Wednesday, December 16, 2009

horeeeeeeeeeeeeee luluuuuuuuus!




Yuhuuuuuu....
Ahaaaayyy!!!
Alhamdulillaah ya Allah.....
*jingkrak-jingkrak seneng*

Selamat  buat adikku tercinta yang baru saja lulus test CPNS untuk Pemda Payakumbuh. Aku turut senang, bahkan sedikit berlebihan rasa senangnya sampai aku tidak bisa menahan tarikan diujung bibirku yang membentuk lengkungan dengan arah garis ke atas sejak tadi pagi. Keberhasilannya kali ini merupakan perjuangan panjangnya dan impiannya sejak lama setelah pernah gagal sebelumnya. Untuk mengikuti ujian kali ini dia sudah belajar jauh sebelum tanggal pelaksanaan ujian, sebulan sebelumnya dan dilakukannya setiap hari. Dia begitu rajin membahas soal-soal ujian dari tahun-tahun yang lampau. Bahkan tepat sehari sebelum ujian itu dilaksanakan, dia masih membahas soal denganku melalui telefon. Aku sebagai kakak juga bersemangat menemaninya, untuk memotivasinya agar pede memberikan jawaban-jawaban yang praktis terutama untuk soal-soal kematangan sikap dimana dia pernah merasa heran ketika (dulu) menemukan nilainya tidak bagus dibagian ini.  Untuk soal pengetahuan umum, matematika, dll aku yakin dia telah belajar dengan baik.

Disegmen soal kematangan sikap inilah aku merasakan ternyata aku dan adikku memiliki banyak perbedaan cara pandang, jawaban-jawaban yang kami pilih sering berbeda. Aku lebih cenderung memilih langkah praktis apa yang akan kita lakukan jika dihadapkan dengan situasi seperti dalam soal tes tersebut, simpelnya aku berpikir jawaban tegas: "kalo begini maka begitu". Disisi lain dia cenderung memikirkan jawaban terlalu rumit dengan membayangkan "klo begini, maka begitu, jadinya begono" dan akhirnya dia memilih "klo begini maka begono".

Jawaban inilah yang menjadi diskusi cukup seru dalam percakapan telfon berjam-jam malam itu. Terkadang aku tertawa geli dengan pilihannya yang terlalu rumit atau malah terlalu lugu. Semakin banyak soal yang kami bahas, semakin mengertilah dia apa yang seharusnya dia lakukan dengan kondisi-kondisi sesuai soal yang kebanyakan berkisar tentang sikap dalam sebuah pekerjaan. Dia sendiri juga dengan geli menyadari sendiri kerumitannya berpikir dan mulai terbiasa dengan mengambil langkah praktis.

Bukannya aku menyalahkan caranya, namun untuk kasus memberikan jawaban atas pertanyaan yang bersifat tertutup, kita harus memikirkan penyelesaian yang konkrit dan dapat dinikmati saat itu juga. Akan berbeda sifatnya jika pertanyaan bersifat terbuka, kita dapat membuat jawaban bebas dengan menyesuaikannya kepada beberapa kondisi. Untuk kondisi plan A maka bla..bla...bla.. Jika A tidak tercapai, maka kita punya plan B dengan cara bla..bla..bla.. Ini sah-sah saja. Aku juga akan menjawab begitu kalau dihadapkan dengan situasi dimana kita bisa memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa muncul. Hal ini bermanfaat untuk penyusunan rencana jangka panjang yang terstruktur dengan membuat beberapa alternatif plan, namun akan terlalu lamban untuk rencana jangka pendek yang membutuhkan ketegasan segera.

Sehari setelah dia ujian, aku menelfonnya untuk menanyakan bagaimana tingkat percaya dirinya terhadap soal-soal yang dia kerjakan. Dia cukup yakin bisa menjawab sebagian besar soal yang diberikan dengan benar dan untuk test kematangan sikap, dia mengingat diskusi kami malam itu dan menjawab soal-soal sambil tersenyum membayangkan ledek-ledekanku saat itu jika jawaban yang diberikannya tergolong "aneh bin ajaib". Dari perjuangannya yang belajar tanpa henti, tahajud hampir setiap malam,dan tentunya atas izin-Nya, aku yakin Allah akan menghadiahi usahanya dengan kelulusan. Dan benar saja.. Alhamdulillaah...Terima kasih ya Allah. Ingin aku teriakkan kepada dunia kebahagiaanku ini, karena aku tau ini adalah juga kebahagiaan terbesar adikku, sebuah impiannya yang didukung dengan sikapnya yang pantang menyerah. Kombinasi yang bagus bukan?

So, bekerjalah dengan baik sayangku, utamakan kejujuran, profesionalitas dan disiplin. Semoga Allah selalu merahmatimu dan melimpahi hidupmu dengan keberkahan-Nya amiin...

Ket: Foto nyomot dari google

Saturday, November 21, 2009

.:: FS, FB, dan MP ::.

Sejak ada Facebook (FB), aku mulai mengabaikan Friendster. (FS)  Sebenarnya sih gak ada maksud seperti itu, tapi memang kontak dengan teman-teman sudah sangat jarang sekali dilakukan melalui FS.  Dulu sewaktu FB belum menjamur, FS lumayan berjaya.  Bahkan aku sempat-sempatnya nyoba ganti2 backgroundnya, pasang tulisan berwarna di profile *tapi gak norak warna/i ngeblink2 kok hehhe..*, tulisan yang bergerak, dan pasang lagu di profile biar yang mampir kehibur cieee.. sekarang benar -benar sepi alias mati suri cuy.

Jika dilihat dari tampilan dan kemudahan fitur, FB memang lebih unggul.  Tidak heran jika lebih diminati dibanding FS.  Untuk FS, dulunya ada sekitar 200 teman yang tidak aku kenal yang aku approve, rata-rata para ABG, dan kemudian aku delete satu persatu karena pusing baca tulisan mereka.  Dulu, saking semangatnya menghapus aku bahkan menghapus account teman-temanku sendiri yang ternyata telah mengganti nama mereka dengan nama lain hahha...Akibatnya ada yang sebel karena menyangka aku tidak menganggapnya lagi sebagai teman hihihi...*maaf ya temans* Sedangkan untuk FB, dari awal aku sudah lebih ketat dalam meng-approve teman, jika tidak kenal lebih baik di ignore saja.  Hanya ada beberapa orang yang aku tidak kenal *belum kenal tepatnya* yang merupakan teman dari temanku yang insya Allah akan menjadi temanku juga *halah ribet kali pun*

Jika aku perhatikan marketnya FS, biasanya diisi para ABG dengan ciri khas huruf alay besar kecilnya itu, sedangkan segmen orangtua yang memiliki account FS sangat sedikit jika tidak mau dikatakan tidak ada.  Beda banget dengan FB yang ternyata diminati semua kalangan dari anak kecil sampai orang tua.  Dari yang memang gaul di darat sampai yang hanya gaul di dunia maya. Dari yang heboh sampai yang pendiem.  Yang pasti, aku gak mau nge-add bos-bos ku.  Klo ada bos yang nge-add, langsung aku ignore aja, bahkan ada yang aku block biar gak bisa liat aku hahhahah....Males banget kalo beliau-beliau baca kata-kata mutiaraku dan semua tentang aku.  Mereka cukup mengetahui aku dari yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri.  Itu saja ;)

Untuk mengenang jasa FS yang telah mendahului kita hehehe....marilah kita tampilkan link FS aku, sebagai kenangan-kenangan nanti kepada anak cucu bahwa neneknya ternyata punya account FS yang mungkin dimasa nanti termasuk kategori "antik/kuno" hehhe...*penting gak sih*

nih account FS ku: http://profiles.friendster.com/melionly atau klik disini
nih account FB ku: http://www.facebook.com/melionly atau klik disini

Namun diatas keduanya account MP ku ini  adalah account ku tersayang, tempatku bermain, berpikir dan berkumpul dengan orang-orang hebat di dunia MP baik yang aku kenal maupun tidak.  Bagiku untuk MP, aku tidak harus kenal dengan orangnya untuk mengapprovenya, asalkan memang ada niat baik untuk berteman, akan aku approve.  Bahkan aku senang nge-add orang lain yang aku senangi tulisan dan pemikirannya.

Semua account di atas didaftarkan atas nama account Yahoo-ku.  Oya, berhubung access MP dikantor sudah diblock, aku lebih sering "curhat" di Yahoo yang sekarang juga punya fasilitas Yahoo Updates.  Bisa update status juga dan ngeblog juga.  Jadi waktu untuk mengunjungi MP adalah sepulang kerja, atau dihari libur atau dari HP, tapi pilihan yang terakhir kurang asyik, gak puas liat tulisan dan gambar yang kecil.

Hmmmm.....kita tutup pembahasan kali ini karena aku pengen nonton 2012 dulu sebelum di fatwain haram hehhee....Aku pengen nonton untuk melihat efek visualnya saja, secanggih apa mereka menggambarkan kehancuran dimuka bumi ini, bukan untuk mempercayai bahwa kiamat itu akan terjadi tahun 2012, bahkan Rasulullah pun tidak tau kapan kiamat terjadi.  Satu-satunya kunci yang pernah aku baca adalah kiamat akan terjadi di hari Jumat.  Tapi Jumat kapan? Hanya Allah yang tahu.  Wah jadi OOT..Back to topick.

