Friday, February 25, 2011

Catatan harian Jogja 4

Duh...kenapa nih koneksi Wifi nya jelek? Apa karena hujan dan petir gede banget ya disini? Ada hubungannya gak sih? Aku gak ngerti :D Ngomong2 soal petir tadi sore ada kejadian lucu deh. Aku baru keluar dari ATM BNI di depan Hotel Mutiara dan disambut langsung dengan tawaran tukang becak untuk yah..seperti biasa ke tempat jualan bakpia, batik dan Dagadu. Lima ribu aja mba, sepuasnya" begitu tawaran dari tukang becak yang sepertinya sudah tertulis dalam buku panduan penawaran becak di Jogja :P Setelah menawarkan jasanya tiba-tiba ada kilat disusul petir yang bunyinya subhanallaah bikin merinding. Kenceng sekencang-kencangnya. Tukang becaknya langsung lari, ngibrit ke atas becaknya tanpa mempedulikan aku yang baru saja ditawari. Kami (aku dan mamas) yang melihat hal itu ketawa ngakak. Petirnya memang dahsyat banget, gak puas sekali kemudian dihajar lagi dengan kilat yang menyambar dan petir yang menggelegar berkali-kali.  Kami juga sebenarnya ketakutan, tapi melihat ulah tukang becak seperti itu malah bikin kami tertawa dan ujung-ujungnya berkhayal ngomong ke tukang becak yang lagi ketakutan "Ayo pak, kita ke bakpia, batik dan Dagadu", khayalanku. "Gak jadi deh mba" jawab tukang becak sambil tetap ketakutan mengangkat kakinya keatas dudukan di becak. "Loh, tadi kan bapak nawarin, gak bisa gitu donk pak, ayo!"  hehhe...*khayalan gak penting.

Kami keluar dari penginapan selepas sholat Jumat. Oya, ngomongin sholat aku jadi ingat cerita tentang azan. Kemarin kami mendengar azan magrib waktu lagi makan di Pondok Cabe.  Awalnya gak ngeh kalau itu suara azan karena benar-benar mirip dengan nyanyian Jawa. Lama-lama kok kalau diperhatiin "syair" nya adalah seruan azan. Hah? Kok bisa ya? hihihi...Ada-ada aja ya, sayang sekali baterai hape kemarin sudah sekarat, jadi tidak bisa merekam suara itu.  Kembali lagi ke acara setelah jumatan, kali ini kami berjalan dengan membekali diri dengan dua buah payung besar pinjaman ke pihak hotel berhubung sudah tau cuaca hujan terus sejak awal datang kesini.  Untuk kesekian kalinya mondar-mandiri di Jl. Malioboro yang panjang ini. Masuk ke toko-toko yang menarik perhatian. Mampir lagi ke Mirota Batik dan aku menemukan dua baju batik lucu, bisa untuk dipakai ke kantor. Mamas hanya beli Kopi Bandrek dan Coklat Monggo (coklat lokal dengan tulisan Finest Javanese Chocolate rasa kacang mete).  Walaupun barang lokal, ternyata coklat ini cukup mahal, harganya Rp.27.500,-  Aku pikir cuma 10 ribu hihihih... *maunya*. Selanjutnya beli oleh-oleh untuk teman2 dan kakak ipar di Jakarta karena besok sudah mulai bertolak kembali ke Jakarta untuk memulai aktifitas rutin seperti biasa. Kl ingat besok udah balik dan akan mulai kerja lagi, rasanya gak relaaa...belum puas bersantai2 ria hiks...

Menjelang magrib kami kembali ke penginapan. Di perjalanan pulang masih ada saja tukang becak yang menawari ke tempat jualan bakpia.  Gak ngeliat ya pak kiri kanan tangan mamasku sudah penuh dengan barang belanjaan, trus bawa ransel yang sudah terisi penuh dan dua buah payung menggantung di ranselnya.  Sementara aku cuma membawa tas kecil tersampir di pundak.  Aku mau bantu mamas yang keliatan repot tapi mamasnya malah gak mau. Aku maksa mamas, ayo donk mas kan adek jadi malu kalo ada yang merhatiin, kesannya istrinya kejam banget sih ama suami hihi..tapi tetap aja mamas gak mau. Ya sudahlah :D

