Saturday, March 12, 2011

Mesti Ada Etikanya

Sebuah pesan singkat masuk ke hapeku. Pesan dari seorang teman yang sudah lama tidak bertemu dan berkomunikasi. Mungkin sudah dalam hitungan tahun lamanya. Aku mengingat-ingat kapan terakhir kontak dan ragu menemukan bilangan waktu yang tepat. Ah, sudahlah, bisik hatiku.

Awalnya saat melihat nama itu muncul di layar depan hapeku, aku penasaran dan menebak-nebak isi SMSnya. Kebetulan aku baru saja mematikan fungsi "show preview" di hape sehingga jika ada SMS masuk, yang terlihat pada layar utama hanyalah sebaris nama tanpa isi SMS. Keingintahuanku menggerakkan tanganku untuk membuka pesan tersebut. Aku mulai mereka-reka. Sepertinya SMS ini akan dimulai dengan kata-kata "Telah lahir putra/i pertama kami bla bla bla...", pikirku. "Oh tidak mungkin. Dia kan belum menikah," terdengar suara yang tidak berbunyi menentang dugaanku. "Aha..! Tentunya SMS ini berisi undangan untuk menghadiri akad dan resepsi pernikahannya," teriak batinku kembali. "O iya, bisa jadi", jawab hatiku senang. Aku seolah merasa mendapatkan titik terang seumpama pengembara yang tersesat di hutan dan menemukan seberkas cahaya lentera dari sebuah perkampungan di depannya. Bibirku pun mulai melengkung membentuk segaris senyum.

Bergegas aku buka SMS itu dengan harapan akan isinya yang seperti dugaanku. Dan ketika aku buka.... Oh, aku terpana melihatnya. Jauh berbeda dari yang kusangka. Isinya tak lebih dari sebaris kata. Kata yang dingin dan hampa. Setidaknya begitu menurutku. Aku tidak mau menyebutnya sebagai sebuah kalimat karena aku tidak merasakan adanya "nyawa" dari kata-kata itu. Bagiku minimal harus ada subyek atau tanda bacanya agar aku bisa menganggap sebuah kata atau susunan kata sebagai sebuah kalimat. Sebagai contoh bandingkanlah "Jangan" dengan "Jangan!". Kata yang pertama tanpa tanda baca terasa lebih kosong, hanya sebuah kata yang tidak jelas peruntukannya sebagai apa dan kepada siapa. Sedangkan kata yang kedua dengan tanda baca terasa ada muatan didalamnya yang melibatkan dua pihak, subyek dan obyek walaupun implisit. Itulah yang aku namakan bernyawa.

Jika dianalogikan dengan contoh diatas, SMS yang aku terima ini sama dengan contoh kata pertama.

no tlp mi*na brp

Itu isi SMSnya. Huruf kecil semua dengan singkatan kata tanpa tanda baca. Tertegun. Aku terdiam menatap tulisan itu. Bayangan akan berita bahagia yang sempat melintas tadi seketika memudar. Senyum itu berhenti merekah dan garis lengkung itu pun berganti arah. Aku kecewa. Lebih tepatnya tidak suka. Bukan. Bukan karena isi SMS itu tidak seperti dugaanku. Tapi aku tidak suka dengan ketiadaan struktur pembangun kata itu. Kemana sapanya? Kemana tanda baca sebagai penyedapnya? Bagaimana mungkin ada SMS dari seseorang yang sudah lama tidak kontak tiba-tiba menuliskan kata-kata seperti itu pada pesan pertamanya? Lancang sekali dia menyerobot begitu saja ke ruang pribadiku dengan kata -kata yang dapat diinterpretasikan sebagai "perintah" alih-alih sebuah "pertanyaan"? Tentu tidak mengapa halnya jika kata-kata itu merupakan pesan lanjutan setelah ada SMS/pembicaraan lain sebelumnya. Itu tentu berbeda dan dapat diterima.