Ada satu pertanyaan yang tersisa, apakah memiliki account di dunia maya ini adalah salah satu kebutuhan dasar manusia yang disebutkan oleh Abraham Maslow dalam Teori hierarki Kebutuhan-nya sebagai kebutuhan sosial? Ataukah bahkan kebutuhan untuk aktualisasi diri?? 

Friday, November 20, 2009

:: Bandung...selalu asyik buat disinggahi ;)




Minggu lalu aku beserta lima peserta yang lain (mamas, dacol, lasee, k’nova, k’izhure) jalan-jalan ke Bandung. Meskipun yang bisa ikut hanya enam orang dari sekian banyak calon peserta yang diajak, tidak menyurutkan niat kami untuk tetap jalan dengan penuh suka cita. Yeeaaah!

Berkumpul jam ½ 9 pagi, dengan jadwal keberangkatan jam 9 terealisasi jam 10, molor 1 jam karena persiapan ini itu. Perjalanan lancar dan relatif tidak kena macet baik perjalanan ke Bandung, selama di Bandung dan kembali ke Jakarta.

Kegiatan di sana tentunya berburu makanan dan pastinya mampir ke FO :) Nih daftar makanan yang dilahap mulai dari makan nasi Begana di B’gana, dilanjutkan singgah ke D'durens, minum es duren yang maknyus itu. Varian es durennya lumayan banyak, dan yang sempat kami cicipi yaitu SBY (dicampur vanilla dan sirup biru), Osama (warnanya cocklat, pake gula merah gitu), Persik (warnanya keungu2an, pakai blueberry). Trus kami juga nyempetin makan surabi Enhai malamnya. Besoknya icip-icip batagor depan Rumah Mode dan tahu gejrot dikit sebelum makan besar di Ayam Goreng Ibu Imas yang pedasnya ampun-ampunan. Wisata kuliner terakhir ditutup dengan yoghurt Cisangkuy. Sllurrrpss….Lengkaplah kebahagiaan itu. Oya, selama diperjalanan ditemani cemal-cemil seperti Chitato, Kusuka, Happy Tos, Pocari Sweat, Kopiko, Larutan Penyengar aneka rasa, susu Bear Brand. Pantesan jadi ndut gini hehhehe…. *alesan*

Sebenarnya gak banyak FO yang disinggahi, padahal udah bawa kendaraan sendiri lho hasil rentalan dari Jakarta heehe... Hmmm…jadi ingat dulu pergi ke Bandung ama Ika, Penky, dan Eno yang sempat mengunjungi hampir semua FO dan distro ampe pegeeeellll banget padahal cuma naik angkot dan jalan kaki, eh bonus kena hujan lagi hihihihi….Perjalanan kali ini hanya mampir ke Famos yang menjual pakaian muslim di Dago, ke Rumah Mode, ke Heritage yang di RE Martadinata, ke toko yang ngejual baju Metal di dekat SMU 5 gak tau apa namanya dan ke Omnium *bener gak ya? hehe* di depan Unpar. Dua yang terakhir itu hanya mamas yang belanja disana, gak ada yang turun ke toko baju Metal itu selain mamas dan aku nguntitin dibelakang karena suka penasaran pengen tau hahahha...Salah satu bajunya ada yang unik, kaos Band Koil bergambar pemandangan versi anak SD. Itu loh, tau kan yang gambar gunung dua, trus ada sawah dibawahnya, dan ada matahari di tengahnya. Tulisannya “Ini negara bodoh yang sangat aku bela”. Di bagian belakang ditulis lagi dalam bentuk tulisan bersambung dengan format seperti dihukum Ibu guru disuruh buat tulisan yang sama satu halaman penuh. *yang sering dihukum pasti paham* Baju yang satu lagi, kaos band Efek Rumah Kaca, gambar apa ya? Api merah gitu deh, aku kurang merhatiin, yang jelas aku berhasil meracuni mamas dengan pilihan baju warna putih secara bajunya hitam semua cuy hehhehe….

Sempat jalan menuju the Peak juga sih malamnya, bukan untuk makan..bukaaaan…hanya pengen liat2 aja hahahah….sayangnya bensin abis ditengah jalan, balik kanan deh antri ke pom bensin. Berkaca pada pengalaman ke Jogja beberapa minggu yang lalu, untuk mendukung kelancaran aktifitas kami mengumpulkan iuran yang akan digunakan untuk biaya transportasi, akomodasi, serta makan-makan. Nah..ini salah satu keuntungan dan kepraktisannya, bensin abis bendahara langsung turun tangan. Makan-makan, bendahara yang ngeluarin duit, sewa hotel juga dari amplop si bendahara. Dalam hal ini aku bertindak sebagai bendahara yang mengumpulkan iuran dari peserta sebesar masing-masing 350 ribu, ditulis dengan pembukuan yang transparan ada kolom PITIH KALUA (debet) dan PITIH MASUAK (kredit) serta ngumpulin bon/struk pembelanjaan hehehe... Pembukuan dilakukan setiap ada transaksi biar gak lupa. Saldo terakhir bersisa 72 ribu dan dibagikan kembali kepada keenam peserta dalam perjalanan pulang menuju Jakarta masing-masing 12 ribu *hebat*….Berarti totalnya Rp. 338 ribu, hemat dan praktis ya :D

Perjalanan ditutup dengan minum Yoghurt Cisangkuy, disusul sholat magrib disana dan bertolak ke Jakarta sekitar jam 7. Perjalanan lancar pisan plus bonus cerita syereeemm tentang KM. 55 tol Cipularang. Hiiiiiiiyyyyyy. Tentunya aku mati-matian gak mau dengar dan menjadi sasaran empuk para cecunguk-cecunguk itu buat nakut-nakutin heuheuheu…


PS:
Berniat untuk acara makan-makan berikutnya akan motoin makanannya sebelum dengan tanpa belas kasihan berpindah dengan cepat ke usus kami. Pfhiuuh…. klo udah liat makanan kenarsisan langsung lenyap, sayang banget kan? Sangat disesalkan…Wkkkwkw….

Sunday, November 1, 2009

:: Mlaku-Mlaku neng Djogja




Memenuhi janjiku beberapa hari yang lalu ;)

Sempat menyesal gak bawa laptop karena gak bisa update langsung dari TKP. Semoga kronologisnya masih tepat, maklum disana jadi lupa waktu dan semua memori terasa tumpang tindih :D

Peserta trip dadakan ini berjumlah lima orang: Nela dan Mila berangkat dari Pekanbaru ke Jakarta untuk kemudian bareng Pepenk ke Jogja menggunakan Air Asia gratisaaaan *cuiih puuih…iri banget gw. Dona berangkat sendiri dari Bandung menggunakan kereta api *ini gak bikin iri hihihih…Aku berangkat sendiri dari Jakarta menggunakan Batavia Air dan sempat menggemukkan badan dulu di Executive Lounge *ini bikin mereka iri hihihi, dan berhasil berkumpul di Jogja hanya selisih beberapa jam dengan keempat cewek centil diatas. Setelah lengkap kelimanya, bergegas menaiki Avanza rentalan untuk makan malam di Ayam Goreng Bu Santi. Sejujurnya rasanya sih biasa aja, tapi pedesnya mampu membuat cacingku meronta. Selesai makan, bergerak ke arah UGM dan Tugu dekat stasiun Tugu untuk foto-foto. Wah..di tugu itu rame banget, banyak ABG, setelah kami pulang dari keliling-keliling tengah malam aja masih rame banget yang foto2 dengan gaya standar ABG (bibir monyong atau bibir dipelintir kaya' Donald Duck ;P). Malam itu kami menginap di Hotel Jayakarta, gratisan juga karena dibayarin ama bos sekaligus Penky no Koibito hohohoo…

Hari kedua kami pindah ke Wisma MM UGM, lebih murah dan asoy geboy. Jika di Hotel Jayakarta, kami masuk mengendap-endap dan terpisah karena takut kepergok satu kamar diisi oleh lima orang, namun untuk di Wisma MM UGM, kami bersikap santai seolah-olah kami mahasiswi yang ngekost di sana. FYI, banyak bule cakep dan mmmhh...menggoda karena terkesan pintar dengan buku tebal dan laptop dihadapannya hhehe...

Selanjutnya jalan ke Borobudur bersama Nela sang supir Medan yang beraksi dengan lincahnya namun tidak ikut ke atas candi karena takut kecapekan sementara pulang harus nyetir lagi. Jadilah si ibu satu ini tidur lelap di atas mobil menunggu kami berempat yang semakin brutal tingkat kenarsisannya untuk berfoto-foto. Foto yang diaplot kali ini hanya sebagian keciiiil dari foto yang ada eheheheh….

Sepulangnya dari sana kami menuju Alun-Alun Selatan untuk mengetes berjalan sambil menutup mata ke arah pohon beringin besar yang ada disana. Kami gak tau persis apa mitosnya, yang pasti katanya jika berhasil berjalan lurus diantara dua beringin tersebut, maka keinginannya terkabul, dan orangnya berpikiran "lurus". Dan kami menambahkan kesimpulan baru seenak udel, jika miring ke kiri berarti pikirannya ke kiri mulu alias piktor dan jika ke kanan berarti pikiran anak baik-baik hehehhe…Dan hasilnya adalah, kategori PIKTOR dimenangkan oleh Penky hihiii…. Karena penasaran tentang mitosnya kami bertanya ke mas-mas yang menyewakan kain penutup mata yang wangi seperti abis dilaundry itu. Ternyata jawabannya sangat rasional, tentang konsentrasi, jika kita mampu berkonsentrasi maka bisa lurus. Tapi mengharapkan aku akan konsentrasi dalam keadaan gelap gulita dan jalan menuju beringin gede gitu? Oh it’s a big useless...mendingan aku disuruh merayap di atas tali deh. Aku takut gelap, karena khayalanku yang terlalu tinggi dengan bunyi-bunyian dan penampakan yang bisa muncul. Hal ini disebabkan film-film horor laknat itu yang dengan maupun tanpa sengaja pernah aku tonton dulu, klo sekarang dijamin gak akan ditonton lagi deh hehhe..Oya, jawaban mas-mas yang sangat rasional itu membuat kami kecewa, karena walaupun takut jika mendengar jawaban-jawaban berbau mistik, tapi kami penasaran dan menanti-nanti hahahha...dasaaaaaaaarrrrrrr.....

