Emang boleh cuti?", jawabnya. "Kita bikin boleh mas, sayang aja jarang2 mamas bisa libur gini, pokoknya adek mau cuti juga ah.". "Tapi kita pergi jalan2 juga yuk mas, yang dekat2 aja.". "Hmm..boleh, kalau ke Bogor udah bosan, gimana kalau ke Bandung aja?", usulnya. "Kita sama2 pikirin lagi ya mas enaknya kemana", jawabku yang sebenarnya suka ke Bandung tapi sedang gak terlalu antusias untuk kesana.
Akhirnya aku berangkat kerja dengan masih memikirkan mau pergi kemana. Tiba-tiba aku ingat kalau kami sudah lama berniat untuk nyekar ke makam bapaknya mamas di Solo. Di atas kereta aku buka website Garuda Indonesia dan mulai melihat tiket ke Jogja. Waaah, ternyata murah. Untuk dua orang pulang pergi hanya sekitar 1,2 jt saja. Aku langsung telfon mamas, dan dia kaget waktu aku tawarin ke Jogja. Tapi sedetik kemudian, "Boleh deh", sambutnya sumringah. Yuhuuu! Dengan senang hati aku mempersiapkan semua pembelian tiket dan pemesanan hotel secara online. Aku nekat saja melakukannya tanpa minta izin dulu ke bos. Libur di hari yang sama dengan mamasku adalah hal yang sangat langka, bahkan lebih langka dari ketersediaan bunga Raflesia Arnoldi atau dari jumlah populasi Harimau Sumatra. Jadi aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini hanya untuk mendengarkan penolakan cutiku. Bahkan jika tidak disetujui, aku berniat tetap keukeuh minta untuk diizinkan hihihi....
Sampai di kantor, aku membuat form permohonan cuti. Permintaan cutiku sempat diminta untuk diundur oleh managerku yang mengatakan bahwa Si Teman cuti tiga hari dan siapa lagi yang menggantikan pekerjaannya yang tidak bisa diundur itu? Begitulah Si Teman, dia tidak pernah memberi tahu aku secara langsung berapa lama dia cuti, tidak pernah meminta tolong secara langsung untuk mengerjakan pekerjaannya selama tidak masuk padahal pekerjaan dia berjenis tidak bisa dipending. Mungkin dia merasa yakin aku pasti mengerjakannya, dia sudah tau pasti beres dan tinggal terima bersih. Ah, sudahlah pembicaraan tentang Si Teman kita sudahi saja untuk saat ini. Aku bilang ke managerku "saya sudah beli tiket dan bayar hotel mas". Sebenarnya ada yang teman satu bagian dengan Si Teman yang sepatutnya menggantikan pekerjaannya jika Si Teman tidak masuk, sebut saja namanya Si Kawan, namun dia tidak bisa mengerjakannya. Kemarin kembali kami belajar untuk kesekian kalinya, sepertinya dia sudah mulai memahami, dan aku bisa bernafas lega. Perkembangan terakhir aku dapat kabar hari ini ternyata Si Kawan tidak bisa mengerjakannya. :((
Managerku menanyakan ini cuti 2010 atau 2011, apakah cuti 2010 kamu masih ada? Oya, aku baru ngeh dan langsung menelfon bagian SDM. Ternyata cuti besar 2010 ku yang berjumlah 22 hari kerja baru terpakai 12 hari, jadi masih ada 10 hari lagi yang bisa aku manfaatkan. Wuiiih, makin mantap aja nih. Cuti 2011 belum sama sekali tersentuh. Asoyy. Managerku yang tau bahwa ini kesempatan langka bagiku akhirnya membubuhkan tandatangannya. Dengan suka cita aku ambil form itu dan menyerahkan ke pemimpin Divisiku. Kebetulan beliau tidak di tempat, aku taruh saja di atas mejanya. Selesai sholat Ashar aku melihat selembar kertas bertandatangan manager dan pemimpin Divisiku tergeletak di atas meja. Asyiiik...senangnya cutiku disetujui. Aku pulang kerja dengan senang hati.
Tadi siang aku berangkat dengan senyum mengembang sedari pagi. Senangnya bisa libur berduaan lama2 dengan suami. Biasanya hubby libur, aku kerja. Eh tanggal merah aku libur, hubby nya yang kerja hehe... Sesampai di Bandara Soekarno Hatta, kami disarankan petugas untuk melakukan Self Check-in karena tidak memasukkan barang ke bagasi, biar cepat. Sambil menunggu pesawat datang kami nongkrong dan makan-makan dulu di Executive Lounge. Penerbangan tidak bisa dibilang on time, tapi juga tidak delay terlalu lama. Perjalanan terhitung lancar dan aman dengan snack yang enak dan pramugari yang cantik dan ramah.
