Yuhuuuuuu....
Ahaaaayyy!!!
Alhamdulillaah ya Allah.....
*jingkrak-jingkrak seneng*
Blog ini berisi segala hal yang menggelitik hati dan pikiranku untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Tidak ada pengkhususan tema tertentu, semua ditulis sesuai pengalaman sehari-hari saja. Terima kasih untuk yang semua yang berkunjung dan bersedia meninggalkan jejaknya disini ^_^
Sejak ada Facebook (FB), aku mulai mengabaikan Friendster. (FS) Sebenarnya sih gak ada maksud seperti itu, tapi memang kontak dengan teman-teman sudah sangat jarang sekali dilakukan melalui FS. Dulu sewaktu FB belum menjamur, FS lumayan berjaya. Bahkan aku sempat-sempatnya nyoba ganti2 backgroundnya, pasang tulisan berwarna di profile *tapi gak norak warna/i ngeblink2 kok hehhe..*, tulisan yang bergerak, dan pasang lagu di profile biar yang mampir kehibur cieee.. sekarang benar -benar sepi alias mati suri cuy.
"Cieee…akhirnyaaaa..."
"Jadi kapan nih Mel?"
"Udah ketemu donk ama keluarganya?"
"Mereka baik kan ama lo?"
"Tinggal makan-makannya aja nih."
"Akhir tahun ini kan ya?"
"Kapan?"
"Dimana?"
"............................"
Pagi-pagi masuk kantor udah disambut pertanyaan seperti diatas dari orang yang berbeda-beda. Butuh waktu sekian detik untuk menyadari pertanyaan mereka. Hihihiihi....aku langsung menahan geli waktu mengerti arah pembicaraan itu. Ini pasti ada hubungannya dengan cutiku kemarin. Aku baru saja cuti selama dua hari (26-27 Oktober) ke Jogjakarta dan ternyata itu diartikan teman-teman sebagai bagian dari perkenalan dengan keluarga my future King (insya Allah). Mengetahui kondisi ini, dan mengingat bakat terpendamku yang sering diincar Riri Riza dan Mira Lesmana, aku langsung berakting shy-shy cat *iya, kamu gak salah ngartiin kok...malu2 kucing* yang bikin orang-orang makin penasaran.
Pertanyaan semakin menjurus dan memanas. Aku pura-pura cuek sambil meletakkan beberapa kotak bakpia ke meja yang terpisah-pisah. Bahkan ada yang nanya “kapan tanggalnya? Jangan mendadak ya..biar bisa diatur jadwal perjalanan dinas kesana”. Heheheh...Teman-teman pada baiiiiik banget ya, secara tak langsung harapan mereka tersebut menjadi kata-kata yang dengan sungguh-sungguh terucap dalam hatiku berupa sebuah doa. Semoga semuanya menjadi mudah, lancar dan mendapat ridho-Nya amiin.
Tapi....bukan itu kenyataan sesungguhnya temans. Kepergianku ke Jogja gak ada hubungan sama sekali dengan praduga *halaah bahasanya* teman-temanku itu. Aku pergi kesana diluar perencanaan sebelumnya, atau biasanya aku gunakan istilah Ilmu Koncek (Katak), bilo takana inyo maloncek (pas kepikiran langsung dijalanin). Ceritanya Sabtu siang (24 Oktober) aku nelfon sahabatku, mau mengajaknya jalan ke mall untuk makan siang dan belanja keperluan harian di kost. Terjadilah percakapan seperti ini:
M: ”Assalamualaikum Tek (Tante - red). Dimana posisi kamu nih?”
P: ’Waalaikumsalam. Aku di BNI Plangi nih lagi transfer uang. Ternyata BNI buka ya Sabtu."
M: ”Iya emang buka dibeberapa tempat. Mo transfer ke rekening gw ya? Hehhe..Jalan yuuk”
P: ”Hhehe...gw mo berangkat ke Jogja hari ini, dapat tiket gratis PP dari temennya Nela.”
M: ”Hah? Sumpe lo? Gimana cara?”
P: ”Temennya batal berangkat, tp klo seandainya tiket ini gak berlaku, gw mo beli tiket go show aja. Td udah dicek murah kok tiketnya. Lo mau ikut?”
M: ”Mau bangeeet...masih ada tiket gratisnya gak? Hehehhe...”
P: ”Gak ada, eh gw udah deket kos nih. Lo pikir-pikir dulu sana tapi jangan lama-lama.”
M: ”Oke...Cepetan pulang, mampir ke kamar gw dulu yaa..”