Hari ketiga adalah harinya shopping. Ah...ini terlalu panjang untuk diceritakan, yang jelas kami tidak melewatkan Malioboro dan Beringharjo. Sempat terjadi kehebohan di Beringharjo, teriakan-teriakan “Millleeeer..milleeerrr”, kirain siapa yang ileran meler2 ternyata setelah celingak-celinguk ada sekumpulan kru film dan didepannya cowok yang dipanggil Meler itu jalan dengan kepala mendongak, disusul cewek yang aku gak tau namanya. Belakangan tau pas paginya liat di inpotemen, si cewek bernama Yasmin. Ah sudahlah, kembali ke perjalanan belanja-belanji, bahkan saking antusiasnya kami belanja terpisah-pisah, sibuk dengan incaran barang masing-masing :D Oya, kami juga sempat makan di Pondok Cabe, wuiiizzz enyaaaak…dan muraaaaaaaahh….nasi bakarnya mantabb, empalnya empuk, sambel tempenye pedess, strawberry juicenya bikin pengen nambah, kapan kita kesana lagi temans? *ngecesss

Hari keempat, pagi-pagi sekali ketiga cewek-tiket-gratisan sudah buru-buru mandi untuk berangkat ke Jakarta dengan penerbangan pukul 8 pagi setelah semalaman begadang. Aku tinggal berdua dengan Dona yang jam 9 akan berangkat ke Bandung menggunakan kereta api, sementara jadwal penerbanganku jam 11.40, wah…tinggallah kusendiri huhuhu…Eh, ternyata tak dinyana sodara-sodara penerbangan cewek-tiket-gratisan tersebut delay hingga jam 12.45 heheheh…kacian deh looo…mereka pulang lagi ke Hotel dan berangkat ke Bandara pukul 10 bareng aku, malah jadinya aku yang duluan berangkat ke Jakarta dengan Lion Air jadwal penerbangan pukul 11.40 yang delay sejam *huh...kebiasaan airlines kita

Tak terasa empat hari berlalu dengan sangat cepat, sebenarnya cuma 2 hari yang bener-bener bisa dioptimalkan, tapi setidaknya sudah membuat kami bahagia, bisa bebas dari rutinitas pekerjaan, bangga mengirim SMS ke teman yang sedang bekerja sedangkan kami cuti hihihi, bisa mempererat persaudaraan dan menambah teman baru, bisa membawa oleh-oleh aneka produk batik untuk teman dan saudara di kampuang nan jauah di mato hohoo... Mari kita batik-kan mereka :))

Owh...senangnyaaaaaaaaa....See you on the next impromptu trip pals ^_^

PS:
Temans, ngaplot poto2 ini sungguh melelahkan, harus sabar meresize foto untuk memperkecil resolusi, mengaplot max tiga foto saja biar cepat dan tidak terputus koneksinya di tengah jalan.

Wednesday, October 28, 2009

:: Behind the Scene - Trip to Jogja

"Wahh…selamat yaaa.."

"Cieee…akhirnyaaaa..."

"Jadi kapan nih Mel?"

"Udah ketemu donk ama keluarganya?"

"Mereka baik kan ama lo?"

"Tinggal makan-makannya aja nih."

"Akhir tahun ini kan ya?"

"Kapan?"

"Dimana?"

"............................"

Pagi-pagi masuk kantor udah disambut pertanyaan seperti diatas dari orang yang berbeda-beda.  Butuh waktu sekian detik untuk menyadari pertanyaan mereka.   Hihihiihi....aku langsung menahan geli waktu mengerti arah pembicaraan itu.  Ini pasti ada hubungannya dengan cutiku kemarin.  Aku baru saja cuti selama dua hari (26-27 Oktober) ke Jogjakarta dan ternyata itu diartikan teman-teman sebagai bagian dari perkenalan dengan keluarga my future King (insya Allah).  Mengetahui kondisi ini, dan mengingat bakat terpendamku yang sering diincar Riri Riza dan Mira Lesmana, aku langsung berakting shy-shy cat *iya, kamu gak salah ngartiin kok...malu2 kucing* yang bikin orang-orang makin penasaran.

Pertanyaan semakin menjurus dan memanas.  Aku pura-pura cuek sambil meletakkan beberapa kotak bakpia ke meja yang terpisah-pisah. Bahkan ada yang nanya “kapan tanggalnya? Jangan mendadak ya..biar bisa diatur jadwal perjalanan dinas kesana”.  Heheheh...Teman-teman pada baiiiiik banget ya, secara tak langsung harapan mereka tersebut menjadi kata-kata yang dengan sungguh-sungguh terucap dalam hatiku berupa sebuah doa.  Semoga semuanya menjadi mudah, lancar dan mendapat ridho-Nya amiin.

Tapi....bukan itu kenyataan sesungguhnya temans.  Kepergianku ke Jogja gak ada hubungan sama sekali dengan praduga *halaah bahasanya* teman-temanku itu.  Aku pergi kesana diluar perencanaan sebelumnya, atau biasanya aku gunakan istilah Ilmu Koncek (Katak), bilo takana inyo maloncek (pas kepikiran langsung dijalanin).  Ceritanya Sabtu siang (24 Oktober) aku nelfon sahabatku, mau mengajaknya jalan ke mall untuk makan siang dan belanja keperluan harian di kost. Terjadilah percakapan seperti ini:

M: ”Assalamualaikum Tek (Tante - red).  Dimana posisi kamu nih?”

P: ’Waalaikumsalam. Aku di BNI Plangi nih lagi transfer uang. Ternyata BNI buka ya Sabtu."

M: ”Iya emang buka dibeberapa tempat. Mo transfer ke rekening gw ya? Hehhe..Jalan yuuk”

P: ”Hhehe...gw mo berangkat ke Jogja hari ini, dapat tiket gratis PP dari temennya Nela.”

M: ”Hah? Sumpe lo? Gimana cara?”

P: ”Temennya batal berangkat, tp klo seandainya tiket ini gak berlaku, gw mo beli tiket go show aja.  Td udah dicek murah kok tiketnya.  Lo mau ikut?”

M: ”Mau bangeeet...masih ada tiket gratisnya gak? Hehehhe...”

P: ”Gak ada, eh gw udah deket kos nih.  Lo pikir-pikir dulu sana tapi jangan lama-lama.”

M: ”Oke...Cepetan pulang, mampir ke kamar gw dulu yaa..”

P: ”Oke”

Tak berapa lama berselang, terdengar ketukan super dahsyat dipintu kamarku.  Gak ada peluang untuk meragukan lagi keabsahan gedoran seperti itu yang hanya milik Pepenk seorang hahahha.... Dia masuk, dan sesuai standar ”kepolisianku”, aku menginterogasinya dengan berbagai macam pertanyaan 5 W + 1 H seputar rencana itu.  Kesimpulannya aku akan ikut mengingat pesertanya dari Pekanbaru dan Bandung dan pengen jalan-jalan mumpung masih jomblo hehhe....Satu hal yang menjadi ganjalanku untuk ke Jogja adalah masalah libur karena berarti aku harus mengambil dua hari cuti dengan rencana perjalanan berangkat Sabtu dan pulang Selasa. OMG...Aku memutar otak bagaimana caranya untuk minta ijin atasan secara aku juga akan mengajukan cuti pulang kampung dalam beberapa waktu ke depan. Waktu berkisar hampir pukul 12 siang saat itu.  Pepenk harus berangkat cepat karena penerbangannya jam 1. Aku langsung telfon travel  agent untuk menanyakan harga sekaligus booking tiket biar gak hilang sementara aku terus berpikir.  Setelah booking tiket, aku memikirkan cara minta ijin.  Aku gak mau bikin alasan sakit atau alasan-alasan lain yang mengarang indah. Pepenk kembali ke kamar untuk packing dan membiarkan aku mencari keputusan berangkat atau tidak.