Jogja. Ini adalah kali keempat aku menginjakkan kaki di kota pelajar ini. Kota yang penuh dengan aneka kerajinan batik, perak, dan Dagadu-nya baik yang asli maupun yang aspal . Kota yang menyediakan gudeg, bakpia dan brem yang seketika meleleh dilidah jika dikecap. Kota yang membuat jutaan orang merasa hatinya terpatri disini dan ingin mengulang kembali langkah menyusuri Malioboro, Keraton, Prambanan dan sekitarnya. Kami menuju penginapan dengan terlebih dahulu dijemput oleh pihak hotel. Pak Susilo, nama supir yang menjemput kami membawa kertas bertuliskan namaku. Aku yang melihatnya dari jauh mendekat ke arahnya, pura-pura bukan sebagai orang yang ditunggu dan mengambil fotonya sebelum akhirnya menyapanya, takut bapaknya grogi kalau ketauan difoto hehehe...Kami menginap di hotel yang bertema etnik dengan dinding yang diberi lukisan yang berbeda disetiap kamar, tempat tidur yang dialasi sprei batik, ornamen2 dan ukiran-ukiran yang membuat hotel ini terlihat sangat antik. Settingan lampu sepertinya sengaja diberikan lampu sorot kuning dengan cahaya yang temaram. Sangat kontras dengan hotel2 yang pernah aku singgahi sebelumnya, dimana rata2 berdinding putih polos, bed cover putih bersih dengan lampu yang terang benderang. Namun inilah tema yang diusung hotel ini, dengan batiknya terasa sangat Indonesia sekali. Tidak heran jika banyak bule menginap disini. Hotel ini terletak di jalan Sosrowijayan, dekat dengan jalan Malioboro. Hanya berjalan sedikit keluar gang, tinggal belok kanan, lurus dan ketemulah jalan Malioboro.
Di hari pertama ini selepas sholat Ashar, kami berjalan santai di sepanjang Malioboro, cuci mata, menikmati udara Jogja yang terasa sejuk. Mendengarkan penawaran becak dengan tarif 5 ribu saja ke berbagai tempat berjualan oleh-oleh yang semuanya ditolak dengan ucapan terima kasih pak dan makin ke ujung makin capek dan akhirnya cuma bisa tersenyum dengan lengkung bibir yang tidak simetris hihii... Masuk ke toko-toko yang menjual batik. Melihat batik-batik di pedangan kaki lima sepanjang jalan. Memuaskan mata dengan melihat barang-barang yang jarang kami temui di tempat kami tinggal. Mengambil gambar apa saja yang menarik perhatian kami. Mengumpulkan semua memori, menyimpan gambarnya di kamera dan merekamnya di hati kami sebagai kenangan perjalanan kami kesini. Ketika hari sudah sore menjelang malam, perut mulai menampakkan gejala butuh diisi, berhubung kami tidak suka gudeg yang manis (walaupun mamas orang Solo), akhirnya kami makan di Mc D setelah berlari-larian di tengah gerimis yang mulai turun dengan intensitas curahnya yang cukup rapat hhee...sangat mengenaskan, tidak mengkonsumsi makanan khas daerah setempat, sesuatu yang jarang ditemui di daerah asal. Ah, biarlah untuk hari pertama *mencari pembenaran :P*
Puas berkeliling-keliling di dalam Mall sambil menunggu hujan reda, kami pulang menuju penginapan menggunakan becak. Becaknya berbeda dengan becak di Jakarta, sedikit lebih tinggi, apalagi jika dibandingkan dengan becak di Depok yang pendek dan landai sampai kita seperti setengah rebah ke belakang. Berhubung sebelumnya tawaran becak dengan promosi 5 rb kemana-mana, aku tawar juga becaknya 5 rb ke hotel. Kata mamas, si abang becak ngeledekin, segede ini masa 5 rb sih, sambil menunjuk ke arah mamasku hihihii...Aku sih gak dengar karena sibuk menghindari rintik hujan. Ah, si bapak bisa aja bikin alesannya ya hehehe...Akhirnya kita deal 7rb. Huuuw...pegel juga rasanya. Turun becak, langsung menuju kamar. Mamas yang sama2 capek, malah mijit2in kaki dan punggungku. Duh baiknya.
Sekarang harus siap-siap istirahat, mengumpulkan energi untuk rencana Insya Allah besok berangkat ke Solo, kota yang belum pernah aku singgahi. Penasaran dengan pengalaman baru yang menggelitik imajiku akannya. Apakah Solo seindah Jogja? Hmmm...let's see ;)
mikir keras, siapakah si teman dan si kawan.... pasti orang2 baru ya mel ..
ReplyDeleteAlhamdulillah bisa liburan berdua hubby, aku bahkan blm sempat ketemu suami mu ya mel.. Kalau ke Bogor, mampir dong L)
Bener mba. Dua2 nya baru dari divisi lain, tp mereka jauh lebih senior. Masa kerjanya 2x lipat meli hehe...
ReplyDeleteIya, blm kenal hehe..Insya Allah kl ke Bogor lg mampir ke tokonya deh :) kl kesana ntar minta alamatnya dulu ya mba :D
udah nyampe jogja lagi aja nigh lo :P
ReplyDeletewuiih asiiknyaa.. honeymoon ga perlu di rencana-in jauh2 hari ya.. hehe.. titip bakpia yg kacang ijo dong meel :D
ReplyDeleteilmu koncek emang paling top markotop :P
ReplyDeleteudah cuy...baru aja balik dari solo nih. musim hujan disini hihhi..
ReplyDeleteiya ka, kalo yang direncanain malah belum jalan2 ampe sekarang hehehe... wah, ngidam nih :P
ReplyDeletebetul...dan lebih asyik, karena semua spontan, masalah ribet ngurus ini itu nya gak lama2. Our next trip itu usahakan tidak pas high season ya ;)
ReplyDelete