Thursday, August 11, 2011

Commuter Line Tangerang Dilempari Batu


Astaghfirullaah. Jahat banget! Kaca kereta pecah dilemparin batu sama orang-orang tak bertanggung jawab. Kejadian ini bukan hanya sering, tapi setiap hari. Dalam satu kali perjalanan bisa dilempar di beberapa tempat. Namun kejadian hingga kaca pecah dan batu tembus ke dalam baru kali ini aku saksikan. Bahkan plastik pada kacapun tak mampu menahan batunya. Betapa kerasnya lemparan tadi yang memang membuat satu gerbong berteriak kaget. Kasihan sekali orang yang di dekat jendela tersebut yang masih terlihat shock.

Gak jelas maksud orang yang melempar. Isengkah? Hhhh kesel tingkat tinggi.

*foto diambil setelah kereta sepi*

Teka-Teki Telapak Tangan Kananku

Huwaaaaa... Ada apa dengan telapak tangan kananku? Apakah ukurannya berubah? Apakah garis-garisnya
bergeser? Apakah ada kerutan baru tercipta? Apakah kehalusannya memudar? *yang protes bayar*. Apakah aku terlalu sering menggampar orang pakai telapak tangan ini? *sadis amat nyaaak*. Ataukah karena terlalu sering membelai? *hihii…dilarang piktor* Kenapa? Kenapa? Tiga hari belakangan ini aku bertanya-tanya tanpa menemukan jawaban pasti atas pertanyaan itu.

Dihari pertama mengalaminya, aku yang biasanya absen dengan tangan "asal kena" ke mesin handkey dan selalu berhasil itu, tiba-tiba tidak dapat mengakses mesin absensi dengan mulus. Padahal kali ini udah dipas-pasin ukurannya, udah digulung lengan baju tinggi-tinggi, udah ditiup-tiup mesinnya, tetap gak berhasil. Selalu terdengar bunyi "tiniiit" dan muncul tulisan COBA LAGI. Aku ulang lagi donk, siapa tau kali ini dapat sekilo Rinso dan tulisan “coba lagi” hehhe..Ooops ini bukan undian ya. Percobaan kedua masih sama, mengeluarkan bunyi dan tulisan yang sama. Mau percobaan ketiga aku ragu, takut bunyinya "hooy bandel amat sih looo" dan muncul tulisan PULANG SANA *seneng donk* hehehe..gak dink. Aku takut aja kalau melakukan 3x kesalahan ID ku bakal diblok. Trus ribet lagi ngurus-ngurusinnya. Kaya PIN ATM aja ya. Makanya untuk percobaan ketiga, aku nungguin orang lain datang, membiarkan mereka menyentuh si mesin dan ternyata hasilnya mereka semua yang aku tungguin selamat sentosa. Aku diledekin belum cuci tanganlah, abis megang apa sih, dan ledekan-ledekan lain yang bikin makin manyun. Setelah diselingi orang lain, aku coba lagi, dan tetteeeewww... Anda belum berhasil. Jadilah pagi itu aku gak absen dan buru-buru bikin surat keterangan tidak absen beserta alasannya sebelum kelupaan. Tak disangka tak dinyana sorenya mengalami kejadian yang sama. Uuuggh, masa harus bikin surat lagi? Aku telfon bagian SDM dan mereka mengizinkan untuk tidak bikin surat lagi, akan ada keterangan tambahan di surat tersebut dari mereka untukku.

Usut punya usut, ternyata tidak hanya aku yang mengalami kasus serupa. Tercatat ada tiga orang yang juga tidak bisa absen hari itu. Aku pun berkesimpulan, mungkin karena hari itu aku merasa kedinginan, sehingga tanganku mengkerut dan mengubah beberapa poin-poin penting dari rekaman tangan terdahulu sehingga si mesin tidak mengenali lagi tanganku. Atau mungkin kesensitifan mesin itu sudah berkurang? Tetapi kenapa orang lain lancar- lancar saja? Kenapa hanya beberapa dari kami? Berhubung tidak hanya aku sendiri yang tidak berhasil, aku pun tidak terlalu memikirkannya lagi.