Mungkin ada yang berpikiran "gitu aja kok repot" atau "soal tulisan jangan terlalu dijadiin masalah donk, ribet amat sih". Silahkan. Berkembanglah dengan opini masing-masing. Tapi bagiku masalah tulisan itu adalah hal yang krusial. Sebuah tulisan bisa membuatku senang, sedih, takut, kecewa, bahkan marah. Termasuk untuk kasus dengan latar belakang seperti di atas. Mbok ya ngetuk pintu dulu kalau mau masuk rumah orang. Aku tau. Aku sangat mengerti apa maksud SMSnya. Aku bisa saja membalas dengan menuliskan nomor telfon teman kami yang ditanyakannya, tidak memusingkan soal gaya tulisannya dan case closed. Segampang itu. Tapi aku tidak mau melakukannya. Bukan karena aku gila hormat. Aku tidak membutuhkan dia memuja-muji aku sebagai salam pembuka atau bercerita berbelit-belit kesana-kemari hanya untuk kemudian menanyakan pertanyaan singkat itu. Yang kubutuhkan hanyalah "kehadiran" hati dan pikirannya untuk berbicara padaku. Memberikan sedikit sentuhan personal dalam SMS itu dengan menujukan pertanyaan itu memang padaku. Dengan sedikit perbedaan dia bisa mengubah reaksiku yang akan dengan senang hati mengirim balasan jika saja misalnya dia mengganti dengan:

No tlp Mi*na brp, Mel?
Hei Coy.. Brp no tlp Mi*na?

Oke, aku tidak akan mempermasalahkan singkatan. Ada yang terbiasa menulis seperti itu atau mungkin dia ingin menghemat jumlah karakter yang diketik dalam SMSnya. Tapi tidak dengan meniadakan sapaan dan tanda baca. Bahkan jika dia mengganti namaku dengan sebutan lain apapun itu selama wajar, aku tidak keberatan. Sedikit perbedaan itu memberikan efek yang besar padaku. Dengan adanya sapaan, aku merasa SMS itu memang untukku, dia memang berbicara padaku.

"Itu kan menurut kamu, jangan menjadikan orang lain harus sesuai dengan standarmu donk!". Begitu mungkin ucap sebuah suara sumbang. Iya. Mungkin ada baiknya jika aku mencoba melihat dari sudut pandang lain. Nanti. Tapi... Biarlah untuk saat ini aku masih setia dengan pendapatku bahwa SMS atau email bahkan chat dan telfon sekalipun juga memiliki etikanya sendiri. Sama halnya dengan etika ketika kita bertamu ke rumah orang. Tidak mungkin kita serta merta nyelonong masuk, mengambil sesuatu yang kita butuhkan dan pergi tanpa kata. Apa bedanya kita dengan orang yang tidak pernah mengenyam pelajaran sopan santun dari sekolah? Ucapkan salam/sapa diawal meski hanya "Hai" sebagai tanda kita mengalamatkan pembicaraan kita ke seseorang. Akhiri dengan mengarahkan untuk menutup pembicaraan walau hanya dengan ungkapan "Oke, sampai ketemu lagi ya", atau "Thanks ya". Hindari tanda baca yang bisa membuat orang menafsirkan berbeda, misalnya tanda seru yang terlalu banyak, seolah memerintah. Hindari penggunaan huruf besar berlebihan karena seolah membentak kecuali memang ingin memberikan penekanan pada sebuah kata.

Mengenai bagian penutup ini juga termasuk krusial. Betapa banyak orang yang bertanya dan setelah mendapatkan informasi yang dia butuhkan lalu berlalu begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Seolah-olah tidak ada percakapan yang terjalin sebelumnya. Atau betapa tidak sopannya jika masih ada pertanyaan menggantung yang belum dijawab, lantas kita menghilang dan mengabaikannya begitu saja. Andai pun tidak berkenan menjawabnya, tutuplah pembicaraan secara diplomatis. Tidak dengan membiarkannya mengambang begitu saja. Jangan takut rugi menginvestasikan Rp.100 untuk SMS misalnya demi menjaga sebuah pertemanan. Balaslah hingga tuntas, meski singkat tapi kedua pihak sudah tau pembicaraan ini sudah berakhir. Meskipun terlihat remeh-temeh, tapi salam pembuka dan penutup dapat membungkus sebuah pembicaraan dengan baik. Bukan tidak mungkin bisa menjadi peluang untuk rezeki yang tidak disangka-sangka karena memberikan sebuah perlakuan yang menyenangkan.

Jadi ingat ungkapan dalam bahasa Minang "Pai nampak muko, pulang nampak pungguang", yang bisa diartikan "Datang secara sopan/baik dan pulang dengan pamitan/izin".

Sudah berjam-jam aku biarkan saja SMS itu tanpa jawaban. Dari diapun tidak ada reaksi lanjutan atas sikapku yang mengabaikan SMSnya. Ketika rasa kecewa ini nanti meluruh, mungkin aku akan memberikan SMS balasan dan mengungkapkan pikiranku saat ini padanya. Hmm.. Dunno!

