Thursday, February 24, 2011

Catatan harian Jogja 3

Wow, udah hari ketiga aja nih :D

Hari ini kami ngerental motor di seberang jalan dekat penginapan biar lebih puas keliling-keliling kota Jogja.  Kami langsung menuju salah satu dari tempat penyewaan yang ada dan langsung menanyakan perihal sewa-menyewa ini.  Dari pertanyaan dan tatapan mata Ibu pemilik usaha rental ini, terlihat dia sedang menyelidiki kami sebagai calon penyewa. Begitu juga dengan seorang laki-laki yang aku perkirakan adalah anaknya.  Mereka menanyakan KTP, alamat, pekerjaan, menginap dimana, berapa lama dan meminta jaminan sebesar Rp. 1jt. Waaah, bu... jaminannya gede banget, kami kan mau jalan2 dan makan2 sahutku sambil cengengesan.  Si Ibu dari balik kacamatanya memandangku dengan agak memiringkan kacamatanya, seperti adegan2 sinetron nenek2 yang siap2 mau memarahi cucunya.  Aku gak tau apa yang ada dalam pikirannya, mungkin heran atau mungkin kasian ya kere sekali mereka hahah..Aku menangkap bahwa si ibu dan anak sedang mencari informasi selengkap2nya tentang calon pengguna kendaraannya. Aku sih setuju2 saja. Sangat wajar mereka berhati-hati dan menetapkan jaminan karena usaha ini beresiko tinggi. Aku mencairkan ketegangan dengan ngajak si ibu ngobrol.  "Ibu dari Sumatera Utara ya?", tanyaku walaupun sudah jelas terlihat dari wajah dan cara bicaranya. "Iya", sahutnya singkat. "Ooh...suami saya ini ibunya juga dari sana bu".  "Apa marga kau?", tanyanya ke mamas. "Ibu saya Daulay bu, tapi bapak saya orang Solo", jawab mamas. Setelah pertanyaan2 tentang marga, aku kembali meneruskan ngobrol. Aku ingin si ibu merasa nyaman dengan mengenal profil kami walau hanya sedikit. Aku cerita, kebetulan dapat tiket murah, berangkat kesini untuk ziarah sekalian jalan2.  Dia juga menanyakan pekerjaan kami. Anaknya meminta NPWP ku dan menanyakan kenapa alamatnya berbeda dengan KTP. "Biasalah mas, sebelumnya kan saya anak kost, waktu kuliah aja kostnya udah berapa kali pindah.  Sekarang udah tinggal sesuai alamat KTP suami tapi KTP saya masih dalam pengurusan". Ibu dan anak itu mulai terlihat percaya dan tidak tekesan kaku lagi.  Untuk lebih nyamannya kami  menyerahkan KTP masing-masing, NPWP dan kartu pegawai ku.  Melihat perubahan ke arah yang lebih baik itu aku merayu "Jaminannya jangan sejuta ya bu". "Berapa maunya? 500rb?", sahut si ibu.  "Jangan bu, 200rb aja ya, biar bisa dipakai makan dan jalan2 hehe... *tetap cengengesan*. Ya udah. Akhirnya mereka setuju dan membuatkan dokumen perjanjian. Yeaaa...pendekatanku berhasil hihihi.. Aku iseng2 nanya, "Bu, pernah ada kejadian orang yang tidak mengembalikan motor sewaan?".  "Pernah", katanya sambil mengangguk.  "Wah, rugi sekitar 10 jutaan ya bu", kataku. "Nggak, 20jt karena yang hilang Mega Pro".  Kasihan juga membayangkan hal itu, pantesan mereka jadi sangat berhati2, pikirku.

