Monday, December 2, 2013

Lombok

Yuhuuu... Siang ini mau ngeposting perjalanan di Lombok 31 September - 2 November 2013 yang lalu. Kami sejumlah 20 pegawai lintas unit (tidak seluruh pegawai di Divisi kami ikut, setiap unit mengusulkan pegawai terpilih), melakukan perjalanan ke Lombok dalam rangka workshop dan brainstorming serta membahas ide-ide dan konflik-konflik pekerjaan antar unit disamping penyegaran.  Pemilihan tempat di luar kota diharapkan dapat merilekskan pikiran peserta, sehingga hal-hal yang selama di kantor terasa membuat pusing dan tak jarang terjadi perdebatan antar unit bisa dibahas dengan lebih santai.

Kebetulan GM tidak bisa berangkat karena ada keperluan lain sehingga beliau menitipkan pesan via email "Tujuan workshop ini BUKAN untuk mencari alasan-alasan hebat, pembenaran mengapa sesuatu hal tidak tercapai atau tidak maksimal dicapai. Jadi apa tujuannya? Mencari banyak jalan keluar, celah baik secara own unit maupun cross unit. Tapi juga jangan kemudian menjadikan sesi ini berat atau terlalu formil atau memaksakan kehendak. Tolong buat sesantai mungkin, relax, biarkan ide-ide lepas, rasanya buat bebas tanpa ada bos. Jadi santai-santai memang tujuannya untuk refreshing sekalian brainstorming, dibuat se relax mungkin dan seolah sedang liburan sama teman team namun bertujuan menggali ide- ide segar. Ini butuh kebesaran hati semua pihak, ada sesi berbicara dan didengar namun pastikan juga setiap kita meluangkan waktu untuk sesi berdiam dan mulai mendengarkan. Hanya kebesaran hati mengalah yang akan mampu membuka pintu pencerahan dan solusi. Penting untuk meluruskan niat karena niat tulus dan benar akan mudah memperoleh pertolongan Allah. Pada akhirnya ini semua rumah kita bersama, perahu kita bersama, dayung bersama, tujuannya juga harus sama, jaga kecepatan yang sama di setiap unit. Insya Allah akan ada jalannya. Mari mendayung bersama."

Email masuk sehari sebelum berangkat dan semua aku rasa seragam mengucapkan "Oke deh booos!" hehehe... Asoooy!! Yang kebayang jalan-jalannya donk hiihihihi... Kami pun mempersiapkan semua materi yang diperlukan dan segala urusan administrasi surat dinas, dll. Kami berangkat  Kamis pagi penerbangan pukul 9, perjalanan lancar dan tiba di bandara Internasional Lombok menempuh perjalanan 1 jam 50 menit, sudah dijemput oleh tour guide yang kami sewa.

Seorang ibu perajin tenun, songket, ikat khas Lombok
Sebelum menuju restoran untuk makan siang, kami sempat mampir dulu di tempat kerajinan tenun karena searah, namun aku tidak membeli apapun.  Aku hanya mengagumi tenunan, ikat, songket dengan pola yang bagus, melihat pekerjaan yang rumit.  Aku ditawari untuk mencoba tapi kata guidenya kalau salah, gak boleh pulang, benerin dulu benangnya hhahaa.... Langsung deh bikin ciut nyali. Hanya sebentar di sana sekaligus berhenti untuk sholat Zuhur dilanjutkan makan di rumah makan lokasi tepi sawah.  Makanannya sederhana dengan rasa yang juga sederhana hehhe... Yang paling aku sukai sayur kangkungnya, karena ini yang bisa dibilang enak.

Nginep disini nih
Penginapan tampak depan
Jalanan hotel dipinggir pantai
Puas ngeliatin laut di hotel ini
Mba Ratih dan Ani lagi gebuk bantal
Aulia, Mba Ratih, Ani bernarsis ria di kamar
Contoh kamar
Hijau menyegarkan mata
Kolam renang Hotel