14 comments:

  1. subjek? hmmmmmmm... xixixi
    Baiklah, kalimatnya dibennerin
    "meli, sudah makan belum? mau aku bagi martabakkah?
    *Jya ne, menyerah pada rayuan si martabak manis :P

    ReplyDelete
  2. Kalo ngomongin subyek mengingatkan sesuatu ya penk hehe... Memang byk tersangka tulisan-tanpa-subyek yg bikin gondok ;)

    Mauuuuu... Jadi beneran kepikiran martabak nih. *cubit penki* Pengen martabak yg deket apotik setiabudi huwaaaa..

    ReplyDelete
  3. Wkwkwk..
    Di bls aja, Mel.
    Ini siapa ya?? Siapa tau memang bukan buat Meli, dan salah kirim.. He he..

    ReplyDelete
  4. Pura2 gak kenal ama dia gitu dewaik? Hehehe.. Gak mungkin lah.
    Mending kl mau dibalas tulis yg ngaco sekalian biar gak nyambung kaya gini "ada 5 lo mau brp" mirip dg gaya tulisannya hehe.. *kurang kerjaan banget ya*

    ReplyDelete
  5. Iyaa, pura2 gak kenal, secara udah ganti HP anyar dan nama nya barangkali sudah terhapus, karena sudah lama tidak dihubungi..
    Tapi ide ada 5 orang yang sama... bener2 kurang kerjaan....^.^ :)

    ReplyDelete
  6. Hahaha... Tengkyu idenya ni dewaik. Dan yang tadi itu cuma khayalan aku kok :P Aku telah memilih lebih baik tidak membalas sms yang tidak jelas. Kl dia tanya kembali secara jelas dan baik2, akan aku balas. Kl dia diam saja berarti dia tidak membutuhkannya atau anggap saja salah kirim ;)

    ReplyDelete
  7. hehe betul betul.. sebel juga klo ga ada basa-basi dulu.. ga pake subjek lagih, minimal: "meli, apa kabar? boleh tanya nomor telpon mi*na ga?". gitu aja kok susah ya..
    kya dulu pernah punya bos, sbnrnya sih masih bagus ada ekspressi, tp nulisnya cuma begini "k tq", yg maksudnya adalah "okey, thank you". singkat bener yak hehe.. apalagi pas jaman sblm nikah, klo dia jawabnya gitu2 aja padahal kita dah semangat dan ekspresif bgt, rasanya sebeeel bgt hihi..

    ReplyDelete
  8. Hihihi... Bos lo pelit banget ngasih huruf. Ya kan, rasanya jd datar? Mungkin aja dia semangat tp yg terbaca oleh kita seperti ogah-ogahan hihihi... Tulisan memang gak ada suaranya, tp "intonasinya" bisa didapat dari tanda baca. Supaya kita dan orang yg membaca punya persepsi yang sama, perlu tanda baca yang tepat ;)

    ReplyDelete
  9. iyah betul.. tp ada aja sih org yg ga terlalu ekspresif utk tulisan.. kya orang tua yg agak gaptek klo nulis sms tulisannya besar semua, trus ga pake tanda baca, kesannya kya marah2 hehe.. padahal emang ga tau aja gmn caranya ganti2 dan nyari tanda bacanya :p

    ReplyDelete
  10. Hihihi... Geli sendiri gw bacanya. Bener jg ya Ka. Hihii *msh geli* Untung papa tanda bacanya dan semuanya lengkap. Malah untuk sapaan lebih lengkap dari gw :D
    Gw jd ingat Om gw kl nyuruh "jangan lupa telfon si..." itu diganti dengan "jangan lupa hp si...." hihihihi... Telfon = hp *duuh susah nahan ketawa"

    ReplyDelete
  11. hahahaha *ketawa geli smp nangis :))
    samaaa kya bokap gw meel... ya ampyuun lucu bgt yaa.. haha.. "IKA HP PAPA SKRG" *hanya org2 jenius yg ngerti mksdnya apa hihi

    ReplyDelete
  12. Hiyahahaha.. Ya ampun Kaaa... Gw sampai nutup muka ke meja saking gak tahan pengen ketawa. Temen2 pada heran liatin hihihi...
    *tarik nafaaas, lepaaas*

    ReplyDelete
  13. Kualat ente 2 sama orang tua ! "senyum dikulum menyembunyikan muka di balik layar kumpi"

    ReplyDelete