Selesai segala urusan persuratan, anaknya menyerahkan kunci dan STNK motor Vario Pink yang kami pilih. "Nanti kami kembalikan jam 10 malam ya bu, terima kasih" dan Vario pun meluncur membelah Jogja. Siang itu kami memilih makan di Pondok Cabe Jl. C. Simanjuntak karena aku telah jatuh hati dengan sambal pedasnya, empalnya dan suasananya yang terbilang asik sejak waktu ke Jogja terakhir bersama teman2ku. Berbekal peta Jogja dari pihak hotel, kami mencari lokasi tersebut. Berhasiiiill.... tidak ada kesulitan yang berarti. Sesampainya disana dan berhubung sudah lapar langsung memesan makanan.  Aku memesan Empal Ekstra Pedas, nasi bakar, tahu bakar, aqua (diganti air putih karena habis) dan 2 buah kerupuk, sambal gunung (sambel pedas ada dagingnya).  Sementara itu mamas memesan Nasi putih, empal biasa, Juice The Gun (jus kelapa muda yang diblender, enak deh), sayur oseng kangkung, 2 buah kerupuk, dan sambel goreng terasi. Total pembelian adalah 43 ribu. Asyiik!

Setelah kenyang, aku mengajak mamas ke Prambanan. Awalnya mamas menolak, tapi setelah melihat peta dan mempelajari arahnya mamas mengiyakan ajakanku.  Wuii senangnya, karena aku belum pernah ke Prambanan. Perjalanan dengan motor terasa ngebut. Biasanya mamas tidak pernah ngebut.  Ternyata menggunakan motor matic secara tidak sengaja membuat motor melaju kencang dan mungkin juga karena hanya perlu gas dan rem membuat pengendara merasa ringan mengendarainya. Asyik juga sih, walau deg-degan aku menikmati duduk di atas motor dengan udara adem disertai angin sepoi2. Sampailah kami di gerbang Candi Prambanan dan membayar tarif masuk masing2-masing 20 ribu.  Dari jauh candi kelihatan biasa saja, tetapi setelah memasuki dan memperhatikan struktur bangunan, kami terkagum-kagum melihat keindahan pahatan, warna, lekukan dan susunannya. Kami tidak habis pikir membayangkan para arsitek dan pekerjanya di masa lalu. Bagaimana mereka bisa membuat candi seindah ini dengan susunan yang rumit. Bagaimana merekatkan setiap bagian yang konon kabarnya tidak mengunakan semen. Bagaimana cara mereka naik hingga tumpukan candi paling atas yang semakin runcing? Tanpa dikomando kami berfoto-foto dan berjalan mengitari dan memasuki candi.  Ternyata candinya kecil dan gelap. Berbeda dengan Candi Borobudur yang sangat besar hingga bikin ngos-ngosan mengitarinya. Tak lebih dari 5 detik masuk ke dalam ruang gelap itu, aku langsung keluar, diikuti mamas yang ternyata juga merinding seperti aku hahhaa...

Langit terlihat mulai mendung dan perlahan meneteskan hujannya.  Kegiatan foto2an dan keliling2 jadi terhenti. Kami berteduh di bawah pohon dekat pos penjaga bersama kira-kira sepuluh orang yang lain.  Ada dua orang turis asing yang diajak bicara oleh anak sekolah yang menawarkan menjadi guide yang free of charge.  Tak sengaja aku jadi ikut menguping pembicaraan mereka.  Tidak terlalu lama, hujan mulai berhenti, namun kami tidak lagi melanjutkan ke arah candi dan memilih lebih baik pulang daripada kehujanan. "Yah, belum puas foto2nya ya mas?", kataku. "Masa sih? Mamas sudah puas kok", jawabnya.  "Yah, baru dikit gak cukup 20 foto, biasanya adek foto2 bisa ratusan mas", sambil manyun berjalan ke arah parkir. Sesampai di depan motor, aku tidak menemukan plastik pelindung kepala kami.  Ya, kami menggunakan shower cap yang buat mandi itu sebagai alas sebelum menggunakan helm sewaan, takut bau dan kotor heheh.. "Mungkin diambil sama orang yang kebetulan kehujanan dek, lumayan tuh ada gratisan", kata mamas. "Huh, jahat banget sih orangnya, tega bangeeet", sahutku kesal.  Jok motor dibuka mamas untuk mengambil helm yang talinya kami gantungkan di kedua sisi dan terlihatlah shower cap biru dan pink di dalamnya. " Huuu... ngerjain aja nih, adek udah berburuk sangka sama orang yang tidak dikenal dan tidak ada itu", semakin mengerucut deh bibirku. Yang diprotes malah ketawa-ketawa aja sambil memasang shower cap pink ke kepalanya. Gak salah kok. PINK. Mamas mungkin setengah rela mendapat pink karena aku mau yang biru biar matching dengan baju dan kerudungku hihihi...