Aku telfon hunhun ku dan keluarga di kampung untuk mengabarkan rencana ini, dan mereka mendukung.  Oh..senangnya, dapat poin 1. Time limit untuk booking-an tiketku hanya berselang 15 menit. Aku mau telfon bosku, eh ingat ada yang pertama harus ku telfon yaitu yang akan menggantikan kerjaanku selama cuti.  Aku telfon dengan berdebar-debar, dan dengan jujur bilang mau ke Jogja selama dua hari.  Diluar perkiraanku, tidak membutuhkan rayuan maut untuk membuat dia mengatakan ”ya gpp kok, smsin aja user id dan password kamu jika ternyata user id ku tiba-tiba bermasalah, untuk jaga-jaga aja, yang penting oleh-olehnya ya!”. ”Oke deh maaaaaaaasss, tengkyu yaaaaaaaaa.”, saking senengnya gitu deh ngomongnya.  Berarti udah ada 2 poin.  Tinggal telfon bosku, tapi grogi mo nelfon, akhirnya sms dulu, tapi balasan yang ditunggu-tunggu gak masuk sementara time limit-nya udah dekat.  Akhirnya atas saran Ms. Penky yang sudah kembali dengan tas gedenya itu, aku telfon bosku, ternyata gak diangkat.  Aku kembali menelfon travel agent untuk meminta booking ulang karena sudah hampir lewat waktunya sambil menunggu balasan sms. Penky berangkat duluan ke bandara untuk berangkat bareng Nela yang baru datang dari Pekanbaru.  Jika aku berhasil dapat ijin kemungkinan akan naik Batavia air dengan jadwal penerbangan pukul 18.00.

Tak beberapa lama, masuk sms yang isinya ”Ok Mel, selamat jalan dan hati2.”. Yihaaaaa....Berhasiiill dapat ijin bos...Jingkrak2 senang, langsung telfon travel untuk issued tiket dan minta kode booking karena gak sempat jemput tiket ke travelnya di Bekasi sono.  Kemudian jari2 ku bermain di keypad yang katanya QWERTY ini dan membentuk susunan huruf ” Hahahha....sampai jumpa di Jogja. Semoga selamat sampai tujuan” sms sent to Penky dan dapat balasan ”Dasarrr giloo! Hayuu! Amin! Ditunggu! B-)”.

Langsung beberes, packing, mandi dengan ceria.  Berangkat naik taksi ke Gambir dan disambung Damri ke Bandara Soetta, berhasil menghemat pengeluaran dengan hanya 1/5 dari tarif jika naik BurungBiru sampai Cengkareng sana. Guuud!

Check in berjalan lancar, dilanjutkan nongkrong di JW Executive Lounge terminal 1B, makan dengan lahap berhubung belum makan dari pagi, hanya sempat ngemil Silver Queen  jualannya Mba Iyung di kulkas kost-an hehhee...Seperti biasa, pengumuman delay 30 minutes yang ternyata hanya manis dibibir saja karena diberikan bonus 30 menit plus plus.  Jadinya berangkat jam 19.20 dan penerbangan ke Jogja lancar dengan waktu tempuh selama satu jam saja.

Sempat deg-degan karena banyak turbulensi di udara sehubungan dengan cuaca yang kurang baik menuju Jogja. Alhamdulillah sampai dengan selamat sentosa tak kurang suatu apapun *bahasa surat jadul*.  Senyum-senyum bahagia, mengingat ini adalah kali ketiga aku menginjakkan kaki di kota Gudeg yang sampai sekarang gak pernah doyan karena manis, biasalah kalo kutub manis ketemu cewek manis kan saling bertolak belakang hahaha...

Sampai di Jogja, dapat info bahwa Dona yang naik kereta dari Bandung udah sampai sejak sore dan sudah bertemu dengan Pepenk dan Nela dari Jakarta yang juga mengalami delay dan berangkat sekitar pukul 17.00.  Aku yang rencananya mau cari kendaraan ke Hotel Jayakarta –dekat bandara Adi Sucipto mendapat telfon dari Pepenk diminta tetap ditempat karena akan dijemput.  Owh...ternyata dijemput dengan Avanza rentalan yang dengan semena-mena di claim baru dibeli sesampai disana hahha...plus seorang peserta yang baru aku kenal bernama Mila, iparnya Nela, satu2nya yang sudah menikah diantara kami berlima yang sangat rajin telfon2an dengan Papi Chayankna. Huwaaa..... http://iri.com/

Yak..sekian sejarah keberangkatan kami, berikutnya insya Allah dilanjutkan dengan momen2 penjelajahan yang kami abadikan dalam gambar beserta cerita dibaliknya pada sesi berikutnya ya temans.  Aku udah ngantuk nih hehheheh..... Gud nite guys, sleep tight and have a nice dream ^_^

Tuesday, September 22, 2009

:: g.o.r.e.s.a.n.p.e.n.a.i.t.u ::

Aku rindu dengan goresan penamu. 
Sesuatu yang hilang setelah himpunan aku dan kamu membentuk irisan yang satu.
Sesuatu yang sangat besar jasanya hingga memahatkan namamu dihatiku.
Pernah selintas aku tanyakan dulu dan kamu hanya mengatakan itu sudah berlalu. 
Jika memang media yang usang sudah tidak lagi berlaku, kenapa tidak kamu tuangkan dalam perkamen yang baru?
Ingin kuulang permintaan itu seandainya aku tidak merasa malu.
Tahukah kamu memikirkan kemungkinan itu membuatku mengharu-biru?
Aku memimpikan ada yang tentang aku.
Bukan hanya tentang bulu-bulu yang selayaknya berlalu dihembus sang bayu. 
Salahkah aku dengan egoku?
Aku rindu tintamu....
Sungguh!!!

Monday, September 14, 2009

.: Screaming deep inside .....................

Penting? Gak? Penting? Gak? -->GAK: lupakan

Penting? Gak? Penting? Gak? -->PENTING: lanjut ke tahap berikut

Urgent? Gak? Urgent? Gak? -->GAK: tahan dulu

Urgent? Gak? Urgent? Gak? -->URGENT: sampaikan


Pernah berada pada kondisi PENTING-GAK URGENT, dengan beberapa pertimbangan dan analisa akhirnya menurunkan tingkat kepentingannya menjadi setingkat dibawah awalnya.  Kemudian hanya dengan tujuh tetes air bening berhasil mengatasinya tanpa diungkit lagi KECUALI jika terjadi perulangan.

Saat ini berada di posisi PENTING-URGENT sebagai dampak atas faktor pengecualian terhadap kondisi diatas yang ternyata terjadi kembali dalam format yang berbeda, namun kondisi tak memungkinkan untuk membahasnya.  Mengapa? Terlalu banyak indikatornya yang jelas aku tidak suka membahas sesuatu yang sudah pernah dibahas.  Selain membosankan juga bisa membuat suaraku menjadi semerdu Celine Dion jika menyanyikan lagu My Heart Will Go On di bagian reffrain.

Menolehlah ke belakang sewajarnya jika memang ada yang MEMANGGILMU sebagai tanda kamu tidak tuli.  Diluar itu gak perlu jalan sambil melihat ke belakang agar gak kejengkang. Gimana klo kesandung dan masuk lobang? Ngapain juga masih PECICILAN bertandang ke tempat yang seharusnya HANYA menjadi sejarah karena telah kamu tinggalkan dengan kesadaran? Ataukah ada penyesalan atas keputusan yang diambil? Heyy dude…buat apa mengambil keputusan jika tidak yakin? Efeknya hanya akan membuatmu kelihatan tidak konsisten.  Alangkah bijaknya jika fokus ke “bisnis” kamu saat ini, bisnis yang mengandalkan saling percaya sebagai faktor pendukung utamanya. Bisnis menggarap taman bunga mawar dengan keuntungan bagi hasil yang dinikmati bersama. Kolega bisnismu tentu akan sangat berterima kasih atas penghargaanmu terhadap posisinya sekarang bagi percepatan bisnis ke depan (tanpa bermaksud menafikan sejarah).  Ahhh…jangan remehkan kelopak mawar yang terlihat rapuh karena dia memiliki duri yang mengelilingi tangkainya dan sewaktu-waktu bisa menusukmu. 

Oya, agar taman bungamu tumbuh subur tentunya butuh perawatan sebelum tanah gemburnya menjadi kekurangan kadar kelembaban hingga retak dan merenggang membentuk jurang.  Ataukah kamu ingin alternatif lain yang tak kalah garangnya, ketika tanah mulai melumatmu perlahan, menghisapmu dalam pusaran yang mampu menelanmu hingga ke perut bumi dan tinggallah sebuah nama yang tak perlu dikenang?

Saya ttiiddaakk sssuuukkkaaa…. Should I scream louder until my throat getting torn or your ears become deaf just to make you understand, this is very important and urgent to think?

Monday, August 10, 2009

.: Ganti selera? :.