Kamar mandi, terang bisa hemat lampu

Kamar mandi, asyik kan

Kamar mandi, segaaar udaranya

Kamar mandi dengan batu-batuan alam

Kamar mandi, sayang lupa fotoin shower, ini malah foto narsis :P


Berasa main catur raksasa di film Harry Potter :P
Papan catur raksasa

Sore yang cerah
Perjalanan dilanjutkan ke Holiday Resort, salah satu hotel bintang 4 yang ada disekitaran Senggigi. Hotel-hotel saat itu banyak yang sudah penuh terbooking mengingat Senin tanggal 4 Nov-nya harpitnas, jadi banyak yang cuti panjang.  Hotel pengganti ini (sebelumnya memesan Senggigi Beach Hotel), ternyata juga bagus.  Yang paling aku suka dari hotel ini adalah kamar mandinya.  Pertama kali buka pintu kamar mandi, aku melihat pemandangan kita seolah-olah berada di ruang terbuka, dengan atap berbentuk kisi-kisi. Sempat khawatir bisa diintip dari luar, ternyata tidak. Ada batu-batuan dan tanaman-tanaman, sehingga aktifitas di kamar mandi yang selama ini di ruang tertutup, hanya dinding dan dinding di depan mata, berganti dengan pemandangan indah tanaman, batuan, serta udara yang segar.

Suasana workshop yang super santai
Mas Gesa dan Mas Hendri, eh Nurdin nyempil


Sampai malam masih terus aja nih

Ini masih pemaparan, yang diskusi sudah tidak ada fotonya
Hari itu langsung dilakukan workshop, sebenarnya lebih ke diskusi, ke brainstorming, ke debat-debat kecil hehehe... Setiap unit punya pandangan masing-masing. Masing-masing hasil kerja unit memberi dampak terhadap unit lain, saling kait-mengait sehingga sesi debat tidak terelakkan.  Beruntung suasana kondusif, hanya ngumpul di meja bundar dengan pakaian santai, dekat sekali dengan pantai, semilir angin, snack dan kopi hangat sehingga perbincangan seru hingga jam 10 malam pun masih di rasa kurang dan sepakat untuk dibahas sambil ngobrol-ngobrol ketika makan. Aku tidak mengikuti sampai selesai karena teman kamarku sedang masuk angin, jadi aku bertindak sebagai juru kerik dan pijit :P

Yeeey... Melaut!

Besoknya adalah trip ke Gili Trawangan.  Tour Guide kami yang mengaku bernama Sammy Simorangkir hehehe... dan minta dipanggil Bang Sam memandu perjalanan dengan menceritakan sejarah Lombok termasuk julukan Lombok sebagai Pulau Seribu Masjid.  Beliau berbicara dengan intonasi yang datar, bahkan untuk becandaan sekalipun suara dan mimik datarnya datar.  Aku yakin semua yang disampaikan ke kami sudah pernah disampaikan ke ratusan rombongan turis domestik lainnya yang pernah dia layani hihihi... Karena suara datarnya itu terkadang teman-teman yang lain tidak terlalu memperhatikan, sibuk dengan ngemil, atau ngobrol dengan teman sebelah, atau tidur-tiduran.  Bang Sam ini suka memberikan singkatan-singkatan yang seperti kata dalam Bahasa Indonesia namun ternyata punya arti yang berbeda versi beliau.  Seperti ketika aku serius mendengarkan penjelasannya bahwa nanti di Gili Trawangan kita akan banyak menemukan sumur.  "Oooh... sumur banyak ya di sana, mungkin belum ada kamar mandi modern", begitu pikirku. Tiba-tiba dia langsung menyambung dengan intonasi datar "SUs* dijeMUR" wkwkwkwk.... Gelo nih Bang Sam.  Dia mau menggambarkan bule-bule yang memang suka berjemur dengan pakaian minim melalui sebutan "sumur".  "Di sini juga banyak orang-orang murtad", sambungnya. Oya, kami heran, kenapa, apa alasan ekonomi misalnya? Beliau melanjutkan, banyak yang jeMUR p*nTAD(T) huwaaa... Aku mesam-mesem aja, geli juga sih ngebayanginnya hahahah... Yang lain ada yang ketawa ada yang gak peduli, ada yang tidur. Kemudian beliau kembali menceritakan tentang Lombok, mulai terdengar serius menceritakan sejarah tahun sekian, ketinggian gunung sekian, dan semua angka-angka lain yang padahal kalau beliau mengarang indah dengan intonasi mantap juga kita pasti ho-oh nganguk-ngangguk aja hihihih....