Hari kedua, aku deg-degan di depan mesin absensi, menyelipkan jari-jariku diantara susunan tiang-tiang kecil penyangga setiap jari. Dan.... oh, tidak berhasil lagi. Aku ulangi kembali, masih sama. Kemudian seperti biasa menunggu mangsa berikutnya yang ternyata sukses dengan gemilang. Tinggallah aku yang masih berdiri aja di depan mesin absensi khawatir jam lewat dari waktu masuk yang ditentukan. Dan akhirnya pada kesempatan ketiga berhasil. Hhhhh... Lega. Tidak harus buat surat keterangan apapun. Sore saat pulang, berhasil absen pada kesempatan pertama. Namun absen yang berhasil ini baik pagi maupun sore, penyimpangannya terlalu besar 96-97%. Mesin masih dapat mengenali itu adalah telapak tanganku, tetapi rekamannya sangat jauh berbeda dengan rekaman awal. Yang penting berhasil, bisikku dalam hati dan melangkah cepat menuju stasiun.

Memasuki hari ketiga, tepatnya hari ini, aku kembali tidak bisa absen. Semua orang bisa. Dua kali percobaan pertama gagal maning gagal maning. Aku tungguin yang lain dan setengah berharap mereka
juga gak berhasil hihihii...*jahat ya* untuk membuktikan bahwa tanganku gak aneh sendiri kok :P , tapi yang lain selalu berhasil *hiks* dengan penyimpangan hanya diangka belasan. Aku coba lagi setelah mereka, tetap aja gak berhasil. Berkali-kali nungguin orang, nyoba lagi, begitu polanya sampai akhirnya capek sendiri.


Sambil berjalan menuju ruanganku, terlintas bagaimana kalau diganti aja, tapi harus melibatkan SDM, gedungnya sekarang udah beda, lama donk prosesnya. Eits.. tiba-tiba aku ingat bahwa ada teman yang diberikan kewenangan password untuk bisa menghapus dan mengganti rekaman tangan untuk absen . Aku pernah melihatnya melakukan rekaman terhadap pegawai baru. Wooo, serasa mendapat ide cemerlang. Aku segera mendatanginya, minta tolong agar dihapus aja dan direkam ulang. Dia pun menginterogasi aku terlebih dahulu, dan jawabanku cuma “Aku tidak tau kenapa begitu, mungkin begini mungkin begitu, akupun heran, kamu tahu kenapa?”, kataku malah balik bertanya. Dia yang jelas juga tidak tau dan meragukan teoriku, kemudian menghubungi SDM untuk mendapatkan izin. SDM memberikan saran agar mesinnya dibersihkan dulu dengan tissue, kemudian coba lagi. Namun jika masih tidak bisa, silakan diganti sesuai prosedur.

Mulai deh bersih-bersih, gosok sana gosok sini, cliing. Inilah saatnya mencoba. Masukin kembali telapak tangan, eh gak bisa. Coba lagi, eh masih tiniiit. Akhirnya kami sepakat ID ku dihapus, dilakukan rekam telapak tangan baru sebanyak 3x. Pada saat sesi pengetesan setelah direkam, hore berhasiiiil, langsung gak pake lama, dengan penyimpangan hanya 13%. Alhamdulillaaah. Senangnya, berarti gak harus berlama-lama lagi nongkrong di depan mesin absen hanya untuk menunggu orang dan kemudian mencoba-gagal dan mencoba terus. Berikutnya aku akan absen dengan ”tangan baru”. Harusnya dari 3 hari lalu, aku berdiri disamping absen itu sambil jualan kolak durian ama sup buah atau apa gitu ya buat persiapan buka, lumayan kan, daripada bengong aja hihihi... Berharap semoga sore nanti urusan absen-absenan berjalan mulus ;)

Tapi.... hingga kini aku masih penasaran, suwerewerewer. Kenapa hal seperti itu bisa terjadi khususnya
terhadap aku, karena teman-teman yang lain sudah lancar semua? Tanganku sayang...kamu kenapa?