Situasi 1:
Dua orang cowok sedang terlibat percakapan tentang rencana pemesanan baju klub bola favorit mereka – Manchester United. Sementara itu dua orang cewek mendengarkan sambil nonton TV.
Cowok 1: Baju MU yang baru udah ada nih…Gw udah pesen yang KW nya dari internet. Lo mau beli gak?
Cowok 2: Berapa harganya? Emang gimana caranya?
Cowok 1: Pesen di kaskus, 275ribu.  Keren banget, ada semua detailnya termasuk nama pemain.  Kalo lo mau custom –ditambahin nama lo sendiri- tinggal nambah 35ribu.
Cowok 2: Boleh juga tuh tapi aman gak?
Cowok 1: Aman kok, tinggal transfer aja uang mukanya 100rb ke nomor rekening yang tercantum di web.  Gw punya nomornya nih, Beni namanya. Lo mo pake nama sendiri gak di kaosnya?
Cowok 2: Gak ah...Gw pake nama pemain aja. **sambil nyebutin nama pemainnya
Cowok 1: *sibuk bersms ria ke Beni* Beruntung lo, masih ada nih stok yang lo cari. Ntar langsung kontak aja ya.
Cewek 2: *manggil cowok 2* Uda....Gimana kalau kaosnya ditulisin nama “Echy” aja? (echy adalah istri cowok 2-red)
Cowok 2: Masa sih di dada (sambil nunjuk dadanya) udah ditulisin nama Echy, eh dipunggung Echy lagi sih? *nyengir
Cewek 1: Cieee...so sweet *sambil ngelirik Cewek 2
Cewek 2: Hehehehe...Iya donk **bangga
Cowok 2: *cengengesan*
Cewek 1: *manggil cowok 1* Mas...kalo didada Mamas ada tulisan nama siapa?
Cowok 1: Beni *sambil sibuk dengan hapenya*
Cewek 1: *yakin pasti salah dengar dan trus nanya lagi buat mastiin * Mamaas...Nama siapa yang ketulis didada Mamas?
Cowok 1: BENI *dengan tampang & intonasi lugu*
Cowok 2 & Cewek 2: Wakakkakaka.....
Cewek 1: Tidaaaaaaaaak.... *untung gak ada empang di sebelah rumah

Situasi 2:
Cewek dan Cowok keluar dari Bioskop abis nonton film “Merantau” sibuk ngebahas pemain utamanya.
Cewek: Wuiih...keren ya Mas, gerakan silatnya gak cemen kaya film2 silat Indonesia biasanya. Salut. Tapi sebellll, kenapa endingnya gitu sih?
Cowok: Iya, emang keren...pemainnya itu sebenarnya emang atlit silat.  Mirip Jackie Chan gitu ya Dek gayanya? Setidaknya sekarang muncul lagi pemain laga berkualitas sejak terakhir zaman2 Barry Prima dan Advent Bangun dulu. Yah...kalo masalah ending bagus juga sih...biar gak standar seperti film2 biasanya.
Cewek: Ho-oh, ya deh...biar kita keingetan terus ya.  Yang jelas aktor  yang ini bisa dibanggakan deh.  Udah jago bela diri gitu, trus ganteng lagi iiiiiihhhhh.... *gemez
Cowok: Sutradaranya Gareth Evans kan ketemunya waktu ngeliat Iko Uwais itu sewaktu latihan silat.  Rencana selanjutnya akan terus diorbitkan ama PH nya tuh. 
Cewek: Hmmmm....bakal jadi idola baru deh tuw, dan facebooknya akan di add banyak cewek2 hehehhe....
Cowok: Heheheh....iya, yang pada muji-muji gitu pastinya.
Cewek: Iiiihhh...adek suka banget Mas.  Adek ijin ya, malam ini mo mimpiin Iko Uwais aja hahahhaah...Boleh kan?
Cowok: Iya...boleh kok, Dek.  Mamas juga suka kok ama Iko. Loh, kok kedengeran kaya homo gini ya? Hahaha...
Cewek: Twew weeewwww..... *menghubungkan dengan kejadian situasi 1 sebelumnya dan kesimpulan sementara: curiga bahwa si Cowok udah ”ganti selera”

::Jhiahahhahha::


Wednesday, August 5, 2009

.: Fam-gath 2009 @ Green Hill :.


ki-ka: hanum-mba tri-meli-novi-myrna

Gak terasa udah hampir setahun sejak acara family gathering yang lalu. Tentu banyak yang berubah seperti jumlah pegawai yang bertambah walaupun ada yang pensiun, ada yang udah punya anak, ada yang nambah anak tapi tidak nambah bapak, dan dedek2 imut yang sekarang udah semakin gede. **Hmm...anaknya Mas Daru lucu n kasep pisan awww...

Tapi ada yang tidak berubah, temans. Tahun lalu, kami - ku, myrna dan novi- berikrar ditengah malam buta, "Tahun depan kita gak boleh sekamar lagi ya, karena kita harus udah ama hubby masing2, dan dilanjutkan dengan berdoa yang ditutup dengan aaamiiiiiiiin kenceng2" hehhee.... Ikrar ini terlontar ketika merasakan jumlah jombloers dalam satu kamar makin menipis dan teman2 dekat mulai berdua2an ama yayanknya masing2, dan kami melongo dengan hati menangis teriris-iris sadis ngelihatnya hahha... **lebay.com

Ternyata piknik kali ini masih sama huwaaaaaa..... Akhirnya, kami -aku dan novi, minus myrna yang udah ketiduran- kembali berikrar dengan tampang serius dan khusyuk tapi diakhiri dengan ketawa ngakak gak ketahan, dan isi doanya udah pada tau dooonk....hohoho...

Yasud..langsung saja, silahkan nikmati sajian foto2 narsis nan manis walo hati meringis ini **hatchii..

Monday, August 3, 2009

Take a deep breath!

Mungkin gak sih aura negatif yang keluar dari diri kita bisa mempengaruhi sesuatu di sekitar kita? Mungkin ini hanya kebetulan semata, tapi kebetulan ini menggiring aku berkesimpulan seperti itu, walo hanya kesimpulan prematur saja.

Hari ini perasaanku kurang nyaman.  Sebenarnya aku sendiri tidak tau persis dimana sumber rasa ketidaknyamanan yang sudah aku rasakan dari pagi.  Aku mati-matian menjaga suara di telfon agar terdengar wajar. Aku berusaha keras untuk tidak terlalu banyak kontak dengan orang lain supaya tidak ada hal-hal tidak mengenakkan terjadi.  Aku tetap ngobrol dengan sahabatku ketika dia berkunjung ke kantor.  Dan...Aku berpikir aku bisa mengendalikan perasaan tidak nyaman ini.

Namun ternyata aku tidak bisa mengendalikan sesuatu yang tidak bernyawa.  Tiba-tiba emailku bermasalah, sementara ada beberapa pekerjaan yang melalui email.  Electronic Memo antar divisi pun statusnya jadi kepenuhan, padahal selalu aku delete yang sudah berlalu, akhirnya aku delete all inbox dan sent itemnya.  Lebih aneh lagi waktu mau melakukan pembukuan di sistem Icons yang hanya memberi sambutan "page can not be displayed" walo berkali-kali aku refresh, restart, liatin VPN nya udah connect apa belum.    Akhirnya aku numpang di tempat temanku, dan alhamdulillah lancar.  Yang paling spektakulernya ditutup dengan kejadian waktu pulang naik ojek, motornya ngadat dan "batuk2" yang berujung aku pulang jalan kaki dengan sebelumnya mendengar permintaan maaf dari tukang ojek "Maaf ya uni, besok klo udah di service motornya, saya anter lagi ya, janji gak akan mogok." Aku hanya tersenyum kecut ngebayangin jarak yang masih lumayan jauh.  Phffiiuuuhhh.....


Harusnya aku segera mengadu kepada pemilik hatiku, Al Lathiif.  Mungkin aku telah membuat jarak dengan-Nya? Ampuni hamba Ya Khaliiq

Friday, July 31, 2009

:: Terbukalah... karena itu akan melegakanmu....

Pada postingan aku sebelumnya disini, aku menuliskan bahwa karakter yang dibangun dari kecil akan melekat sampai dewasa. Jika anak dibiasakan untuk bersikap terbuka maka dia akan berani berpendapat dan memperjuangkan pemikirannya dimasa depan. 

Nah...kejadian ini baru saja aku alami dan buktikan di lingkungan kerjaku. Aku terkejut dengan hasil penilaianku yang menurutku tidak sesuai dengan kualitas dan kuantitas pekerjaanku selama ini. Aku tidak tau ketika dilakukan perubahan terhadap nilai yang aku ajukan disaat aku sedang tidak berada di ruangan dan pada hari terakhir pengumpulan ke SDM sehingga aku tidak sempat beropini dan memberikan bukti-bukti. Aku terperangah melihat hasilnya di sistem. Aku bisa saja diam dan tidak mempertanyakan hal tersebut meskipun tidak puas, bisa jadi karena takut, malu atau merasa tidak enak dengan atasan, tapi aku tidak mau memilih alternatif ini.

Aku langsung bertanya kepada manager yang menilai kenapa yudisiumku mengalami penurunan. Sang manager terkejut dan tidak menyangka dampak perubahan yang dilakukannya bisa sejauh itu karena menurutnya setelah itu diperiksa lagi oleh atasannya - AVP. Dan ketika aku tanyakan apa yang diubahnya, beliau menjawab “Point pertama yang kamu tulis itu adalah pekerjaanku, kenapa ada di penilaian kamu?” Whaaaaaaatttt? Aku langsung menjawab (yang alhamdulillah keluar dengan lugas dan emosi yang terkontrol serta intonasi yang normal tanpa nangis hiihihi…) “Pekerjaan mana yang saya tuliskan yang tidak saya lakukan dan merupakan pekerjaan Mba? Saya tidak mungkin mengakui pekerjaan yang bukan pekerjaan saya Mba” Aku langsung mengingatkan semua detail dan bukit-bukti yang aku kerjakan. Beliau cukup terkejut dan berdalih, “iya, tadi aku maunya itu direvisi dulu, biar kamu juga tau, biar bisa diskusi, tapi waktu tidak cukup”.

Phfiuuuh….Oke, cukup untuk sementara informasi yang aku dapatkan ketika wudhu di kamar mandi, dan dilanjutkan sedikit setelah Sholat Magrib. Oya, aku ingat doaku selesai sholat saat itu adalah mohon agar hasil penilaian yang membuat aku terperangah ini tidak akan mempengaruhi performance selanjutnya, tidak akan menurunkan semangat kerjaku, agar aku bisa bersabar dan berani bertanya tentang semua hal yang masih mengganjal di pikiranku.