Wuuuuz....Motor melaju kembali ke Jogja, berkeliling-keliling ke arah UGM, Keraton dan Malioboro.  Aku teringat Juice The Gun yang kucicipi tadi siang. Kebetulan haus, aku mengajak mamas kembali ke Pondok Cabe dan berencana untuk dibungkus saja.  Ternyata hujan kembali turun, alhasil kami kembali nongkrong disana, memesan makanan ditemani musik akustik live. Lumayan seru sih :D

Ketika hujan mulai reda kami pun kembali berkeliling kota. Eh, di tengah perjalanan, hujan kembali turun, semakin deras.  Beruntung kami melihat jas hujan saat mengisi bensin tadi siang dan bisa dimanfaatkan. Mamas meminjamkan hoodie nya padaku dan menggunakan jas hujan. Mulailah perjalanan kami ditengah rintik hujan yang semakin rapat. Tiupan angin menambah dingin dan aku semakin mendekat sambil melingkarkan tangan ke pinggang mamas. Tiba-tiba langsung teringat lagu Sheila on 7, akhirnya kami bernyanyi dan bersenandung lagu itu sepanjang jalan "Pegang erat pinggangku saat kita melaju di atas dua roda, dendangkan serta lagu kesayanganmu seperti sedia kala dimana kita terangkai bersama". Lama-lama hembusan angin semakin dingin, hujan tetap awet dengan curahnya, dan kamipun menyerah untuk kembali saja ke penginapan.  Motor yang dijanjikan akan dikembalikan pukul 10 malam, maju menjadi pukul 8 malam demi menjaga kondisi agar tidak sakit.  Motor pun diputar mengarah ke jalan menuju penginapan.

Setelah mengembalikan motor, kami segera kembali ke penginapan dengan shower cap pink yang masih setia bertengger di kepala mamas dan yang biru di kepalaku sambil berlari-larian.  Sesampai di kamar, kami berkaca dan merasa lucu sendiri dengan tampilan aneh itu, seperti orang-orang yang sedang creambath di salon hiihi.. Tak tahan berlama-lama dengan baju lembab, kami pun membiarkan air hangat mengguyur dan menyegarkan kami kembali sebagai pengantar agar istirahatnya lebih asoy geboy.  Ah, mataku mulai meredup. Mamas malah sudah tertidur pulas dengan posisi setengah melingkar seperti orang kedinginan. Hmmmm....waktunya istirahat *ngangguk2 setuju*

Good nite all ! Sleep tight ;)

7 comments:

  1. ga da selipan poto diantaranya : ga asik.. *berharap bisa langsung ngayalin pondok cabe sambil baca cerita * cr airasia 45 aahhh :P

    ReplyDelete
  2. dah hari ketiga nih, seru bgt kyanya ya.. kok dulu gw ke yogya ga se-seru ini sih? apa krn dulu pas kesana belum kerja jd ga sebebas ini kesana kesitu ya.. *yg pertama pas karyawisata sekolah, yg selanajutnya sm keluarga naik mobil.. yg ada tidur mulu krn kecape'an hihihi

    ReplyDelete
  3. makanya ka.. kalo jalan2 harus ikut salah satu dr kita-kita.. DIjamin -Gila! :P

    ReplyDelete
  4. haha... spt kita ke bandung ya, ada aja gitu yg di ketawain *inget tante mirna hihihi
    ya selain itu, klo dah pegang duit sendiri pastinya emang lebih seru drpd pas jd anak sekolah atau pergi bareng keluarga.. yg ada ngikuut aja tp ga bisa beli2 :p

    ReplyDelete
  5. baterainya abis waktu itu tek. gak bisa pamer makanan enak deh hehehhe...

    ReplyDelete
  6. iya ka...seru berdua gini, atau kalo mo lebih asyik lagi sekitar 5 orang kaya gw kemarin ama penky. Kl terlalu rame kaya karyawisata ya gak enak, udah ada yg ngatur. Atau kl ama ortu gak bisa ngajak capek2 hehhe..

    ReplyDelete
  7. yoi..ini juga salah satu penyebabnya jd kurang seru :D

    ReplyDelete