Contoh "sumur" atau "murtad" hihihih...
Setelah mendekati penyeberangan menuju Gili. Bang Sam kembali menceritakan sejarah penangkapan Susno Duadji oleh KPK. "Semua pasti tau Bpk. Susno Duadji kan?", tanyanya membuka pembicaraan.  "Sehari sebelum ditangkap KPK, beliau diketahui sedang berada di Gili Trawangan loh". Oya? Wah apes banget, abis enak-enakan liburan ke Gili Trawangan, eh malah besoknya ketangkep. Begitu kira-kira reaksi kami. Masih dengan suara dan muka datar tanpa ekspresinya dia bilang "Iya di Gili Trawangan itu ada Susno Duadji - S*s* nongol dua biji- Ooohh... Pleaseeeee deeeh Bang Sam.. Wkwkkw... akhirnya dia baru ikutan senyam-senyum.  Jangan-jangan semua tour guide disini punya kamus yang sama ya, aku curiga gitu deh.  Itu hanya segelintir singkatan ajaib yang beliau lontarkan, masih banyak yang lain sampai kami bilang, ntar bikin dalam laporan hasil workshop dan nanti juga dijadikan pertanyaan ujian hahhaha....

Kapal digoyang ombak, pegangan oii..
Menyeberang dengan kapal sekitar 30 menit, cuaca cerah di hari Jumat barokah. Memang kami bertemu dengan "sumur-sumur" dan "Susno Duadji-Susno Duadji" di sana hihihi... bahkan akhirnya ketika melihat cowo yang juga berjemur, aku spontan bilang, "Ternyata bukan hanya "sumur" loh yang banyak di sini, ternyata banyak cowok-cowok yang "murung" juga ya. wkwkwkwk... Pada ngakak. Iiih tau kan ya artinya "murung" halaaah... jangan pura-pura gak mudeng deh ih. Ngaku aja kalau tauu :P

Cidomo dan deretan sepeda sewa

Mari kita berpetualang
Gili Trawangan itu cantik, tapi entah kenapa tidak sempat foto-foto pemandangannya yang banyak.  Setelah istirahat sebentar di tempat makan yang juga sebagai tempat kumpul sementara, saatnya berpencar. Oya hari itu juga ketemu dengan artis.  Awalnya Ani temanku bilang saat ada sepeda melewati kami yang sedang berdiri mencoba alat snorkeling, eh itu Blablabla Jamil sambil menunjuk ke arah sepeda yang melintas persis di depan kami, (blablabla itu maksudnya aku tidak terlalu mendengar dengan jelas Ani bilang apa, tapi aku menyangka Syaiful).  Aku langsung melihat ke rombongan, "Bukan Ani, itu bukan Syaiful Jamil, tapi Dimas Seto, eh itu ada Tomi Kurniawan juga, eh itu...ooo itu yang elo maksud ya Ni, Ibnu Jamil ya, gw sangka lo bilang Ipul Jamil hehehe...".  Sebenarnya rombongan mereka banyak, yang bisa dikenali dalam waktu sekejap lewat itu hanya Ibnu, Dimas dan Tomi, kami tidak sempat melihat yang lain karena mereka bersepeda sedangkan kami hanya berdiri ditempat sambil tebak-tebakan nama, ditambah pake salah dengar hahhaa... Kegiatan hari itu bebas memilih, ada yang naik sepeda, snorkeling, naik glass bottom boat untuk melihat karang-karang, naik Cidomo. Cidomo adalah Cikar (alat angkut dengan penarik dari kuda), dokar (alat angkut dengan bahan dasar kayu) dan motor (karena alat angkut ini menggunakan roda mobil) dan disingkat menjadi Cidomo.  Aku memilih naik glass bottom boat ingin melihat karang di bawah laut dan tanpa snorkeling yang basah-basahan, ternyata pilihanku salah.  Kaca di dasar kapalnya tidak terlalu jernih, dan karangnya sendiri yang tidak terlihat cantik.  Akhirnya cuma memperhatikan teman-teman yang snorkeling tetapi pada gak bisa, berakhir dengan berenang gaya mengambang saja alias pakai pelampung hehhehe... Mendingan tadinya aku naik Cidomo aja ya atau minimal sepeda deh bisa mengelilingi pulau, bisa mampir jajan dulu hiks....

Tim snorkeling
Yah, gini mah main air doank hehehe...