Setelah itu aku langsung berpikir aku harus menanyakan kepada atasan AVP. Aku memikirkan cara yang tepat berhubung ruangan kerja kami yang sempit dengan jarak masing-masing 1-1,5 meter saja, dimana dapat dipastikan jika aku berbicara langsung akan didengar oleh seisi ruangan. Hal itu menurutku tidak terlalu baik, karena ini menyangkut mempertanyakan hasil keputusan atasan, jangan sampai membuat beliau merasa disudutkan di depan anak buahnya. Selain itu beliau juga seorang laki-laki, jadi tidak bisa berbicara ketika di kamar mandi seperti dengan managerku tadi hehehheh…

Akhirnya aku menemukan media yang tepat yaitu email. Malamnya aku diskusi dengan “seseorang” lewat telfon dan disanalah aku menangis Bombay ketika mengungkapkan ketidakpuasanku terhadap perlakuan itu hahhaah…lebay….Ingat kan teori “boleh berekspresi menangis jika memang harus menangis?” Hehhe…Dia mendengarkan dan bersabar menunggu tangis Bombayku berubah menjadi tangis Jahe atau Lengkuas *ngaco*. Aku ceritakan semuanya dan ungkapkan keinginanku untuk mengirim email ke atasan AVP biar lebih puas dan dia mensupport aku untuk bertindak *thnx a lot hunney*…

Selesai nelfon aku bikin draft hal-hal apa saja yang akan aku bahas dalam email esok hari. Menurutku media ini adalah pilihan yang tepat, dengan sebuah tulisan, aku bisa menyampaikan kronologisnya dengan jelas berikut hasil scan penilaianku yang aku copy ke bagian SDM untuk memudahkan dan mengingatkan atasanku dalam pembahasan di email. Aku juga bisa memilah kata-kata yang tepat dan emosi lebih terkontrol serta mencantumkan semua bukti2 pencapaianku. Aku kirim email siang sebelum aku berangkat ke puncak karena sebagai panitia acara harus duluan berangkat. Kebetulan setelah sholat Jumat itu ruanganku kosong, ketika aku mau wudhu yang baru kembali ke ruangan adalah atasan AVP. Ahhh..tepat sekali, batinku. Aku langsung membuka draft emailku dan bilang “Mas, saya mau kirim email ya sekarang. Oya, saya mau sholat dulu mas, nanti kita bahas ya hehhehe”. Alhamdulillah caraku berkomunikasi masih seperti biasa, dan caraku bekerja sejak kemarin malam sampai siang itu tidak berubah.

Berhubung aku pulang duluan, aku tidak mendapatkan jawaban hari itu. Acara fam-gath di puncak juga kami masih kompak dan bersahabat sebagai tim dan mengikuti perlombaan yang ada. Hari Senin ketika menyalakan komputer, hal yang pertama aku buka adalah email dan ternyata oh..nooo..tidak ada balasan.

Seperti biasa Senin dimulai dengan meeting internal, dan kemarin cukup spesial karena pembahasan juga lebih beragam dan aku tidak menyangka ternyata masalah penilaian diselipkan diantara pembahasan itu. Terlihat sekali bahwa penjelasan beliau mengenai penilaian adalah untuk membahas semua pertanyaanku di email satu-persatu. Beliau membahas tanpa melihat ke arahku dan terkadang memandang ke bawah seperti memilih kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan. Intinya adalah hal itu terjadi bukan karena pekerjaan yang dihasilkan standar/tidak memuaskan tapi semata-mata karena harus memenuhi kurva distribusi normal kuota/penjatahan dari setiap unit. Tapi beliau berjanji hasil penilaian seperti saat ini bukan berarti akan begitu selamanya, dan tidak akan mempengaruhi pengembangan karir selanjutnya karena beliau akan melihat hasil kerja nyata bawahannya. Beliau juga meminta maaf karena hanya berhasil memperjuangkan bawahannya sampai tingkat itu saja, minta maaf karena tidak bisa memuaskan semua pihak. Beliau berharap, hal ini tidak akan menjadi demotivasi.

Waktu beliau mengucapkan permintaan maaf yang lebih dari dua kali itu, aku merasakan permintaan itu ditujukan buat aku. Mataku mulai memanas tapi aku tahan donk, gak mungkin nangis, gak profesional banget sih hahahhahaha.... Akhirnya aku lega setelah mendengar penjelasan itu walaupun tidak langsung ke aku, tapi aku tahu itu sebagian besar ditujukan buat aku karena pertanyaan itu berasal dari aku. Jadi...berani terbuka, jujur, mempertanyakan hal yang masih mengganjal hati kita walaupun pada kasus ini tidak akan mengubah “hasil”, namun tentunya akan melegakan daripada hanya bersungut-sungut dibelakangnya, tetap tidak menemukan jawabannya, berpikiran buruk dan muka selalu ditekuk, yang akhirnya malah akan berujung jadi males-malesan kerja. Alhamdulillah...legaaaa... ;)

So, keep up the good work ….. Yeahh ^_^V

Thursday, July 30, 2009

:: Whaaat?? Ada bunga dari "secret admirer"?

Pas masuk ruangan aku langsung dipanggil bos, terjadilah dialog tanpa skenario berikut:

“Mel, ngomong dulu donk sama saya“. 

„Mengenai apa mas?“ jawabku bingung. 

„Klo mau ada yang kirim-kirim bunga bilang dulu.“

Dengan tampang melongo karena gak ngerti „Bunga apaan mas?“.  Yang terlintas di pikiranku adalah bunga bank, tapi aku kan gak buka tabungan konvensional. Baru-baru ini aku justru lagi buka Tabungan Perencanaan Syariah*). 

„Liat tuh di meja kamu“, balasnya. 

Aku langsung ke meja dan disambut ledekan teman-teman seruangan.  „Cieeee...yang dapet bunga, romantis sekali yang ngirimnya, duuh senangnya, SMS dulu lah yang ngirim“

Aku langsung ketawa ngakak ngeliat bunga itu.  „Pasti ini ada yang ngerjain deh, hayoo ngaku“, jawabku.

„Enggak kok mel, tadi ada yang antar. Baca donk tulisannya.“, jawab salah satu dari mereka.

Aku ambil bunganya dan kulihat ada tulisan menggunakan spidol hitam di atas kertas putih polos „You looks beautiful today“. From your lover admire.

Wuakakkakaka….kok ”your lover admire” sih? Berarti dia mengagumi my lover donk jhiahahah….Mungkin aku dikasih bunga biar gak ada iklim persaingan diantara kami gitu ya hihihi…Atau jangan2 maksudnya “secret admirer” kali ya hahhaha….makin penasaran siapa sih yang ngerjain aku?

 

Aku langsung sms ”seseorang”, tapi aku juga gak yakin “dia” yang kirim kalo dilihat dari isi tulisannya.  Pastinya kalo “dia” yang kirim tulisannya lebih dahsyat .  Selain itu juga aku gak yakin “dia” seromantis itu hahahha....SMS akhirnya dibales dan "dia" bilang gak kirim bunga, malah ujung-ujungnya aku diledekin heheheh....

 

Ternyata berita menyebar dengan cepat ke satu divisi ini melalui WinMessenger to all, gini isi ledek-ledekannya aku copy-paste:

Mirna               : ciye..ciye...meli...mukanya jadi merah gitu mel abis trima bunga....:p

Novi                 : cieee....from your lover admirer,,,,

Mirna               : duh ga kuwaaaaaaat bahasanya..."you looks beautiful today.." aw..aw..aw....;)

Pio                   : aduh mel.. lo bikin mirna naik darah aja deh hehheheee :p

Novi                 : TAU LO MBA MEL...BIKIN BANYAK ORG MERASA IRI...HAHAHAHAHA...

Mirna               : ga Pi...gw ikhlas demi kebahagiaan Meli..dah bosen dikirimin bunga soale... hahaha ;)

Dessi                : sabar ya mir...:-D:-D

Maya               : dari kang dadang yach ?

Pio                   : dari ibrahim may :p

Novi                 : kayaknya dari mang kosim deh...

Mirna               : bukan Nov..dari mang Ujang tukang kebun wortel dipuncak kemarin deh... hehehehe

Doni                 : Dari ABDUL - LOH..:-D

Mas Bambang  : dari Ibrahim  floris JW Marihot

Mirna               : eh iya kan emang dari Ibrahim tuh..mel..hati2 mel mengandung BOM...:p

Mas Slamet      : dari pak Dadang (green Hill)

Mirna               : wah mas bambang tau aja, jangan2 admirenya mas bambang lagi heheehe Peace mas;)

Novi                 : ehemm..ehem....

Mas Bambang  : hayo pada kerja....

Pio                   : uuppss....

Ida                   : dari gw tuch sebenernya.....xixixixixixixixi

Mirna               : wakakakakak...cara ngeles yang JITU!.....hayooo Kerja!..

Bang Cho         : pe'e keliatan jd cemberut tuch mel, cemburu kale ye

Pio                   : duh peey... masih kurang yg dirumah? dah 2 orang yg nungguin elo, emang  susah ya kalo dah kepincut meli... hihihi

Bang Cho         : memangnya bener mel elo dapet bunga??

Fery                 : MELIII...... BUNGA ITU HARAAAAAM !!!!!

Ida                   : kecuali dari elo ya pe

Hahha...aku gak bales komen sahut-sahutan di atas, takut makin panjang, ujung-ujungnya jadi pada gak kerja deh heheheh...Tapi aku bales komen yang kirimnya secara PM, plis cekidot:

Fery                 : ciyeee meli, dimas romantis juga yah.....

