Terdengar bunyi telfon masuk mengusik istirahat malamku. Aku lihat dilayarnya tertulis 12:31. Aku perhatikan nomor yang masuk, nomor dari daerah Sumbar namun tidak ada di daftar yang tersimpan di handphone-ku. Sambil menebak-nebak siapa yang menelfon, aku terima panggilan itu dengan suara kecil sedikit serak khas orang bangun tidur yang berusaha dikeraskan agar bisa didengar lawan bicara.
"Assalamualaikum Meli". "Waalaikumussalam", sahutku. Dari suaranya aku menduga ini adalah suara mantan roommate aku bertahun-tahun yang lalu. Masih dalam dugaan tersebut, "Meli belum tidur ya?, tanyanya dengan suara setengah yakin. "Sudah, ini dengan siapa ya?, jawabku setelah menemukan suaranya mulai tidak mirip dugaanku. "Ini Uni X yang dari Lb. Sikapiang". "Ooh Uni X", sahutku bertambah heran kenapa tengah malam nelfon ditambah sebelumnya kami tidak pernah telfon2an sama sekali. "Ada kabar apa malam-malam gini Ni?" "Hmmm.. Suami Meli kerja dimana ya?", sahutnya terpatah-patah mengeluarkan kata-kata. "Di bandara, kenapa Ni?". Tuuuuuut dan sambungan telfon pun terputus. Aku tunggu terus apakah akan ada telfon balik, ternyata tidak ada.
Tiba-tiba aku merasa kembali masuk ke sebuah suasana menegangkan ketika aku ditelfon Om dan Tanteku untuk menyampaikan berita penting di waktu Subuh. Mereka juga berbicara dengan tidak yakin dan terpatah-patah. Berbicara mutar-mutar dari kegiatan kuliahku hingga kangen sudah lama tidak bertemu karena tidak berani langsung menyampaikan berita sebenarnya dan tiba-tiba mematikan telfon. Sampai aku menemukan sendiri faktanya setelah datang ke rumahnya bahwa mereka akan mengabarkan berita meninggalnya mamaku. Badanku terasa dingin dan gemetar. Aku menenangkan hati, rasa dingin mendesakku untuk ke kamar mandi. Aku berjalan dalam gemetar. Hatiku berkecamuk membayangkan berita apa yang dibawanya. Aku mengumpulkan keberanian untuk menelfon balik.
Kembali ke kamar, badanku semakin mendingin dan aku menelfon suamiku yang masih bekerja. Sayang sekali dia sulit mendengar suaraku. "Nanti saja kita cerita di rumah ya", sahutnya. Aaargggh... Kemudian aku menelfon adikku di Bukittinggi. Aku seolah-olah mendengarkan bunyi detak jantungku dengan sangat jelas ketika nada tersambung. Aku menelfonnya karena aku ingin tahu apakah ini ada hubungannya dengan keluargaku di kampung.
Tidak perlu menunggu lama, dalam satu deringan telfon langsung diangkat. "Udah tidur, Dik?", tanyaku. "Belum, kenapa Ni?". "Kenapa belum tidur?", aku semakin khawatir. "Baru aja habis ngaji, uni kenapa nelfon malam2?". Aku pun menceritakan kejadian yang baru saja aku alami. Aku menanyakan keadaan keluarga di Bukittinggi dan papa di Padang. Adikku menyebutkan baik-baik saja. Aku terus bertanya untuk memastikan. Dia meyakinkan semua oke, bahkan Uda sedang ngobrol di luar. "Suaranya kedengaran kan?, tanyanya. Aku menceritakan kekagetanku dengan telfon tengah malam yang tiba-tiba putus, aku takut jika itu seperti kejadian dulu. Aku masih dikondisi yang sama, dingin dan gemetar. Adikku menenangkan, jika ada sesuatu hal, pasti kami di rumah ini yang lebih tau duluan daripada Uni. Uni tenang saja dan istirahatlah. "Baiklah, Uni akan nelfon balik ke Uni X, kl gak Uni gak bisa tidur mikirin ini sampai pagi", jawabku mengakhiri.
Mulailah aku hubungi nomor telfon Uni X. Berkali- kali, hingga 6x aku telfon selalu sibuk. Akhirnya aku kirim SMS. Lamaaa baru dibalas. Balasannya "Maaf ya Mel, Uni mau tanya apa ya tiket penerbangan yang paling murah untuk anak Uni pulang kampung? Ada hal penting dan dia harus pulang dalam 1-2 hari ini."
Ya ampuuuuun, lega dan lemas, ternyata dia sampai bela-belain nelfon aku tengah malam ini hanya untuk nanya tiket? Aku pun menjawab "Maaf, Meli juga tidak tau tentang harga tiket. Suami bertugas di penerbangan khusus jalur international, di bagian teknis, bukan penjualan tiket. Pastinya dia juga tidak tahu-menahu tentang harga tiket. Memangnya anak Uni mau pulang dari mana?". "Dari Depok Mel", sahutnya. "Coba aja cari Batavia Air, biasanya murah, bahkan Garuda pun terkadang bisa murah. Sebaiknya tanya ke travel, minta dicarikan penerbangan termurah", jawabku. "Terima kasih Mel, maaf mengganggu malam-malam."
Lega bahwa tidak terjadi apa-apa terhadap papa dan keluargaku, tidak ada hal yang perlu kutakutkan. Namun disisi lain sangat menyayangkan sikapnya kenapa harus membangunkan orang hanya untuk menanyakan harga tiket yang termurah? Aku tidak berani menelfon orang tengah malam. Hal itu bisa saja terjadi dengan orang yang sangat dekat. Misalnya menelfon adikku karena memang secara emosional kami sangat dekat, namun juga tidak pernah selarut itu dan biasanya aku mulai dengan SMS untuk mengetahui dia sudah tidur atau belum. Aku akan mikir berkali-kali agar tidak mengganggu waktu pribadi orang lain apalagi jika tentang suatu urusan yang masih bisa dilakukan esok pagi. Mungkin dia tidak tahu akibat telfon tersebut menyebabkan aku teringat kejadian di masa lalu hingga aku ketakutan, kedinginan dan gemetaran. Mungkin dia tidak tahu betapa hebatnya goncangan hatiku saat itu hingga terhubungkan dengan kejadian malam ini yang membuatku kembali teringat peristiwa tersebut. Jika saja dia pernah mengalaminya, tentunya dia akan tau betapa beratnya perasaan diaduk-aduk karena berita kehilangan orang yang dicinta? Mudah dibayangkan tetapi berat dijalani. Namun diluar semua itu, apakah dia tahu ataupun tidak, seharusnya dia bisa bertindak menurut kepantasan.
Aku tidak bisa melanjutkan tidurku. Selimutku sudah dipertebal tetapi tetap membuatku kedinginan dan gemetaran. Suhu kamarpun terbilang normal. Berbaring dalam dingin, aku raba ternyata dingin bukan di tubuh bagian luar, berarti dingin dari dalam. Hingga akhirnya kudengar pintu pagar rumah digeser. Yah, itu mamasku. Aku lihat pukul 01.31. Hah? Berarti tepat satu jam aku merasakan suasana tidak enak. Aku menceritakan semua kejadian ini ke suami. Nasehat dan kehadirannya akhirnya dapat mengembalikan aliran darah hangat ditubuhku hingga aku pun terlelap.