Monday, August 8, 2011

Rehat Sejenak

Kenapa bisa nulis-nulis gini di jam kerja? Seperti biasa kalau gak sistemnya rusak atau ada maintenance seperti sekarang. Maintenance kok di jam kerja ya? Harusnya diluar jam kerja. Tapi kadang kasihan juga ama bagian IT kalau harus pulang malam terus. Yah, hadapi aja deh dan berusaha tetap positif :)

Ada rasa senang sih berhenti sejenak dan bisa bernafas, tapi kesenangan ini hanyalah semu. Jiiiaaaah.. Gimanapun produktifitas menurun, dan kerjaan tidak bisa ditawar-tawar penyelesaiannya. Dengan kata lain bisa-bisa menambah jam kerja alias lembur lageee. Huhuhu...

Ket: foto di atas adalah hubby ku yg lagi "Rehat Sejenak" alias bobo ciang ^_^

Dingin dan Gemetar

Terdengar bunyi telfon masuk mengusik istirahat malamku. Aku lihat dilayarnya tertulis 12:31. Aku perhatikan nomor yang masuk, nomor dari daerah Sumbar namun tidak ada di daftar yang tersimpan di handphone-ku. Sambil menebak-nebak siapa yang menelfon, aku terima panggilan itu dengan suara kecil sedikit serak khas orang bangun tidur yang berusaha dikeraskan agar bisa didengar lawan bicara.

"Assalamualaikum Meli". "Waalaikumussalam", sahutku. Dari suaranya aku menduga ini adalah suara mantan roommate aku bertahun-tahun yang lalu. Masih dalam dugaan tersebut, "Meli belum tidur ya?, tanyanya dengan suara setengah yakin. "Sudah, ini dengan siapa ya?, jawabku setelah menemukan suaranya mulai tidak mirip dugaanku. "Ini Uni X yang dari Lb. Sikapiang". "Ooh Uni X", sahutku bertambah heran kenapa tengah malam nelfon ditambah sebelumnya kami tidak pernah telfon2an sama sekali. "Ada kabar apa malam-malam gini Ni?" "Hmmm.. Suami Meli kerja dimana ya?", sahutnya terpatah-patah mengeluarkan kata-kata. "Di bandara, kenapa Ni?". Tuuuuuut dan sambungan telfon pun terputus. Aku tunggu terus apakah akan ada telfon balik, ternyata tidak ada.

Tiba-tiba aku merasa kembali masuk ke sebuah suasana menegangkan ketika aku ditelfon Om dan Tanteku untuk menyampaikan berita penting di waktu Subuh. Mereka juga berbicara dengan tidak yakin dan terpatah-patah. Berbicara mutar-mutar dari kegiatan kuliahku hingga kangen sudah lama tidak bertemu karena tidak berani langsung menyampaikan berita sebenarnya dan tiba-tiba mematikan telfon. Sampai aku menemukan sendiri faktanya setelah datang ke rumahnya bahwa mereka akan mengabarkan berita meninggalnya mamaku. Badanku terasa dingin dan gemetar. Aku menenangkan hati, rasa dingin mendesakku untuk ke kamar mandi. Aku berjalan dalam gemetar. Hatiku berkecamuk membayangkan berita apa yang dibawanya. Aku mengumpulkan keberanian untuk menelfon balik.

Kembali ke kamar, badanku semakin mendingin dan aku menelfon suamiku yang masih bekerja. Sayang sekali dia sulit mendengar suaraku. "Nanti saja kita cerita di rumah ya", sahutnya. Aaargggh... Kemudian aku menelfon adikku di Bukittinggi. Aku seolah-olah mendengarkan bunyi detak jantungku dengan sangat jelas ketika nada tersambung. Aku menelfonnya karena aku ingin tahu apakah ini ada hubungannya dengan keluargaku di kampung.