Aulia yang paling semangat berenang
Setelah tim snorkeling naik ke kapal kami, kapal kembali mengarah ke darat, kami pun segera bersih-bersih dilanjutkan makan siang.  Disini makanan prasmanan paling enak yang aku rasakan sejak hari pertama di Lombok.  Menunya sederhana tetapi semua bumbu dalam takaran yang pas sehingga gulai tempe dan tahunya terasa enak, sayur kangkungnya pas dilidah, ikan saus asam manisnya lezat, ayam gorengnya asoi, kerupuknya garing *review yang aneh. Cukup lama di sana masih menunggu teman-teman yang berpencar.  Aku duduk main kejar-kejaran dengan kucing putih gendut yang galaaaak banget.  Kucingnya gak mau didekati, langsung lari.  Pas aku berjalan menuju kamar mandi di lantai bawah, baru aku tau kenapa kucingnya galak.  Walaupun masih perkiraanku saja, kucingnya galak karena kurang kasih sayang.  Kebetulan ketika aku berjalan, salah satu karyawan di sana sedang mengusir dengan menendang-nendang si kucing.  Oo pantas saja kucingnya sangat sensitif dengan kehadiran manusia, takut ditendang euy. Padahal kucingnya lucu banget, putih genduuuut.  Di rumahku kan gak pernah ada kucing putih bersih polos gitu huhuhu.... Sabar ya kucing lucu.

Tampang-tampang capek habis dari laut
Keluar dari kamar mandi untuk cuci muka, aku balik ke lantai atas. Aku lihat lantai atas kosong, tidak ada satupun orang di atas. Pada kemana ya? Bergegas turun lagi, lihat di bawah siapa tau sedang ngumpul dimana eh juga gak ada. Aku langsung menemui salah satu karyawan di sana, ternyata rombongan teman-temanku sudah berjalan. "Baru jalan kok Mba, ke arah sana", kata karyawannya sambil menunjuk arah.  Namun aku tidak melihat segerombolan orang berjalan ke arah yang ditunjuk.  Mas boleh minta tolong telfonin guide nya karena saya lagi pakai nomor esia ternyata di sini gak dapat sinyal.  "Oh, iya, ini saya sedang menghubungi kok." "Makasih ya mas, saya sambil jalan ke arah sana".  Eh bener aja gak lama langsung ketemu Bang Sam yang tergopoh-gopoh balik sambil bilang maaf ya Mba Meli. Wkwkkwk... yang ada aku ketawa. Abis lucu aja membayangkan aku ditinggal pasukan.  Ternyata sampai di dekat kapal, teman-teman lago foto2, kemudian naik kapal, dan ketika mulai duduk baru menyadari, eh Meli mana? Hihihiih... untung belum nyampe Lombok lagi baru sadar.  Bisa-bisa aku bengong apalagi bisa akses internet dari HP, sepiiii cyiin. Sejak saat itu setiap naik mobil lagi, pasti ditanya "Meli udah ada?" wkwkwk....

Hujan, langit gelap tapi ada pelangi. Keliatan kan pelanginya?
Setelah pasukan lengkap, saatnya menaiki kapal.  Waktu saat itu diatas jam 15, aku lupa persisnya.  Kapal mulai melaju membelah laut.  Kami masih ketawa-ketiwi saling bercerita tentang pengalaman masing-masing.  Angin sangat kencang, langit terlihat aneh, pada satu sisi terlihat pelangi namun disatu sisi terlihat kelam.  Hujan mulai turun, kapal terasa semakin berayun kena ombak yang semakin besar. Nahkoda kapalnya memberi tanda ke temannya yang diujung belakang untuk mengarahkan laju kapal.  Kapal mulai terasa sangat mengguncang tubuh, miring ke kiri dan seperti hendak jatuh, suasana menegang.  Terdengar teriakan nahkoda, yang sebelah kiri pindah ke kanan sebagian, seimbangkan kapal.  Tiga orang teman yang sebelumnya berdiri bergelantungan di kapal dibelakang nahkoda kapal berikutnya mendapat giliran diteriakkan untuk duduk oleh kami karena bisa menghalangi pandangan dari belakang.  Tiba-tiba suasana terasa mencekam, ombaknya sangat besar, disusur kilat, petir dan hujan.  Air mulai masuk dan menampar wajah dan tubuh kami setiap kapal yang oleh berhasil lurus kembali. Huwaaaa... Aku takut.  Aku lihat sekeliling, semua diam dan kaku sambil berpegangan di kayu samping kapal masing-masing.  Perut serasa diaduk-aduk.  Ada mual bercampur perasaan ingin kebelakang. Huhuhu... Aku lirik lagi seorang teman yang jago berenang, dia sedang mengencangkan tali pelampung, bahkan sampai diikat. Aku lirik lagi ada yang tidak kebagian pelampung, semoga dia bisa renang.  Untung aku punya pelampung, tapi kalau kapal ini terbalik tetap saja aku akan kelabakan karena memang aku tidak bisa berenang.  Bayangan kapal terbalik, kami mengapung di laut, terlintas Film Titanic membuatku  semakin kencang berdzikir.  Bener-bener deh, disaat rasanya maut di depan mata, penyerahan diri jadi total walaupun bercampur ketakutan teramat dahsyat, kalau aku meninggal bagaimana mamas huhuhu... Teman disampingku juga sibuk komat-kamit berdoa. Waktu yang seharusnya sekitar 30 menit menyeberang itu menjadi panjang karena kapal tidak terlalu lancar berjalan ditambah lagi terasa semakin panjang dengan ketakutan-ketakutan. Tak jarang terdengar teriakan-teriakan kaget.  Alhamdulillah akhirnya Allah masih mengizinkan kami untuk selamat, kapal merapat ke pantai, aku langsung mencari kamar mandi.  Perutku benar-benar teraduk-aduk.