P: ”Oke”
Tak berapa lama berselang, terdengar ketukan super dahsyat dipintu kamarku. Gak ada peluang untuk meragukan lagi keabsahan gedoran seperti itu yang hanya milik Pepenk seorang hahahha.... Dia masuk, dan sesuai standar ”kepolisianku”, aku menginterogasinya dengan berbagai macam pertanyaan 5 W + 1 H seputar rencana itu. Kesimpulannya aku akan ikut mengingat pesertanya dari Pekanbaru dan Bandung dan pengen jalan-jalan mumpung masih jomblo hehhe....Satu hal yang menjadi ganjalanku untuk ke Jogja adalah masalah libur karena berarti aku harus mengambil dua hari cuti dengan rencana perjalanan berangkat Sabtu dan pulang Selasa. OMG...Aku memutar otak bagaimana caranya untuk minta ijin atasan secara aku juga akan mengajukan cuti pulang kampung dalam beberapa waktu ke depan. Waktu berkisar hampir pukul 12 siang saat itu. Pepenk harus berangkat cepat karena penerbangannya jam 1. Aku langsung telfon travel agent untuk menanyakan harga sekaligus booking tiket biar gak hilang sementara aku terus berpikir. Setelah booking tiket, aku memikirkan cara minta ijin. Aku gak mau bikin alasan sakit atau alasan-alasan lain yang mengarang indah. Pepenk kembali ke kamar untuk packing dan membiarkan aku mencari keputusan berangkat atau tidak.
Aku telfon hunhun ku dan keluarga di kampung untuk mengabarkan rencana ini, dan mereka mendukung. Oh..senangnya, dapat poin 1. Time limit untuk booking-an tiketku hanya berselang 15 menit. Aku mau telfon bosku, eh ingat ada yang pertama harus ku telfon yaitu yang akan menggantikan kerjaanku selama cuti. Aku telfon dengan berdebar-debar, dan dengan jujur bilang mau ke Jogja selama dua hari. Diluar perkiraanku, tidak membutuhkan rayuan maut untuk membuat dia mengatakan ”ya gpp kok, smsin aja user id dan password kamu jika ternyata user id ku tiba-tiba bermasalah, untuk jaga-jaga aja, yang penting oleh-olehnya ya!”. ”Oke deh maaaaaaaasss, tengkyu yaaaaaaaaa.”, saking senengnya gitu deh ngomongnya. Berarti udah ada 2 poin. Tinggal telfon bosku, tapi grogi mo nelfon, akhirnya sms dulu, tapi balasan yang ditunggu-tunggu gak masuk sementara time limit-nya udah dekat. Akhirnya atas saran Ms. Penky yang sudah kembali dengan tas gedenya itu, aku telfon bosku, ternyata gak diangkat. Aku kembali menelfon travel agent untuk meminta booking ulang karena sudah hampir lewat waktunya sambil menunggu balasan sms. Penky berangkat duluan ke bandara untuk berangkat bareng Nela yang baru datang dari Pekanbaru. Jika aku berhasil dapat ijin kemungkinan akan naik Batavia air dengan jadwal penerbangan pukul 18.00.
Tak beberapa lama, masuk sms yang isinya ”Ok Mel, selamat jalan dan hati2.”. Yihaaaaa....Berhasiiill dapat ijin bos...Jingkrak2 senang, langsung telfon travel untuk issued tiket dan minta kode booking karena gak sempat jemput tiket ke travelnya di Bekasi sono. Kemudian jari2 ku bermain di keypad yang katanya QWERTY ini dan membentuk susunan huruf ” Hahahha....sampai jumpa di Jogja. Semoga selamat sampai tujuan” sms sent to Penky dan dapat balasan ”Dasarrr giloo! Hayuu! Amin! Ditunggu! B-)”.
Langsung beberes, packing, mandi dengan ceria. Berangkat naik taksi ke Gambir dan disambung Damri ke Bandara Soetta, berhasil menghemat pengeluaran dengan hanya 1/5 dari tarif jika naik BurungBiru sampai Cengkareng sana. Guuud!
Check in berjalan lancar, dilanjutkan nongkrong di JW Executive Lounge terminal 1B, makan dengan lahap berhubung belum makan dari pagi, hanya sempat ngemil Silver Queen jualannya Mba Iyung di kulkas kost-an hehhee...Seperti biasa, pengumuman delay 30 minutes yang ternyata hanya manis dibibir saja karena diberikan bonus 30 menit plus plus. Jadinya berangkat jam 19.20 dan penerbangan ke Jogja lancar dengan waktu tempuh selama satu jam saja.
Sempat deg-degan karena banyak turbulensi di udara sehubungan dengan cuaca yang kurang baik menuju Jogja. Alhamdulillah sampai dengan selamat sentosa tak kurang suatu apapun *bahasa surat jadul*. Senyum-senyum bahagia, mengingat ini adalah kali ketiga aku menginjakkan kaki di kota Gudeg yang sampai sekarang gak pernah doyan karena manis, biasalah kalo kutub manis ketemu cewek manis kan saling bertolak belakang hahaha...