Tidak perlu menunggu lama, dalam satu deringan telfon langsung diangkat. "Udah tidur, Dik?", tanyaku. "Belum, kenapa Ni?". "Kenapa belum tidur?", aku semakin khawatir. "Baru aja habis ngaji, uni kenapa nelfon malam2?". Aku pun menceritakan kejadian yang baru saja aku alami. Aku menanyakan keadaan keluarga di Bukittinggi dan papa di Padang. Adikku menyebutkan baik-baik saja. Aku terus bertanya untuk memastikan. Dia meyakinkan semua oke, bahkan Uda sedang ngobrol di luar. "Suaranya kedengaran kan?, tanyanya. Aku menceritakan kekagetanku dengan telfon tengah malam yang tiba-tiba putus, aku takut jika itu seperti kejadian dulu. Aku masih dikondisi yang sama, dingin dan gemetar. Adikku menenangkan, jika ada sesuatu hal, pasti kami di rumah ini yang lebih tau duluan daripada Uni. Uni tenang saja dan istirahatlah. "Baiklah, Uni akan nelfon balik ke Uni X, kl gak Uni gak bisa tidur mikirin ini sampai pagi", jawabku mengakhiri.

Mulailah aku hubungi nomor telfon Uni X. Berkali- kali, hingga 6x aku telfon selalu sibuk. Akhirnya aku kirim SMS. Lamaaa baru dibalas. Balasannya "Maaf ya Mel, Uni mau tanya apa ya tiket penerbangan yang paling murah untuk anak Uni pulang kampung? Ada hal penting dan dia harus pulang dalam 1-2 hari ini."

Ya ampuuuuun, lega dan lemas, ternyata dia sampai bela-belain nelfon aku tengah malam ini hanya untuk nanya tiket? Aku pun menjawab "Maaf, Meli juga tidak tau tentang harga tiket. Suami bertugas di penerbangan khusus jalur international, di bagian teknis, bukan penjualan tiket. Pastinya dia juga tidak tahu-menahu tentang harga tiket. Memangnya anak Uni mau pulang dari mana?". "Dari Depok Mel", sahutnya. "Coba aja cari Batavia Air, biasanya murah, bahkan Garuda pun terkadang bisa murah. Sebaiknya tanya ke travel, minta dicarikan penerbangan termurah", jawabku. "Terima kasih Mel, maaf mengganggu malam-malam."

Lega bahwa tidak terjadi apa-apa terhadap papa dan keluargaku, tidak ada hal yang perlu kutakutkan. Namun disisi lain sangat menyayangkan sikapnya kenapa harus membangunkan orang hanya untuk menanyakan harga tiket yang termurah? Aku tidak berani menelfon orang tengah malam. Hal itu bisa saja terjadi dengan orang yang sangat dekat. Misalnya menelfon adikku karena memang secara emosional kami sangat dekat, namun juga tidak pernah selarut itu dan biasanya aku mulai dengan SMS untuk mengetahui dia sudah tidur atau belum. Aku akan mikir berkali-kali agar tidak mengganggu waktu pribadi orang lain apalagi jika tentang suatu urusan yang masih bisa dilakukan esok pagi. Mungkin dia tidak tahu akibat telfon tersebut menyebabkan aku teringat kejadian di masa lalu hingga aku ketakutan, kedinginan dan gemetaran. Mungkin dia tidak tahu betapa hebatnya goncangan hatiku saat itu hingga terhubungkan dengan kejadian malam ini yang membuatku kembali teringat peristiwa tersebut. Jika saja dia pernah mengalaminya, tentunya dia akan tau betapa beratnya perasaan diaduk-aduk karena berita kehilangan orang yang dicinta? Mudah dibayangkan tetapi berat dijalani. Namun diluar semua itu, apakah dia tahu ataupun tidak, seharusnya dia bisa bertindak menurut kepantasan.

Aku tidak bisa melanjutkan tidurku. Selimutku sudah dipertebal tetapi tetap membuatku kedinginan dan gemetaran. Suhu kamarpun terbilang normal. Berbaring dalam dingin, aku raba ternyata dingin bukan di tubuh bagian luar, berarti dingin dari dalam. Hingga akhirnya kudengar pintu pagar rumah digeser. Yah, itu mamasku. Aku lihat pukul 01.31. Hah? Berarti tepat satu jam aku merasakan suasana tidak enak. Aku menceritakan semua kejadian ini ke suami. Nasehat dan kehadirannya akhirnya dapat mengembalikan aliran darah hangat ditubuhku hingga aku pun terlelap.