Mas Awal belagak jadi supir

Indra dan Mas Idris jadi penumpang

Mas Gesa pura-pura bayar hahaha gelooo..
Setelah itu perjalanan langsung dilanjutkan untuk kembali ke Lombok.  Muka-muka pucat masih terlihat namun berangsur-angsur mulai berseri lagi setelah ngobrol-ngobrol.  Salah satu teman (cowok) bilang "Tadi itu beneran ngeri, gw juga takut". "Gw apalagi Mas, takut bangeeeet, gak bisa renang", sahutku. "Gw bisa renang aja takut, apalagi Uni Meli ya, udah kaya mau jihad tadi, Allahu Akbar, istighfar, shalawat" katanya ngeledekin.  Hahahha.. Jadi ingat dulu pernah dikeluarin mata ikan dari kakiku oleh temanku yang dokter, didampingi mamas, aku tidak teriak, hanya mengucapkan Allahu akbar, istighfar, shalawat.  Pas kejadian sih mamasku diam aja, ikut tegang memperhatikan darah keluar, tapi setelah selesai semua aku dibecandain "Tadi orang-orang yang diluar ruangan dan mendengar pasti mikirnya ada apa ya? Kayanya ada yang mau pergi jihad tuh di dalam" wkwkwkkwwk..... Kembali ke topik, perjalanan dilanjutkan ke tengah kota Lombok berkeliling untuk mengetahui dimana sih kotanya, mampir juga ke Lombok Bunga Mutiara, tempat kerajinan genuine pearl disana, mereka menjamin mutiaranya asli dengan memberikan sertifikat.  Aku sempat iseng bertanya harga sebuah gelang.  Untuk yang mutiara air tawar ini harganya 800ribu, untuk gelang yang mutiaranya dari air laut harga 1,2jt.  Wow.. mutiara ternyata mahal ya, baru tau, norak deh ih hahah.. Soalnya selama kami makan di manapun, selalu saja ada sekelompok penjual mutiara di depan tempat makan, yang menjual cincin hanya 10 ribu, bros hanya 20 ribu hihihi... Aku pikir yang asli sepuluh kali lipatnya deh, ternyata lebih.  Di sana aku juga tidak membeli apa-apa karena aku tidak menggunakan aksesoris di jari kecuali cincin pemberian mamas. Jadi yang aku lakukan saat menunggu yang lain melihat-lihat mutiara adalah menghubungi mamas, karena ternyata di sana ada sinyal Esia nya. Aku langsung rekam suaraku menceritakan perjalanan hari itu, dikirim via whatsapp ke mamas.  Eh mamas balasnya dengan menelfon langsung, kangen dengar suara aku secara langsung hohohoho.... * bangga

Ini yang murah meriah Rp.10.000,- hihihi..
Dijual di depan setiap rumah makan
Sore itu juga dilanjutkan ke toko oleh-oleh makanan, pindah ke toko oleh-oleh pakaian.  Nah, di toko oleh-oleh makanan deh aku baru belanja-belinji karena ada kacang mete segala rasa yang merupakan favorit mamasku.  Aku beli lumayan banyak, termasuk oleh-oleh untuk teman-teman di unitku yang tidak ikut ke Lombok. Di toko pakaian, di toko tenun ikat dan songket aku tidak berbelanja, hanya melihat-lihat saja.  Aku hanya sebatas suka melihat, tapi tidak tertarik untuk membeli, mungkin karena produknya tidak untuk sehari-hari, jadi tidak berhasil menarik minatku.  Belanja oleh-oleh sampai langit menggelap, selanjutnya perjalanan dilanjutkan untuk makan malam.  Bang Sam seperti biasa, dengan intonasi datar, mimik datar itu mengatakan "Kita akan makan disebuah tempat yang asyik. Pernah dengar Ayam Taliwang kan? Kita akan kesana". Enak gak?", celetukku.  "Pasti enak donk saya jamin semua suka. Sekarang kita sudah hampir sampai di tempat Ayam Taliwang yang lezat yang saat peresmiannya dilakukan oleh Rhoma Irama" .  Aku dan teman-teman yang memang sudah terbiasa dengan gaya bicara Mr. Flat selama 2 hari ini menaruh kecurigaan dengan pernyataannya. Kami langsung melirik ke tempat dimaksud dan melihat tulisannya "Ayam Taliwang Irama", langsung serempak bilang huuuuuuu...Bang Sam akhirnya ikutan ketawa, tidak lagi memasang tampang flat nya itu.  Memangnya LCD TV "Flat" wkkwkwkwkw...