Sampai di Jogja, dapat info bahwa Dona yang naik kereta dari Bandung udah sampai sejak sore dan sudah bertemu dengan Pepenk dan Nela dari Jakarta yang juga mengalami delay dan berangkat sekitar pukul 17.00. Aku yang rencananya mau cari kendaraan ke Hotel Jayakarta –dekat bandara Adi Sucipto mendapat telfon dari Pepenk diminta tetap ditempat karena akan dijemput. Owh...ternyata dijemput dengan Avanza rentalan yang dengan semena-mena di claim baru dibeli sesampai disana hahha...plus seorang peserta yang baru aku kenal bernama Mila, iparnya Nela, satu2nya yang sudah menikah diantara kami berlima yang sangat rajin telfon2an dengan Papi Chayankna. Huwaaa..... http://iri.com/
Aku rindu dengan goresan penamu.
Penting? Gak? Penting? Gak? -->GAK: lupakan
Penting? Gak? Penting? Gak? -->PENTING: lanjut ke tahap berikut
Urgent? Gak? Urgent? Gak? -->GAK: tahan dulu
Urgent? Gak? Urgent? Gak? -->URGENT: sampaikan
Pernah berada pada kondisi PENTING-GAK URGENT, dengan beberapa pertimbangan dan analisa akhirnya menurunkan tingkat kepentingannya menjadi setingkat dibawah awalnya. Kemudian hanya dengan tujuh tetes air bening berhasil mengatasinya tanpa diungkit lagi KECUALI jika terjadi perulangan.
Saat ini berada di posisi PENTING-URGENT sebagai dampak atas faktor pengecualian terhadap kondisi diatas yang ternyata terjadi kembali dalam format yang berbeda, namun kondisi tak memungkinkan untuk membahasnya. Mengapa? Terlalu banyak indikatornya yang jelas aku tidak suka membahas sesuatu yang sudah pernah dibahas. Selain membosankan juga bisa membuat suaraku menjadi semerdu Celine Dion jika menyanyikan lagu My Heart Will Go On di bagian reffrain.
Menolehlah ke belakang sewajarnya jika memang ada yang MEMANGGILMU sebagai tanda kamu tidak tuli. Diluar itu gak perlu jalan sambil melihat ke belakang agar gak kejengkang. Gimana klo kesandung dan masuk lobang? Ngapain juga masih PECICILAN bertandang ke tempat yang seharusnya HANYA menjadi sejarah karena telah kamu tinggalkan dengan kesadaran? Ataukah ada penyesalan atas keputusan yang diambil? Heyy dude…buat apa mengambil keputusan jika tidak yakin? Efeknya hanya akan membuatmu kelihatan tidak konsisten. Alangkah bijaknya jika fokus ke “bisnis” kamu saat ini, bisnis yang mengandalkan saling percaya sebagai faktor pendukung utamanya. Bisnis menggarap taman bunga mawar dengan keuntungan bagi hasil yang dinikmati bersama. Kolega bisnismu tentu akan sangat berterima kasih atas penghargaanmu terhadap posisinya sekarang bagi percepatan bisnis ke depan (tanpa bermaksud menafikan sejarah). Ahhh…jangan remehkan kelopak mawar yang terlihat rapuh karena dia memiliki duri yang mengelilingi tangkainya dan sewaktu-waktu bisa menusukmu.
Oya, agar taman bungamu tumbuh subur tentunya butuh perawatan sebelum tanah gemburnya menjadi kekurangan kadar kelembaban hingga retak dan merenggang membentuk jurang. Ataukah kamu ingin alternatif lain yang tak kalah garangnya, ketika tanah mulai melumatmu perlahan, menghisapmu dalam pusaran yang mampu menelanmu hingga ke perut bumi dan tinggallah sebuah nama yang tak perlu dikenang?
Saya ttiiddaakk sssuuukkkaaa…. Should I scream louder until my throat getting torn or your ears become deaf just to make you understand, this is very important and urgent to think?
Situasi 1:
Mungkin gak sih aura negatif yang keluar dari diri kita bisa mempengaruhi sesuatu di sekitar kita? Mungkin ini hanya kebetulan semata, tapi kebetulan ini menggiring aku berkesimpulan seperti itu, walo hanya kesimpulan prematur saja.


Pada postingan aku sebelumnya disini, aku menuliskan bahwa karakter yang dibangun dari kecil akan melekat sampai dewasa. Jika anak dibiasakan untuk bersikap terbuka maka dia akan berani berpendapat dan memperjuangkan pemikirannya dimasa depan.