Meli                 : gak mungkin bgt dimas...impossible..pasti elo ngerjain gw kan?? gw tau lah...anak2

                           ujung sono pada senyum2 jail gitu, udh ketebak :p

Fery                 : waduuuh.......

Meli                 : hahha....ngakuuuuuuuuuuu

Fery                 : kalo gw seh gak sudii kalo itu membuat kalian makin hot....

Fery                 : kalo bukan dimas siapa lagi mel? gawat loe yah, ketauan dimas bisa putus  maning kowe....

Meli                 : ya elo lah pasti....di ruangan elo itu yg penuh tepu muslihat pengen ngerjain gw kan

                           hahahha...ngaku llooo...paling juga ngambil bunga USY di depan pio hahahha

Fery                 : wah dirimu penuh dg kebencian akan kelompok kami... baiklah, cukup tau saja mel.......

                           muach,,,

Meli                 : cuiiih

Fery                 : sluuuurps...... aaaaahhh,,,,,,

Meli                 : preeeeeeeeet

Fery                 : kasar banget seh mel, setelah apa yg telah kita lalui kemariin.....

Meli                 : wakkakak...ngaco lu...udah ahhh, kerjaaaaaaa..kerjaan gw banyak nih...klo lo msh nulis lagi gak kan gw bls okeh --case closed--

 

Hmm.....akhirnya tetap tidak menemukan jawaban darimana asal bunganya.  Ya sudah, siapapun deh orangnya yang ngasih bunga itu, baik niatnya mo ngerjain doank atau memang ada seseorang yang tidak bisa aku prediksikan siapa dia yang mau berbagi kebahagiaan lewat karangan bunga, aku mo ngucapin ”makasih ya..bunganya wangi dan cantik, aku seneng kok, secara selama ini belum pernah dapet kiriman bunga hahahhahah”.

Cheers.. ^_^V

 

*) Tapenas Syariah, Bagus loh berupa tabungan perencanaan untuk pendidikan si buah hati atau untuk rencana lain dimasa depan mulai dari 100rb-5juta/bulan selama 1-15th dengan bagi hasil yang baik dan biaya administrasi hanya Rp.500/bulan. Angsuran bulanan akan dilakukan secara autodebet dari rekening afiliasi nasabah.  So, bikin segera ya...Hehhehe...sekalian promosi ;)

 

PS: foto bunganya gak bisa di aplot, tapi mirip deh ama gambar yang aku pasang di atas, tapi bedanya ini dalam rangkaian plastik.

 

Wednesday, July 29, 2009

^Belajar berekspresi mulai dari kanak-kanak^

Miris, kesel, sakit hati, geram duuh campur-campur perasaanku ngeliat email berisi video seorang pembantu yang bersikap kasar dan menyiksa anak majikannya. Aahhh…bisa emosi tingkat tinggi kalo aku ceritain dengan detail kejadian dalam rekaman video tersebut. Namun yang ingin aku bahas dalam postingan-super-panjang ini dan insya Allah untuk diterapkan nantinya adalah tentang usaha membangun keberanian, keterbukaan, dan kejujuran kepada anak sejak usia dini karena karakter itu akan melekat dan terbawa hingga ia beranjak dewasa.  Salah satu fungsinya adalah sebagai pertahanan/penjagaan diri baginya jika ia diperlakukan dengan tidak wajar.

Bagaimana jika kejadian kekerasan oleh pembantu seperti kisah di atas tidak kita ketahui sebagai orangtua yang sibuk bekerja di siang hari dan pulang di malam hari? Tentunya akan sangat menyedihkan jika anak tidak berani bercerita atau akan sangat disesalkan jika kita tidak dapat menangkap perubahan sikap anak hingga kejadian ini berlarut-larut.  Dari video itu aku terinspirasi untuk merancang tindakan preventif sederhana untuk menjaga buah hatiku di masa depan *amiin*. 

Langkah pertama, kita harus melakukan antisipasi dengan memperhatikan setiap perubahan gerak-gerik anak serta sikapnya terhadap pembantu di rumah. Orangtua terutama ibu harus peka membaca situasi jika anak memperlihatkan tanda-tanda seperti: enggan berdekatan dengan pembantu, terlihat ketakutan, benci, marah atau bahkan sikap anak menjadi kasar yang berarti menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres dibalik itu. Untuk itu diperlukan komunikasi yang intens dengan menanyakan kondisi dan kegiatan anak setiap hari.

Langkah kedua, berupa hal mendasar yang dapat diajarkan kepada anak yaitu berani bersikap, tidak takut mengeluarkan pendapat dan yang terpenting berani berkata jujur jika benar, meminta maaf jika bersalah, sportif menerima kekalahan, dan tidak takut dengan ancaman. Dengan demikian anak akan tumbuh percaya diri, rendah hati dan integritasnya tidak diragukan.

Langkah berikutnya, ajarkan anak untuk berekspresi dengan bebas sesuai perasaannya senang, sedih, marah, takut agar kita dapat “membacanya” dengan jelas. Biarkan anak menangis jika memang dia sedih, biarkan dia tertawa jika senang, biarkan dia belajar mengungkapkan rasa marahnya jika marah, biarkan dia memperlihatkan rasa takutnya ketika takut dan tentunya orangtua lah yang memagari bagaimana cara mengeluarkan ekspresi itu dengan tepat sesuai porsinya. Dengan kebebasan berekspresi ini, anak akan tumbuh menjadi anak yang berjiwa sehat dan memliki hati yang lembut/peka. Jika ekpresinya dilarang seperti bentakan “Hey…diaaaam…jangan nangis!!”, padahal dia sedang sedih , lama-kelamaan anak akan mati rasa. Dia harus menelan semua perasaannya seolah-olah baik-baik saja yang akhirnya bisa mengeraskan hati. Jika dihubungkan dengan kejadian di atas, jika saja sang anak berani memberitahukan perlakuan buruk yang diterimanya bahkan saat dia berada dalam tekanan diancam harus diam, tentunya tindakan kekerasan terhadap anak dapat dicegah.

Sehubungan dengan keberanian dan kejujuran, aku ingin flash back kejadian saat aku masih TK. Waktu jam istirahat adalah waktu yang dinanti-nantikan semua anak-anak termasuk aku. Aku dan teman-teman bermain ayunan dimana dalam satu ayunan itu maksimal menampung 6 orang. Permainan yang biasa saja tapi seru karena bisa teriak-teriak dan tertawa bersama-sama sambil diayunkan sekencang-kencangnya ihiiiyy…Berhubung fasilitas mainan hanya sedikit, dan ayunan yang cukup besar hanya ada satu, rutinitas rebutan main ayunan tidak terelakkan lagi. Ketika jumlah peserta sudah penuh 6 orang, dan temanku bernama Nenen *duuuh…namanya gak nahaaaan hehehe* ingin bergabung, aku menyarankan agar dia masuk ke antrian berikutnya.

Tak disangka si Nenen berbalik ke arah mamanya sambil menangis dan bilang “Nenen dilarang Meli main ayunan, Ma”. Mamanya Nenen tanpa nanya-nanya langsung mendaratkan cubitan yang kecil dipelintir dan cukup lama diperutku yang masih mungil aawwww…lumayan rasanya…Aku langsung bertanya “Kenapa Meli dicubit, Ma?”. Dijawab “Kenapa Meli larang Nenen main ayunan?”. Aku jawab lagi “Meli gak ngelarang Nenen, tapi karena udah penuh Meli minta Nenen tunggu antrian berikutnya aja”. Eh, si Mama malah melotot seolah-olah bola matanya mau copot.

Aku yang udah disakitin plus dipelototin dan gak merasa bersalah langsung berlari menemui ibu guru. Aku lapor “Ibu, Mamanya Nenen nyubit Meli karena Meli suruh Nenen nunggu antrian ayunan berikutnya karena udah penuh. Meli jelaskan malah Meli dipelototin mamanya Nenen, Bu”. Dengan tergopoh-gopoh mamanya Nenen menyusul ke arah kami. Satu hal yang aku sesali sampai saat ini adalah aku tidak mendengarkan pledoi-nya mama Nenen heheheheh…. Iya, m-e-n-y-e-s-a-l karena penasaran temans. Saat itu aku hanya teringat kata mamaku bila orang dewasa sedang berbicara, anak kecil tidak baik jika ikut mendengarkan. Berdasarkan petuah itu, setelah mengungkapkan isi hatiku ke ibu guru, aku langsung pergi karena berikutnya adalah sesi percakapan orang dewasa.

Masih dengan tanda tanya menggelayut dipikiran, sepulang sekolah aku menceritakan kejadian itu kepada mama di rumah dan menanyakan ”Ma, boleh gak jika tadi Meli ikut mendengarkan apa yang akan disebutkan mamanya Nenen? Meli tadi langsung pergi karena itu sudah masuk pembicaraan orang dewasa? Jadinya Meli gak tau apa jawabannya, Ma” . Terus mamaku tercinta menjawab “Tentu saja boleh Nak, dalam pembicaraan orang dewasa tadi kan Meli juga terlibat langsung, jadi Meli boleh tetap mendengarkan dan menjawab dengan jujur jika Meli ditanya. Yang tidak boleh adalah jika tidak berhubungan dengan Meli. Ya sudah, Meli sudah bersikap berani dan jujur, selanjutnya tetap berteman baik dengan Nenen ya, Nak”.