Kami menuju meja masing-masing, ternyata sudah disediakan sepiring Ayam Bakar + Ikan Bakar dan sepiring plecing kangkung.  Ini pertama kali aku makan plecing kangkung, jadi semacam kangkung direbus, diberi sambel, ada kelapa urap, ada kacang tanah.  Untuk sambel plecing kangkung biasa aja sih rasanya menurutku, rasa terupgrade karena kacang tanah dan kelapa urapnya. Pas pertama nyoba ayamnya, yang bikin aku penasaran adalah sepedas apa ayam taliwang ini karena berdasarkan kabar burung, ayam taliwang itu pedasnya "jahanam".  Ternyata pas aku coba gak pedas sama sekali.  Aku tanya yang lain tidak ada satupun yang bilang pedas. Kecewa sih, penasaranku tidak terobati, untung bumbu ayamnya enak, jadi termaafkan hehehe... Pas mau keluar, aku melewati meja tamu lain yang baru disuguhi ayam dan ikan bakar, aku mendengar pelayannya menyebutkan "Ini bu, yang sedang". Wah, jangan-jangan ada pilihannya ya, tidak pedas, sedang, pedas, pedas sekali, pedas "jahanam" heheheh... Gara-gara tidak dapat pedasnya, aku berniat kalau sampai di Jakarta mau cari Ayam Taliwang lagi deh, katanya ada di Jakarta, mau cari yang pedas. Masih penasaran. Ayo mamaaaas, kita cari Ayam Taliwang!

Dari Ayam Taliwang, langsung ke penginapan. Sampai di rumah, langsung mandi di bawah kucuran air hangat memandang batu-batuan dan tanaman.  Tapi kalau mandi malam aku selalu takut. Takut tiba-tiba di balik tanaman ada "sesuatu" wkwkwkwkw... Jadinya untuk menghilangkan takut, aku selalu memanggil temanku di kamar sebelah, menyuruhnya ikutan mandi hihiihi... Trus selama mandi ngobrol. Gpp kan ya, yang penting enjoy :P  Tidur malam itu terasa nyenyak setelah perjalanan yang melelahkan.

Ini dia Bang Sam dengan Kendi Maling :P
Contoh kerajinan gerabah
Paginya setelah mandi, seperti rutinitas dua hari sebelumnya satu persatu bergerak untuk sarapan.  Menunya beragam standar hotel-hotel berbintang, dan semuanya enak. Pagi itu kami juga sudah packing barang-barang untuk langsung check-out hotel. Aku dan teman kamarku tidak perlu packing lagi karena kami sudah melakukannya tadi malam sebelum tidur, jadi pagi sudah santai, tinggal menikmati pagi terakhir di hotel. Sekitar pukul 10 waktu setempat, yang berarti jarum menunjukkan pukul 9 pagi pada jam tanganku (males nuker hehehe...), kami pun bergerak meninggalkan hotel. Kami diajak Bang Sam untuk mengunjungi tempat kerajinan gerabah.  Diperkenalkan sebuah Kendi Maling, yaitu semacam teko penyimpan air yang cara memasukkan airnya dari bawah (pantat kendi), kemudian jika dituangkan secara normal seperti penggunaan teko pada umumnya, air tidak keluar. Bang Sam bangga mempertontonkan caranya seolah-olah sebagai Master Sam (temennya Master Corbuzier) yang baru saja berhasil mempertontonkan sulap tingkat tingginya hihihihi.... Seperti biasa, aku gak beli apa-apa. Hihihi.. tumben banget sih. Biasanya kalo jalan-jalan gitu aku paling getol belanja.  Gak tau deh, nafsu menurun kayanya :P

Tempat sumbangan sukarela di kampung Sasak

Ibu penduduk asli Sasak yang suka senyum

Mejeng dulu yuk

Rumah dengan "semen" kotoran sapi. Rumahnya pendek ya.