Nah...kejadian ini baru saja aku alami dan buktikan di lingkungan kerjaku. Aku terkejut dengan hasil penilaianku yang menurutku tidak sesuai dengan kualitas dan kuantitas pekerjaanku selama ini. Aku tidak tau ketika dilakukan perubahan terhadap nilai yang aku ajukan disaat aku sedang tidak berada di ruangan dan pada hari terakhir pengumpulan ke SDM sehingga aku tidak sempat beropini dan memberikan bukti-bukti. Aku terperangah melihat hasilnya di sistem. Aku bisa saja diam dan tidak mempertanyakan hal tersebut meskipun tidak puas, bisa jadi karena takut, malu atau merasa tidak enak dengan atasan, tapi aku tidak mau memilih alternatif ini.
Aku langsung bertanya kepada manager yang menilai kenapa yudisiumku mengalami penurunan. Sang manager terkejut dan tidak menyangka dampak perubahan yang dilakukannya bisa sejauh itu karena menurutnya setelah itu diperiksa lagi oleh atasannya - AVP. Dan ketika aku tanyakan apa yang diubahnya, beliau menjawab “Point pertama yang kamu tulis itu adalah pekerjaanku, kenapa ada di penilaian kamu?” Whaaaaaaatttt? Aku langsung menjawab (yang alhamdulillah keluar dengan lugas dan emosi yang terkontrol serta intonasi yang normal tanpa nangis hiihihi…) “Pekerjaan mana yang saya tuliskan yang tidak saya lakukan dan merupakan pekerjaan Mba? Saya tidak mungkin mengakui pekerjaan yang bukan pekerjaan saya Mba” Aku langsung mengingatkan semua detail dan bukit-bukti yang aku kerjakan. Beliau cukup terkejut dan berdalih, “iya, tadi aku maunya itu direvisi dulu, biar kamu juga tau, biar bisa diskusi, tapi waktu tidak cukup”.
Phfiuuuh….Oke, cukup untuk sementara informasi yang aku dapatkan ketika wudhu di kamar mandi, dan dilanjutkan sedikit setelah Sholat Magrib. Oya, aku ingat doaku selesai sholat saat itu adalah mohon agar hasil penilaian yang membuat aku terperangah ini tidak akan mempengaruhi performance selanjutnya, tidak akan menurunkan semangat kerjaku, agar aku bisa bersabar dan berani bertanya tentang semua hal yang masih mengganjal di pikiranku.
Setelah itu aku langsung berpikir aku harus menanyakan kepada atasan AVP. Aku memikirkan cara yang tepat berhubung ruangan kerja kami yang sempit dengan jarak masing-masing 1-1,5 meter saja, dimana dapat dipastikan jika aku berbicara langsung akan didengar oleh seisi ruangan. Hal itu menurutku tidak terlalu baik, karena ini menyangkut mempertanyakan hasil keputusan atasan, jangan sampai membuat beliau merasa disudutkan di depan anak buahnya. Selain itu beliau juga seorang laki-laki, jadi tidak bisa berbicara ketika di kamar mandi seperti dengan managerku tadi hehehheh…
Akhirnya aku menemukan media yang tepat yaitu email. Malamnya aku diskusi dengan “seseorang” lewat telfon dan disanalah aku menangis Bombay ketika mengungkapkan ketidakpuasanku terhadap perlakuan itu hahhaah…lebay….Ingat kan teori “boleh berekspresi menangis jika memang harus menangis?” Hehhe…Dia mendengarkan dan bersabar menunggu tangis Bombayku berubah menjadi tangis Jahe atau Lengkuas *ngaco*. Aku ceritakan semuanya dan ungkapkan keinginanku untuk mengirim email ke atasan AVP biar lebih puas dan dia mensupport aku untuk bertindak *thnx a lot hunney*…
Selesai nelfon aku bikin draft hal-hal apa saja yang akan aku bahas dalam email esok hari. Menurutku media ini adalah pilihan yang tepat, dengan sebuah tulisan, aku bisa menyampaikan kronologisnya dengan jelas berikut hasil scan penilaianku yang aku copy ke bagian SDM untuk memudahkan dan mengingatkan atasanku dalam pembahasan di email. Aku juga bisa memilah kata-kata yang tepat dan emosi lebih terkontrol serta mencantumkan semua bukti2 pencapaianku. Aku kirim email siang sebelum aku berangkat ke puncak karena sebagai panitia acara harus duluan berangkat. Kebetulan setelah sholat Jumat itu ruanganku kosong, ketika aku mau wudhu yang baru kembali ke ruangan adalah atasan AVP. Ahhh..tepat sekali, batinku. Aku langsung membuka draft emailku dan bilang “Mas, saya mau kirim email ya sekarang. Oya, saya mau sholat dulu mas, nanti kita bahas ya hehhehe”. Alhamdulillah caraku berkomunikasi masih seperti biasa, dan caraku bekerja sejak kemarin malam sampai siang itu tidak berubah.