Arrrggghh…aku langsung menyesal setengah mampus kenapa tidak mendengarkan pembicaraan mama Nenen vs Ibu Guru. Aku yang dianugrahi penghargaan sebagai Miss Curiousity terbaik pertama se-Jabodetabek sampai hari ini masih saja penasaran apa kira-kira pembelaan mama Nenen itu *klo ketemu dan masih ingat mukanya aku tanya deh* hehhe... Pikiran yang terlintas saat kejadian hanyalah aku tidak membuat kesalahan, hanya menyarankan antri sesuai prosedur naik ayunan bersama, dan mama Nenen akan mengakui perlakukan kasarnya terhadap aku di depan ibu guru walaupun tidak ada aku disana. Pemikiran anak kecil yang masih sederhana dan jauh dari prasangka buruk ya. Coba kalo sekarang, aku mungkin akan berpikir beberapa hal: pertama, sesuai dengan pemikiran di atas, atau alternatif kedua mama Nenen menyalahkan aku telah melarang anaknya ikut bergabung sampai anaknya menangis. Alternatif ketiga, mengarang aku mencubit Nenen sampai menangis atau bahkan alternatif keempat tidak mengakui ada adegan cubit dan melotot dan bilang aku mengada-ada. Hahahhaha….pemikiran ketika dewasa yang sangat “bertanduk”. Tidak baik untuk dicontoh ya adik-adiiiikkkk….

Terkait dengan kejadian di atas, pada kasus pertama jika anak telah terlatih untuk berekspresi dan berbicara terbuka terhadap orangtuanya, maka kekerasan dari pembantunya dapat dihentikan segera.  Langkah selanjutnya mungkin dengan cara memecatnya dengan tentunya terlebih dahulu di tampar bolak-balik hahahha….*saran yang salah*. Untuk kasus kedua sang anak berani dan jujur menceritakan kejadian sebenarnya kepada guru dan orangtua murid, berani mengeluarkan pendapat dan membela diri ketika disakiti. Walaupun rasa sakit dari cubitan itu tidak hilang, tapi sang anak bisa menunjukkan kepada yang menyakitinya "aku tidak akan diam saja jika disakiti".

Temans...masih ingat donk dengan pepatah "Berani karena benar, takut karena salah"? Ada benernya tuh, meskipun banyak juga orang yang bersalah namun berani melakukan pembelaan mati-matian terhadap dirinya. Hmmmm....Bagaimana kalau untuk menutup postingan panjang yang cukup melelahkan ini kita buat rumusan kata-kata bijak untuk hari ini :”Jangan mau tertindas, pertahankan kejujuran dan tunjukkan keberanian jika yakin tidak bersalah!” Oke kan? Yuhuuuu.. ^_^V

 

PS: Mama...terima kasih telah mengajari kejujuran dan keberanian yang ternyata sangat penting bagi anakmu ini. Love u n miss u so mamaku chayank...huuhuhu..

Friday, July 17, 2009

>>Persaudaraan sejati ada di hati<<

Genangan air hampir saja meluap dari telaga kecil itu.  Namun serta merta sang air surut tatkala telaganya secara ajaib berekspansi beberapa meter.  Selanjutnya yang tampak hanyalah riak kecil, lembut  dan teratur disela hembusan perlahan sang angin dipermukaan air yang menari dengan anggunnya.

*  *  *
“Assalamualaikum, Apa kabar, Dik?”, sapa Furqan melalui telefon genggamnya. 
“Waalaikumsalam…Alhamdulillah baik bang, hanya sedikit batuk”, jawab Fathiyya. 
“Jaga kesehatan ya, makan dan istirahat yang teratur, nanti malah gangguin aktifitas loh”, lanjut Furqan. 
“Heheh..iya, makasih bang, abang sendiri gimana kabarnya?”, jawab Fathiyya ceria. 
“Baik sih, cuma abang sedikit stress menjelang hari H itu.  Abang di pulau ini, sementara semua persiapan dilakukan oleh saudara di Jakarta”, terang Furqan. 
“Wah, tenang aja bang, insya Allah saudara abang akan mengusahakan persiapan yang terbaik, yang penting abang siapin mental dan mesti sehat, rugi loh kalo sakit pas hari H-nya hehehe…”, canda Fathiyya.
“Hahaha…iya ya. Mohon doanya agar lancar ya Dik”, pinta Furqan.
“Siipp...insya Allah didoain kok bang”, jawab Fath.

Hening sejenak.........

“Hmmm.....adik rencananyaaaaa....hmm...datang gak di acara nanti?”, lanjutnya.
“Tentu donk jika diundang..Emang kenapa abang nanyanya gitu?”, tanya Fath yang menangkap ada sesuatu.
“Gak kenapa-napa”, jawab Furqan singkat.
“Memangnya menurut abang lebih baik gimana, Fath datang apa gak?”, kejar Fath.
“Terserah adik mau datang atau tidak“, jawab Furqan namun nadanya bukan "terserah" seperti ucapannya.
“Kok terserah sih? Kan Fath tanya lebih baik datang apa gak menurut pemikiran abang? Kalo masalah keputusan ya tetap dari Fath”, balas Fath.
“Iya, kalau adik mau datang silakan, kalau tidak bisa datang juga gak apa-apa. Makin terdengar seolah-olah ingin berkata jangan. Oya, abang mau pergi dulu ya”, jawab Furqan terburu-buru dengan intonasi yang aneh.
“Tunggu bang...Oke, Fath ngerti maksud dari jawaban abang.  Abang tidak perlu segan. Kalau itu yang abang inginkan, Fath akan penuhi”, lanjutnya tegas.
“Iya...itu yang abang inginkan, ucap Furqan yang merasa lega Fath mengerti. Udahan ya, makasih”, balas Furqan bergetar.
“Sama-sama bang, Assalamualaikum”, Fath ucapkan salam.
“Waalaikumsalam”, balas Furqan mengakhiri pembicaraan.

Fath terdiam dan berpikir...

Kenapa abang tidak menginginkan Fath hadir di hari bahagianya? Kenapa dia tidak ingin Fath menyaksikan dia menjadi muslim yang sempurna ketika menggenapkan setengah diennya? Kenapa nada suaranya berubah saat mengatakan itu? Fath mencari-cari dan mengingat-ingat dalam hati getaran suara Furqan ditelfon tadi. Ada apa? Si bening yang bersembunyi dibalik bola mata indahnya mulai menampakkan diri dan menggelayut di kelopaknya, namun tidak sempat menetes, hanya berputar sebentar dan kemudian masuk lagi bersamaan dengan senyuman di wajah Fath dan tatapannya yang lebih lembut dan ceria.  Aura positif berhasil menyusup halus menuju otak dan menguasai perasaan Fath.  Dia tahu bahwa Furqan tidak bermaksud memusuhinya, tidak mungkin laki-laki yang dijuluki lelaki-berjiwa-malaikat oleh teman-temannya itu berniat menjauhi atau menyakitinya dengan kata-kata tadi.  Furqan bersikap demikian tentunya untuk menjaga hatinya dan hati “dia”.  Mungkin juga Furqan berpikir untuk menjaga hati Fath pada saat bersejarah itu terjadi walaupun sebenarnya bagi Fath sama sekali tidak ada masalah.

Dalam perenungannya Fath memaklumi sikap Furqan, bahwa tumbuhnya tunas menjadi pohon berakar kuat dalam waktu sewindu tentunya telah menciptakan harapan untuk dapat berteduh dan menikmati buahnya.  Namun ketika pohon sudah tumbuh semakin rindang dan berbuah, ternyata buahnya tidak bisa dipetik karena sudah dipesan oleh seorang yang misterius.  Mencabut pohon lama beserta akarnya untuk digantikan dengan tunas baru hingga menjadi pohon berakar kokoh lagi, tentunya bukanlah hal yang mudah.  Mencabutnya pun bukanlah hal yang bijak karena akan meninggalkan lobang yang mengurangi estetika.  Hal itu juga hanya membuang energi mengingat pohon itu tidak mengandung racun dan tidak pernah menjalar keluar dari kavlingnya sebagai parasit.  Akan lebih baik menanam tunas baru di kavling lain yang telah digemburkan dan diberi pupuk dengan pengairan yang memadai.  Pohon berakar kokoh tadi biarkan tetap disana.  Bukan untuk dihancurkan, namun juga bukan untuk berteduh dibawahnya lagi.  Biarkan pohon itu tetap tumbuh setia menunggu janji seorang misterius yang akan menjaga, merawat dan berhak memetik buahnya.  Kebaikan dimasa lalu ketika memperlakukan sang pohon dengan istimewa, membersihkan tanaman pengganggu disekitarnya serta memberikan pengairan dan pupuk yang cukup akan berbuah manis dimasa kini karena telah menjadikan sang pohon sebagai penghalang banjir dan erosi yang mungkin saja dapat menggerogoti ladang baru.  

Binar ceria kembali memantul di mata Fath.  Dia merasa  kagum dan menghormati langkah Furqan menyelamatkan tunasnya.  “Bagus bang, tak perlu memikirkan pohon karena ia memang sudah kokoh, lindungi dan rawat tunas kecil dihadapanmu hingga tumbuh sempurna.  Berdampingan, tidak harus pada satu tempat.  Berbarengan, tidak harus pada satu waktu. Kebersamaan dan persaudaraan hakiki itu ada dihati, bukan diraga semata.” gumam Fath dalam hati sambil tersenyum lega.