Anak-anak asli Sasak

Bagian dalam rumah, tanpa jendela

Plafon rumah
Dari kerajinan gerabah kami bergerak ke rumah asli orang suku Sasak. Semacam rumah percontohannya yang bisa dikunjungi dan cukup memberikan sumbangan dalam kotak kardus di meja yang disediakan. Sejarahnya lantai rumah ini merupakan campuran tanah liat dan kotoran sapi, semua tanpa semen.  Membayangkannya semua langsung bergidik.  "Bau busuk gak Mas?", tanyaku ke Bang Sam (eh kok perkenalan dirinya Bang Sam, aku selalu manggil Mas ya? Gak berhasil perkenalannya hihii..). "Oh, rumah itu ketika masih basah, bau, tapi kalau kering tidak bau lagi, setiap beberapa waktu sekali akan diberi "Semen Empat Kaki" lagi untuk menutupi yang retak-retak.  Sebutan nama semen itu dari Bang Sam yang terinspirasi dari Tiga Roda untuk menggambarkan jumlah kaki sapi sebagai bahan utama "semen alami" itu hihihii... Sampai disana kami disambut dengan penjelasan panjang lebar tentang rumah Sasak ini. Diceritakan bahwa jika sebelum punya anak, suami dan istri tidur berdua di dalam, tapi jika sudah punya anak satu, suami akan selalu tidur di luar teras ini saja.  Kami pun masuk ke rumah tersebut, gelap, ada lampu kecil 5 watt yang dinyalakan setelah aku menanyakan lampu.  Rumahnya cuma satu ruangan, kecil sekali, dinding dari anyaman, tidak ada jendela, satu-satunya jendela ya sekaligus pintu masuk di depan. Itu dimaksudkan untuk mempersulit anak gadis "diculik" jika sudah dewasa. Diculik itu adalah adat mereka bahwa anak gadis yang sudah cukup umur dan mau menikah tidak di lamar oleh pihak laki-laki, tetapi diculik, lari dari rumah, kemudian baru ada pertemuan keluarga.  Melihat rumah yang sangat sederhana ini membuat rasa syukur terhadap tempat tinggal kita saat ini menjadi berkali-kali lipat.  Tidak ada perabotan untuk tidur, apalagi lemari. Semua di lantai yang terbuat dari tanah dan kotoran sapi tadi, memasak pun tungkunya di dalam.  Kami yang hanya sebentar masuk, pas keluar langsung keringetan, panas, ngos-ngosan.  Luar biasa orang Sasak, hidup bahagia dalam kesederhanaan.

Pantai Kuta Lombok

Cerahnya Pantai Kuta Lombok

Dekat Novotel

Langit berawan

Penjual kain tenun songket

Adem


Liat butiran pasirnya, bulat seperti merica kan?

Pengen berendam karena jernih
Selanjutnya perjalanan diteruskan ke daerah Kuta Lombok.  Digambarkan di sana ada pantai yang bagus, dekat dengan Novotel, yang saat ini baru satu-satunya hotel bintang 4 disana, sehingga harganya sangat tinggi.  Hotel ini pernah disinggahi Presiden SBY.  Sebelumnya makan siang dulu baru diajak ke pantai dekat Novotel.  Di perjalanan menuju pantai dekat Novotel itu, di sisi kanan jalan terlihat puing-puing bangunan, masih berantakan. Ternyata baru saja dilakukan penertiban bangunan dan penjual disana, agar dari jalanan pantai dan laut langsung terlihat, tidak tertutup toko-toko.  Sayang sekali kami datang ketika masih belum rapi.  Sampai di Pantai Kuta kami langsung menuju pasirnya yang katanya berbeda. Benar saja, pasirnya bulat-bulat besar, mirip sekali dengan butiran merica. Aku terkagum-kagum melihatnya, lucu rasanya.  Aku bahkan sempat memindahkan pasirnya ke dalam botol aqua kecil buat dipamerin ke mamas nantinya hihihii... Ternyata pantai Kuta Lombok ini cantiiiik sekali.  Disana masih sepi, pantainya masih bersih, dan mba-mba yang berjualan songket menjualnya dengan harga murah, hanya ditawarkan 50 ribu, berbeda jika beli di tengah kota yang mencapai ratusan ribu.  Tapi lagi-lagi aku gak beli hehehhe... Cukup lama kami di Pantai Kuta Lombok, sekedar jalan-jalan di pasir yang menelan kaki kita lebih dalam dibandingkan pasir biasa, duduk-duduk menikmati semilir angin ditengah teriknya cuaca, bermain air, berfoto.  Indahnya ciptaanNya.  Pantai Kuta Lombok ini adalah tujuan terakhir kami sebelum akhirnya bergerak menuju bandara.