Berhubung aku pulang duluan, aku tidak mendapatkan jawaban hari itu. Acara fam-gath di puncak juga kami masih kompak dan bersahabat sebagai tim dan mengikuti perlombaan yang ada. Hari Senin ketika menyalakan komputer, hal yang pertama aku buka adalah email dan ternyata oh..nooo..tidak ada balasan.
Seperti biasa Senin dimulai dengan meeting internal, dan kemarin cukup spesial karena pembahasan juga lebih beragam dan aku tidak menyangka ternyata masalah penilaian diselipkan diantara pembahasan itu. Terlihat sekali bahwa penjelasan beliau mengenai penilaian adalah untuk membahas semua pertanyaanku di email satu-persatu. Beliau membahas tanpa melihat ke arahku dan terkadang memandang ke bawah seperti memilih kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan. Intinya adalah hal itu terjadi bukan karena pekerjaan yang dihasilkan standar/tidak memuaskan tapi semata-mata karena harus memenuhi kurva distribusi normal kuota/penjatahan dari setiap unit. Tapi beliau berjanji hasil penilaian seperti saat ini bukan berarti akan begitu selamanya, dan tidak akan mempengaruhi pengembangan karir selanjutnya karena beliau akan melihat hasil kerja nyata bawahannya. Beliau juga meminta maaf karena hanya berhasil memperjuangkan bawahannya sampai tingkat itu saja, minta maaf karena tidak bisa memuaskan semua pihak. Beliau berharap, hal ini tidak akan menjadi demotivasi.
Waktu beliau mengucapkan permintaan maaf yang lebih dari dua kali itu, aku merasakan permintaan itu ditujukan buat aku. Mataku mulai memanas tapi aku tahan donk, gak mungkin nangis, gak profesional banget sih hahahhahaha.... Akhirnya aku lega setelah mendengar penjelasan itu walaupun tidak langsung ke aku, tapi aku tahu itu sebagian besar ditujukan buat aku karena pertanyaan itu berasal dari aku. Jadi...berani terbuka, jujur, mempertanyakan hal yang masih mengganjal hati kita walaupun pada kasus ini tidak akan mengubah “hasil”, namun tentunya akan melegakan daripada hanya bersungut-sungut dibelakangnya, tetap tidak menemukan jawabannya, berpikiran buruk dan muka selalu ditekuk, yang akhirnya malah akan berujung jadi males-malesan kerja. Alhamdulillah...legaaaa... ;)
So, keep up the good work ….. Yeahh ^_^V
Pas masuk ruangan aku langsung dipanggil bos, terjadilah dialog tanpa skenario berikut:
“Mel, ngomong dulu donk sama saya“.
„Mengenai apa mas?“ jawabku bingung.
„Klo mau ada yang kirim-kirim bunga bilang dulu.“
Dengan tampang melongo karena gak ngerti „Bunga apaan mas?“. Yang terlintas di pikiranku adalah bunga bank, tapi aku kan gak buka tabungan konvensional. Baru-baru ini aku justru lagi buka Tabungan Perencanaan Syariah*).
„Liat tuh di meja kamu“, balasnya.
Aku langsung ke meja dan disambut ledekan teman-teman seruangan. „Cieeee...yang dapet bunga, romantis sekali yang ngirimnya, duuh senangnya, SMS dulu lah yang ngirim“
Aku langsung ketawa ngakak ngeliat bunga itu. „Pasti ini ada yang ngerjain deh, hayoo ngaku“, jawabku.
„Enggak kok mel, tadi ada yang antar. Baca donk tulisannya.“, jawab salah satu dari mereka.
Aku ambil bunganya dan kulihat ada tulisan menggunakan spidol hitam di atas kertas putih polos „You looks beautiful today“. From your lover admire.
Wuakakkakaka….kok ”your lover admire” sih? Berarti dia mengagumi my lover donk jhiahahah….Mungkin aku dikasih bunga biar gak ada iklim persaingan diantara kami gitu ya hihihi…Atau jangan2 maksudnya “secret admirer” kali ya hahhaha….makin penasaran siapa sih yang ngerjain aku?
Aku langsung sms ”seseorang”, tapi aku juga gak yakin “dia” yang kirim kalo dilihat dari isi tulisannya. Pastinya kalo “dia” yang kirim tulisannya lebih dahsyat . Selain itu juga aku gak yakin “dia” seromantis itu hahahha....SMS akhirnya dibales dan "dia" bilang gak kirim bunga, malah ujung-ujungnya aku diledekin heheheh....