Rencananya malam ini mau cari makan yang lokasinya agak jauh walaupun belum tau tepatnya kemana. Namun hujan semakin deras. Rencana mau menyewa motor jadi dibatalkan dan beralih memencet nomor 14045 dari hapeku.  Benar. Anda tak salah lagi, itulah The Luvly Mc.D. Terdengar sambutan dari seberang sana "Selamat malam Ibu Meli". "Malam mas", jawabku.  "Apakah benar alamat Ibu Meli masih di Jl. Setiabudi V bla..bla..bla". "Oh, sebentar mas, mau tanya apakah pemesanan ke nomor 14045 ini berlaku untuk seluruh Indonesia?", tanyaku. "Iya, tentu saja Bu", jawab si mas-mas Mc D. "Baiklah, kalo begitu alamat saya saat ini adalah di Jogja bla bla bla.." Padahal sebenarnya alamat di Jakarta juga sudah pindah, tapi update datanya nanti saja biar petugasnya tidak pusing dengan banyak alamat yang akan aku sebutkan.  "Baik saya ulang pesanannya, satu buah Panas Spesial pakai telur, dada yang hot *wuidiih*, minum diganti Nestea, satu buah kentang reguler, satu buah paket Chicken Mc D, dada dan sayap crispy, ukuran nasinya di-upgrade, minuman tetap cola. Apa benar begini, Bu?" "Yup, benar mas, berapa totalnya?, tanyaku.  "Totalnya Rp.68.200 nanti akan diantar oleh Mc D cabang Malioboro paling lama jam 20.15 sampai ditempat", jawab si mas-mas dan pembicaraan pun berakhir. "Masih 30 menit lagi mas", ucapku ke hubby. "Oke deh gak apa-apa", sahutnya. Pukul 20.00 telfonku berdering dari nomor berkode area Jogja 0274 dan gak salah lagi ini adalah panggilan dari Mc D Jogja. Mereka mengkonfirmasi ulang pesanan dan mengatakan akan segera dikirim. Ternyata sampai dengan pukul 20.45 belum ada tanda-tanda pintu diketuk. Aku menelfon balik ke nomor Jogja berbekal rekaman di call register hape. Dua kali percobaan menelfon gagal karena sibuk, telfon yang ketiga kalinya berhasil.  Petugas menginfokan bahwa pesanan sudah diantar sejak pukul 20.30 dan berjanji akan segera mengontak aku kembali.  Pukul 21.00 pintu diketuk, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Kasihan juga melihat mas-mas yang nganter basah terkena hujan dan datang dengan muka masih kebingungan. "Susah ya mas nemuin alamatnya?", tanyaku. "Iya mba, saya tadi nyasar, saya baru seminggu kerja dan gak tau daerah sini". "Oh pantesan", sahutku. Setelah bayar-membayar, langsung saja Mc. D nya dimakan tanpa ampun alias ludes tak bersisa.  Maklum tadi siang cuma makan pempek palembang. Yaelah, jauh -jauh kesini makannya pempek lagi.

Selama di Jogja kami hampir tidak menyentuh makanan berbau Jawa, kecuali waktu di Dapur Solo dan makanannya juga sebenarnya hanya seperti masakan rumahan biasa dan tidak terlalu spesial atau menonjolkan unsur masakan Jawa seperti Gudeg.  Mamas yang orang Solo aja gak suka Gudeg, apalagi aku yang pencinta sambal pedas :) "Mamas Jawa palsu nih", begitu selalu ledekku ketika mamas gak suka masakan Jawa atau tidak lancar berbahasa Jawa. malah lancar berbahasa Minang. Tapi kemarin aku menemukan ke-Jawaannya waktu minum beras kencur.  "Enak banget dek", katanya sambil menyodorkan gelas berisi beras kencur.  Aku ragu-ragu mencobanya dan akhirnya menyedot sedikiiiiit aja, dan hueeek... gak suka! Rasanya aneh. Tapi mamas terlihat sangat menikmati minuman itu saat menyeruputnya. 'Nah, kalau gini baru ada sedikit tanda-tanda mamas orang Jawa", kataku hehhehe...

Oke deh, cukup dulu untuk cerita hari ini. Sekarang waktunya beres-beres. Menyimpan seluruh pakaian kotor dalam plastik. Menyusun kembali dalam tas untuk memudahkan persiapan untuk kembali ke Jakarta besok siang.  Rencana pulang menggunakan Garuda penerbangan pukul 14.30, semoga selamat sampai kembali ke rumah. Amiin..

*Menikmati bunyi rintik hujan di genteng dalam suasana malam Jogja yang hening*

7 comments:

  1. hehe akhirnya sambungan ceritanya ada juga *jadi nungguin hihi..
    loh, meli ga suka jamu? enak loh mel minum beras kencur atau kunyit asam.. abis itu minum air gulanya anget2.. trus klo haid sakit, sekali2 minum kiranti dingin2.. wuih enaak deh.. hehe.. (ga ngaruh ya sm meli, kya gw promosi makan sushi hihi)

    ReplyDelete
  2. Aduuhh Ka.. lo suruh dia minum jamu, bisa bisa Meli menuntut lo bahwa lo nyuruh dia minum Racuunnnn :P

    ReplyDelete
  3. Jamu? Hiyeeeek... Gak kuat. Tp gw pernah kok nyobain kiranti, langsung glek, tahan nafas, gak berenti sampai habis sebotol, disambut segelas air putih, ditutup dg muka mengernyit hihihi...

    Iyac uh sushi, cukup sekian dan terima kasih

    Penky, terima kasih atas pengertian anda :D

    ReplyDelete
  4. oleh2 sudah di terimaa.. makacih melii.. enak bangeet bakpianya *keinginan ibu hamil terpenuhi :D

    ReplyDelete
  5. ehem.... yang nguping kabitaaaa *lirik tek melaik

    ReplyDelete
  6. Hehehe... Sama2 bumiiiil. Semoga gw menyusul hamil juga ;)

    ReplyDelete
  7. Tek penky, apa tu kabita? Apa hubungannya sama nobita kira2?

    ReplyDelete