Di Bandara mulai berpencar-pencar, masih banyak yang ingin membeli oleh-oleh. Biasalah, kalau detik-detik terakhir itu serasa semua menjadi penting dan takut kalau tiba-tiba kekurangan oleh-oleh hehehe... Aku sih duduk saja nyantai aja di Executive Lounge bareng yang lain. Gak terlalu berminat makan lagi meskipun gratisan hehehe...Ternyata penerbangan delay satu jam huhuhu... Mundur lagi deh pertemuan sama hubby.  Aku udah kangen banget lihat hubby serta kucing-kucing sayangku.  Seperti biasa aku tidak memasukkan tas ke bagasi biar cepat keluar bandara.  Sesampainya di bandara aku langsung naik shuttle bus menuju terminal 2D dimana mamasku bekerja dan hari itu masuk kerja.  Aku diantar pulang dan mamas kembali lagi ke kantor, baik banget ya mamasku, padahal aku kan bisa pulang sendiri. Yah, begitulah cinta *geer.

Sesampainya di rumah, aku merasakan lagi atmosfir yang menenangkan. Seasyik-asyiknya di luar, tetap lebih enak di rumah, lebih nyaman karena ada hubby tercinta. Hmmm....semoga ada kesempatan untuk kembali lagi ke Lombok tentunya dengan hubby tersayang dengan perjalanan yang Insya Allah lebih seru aamiin ;)


4 comments:

  1. wuih bacanya seakan hanyut dlm petualangan meli ke lombook.. seru yaa, tp teteeup jalan2 itu lebih enak klo sm suami hihi..
    itu si Bang Sam nice try banget ya bikin joke hahaha... "sumur", "murtad", trus "susno duaji"? hahahaha... udah serius2 dgrnya taunya dia nge-jayus, dgn muka datar lagii.. itu pasti berhasil bgt bikin org kecele dgrnya..khihkhikhi lucu bgt :D.

    Btw, hotelnya bagus jg ya kamarnya.. tp foto kamar mandinya manaaa.. katanya yg paling menarik itu malah ga ada fotonya.. iih jd penasaraan.. :p

    ReplyDelete
  2. Iya Ikaaa...pengen sama suami, pasti lebih seru deh hehehe...
    Bisa aja tuh si Bang Sam, gw curiganya itu udah jadi joke umum disana deh, ntar kalau lo ke Lombok, coba rajin2 dengerin guide nya ya hihihi... mungkin aja sama, atau siapa tau ada singkatan yang lebih up to date hahahha... Jayus abis emang, liat deh fotonya, mukanya ya senyum tipis gitu aja setiap ngomong atau malah keliatan serius tapi ujung-ujungnyaaaa...... wkwkwkw..

    Eh iya, itu kamar mandi lupa foto secara keseluruhan, gak ada foto showernya dan equipment kamar mandi pada umumnya. Gw sibuk mengagumi udara terbuka gitu jadi lupa foto keseluruhan deh.. Udah gw edit lagi, tambahin beberapa foto di atas. Semoga bisa dibayangkan bentuknya ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. woooh kya gitu ya kamar mandinya, sm kya waktu gw jd usher di acara kantor dulu di Rancamaya Golf, kamar mandi vilanya kya gitu, awal liat excited bangeet, eh pas mau mandi grogi takut ada yg ngintip dan jd ga tenang gitu mandinya hehehe norak bgt ya.. trus klo malam2 mau pipis, ada angin2 malam gitu masuk ke dalam, klo mandi malam2 dijamin masuk angin hihihihi..

      Delete
  3. Hahhaha... gw juga awalnya takut ada yang ngintip, tapi ternyata gak keliatan kok. Itu kan hotelnya bertingkat, dari atas gak keliatan sama sekali, aman. Untungnya gw mandi malam gak masuk angin, cuma ya itu takuuut huhuhu... makanya gw ngobrol ama teman di kamar mandi sebelah, nyuruh dia mandi juga, secara ada tanaman, trus khayalan gw ada yang ngintip dibalik tanaman2 itu hiiiiyyyyy...

    ReplyDelete