Ternyata berita menyebar dengan cepat ke satu divisi ini melalui WinMessenger to all, gini isi ledek-ledekannya aku copy-paste:
Mirna : ciye..ciye...meli...mukanya jadi merah gitu mel abis trima bunga....:p
Mirna : duh ga kuwaaaaaaat bahasanya..."you looks beautiful today.." aw..aw..aw....;)
Pio : aduh mel.. lo bikin mirna naik darah aja deh hehheheee :p
Mirna : ga Pi...gw ikhlas demi kebahagiaan Meli..dah bosen dikirimin bunga soale... hahaha ;)
Dessi : sabar ya mir...:-D:-D
Maya : dari kang dadang yach ?
Pio : dari ibrahim may :p
Novi : kayaknya dari mang kosim deh...
Mirna : bukan Nov..dari mang Ujang tukang kebun wortel dipuncak kemarin deh... hehehehe
Doni : Dari ABDUL - LOH..:-D
Mas Bambang : dari Ibrahim floris JW Marihot
Mirna : eh iya kan emang dari Ibrahim tuh..mel..hati2 mel mengandung BOM...:p
Mas Slamet : dari pak Dadang (green Hill)
Mirna : wah mas bambang tau aja, jangan2 admirenya mas bambang lagi heheehe Peace mas;)
Mas Bambang : hayo pada kerja....
Pio : uuppss....
Ida : dari gw tuch sebenernya.....xixixixixixixixi
Mirna : wakakakakak...cara ngeles yang JITU!.....hayooo Kerja!..
Bang Cho : pe'e keliatan jd cemberut tuch mel, cemburu kale ye
Pio : duh peey... masih kurang yg dirumah? dah 2 orang yg nungguin elo, emang susah ya kalo dah kepincut meli... hihihi
Bang Cho : memangnya bener mel elo dapet bunga??
Fery : MELIII...... BUNGA ITU HARAAAAAM !!!!!
Ida : kecuali dari elo ya pe
Hahha...aku gak bales komen sahut-sahutan di atas, takut makin panjang, ujung-ujungnya jadi pada gak kerja deh heheheh...Tapi aku bales komen yang kirimnya secara PM, plis cekidot:
Fery : ciyeee meli, dimas romantis juga yah.....
Meli : gak mungkin bgt dimas...impossible..pasti elo ngerjain gw kan?? gw tau lah...anak2
ujung sono pada senyum2 jail gitu, udh ketebak :p
Fery : waduuuh.......
Meli : hahha....ngakuuuuuuuuuuu
Fery : kalo gw seh gak sudii kalo itu membuat kalian makin hot....
Fery : kalo bukan dimas siapa lagi mel? gawat loe yah, ketauan dimas bisa putus maning kowe....
Meli : ya elo lah pasti....di ruangan elo itu yg penuh tepu muslihat pengen ngerjain gw kan
hahahha...ngaku llooo...paling juga ngambil bunga USY di depan pio hahahha
Fery : wah dirimu penuh dg kebencian akan kelompok kami... baiklah, cukup tau saja mel.......
muach,,,
Meli : cuiiih
Fery : sluuuurps...... aaaaahhh,,,,,,
Meli : preeeeeeeeet
Fery : kasar banget seh mel, setelah apa yg telah kita lalui kemariin.....
Meli : wakkakak...ngaco lu...udah ahhh, kerjaaaaaaa..kerjaan gw banyak nih...klo lo msh nulis lagi gak kan gw bls okeh --case closed--
Hmm.....akhirnya tetap tidak menemukan jawaban darimana asal bunganya. Ya sudah, siapapun deh orangnya yang ngasih bunga itu, baik niatnya mo ngerjain doank atau memang ada seseorang yang tidak bisa aku prediksikan siapa dia yang mau berbagi kebahagiaan lewat karangan bunga, aku mo ngucapin ”makasih ya..bunganya wangi dan cantik, aku seneng kok, secara selama ini belum pernah dapet kiriman bunga hahahhahah”.
Cheers.. ^_^V
*) Tapenas Syariah, Bagus loh berupa tabungan perencanaan untuk pendidikan si buah hati atau untuk rencana lain dimasa depan mulai dari 100rb-5juta/bulan selama 1-15th dengan bagi hasil yang baik dan biaya administrasi hanya Rp.500/bulan. Angsuran bulanan akan dilakukan secara autodebet dari rekening afiliasi nasabah. So, bikin segera ya...Hehhehe...sekalian promosi ;)
PS: foto bunganya gak bisa di aplot, tapi mirip deh ama gambar yang aku pasang di atas, tapi bedanya ini dalam rangkaian plastik.
