Thursday, February 10, 2011

Yippieee!! Tumpukan Itupun Lenyap.





Kreeeghhh...kretek...kretek..

Terdengar bunyi gemeretak pada sendi-sendi disekitar pinggang hingga ke punggungku. Aku memutar badan ke arah kiri, menggeliat ke kanan, dan bersikap seperti posisi setengah kayang untuk mendapatkan bunyi yang kuharapkan itu.
Bunyinya beruntun terdengar sedikit sadis tapi lazis hehehe...Enak alias asyik maksudnya :) Kemudian diteruskan dengan peregangan pada tangan. Menjulurkan kedua tangan dengan jari-jarinya yang disusun saling berkait antara tangan kanan dan kiri ke arah depan sejauh mungkin. Dilanjutkan ke bagian-bagian lain selayaknya gerakan peregangan ketika berolahraga. Legaa banget mendapatkan bunyi itu, seolah-olah beban yang selama ini menggelayuti bagian tubuh yang digerakkan tersebut terangkat seketika.

Gerakan itu baru saja aku lakukan setelah menyelesaikan sebuah pekerjaan yang membosankan dengan tumpukan yang tinggi. Kenapa bisa terjadi? Seminggu yang lalu aku mengejar approval kredit karena pada beberapa permohonan masuk yang dipisah per tanggal, aku sulit menemukan aplikasi yang berkualitas. Aplikasi yang masuk banyak yang jauh dari target segmentednya. Akhirnya aku mengambil langkah mengenyampingkan aplikasi yang menurut intuisi sekilas - setelah memperhatikan berkas - tergolong tidak potensial. Jika menemukan yang bagus langsung aku proses, jika tidak bagus aku sisihkan ke kanan. Saking banyaknya yang tidak potensial, tanpa aku sadari tumpukan di sebelah kanan sudah mencapai dua tumpukan yang sangat tinggi hingga mengurangi ruang gerakku. Sedikit sesak. Jika dihitung bisa mencapai 400 permohonan. What?



Kaget. Berarti aku harus segera menyelesaikan pendingan itu karena agingnya terus berjalan. Idealnya yang duluan masuk itulah yang diputus. Ingin teriak rasanya membayangkan betapa membosankannya menganalisa sesuatu yang tidak akan menghasilkan dan sudah jelas masuk kategori "calon decline". Tidak ada spirit menemukan rentetan nilai positif untuk mendukung analisa ke arah yang menjadikannya wajar untuk disetujui.

Tapi kemudian aku berpikir lagi kalau bukan aku, siapa yang akan mengerjakannya? Bisakah dia memproses diri sendiri? Semakin dibiarkan, semakin aku menumpuk perasaan tidak nyaman yang salah-salah bisa berimbas pada pekerjaan. Akhirnya aku membulatkan tekad, setelah hasil approval dikirim - sekitar jam 2 setiap harinya - aku akan mengejar ketertinggalan itu. Maksimal dalam tiga hari harus kelar tanpa meninggalkan proses yang lebih penting, yaitu approval.

Mulailah aku bekerja dengan menambah kecepatan persis seperti kecepatan saat ujian tes koran (penjumlahan angka dengan menulis digit terakhir di antara dua angka yang bersusun vertikal dengan susunan angka membentuk kolom yang melebar ke kanan hingga menjadi sebesar koran) pada psikotes. Nyaris tanpa jeda kecuali melaksanakan kewajiban dan mengisi lambung :D Alhamdulillah, berhasil. Ternyata kemampuan kita bisa dipacu jika kemauan kitapun kuat. Jika ada yang "mendesak" dibelakangnya. Ditambah lagi dengan kondisi hari ini aku mengerjakan pekerjaan seorang teman yang sedang sakit, pekerjaan yang berbeda dengan yang ku kerjakan, tidak bisa ditunda karena dapat mempengaruhi laporan lainnya, yaitu melakukan pembukuan. Wuuu... Aku menyelesaikan pendingan itu sekaligus mendapat perolehan tertinggi pada pekerjaanku sendiri beberapa kali. *Alhamdulillah, terima kasih ya Allah karena nikmat sehat dan izin-Mu, hamba bisa bekerja*

Berpacu dalam waktu yang sempit dan terdesak terkadang mengeluarkan kemampuan super kita. Kita sering mendengar seseorang bisa mengeluarkan kemampuan lari tercepatnya ketika dikejar oleh seekor anjing liar. Bahkan, sebuah parit yang tidak bisa dilompati dalam situasi biasa, bisa dengan mudah dilompatinya dalam kondisi terdesak. Motivasi bisa mengerjakan dengan cepat selain untuk menghilangkan tumpukan kerjaan yang mengerikan itu juga karena aku tidak mau pulang malam. Aku tidak mau naik bis, tidak mau pegal berdiri selama kira-kira 2 jam karena macet. Aku harus naik kereta satu-satunya yang jam 6 dari St. Sudirman agar tidak terlalu gelap sampai di rumah. Jadilah kecepatan setara ujian psikotes itu terjadi :)

Baru saja aku menyelesaikan berkas kerja terakhir (dan tulisan ini pun hampir mencapai endingnya :P ). Rasanya seperti menang dalam perlombaan lari dimana saingannya adalah orang-orang langsing dengan badan yang ringan melayang saat berlari, sementara kita sendiri gemuk dan keberatan tetapi bisa meninggalkan mereka di belakang kita haha... *hiperbolis abis*. Perumpamaan yang aneh terkait beratku yang tidak lagi seperti masa-masa pra sejahtera dulu heuheuhue....

Melengkapi pereganganku, aku berdiri dari tempat dudukku, menirukan gerakan SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) zaman SD dulu. Mulai dari bunyi Priiiit prit prit prit prit prit... dilanjutkan dengan menirukan musik buatan dengan mulutku sendiri ditengah tatapan geli dan ledekan teman-teman yang akhirnya ikut-ikutan menyumbang musik walaupun bunyinya tidak karuan :D



2 comments:

  1. semangaaat mel.. (^o^)/ ! semakin banyak kerja, semakin banyak rejekinya ;)
    *apa kabarnya gw yg ditinggal bos terus ke luar negri hihi...

    ReplyDelete
  2. Hihi.. Yoi, setujuuu ;)
    Sekali2 minta ikut donk ka, atau diutus utk tugas apa gitu kaya temen lo si Randy itu, masa ngurusin bos doank ;)

    ReplyDelete