Miris, kesel, sakit hati, geram duuh campur-campur perasaanku ngeliat email berisi video seorang pembantu yang bersikap kasar dan menyiksa anak majikannya. Aahhh…bisa emosi tingkat tinggi kalo aku ceritain dengan detail kejadian dalam rekaman video tersebut. Namun yang ingin aku bahas dalam postingan-super-panjang ini dan insya Allah untuk diterapkan nantinya adalah tentang usaha membangun keberanian, keterbukaan, dan kejujuran kepada anak sejak usia dini karena karakter itu akan melekat dan terbawa hingga ia beranjak dewasa. Salah satu fungsinya adalah sebagai pertahanan/penjagaan diri baginya jika ia diperlakukan dengan tidak wajar.
Bagaimana jika kejadian kekerasan oleh pembantu seperti kisah di atas tidak kita ketahui sebagai orangtua yang sibuk bekerja di siang hari dan pulang di malam hari? Tentunya akan sangat menyedihkan jika anak tidak berani bercerita atau akan sangat disesalkan jika kita tidak dapat menangkap perubahan sikap anak hingga kejadian ini berlarut-larut. Dari video itu aku terinspirasi untuk merancang tindakan preventif sederhana untuk menjaga buah hatiku di masa depan *amiin*.
Langkah pertama, kita harus melakukan antisipasi dengan memperhatikan setiap perubahan gerak-gerik anak serta sikapnya terhadap pembantu di rumah. Orangtua terutama ibu harus peka membaca situasi jika anak memperlihatkan tanda-tanda seperti: enggan berdekatan dengan pembantu, terlihat ketakutan, benci, marah atau bahkan sikap anak menjadi kasar yang berarti menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres dibalik itu. Untuk itu diperlukan komunikasi yang intens dengan menanyakan kondisi dan kegiatan anak setiap hari.
Langkah kedua, berupa hal mendasar yang dapat diajarkan kepada anak yaitu berani bersikap, tidak takut mengeluarkan pendapat dan yang terpenting berani berkata jujur jika benar, meminta maaf jika bersalah, sportif menerima kekalahan, dan tidak takut dengan ancaman. Dengan demikian anak akan tumbuh percaya diri, rendah hati dan integritasnya tidak diragukan.
Langkah berikutnya, ajarkan anak untuk berekspresi dengan bebas sesuai perasaannya senang, sedih, marah, takut agar kita dapat “membacanya” dengan jelas. Biarkan anak menangis jika memang dia sedih, biarkan dia tertawa jika senang, biarkan dia belajar mengungkapkan rasa marahnya jika marah, biarkan dia memperlihatkan rasa takutnya ketika takut dan tentunya orangtua lah yang memagari bagaimana cara mengeluarkan ekspresi itu dengan tepat sesuai porsinya. Dengan kebebasan berekspresi ini, anak akan tumbuh menjadi anak yang berjiwa sehat dan memliki hati yang lembut/peka. Jika ekpresinya dilarang seperti bentakan “Hey…diaaaam…jangan nangis!!”, padahal dia sedang sedih , lama-kelamaan anak akan mati rasa. Dia harus menelan semua perasaannya seolah-olah baik-baik saja yang akhirnya bisa mengeraskan hati. Jika dihubungkan dengan kejadian di atas, jika saja sang anak berani memberitahukan perlakuan buruk yang diterimanya bahkan saat dia berada dalam tekanan diancam harus diam, tentunya tindakan kekerasan terhadap anak dapat dicegah.
Sehubungan dengan keberanian dan kejujuran, aku ingin flash back kejadian saat aku masih TK. Waktu jam istirahat adalah waktu yang dinanti-nantikan semua anak-anak termasuk aku. Aku dan teman-teman bermain ayunan dimana dalam satu ayunan itu maksimal menampung 6 orang. Permainan yang biasa saja tapi seru karena bisa teriak-teriak dan tertawa bersama-sama sambil diayunkan sekencang-kencangnya ihiiiyy…Berhubung fasilitas mainan hanya sedikit, dan ayunan yang cukup besar hanya ada satu, rutinitas rebutan main ayunan tidak terelakkan lagi. Ketika jumlah peserta sudah penuh 6 orang, dan temanku bernama Nenen *duuuh…namanya gak nahaaaan hehehe* ingin bergabung, aku menyarankan agar dia masuk ke antrian berikutnya.
Tak disangka si Nenen berbalik ke arah mamanya sambil menangis dan bilang “Nenen dilarang Meli main ayunan, Ma”. Mamanya Nenen tanpa nanya-nanya langsung mendaratkan cubitan yang kecil dipelintir dan cukup lama diperutku yang masih mungil aawwww…lumayan rasanya…Aku langsung bertanya “Kenapa Meli dicubit, Ma?”. Dijawab “Kenapa Meli larang Nenen main ayunan?”. Aku jawab lagi “Meli gak ngelarang Nenen, tapi karena udah penuh Meli minta Nenen tunggu antrian berikutnya aja”. Eh, si Mama malah melotot seolah-olah bola matanya mau copot.
Aku yang udah disakitin plus dipelototin dan gak merasa bersalah langsung berlari menemui ibu guru. Aku lapor “Ibu, Mamanya Nenen nyubit Meli karena Meli suruh Nenen nunggu antrian ayunan berikutnya karena udah penuh. Meli jelaskan malah Meli dipelototin mamanya Nenen, Bu”. Dengan tergopoh-gopoh mamanya Nenen menyusul ke arah kami. Satu hal yang aku sesali sampai saat ini adalah aku tidak mendengarkan pledoi-nya mama Nenen heheheheh…. Iya, m-e-n-y-e-s-a-l karena penasaran temans. Saat itu aku hanya teringat kata mamaku bila orang dewasa sedang berbicara, anak kecil tidak baik jika ikut mendengarkan. Berdasarkan petuah itu, setelah mengungkapkan isi hatiku ke ibu guru, aku langsung pergi karena berikutnya adalah sesi percakapan orang dewasa.
Masih dengan tanda tanya menggelayut dipikiran, sepulang sekolah aku menceritakan kejadian itu kepada mama di rumah dan menanyakan ”Ma, boleh gak jika tadi Meli ikut mendengarkan apa yang akan disebutkan mamanya Nenen? Meli tadi langsung pergi karena itu sudah masuk pembicaraan orang dewasa? Jadinya Meli gak tau apa jawabannya, Ma” . Terus mamaku tercinta menjawab “Tentu saja boleh Nak, dalam pembicaraan orang dewasa tadi kan Meli juga terlibat langsung, jadi Meli boleh tetap mendengarkan dan menjawab dengan jujur jika Meli ditanya. Yang tidak boleh adalah jika tidak berhubungan dengan Meli. Ya sudah, Meli sudah bersikap berani dan jujur, selanjutnya tetap berteman baik dengan Nenen ya, Nak”.
Arrrggghh…aku langsung menyesal setengah mampus kenapa tidak mendengarkan pembicaraan mama Nenen vs Ibu Guru. Aku yang dianugrahi penghargaan sebagai Miss Curiousity terbaik pertama se-Jabodetabek sampai hari ini masih saja penasaran apa kira-kira pembelaan mama Nenen itu *klo ketemu dan masih ingat mukanya aku tanya deh* hehhe... Pikiran yang terlintas saat kejadian hanyalah aku tidak membuat kesalahan, hanya menyarankan antri sesuai prosedur naik ayunan bersama, dan mama Nenen akan mengakui perlakukan kasarnya terhadap aku di depan ibu guru walaupun tidak ada aku disana. Pemikiran anak kecil yang masih sederhana dan jauh dari prasangka buruk ya. Coba kalo sekarang, aku mungkin akan berpikir beberapa hal: pertama, sesuai dengan pemikiran di atas, atau alternatif kedua mama Nenen menyalahkan aku telah melarang anaknya ikut bergabung sampai anaknya menangis. Alternatif ketiga, mengarang aku mencubit Nenen sampai menangis atau bahkan alternatif keempat tidak mengakui ada adegan cubit dan melotot dan bilang aku mengada-ada. Hahahhaha….pemikiran ketika dewasa yang sangat “bertanduk”. Tidak baik untuk dicontoh ya adik-adiiiikkkk….
Terkait dengan kejadian di atas, pada kasus pertama jika anak telah terlatih untuk berekspresi dan berbicara terbuka terhadap orangtuanya, maka kekerasan dari pembantunya dapat dihentikan segera. Langkah selanjutnya mungkin dengan cara memecatnya dengan tentunya terlebih dahulu di tampar bolak-balik hahahha….*saran yang salah*. Untuk kasus kedua sang anak berani dan jujur menceritakan kejadian sebenarnya kepada guru dan orangtua murid, berani mengeluarkan pendapat dan membela diri ketika disakiti. Walaupun rasa sakit dari cubitan itu tidak hilang, tapi sang anak bisa menunjukkan kepada yang menyakitinya "aku tidak akan diam saja jika disakiti".
Temans...masih ingat donk dengan pepatah "Berani karena benar, takut karena salah"? Ada benernya tuh, meskipun banyak juga orang yang bersalah namun berani melakukan pembelaan mati-matian terhadap dirinya. Hmmmm....Bagaimana kalau untuk menutup postingan panjang yang cukup melelahkan ini kita buat rumusan kata-kata bijak untuk hari ini :”Jangan mau tertindas, pertahankan kejujuran dan tunjukkan keberanian jika yakin tidak bersalah!” Oke kan? Yuhuuuu.. ^_^V
PS: Mama...terima kasih telah mengajari kejujuran dan keberanian yang ternyata sangat penting bagi anakmu ini. Love u n miss u so mamaku chayank...huuhuhu..